AS Paksa Rusia “duel” Demi Assad

Gambar syria.liveuamap.com

Berapa banyak misil jelajah Tomahawk diluncurkan dari 2 kapal perang perusak USS Porter dan USS Ross mengenai sasaran di pangkalan angkatan udara Shayrat? Dari 59 misil yang dilepaskan ada yang mengatakan seluruhnya mendarat dan mengenai sasaran, ada juga mengatakan sebagian saja. Pihak Rusia sendiri mengakui 25 misil Tomahawk saja mengenai sasaran.

Mungkin tak akan terlalu penting jumlahnya sebab satu saja pun Tomahawk  mampu menghujam sasaran milik Suriah-Rusia berarti AS telah mampu mengirim banyak pesan pada dunia -khususnya proksi Rusia– bahwa AS mau dan mampu melaksanakan apapun meski dengan risiko sangat tinggi.

Pesan lain terpenting dibalik serangan itu sangat banyak, beberapa diantaranya adalah untuk menciptakan kembali dan melegitimasi posisi AS sebagai polisi dunia dan pemegang kendali superioritas sejati dunia, bukan Rusia.

Meski aksi Tomahawk cuma berlangsung setengah jam serangan itu diyakini telah dirancang dan disiapkan cukup lama. Peluncuran misil Tomahawk AS ke pangakalan militer angkatan udara Suriah jelas sebuah rencana terstruktur dan tidak terjadi secara mendadak, artinya tidak semata-mata murni akibat –tudingan– serangan senjata kimia oleh angkatan udara Suriah di sebuah lokasi kota kecil Khan Saykun dekat kota Idlib yang mewaskan 85 orang pada7 April 2017 lalu.

AS telah mengemas serangan itu sebagai hukuman terhadap militer Suriah  akibat menggunakan senjata kimia, namun demikian pasti ada sebab-sebab lain dibalik keputusan amat menegangkan tersebut. Jika hanya pada mengacu pada alasan serangan senjata kimia jelas sekali AS terburu nafsu menghakimi Suriah. Pasti ada strategi lain dibalik keputusan “setengah matang” itu.

Beberapa sebab lain dibalik keputusan tersebut dikaitkan dengan sejumlah peristiwa penting terkait Suriah pada satu bulan terakhir dalam serangkaian peristiwa sebagai berikut :

Pada Pertengahan Maret 2017 ISIS mulai mengalami kemunduran di sejumlah lokasi oleh tekanan Turki/FSA dan AS/SDF di bagian utara Suriah hingga terdesak oleh Turki ke  Palmyra. ISIS juga kalah kembali di Palmyra sehingga kota dan kawasan itu jatuh kembali ke tangan Suriah – Rusia pada 2 Maret 2017. Tidak lama setelah itu terjadi serangan Israel terhadap posisi SAA sebagaimana disebutkan di atas.

Pada 17 Maret 2017, empat unit pesawat tempur F-16 menyerang posisi SAA di kawasan Palmyra. (Ini adalah serangan Israel ke 49 ke arah Suriah sejak 2013 lalu). Serangan berkatagori provokatif ini bertujuan Suriah mau membuka dan memperluas fron perang baru dengan Israel sehingga lebih mudah ditaklukkan oleh lawan-lawan Assad.

Menurut versi Rusia salah satu S-200 mampu menghantam salah satu dari 4 unit penyerang F-16 Israel. Dipihak Israel menolak claim tersebut disertai ancaman baru. Dan dua hari setelah peristiwa itu diberitakan bangkai salah satu rongsokan jatuh di kawasan Jordania bukan pesawat F-16 Israel, melainkan Drone bersenjata milik Israel terkena sambaran S-200. Sejak saat itu Israel memikir cara lain menjinakkan militer Suriah.

Pada 21 Maret 2017 HTS atau Hiabuth Tahrir al-Sham (dahulu al-Nusra atau JFS) melaksanakan ofensif besar di kawasan dekat kota Hama mencoba tembus blokade kota Al-Rastan yang ditutupi oleh kota Hama. Ofensif besar itu hampir membuahkan hasil setelah HTS mampu  menguasai sejumlah kota kecil dan desa-desa menuju ke kota Hama. Ofensif itu kembali digagalkan SAA dan kembali ke posisi semula.

