Israel Tak Sanggup Sembunyikan ‘interest’ dibalik Konflik Suriah, Bikin Rusia Gusar

Gambar Ilustrasi : Sumber evilzionistisrael.wordpress.com. Edit abanggeutanyo

Pada tulisan ini  telah disebutkan total dan rincian serangan Israel terhadap Suriah sejak 2013 telah mencapai 46 kali (hingga Pebruari  2017). Dengan beraksinya 4 unit F-15 melintasi ruang udara Lebanon menuju Palmyra Suriah maka total serangan Israel terhadap Suriah menjadi 47 kali. Serangan angkatan udara israel (IAF) ke Palmyra pada 17 Maret 2017 lalu menimbulkan “perlawanan” Suriah dengan menembakkan 2 misil S- 200. Akibatnya  konflik baru Suriah berpotensi bertambah besar dengan kehadiran Israel secara langsung dalam konflik Suriah.

Menteri Luar negeri Israel Avigdor Liberman hari ini kepada pers mengatakan Israel akan merusak sistim pertahanan Suriah jika ke depan masih mencoba menembak jatuh pesawat angkatan udara Israel. Menurutnya Israel tidak punya keinginan untuk intervensi Suriah, juga tidak ada niat menggulingkan Assad bahkan tak ada niat konflik dengan Rusia. Namun Israel akan merusak sistim pertahanan Suriah apabila Suriah mengancam pesawat tempur Israel.

Liberman menambahkan, persoalan utamanya adalah penyelundupan senjata dari Suriah ke Lebanon dan pergerakan Hezbollah dari Lebanon ke Suriah.  Setiap jam intelijen Israel dapat mengidentifikasi pergerakan dan penyelundupan tersebut, ujar Liberman berapi-api sebagaimana dikutip di  ynetnews edisi hari ini (19/3).

Pada kesempatan sebelumnya, PM Israel, Benyamin “Bibi” Netanyahu mengatakan bahwa aksi Suriah mengancam pesawat tempur mereka menandakan bahwa Suriah dibekap (didukung) Rusia jika konflik dengan Israel.

Kelihatannya Israel tidak dapat menahan lagi interes terselubungnya dalam konflik Suriah sejak pecah 13 Maret 2011. Pernyataan keras dua pejabat teras Israel itu memperlihatkan babak baru  dan arah Israel dalam konflik Suriah yang  diperkirakan banyak pengamat akan semakin melebar, berat dan rumit.

Jika mengacu pada pernyataan di atas dan sejumlah pernyataan pejabat Israel sejenis dengan itu sebelumnya di berbagai media massa, tampaknya sumber masalah utama adalah :

  • Penyelundupan senjata dari Suriah ke  Lebanon. Israel sangat khawatir bantuan persenjataan Iran dan Rusia untuk Suriah diselundupkan ke Lebanon sehingga berpotensi ditransfer kepada kelompok organisasi garis keras PLO (Hamas atau Fatah) hingga memperkuat militan PLO.
  • Pergerakan milisi Hezbollah dari Lebanon ke Suriah. Sebagaimana diketahui AS dan UE serta Israel telah mengkatagorikan Hezbollah sebagai organisasi teroris. Atas dasar itu Israel memiliki legalitas menyerang Hezbollah dimana saja dan kapan saja.

Jika kedua hal di atas menjadi dasar pertimbangan khusus hingga Israel merasa leluasa menghajar kawasan Suriah dimanapun suka hinnga mencapai 47 kali  dan menewaskan sejumlah prajurit Suriah, Hezbollah dan penduduk sipil serta merusak fasilitas negeri orang lain mari kita lihat apakah alasan itu tepat?

PBB dan AS telah menetapkan kelompok militan HTS atau  Ha’iah Tahrir AlSyam (sebelumnya dikenal dengan JFS dan sebelumnya lagi dikenal sebgai Jabhat al- Nusra) pertanyaannya berapa kali pernah Israel menyerang kelompok mlitan tersebut? Jawabannya, belum pernah, setidaknya hingga saat ini.

Jika PBB, AS, Rusia bahkan dunia telah menetapkan kelompok ISIS dan al-Qaeda sebgai kelompok teroris pertanyaan sama adalah, berapa kali AU Israel menyerang kelompok tersebut? Jawabannya hampir sama. Cuma sekali saja terjadi yakni pada 27 Nopember 2016 ketika 4 milisi ISIS tewas dalam bentrokan dengan AD Israel di perbatasan dekat dataran tinggi Golan setelah sehari sebelumna kelompok ISIS menerang patroli Israel. Di sisi lain, belum pernah terdengan kabar militer Israel menyerang intensif ISIS maupun al-Qaeda.