Pada 23 Maret 2017 pemberontak FSA di kawasan Jobar dan Al-Qabun melaksanakan ofensif kejutan hingga mampu menerobos garis pertahanan pertama SAA  kilometer saja menuju ke pusat kota Damaskus. Serangan kejutan itu berhasil dipatahkan. Beberapa kawasan FSA di al-Qabun dapat dikuasai SAA namun tak mampu mematahkan pertahanan FSA di kedua tersebut sampai kini.

Pada 29 Maret 2017 Turki mengumumkan menghentikan operasi Eufrat Shield (24 Agustus 2016 – 29 Maret 2017)

Pada 30 Maret 2017  hampir bersamaan dengan kunjungan menlu AS, Rex Tillerson ke Ankara Tillerson memberi penilaian positif AS terhadap Assad. Salah satu poin terpenting pernyataan Tillerson adalah pergeseran pandangan negatif AS terhadap Assad menjadi sedikit positif. Dalam pandangan Trump posisi AS saat ini tidak lagi pada masalah nasib Assad akan tetapi pada perang terhadap penumpasan terorisme dunia. sebab nasib Assad ditentukan sendiri oleh rakyat Suriah.

Di sisi lain, Menlu AS  untuk PBB Nikki Halley menyampaikan hal senada terjadi perubahan sikap AS yang dinilai beberapa pengamat sebagai sesuatu hal  aneh sebab bagaimana mungkin AS dapat berubah sikap dengan sangat dramatis sehingga membuat Turki sedikit salah tingkah pada AS akibat perubahan sikap AS tersebut. Kedatangan Tillerson ke Ankara kemungkinan besar untuk memberi masukan apa dibalik semua sikap sempat membuat Assad sumringah merasa mulai di atas angin. Sumber : dailywire.com. 

5 April 2017 atau  dua hari sebelum serangan pada  4 April, intelijen Rusia mengingatkan kawasan Latakia Suriah dan perbatasan denganLebanon siaga karena akan ada serangan hebat ke Suriah dan tak tertutup kemungkinan kawasan Lebanon dihuni Hezbollah akan menjadi sasaran serangan pihak tidak disebutkan siapa dan dari mana.

6 April 2017 atau seharisebelum serangan, intelijen Rusia juga membocorkan akan ada serangan besar itu sehingga terjadi pergerakan besar-besar pesawat tempur, penumpang dan logistik ke tempat dirahasiakan.

8 April 2017 atau sehari setelah peristiwa tersebut Presiden Turki menyatakan telah mendapat pemberitahuan dari AS akan ada serangan rudal ke kawasan Suriah. Serangan ini terjadi  satu minggu setelah pasukan Turki tersebar di berbagai fron FSA melawan SAA dan SDF/YPG dan ISIS dalam ES operation ditarik dari beberapa titik dengan alasan penghentian sementara ES operation.

8 April 2017 atau sehari PM Israel pertama sekali memberikan ucapan selamat dan dukungan melalui akun twitternya kepada sejumlah menteri dan diteruskan ke berbagai media massa. Dalam pesan itu bibi Netanyahu juga menyindir Korea Utara, Iran dan Rusia seakan tak mampu menembunyikan kegembiraannya melihat Rusia seperti tidak percaya pada apa yang terjadi dan keberanian AS.

Pada 8 April 2017 juru bicara gedung putih menyalahkan pemerintahan Obama tidak menyita seluruh senjata kimia dan gas Suriah setelah terjadi kasus serangan senjata Kimia –atas dasar penelitian PBB– dilakukanoleh tentara dan milisi SAA.

9 April 2017 sejumlah negara Arab tidak termasuk Mesir dan Bahrain mendukung sikap tegas dan keras AS

10 April 2017 sejumlah negara Eropa terlambat atau lupa mengucapkan selamat dan mendukung sikap tegas AS baru mengucapkan selamat pada tanggal ini

10 April 2017, pejabat militer Rusia mengatakan bahwa Rusia tidak akan melakukan pencegatan atau intersep misil AS yang akan menghujam Suriah, akan tetapi militer Suriah berhak melakukan itu, sebagaimana disampaikan menteri pertahanan Rusia.

Tudingan terhadap SAA kali ini tidak memerlukan penelitian tim ahli PBB dan keputusan Trump menyerang negara berdaulat lain juga tidak melalu keputusan Kongres AS. Meski ada yang menilai hal itu tidak wajar namun penasihat Trump tentu mengetahui hal tersebut dibolehkan dalam undang-undang federal AS. Tak heran, entah ada hubungan dengan itu sehari setelah serangan tersebut (7 April) beberapa media barat mencium aroma “tak sedap,” sehingga menuding serangan misil AS terhadap Suriah adalah operasi Fals Flage, dimana Suriah dijadikan kambing hitam. Salah satu sumber : Di sini.

Koalisi AS dan pasukan demokratik Kurdi Arab (SDF) terus meningkatkan manuver di bagian tengah Suriah memperlihatkan kemampuan mengalahkan ISIS di hampir seluruh front. Meski kota-kota sekitar Ar-Raqqa ibukota negara ISIS telah dikepung akan tetapi AS belum memutuskan membebaskan kota tersebut. Dari mekanisme kepungan terbaca skenario arus pelarian ISIS dari kepungan kota At-Thawrah dan Ar-Raqqa mengarah ke Deir Ezzor, sebuah kantong SAA terpisah jauh dari induknya dikepung ISIS sejak  tahun terakhir. Apakah ISIS idealnya “bermarkas” di kawasan ini?

Tidak sampai sehari setelah bandara militer Shayrat dibombardir AU Suriah dan Rusia mulai kembali menggunakan bandara tersebut dengan leluasa untuk memulai serangan terhadap posisi FSA dan ISIS. Tidak ada serangan susulan dan tidak ada kekuatiran Rusia atas tambahan potensi kerugian jika sewaktu-waktu diserang kembali rudal atau pesawat tempur AS.

Rusia membeberkan jenis dan tipe kehancuran mereka alami meskipun dengan jumlah sangat banyak akibat aksi Tomahawk antara lain :

  • 15 pesawat tempur diparkir di sekitar hangar
  • Sejumlah shelter pesawat
  • tempat penmpanan bahan bakar dan amunisi
  • Landasan pacu rusak sebagaian dan dapat digunakan kembali beberapa jam setelah serangan tersebut
  • Sebuah kapal tanker meledak
  • Sejumlah misil udara ke udara dan udara ke permukaan
  • Tujuh prajurit tewas (masih dikonfirmasi)

Beberapa informasi melaporkan dari 59 misil tomahawk ditembakkan ke sasaran pangakalan militer itu hanya  25 misil saja mengenai sasaran. Selebihnya tak jelas kemana rimbanya dan beberapa saja berhasil ditangkis rudal pencegat SAM Suriah. “Syria Shoots Down 34 of 59 Cruise Missiles, Russia to Upgrade System Soon,” tulis  veteranstoday  edisi hari ini,11 April 2017 dengan melampirkan salah satu bukti gambar berikut ini :

Sumber : veteranstoday.com

Saat ini beberapa sumber portal berita dunia hangat memberitakan rencana kunjungan mendadak Menlu AS ke Moskow beberapa jam ke depan. Disebut-sebut Putin tidak akan mau bertemu Tillerson akibat sedang marah atas serangan AS dinilai Rusia sebagai serangan paling bar-bar. Dugaan lain dibalik rencana mendadak tersebut untuk membujuk Rusia agar segera melupakan Assad, tetapi juga berkembang issu AS meminta maaf kemungkinan terjadi kesalahan informasi dibalik keputusan serangan tersebut. Reuters melaporkan rencana mendadak tersebut akan dilaksanakan segera mungkin untuk menurunkan ketegangan kedua negara.

Melihat pada data dan fakta di atas, kelihatannya ada sesuatu tidak beres dalam aksi AS serangan misil terhadap Suriah. Kesannya AS setengah matang memoles issu soal senjata kimia sebab kesannya terlalu dipaksakan. Dalil dan alasan serangan senjata kimia itu kini tidak efektif menghentikan militer Suriah. AS kelihatannya hanya melaksanakan aksi hiburan untuk mengobati luka hati korban senjata kimia. Kelihatannya AS tahu persis bahwa pelaku serangan kimia kemungkinan bukan Suriah. Meski AS mulai menyadari hal itu tapi apa daya Rusia sudah kadung dipermalukan.

Jadi siapa penebar senjata kimia beracun itu? Entah siapalah yang jelas dia bukan makluk ghaib, dia adalah manusia berhati Setan atau Saiton…

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s