Di perbatasan Israel dengan Suriah dekat kota Daraa, bahkan terdapat kantong ISIS dengan brigade terkuat dan menggentarkan yaitu Brigade Jaish Khalid. Kawasan hunian ISIS itu telah ada sejak hampir 4 tahun lalu dekat perbatasan Israel. Tak pernah terdengar kabar AU Israel menyerang posisi ISIS di kantong yang hanya berjarak 1 km dari kawasan dataran tinggi Golan ata cuma sejauh 23 km dari pangkalan militer Israel di kota Tiberias di pinggiran danau atau laut Galilea. Tidak pernah ada aksi Israel memerangi kawasan tersebut sehingga lebar wilayah ISIS di kawasan tersebut kini bertambah lebar sejak 2 bulan terakhir dari sebelumnya 8,4 km ke arah kota Khirbat Sannin (dikuasai FSA).

Tampaknya alasan Israel menyerang posisi pasukan SAA di Palmyra saat pasukan SAA dan aliansinya sedang membangun pertahanan agar tidak kebobolan ke 3 kali jatuh ke tangan ISIS sangatlah vulgar dan sangat mudah dibaca oleh awam. Tak perlu sekelas pengamat dan intelijen untuk melihat apa dibalik aksi dan alasan Israel menyerang Suriah secara sistematis.

Meski dikemas pada kedua alasan di atas namun aksi Israel meninggalkan “kesan” pada dunia bahwa Israel terlalu kekanak-kanakan. Menyerang pasukan SAA termasuk Hezbollah di Palmyra saat sedang fokus mengalahkan ISIS di sana adalah tindakan amatiran. Jika Hezbollah dan penyelundupan senjata itu menjadi sumber masalah mengapa Israel tidak menyerang saja markas besar Hezbollah di Lebanon atau Iran sebagai markas utama kelompok militan Syi’ah tersebut?

Sikap Israel memperlihatkan keangkuhan dan pongah bercampur kecewa. Israel tak mampu sembunyikan kekecewaannya melihat perkembangan signifikan diraih SAA hingga mencari celah dan alasan disebutkan di atas.

Saat ini Israel jumawa merasa sukses atas ketangguhan misil anti misil  interceptor “Arrow-2” dan “Arrow-3” mereka mampu  melakukan mematahkan serangan S-200 mengancam 4 unit jet tempur F-15 nya namun ujian lebih besar akan terjadi ke depan yakni sergapan misil permukaan ke udara lebih mumpuni, S-300 bahkan S-400.

Bisa saja Israel punya “penjinak” katakan sistim Iron dome pelindung Israel dari roket jarak pendek dan misil balistik kelas menengah dan jauh. Bisa juga Israel punya misil anti misil balistik  lebih piawai mencegat S-300 atau S-400, sebut saja salah satunya “Sparrow” yang telah sukses diuji coba pada 2014 lalu. Tapi apa keuntungannya bagi Israel menghamburkan amunisi termahal di dunia itu sementara warganya langsung panik saat sirine meraung-raung di kota dekat perbatasan Jordania sebelum Arrow sang “Intersep” mampu menjinakkan si bongsor S-200.

Sumber : globalsecurity.org

Kunjungan “Bibi” ke Moskow pada 9 Maret 2017 lalu berselang 4 jam saja sebelum Presiden Erdogan bertemu Vladimir Putin kini menyibak rahasia dibalik kunjungan tersebut. Pada kesempatan singkat itu “Bibi” membawa 6 pejabat terasnya mendengar dengan senyum simpul penjelasan Putin saat menanggapi keluhan Bibi tentang  posisi Iran dan Hezbollah di Suriah. Kepada Bibi yang penuh percaya diri Putin menjamin pasukan Hezbollah dan Iran akan pulang jika perang Suriah berakhir.

Entah girang atau malah bingung mendapat hadiah sebuah buku kopian tentang  peranan Yahudi dalam perang di Rusia 500 tahun lalu rombongan Bibi pun kembali ke Tel Aviv. Tidak lama setelah kunjungan itu — 4 hari kemudian– 4 unit jet F-15 menyalak di atas langit Lebanon menembus ke Palmmyra dan menimbulkan kehebohan sebagaimana diungkapkan di atas.

Mungkin saja Putin kini membatin. Jika dahulu ia merasa ditusuk dari belakang oleh Turki  akibat pesawat tempurnya sedang menumpas “teroris” namun ditembak  jatuh F-16 Turki kini Putin membatin kembali, setelah S-200 nya begitu mudah dilumpuhkan interseptor milik Israel.

Tampaknya telah tiba giliran Israel menjatuhkan muka Rusia.  Apa jadinya jika Israel mampu mencegat misil balistik Rusia S-300 atau S-400. Terlebih lagi “Bibi” melakukan itu (tusukan) setelah mendapat hadiah tapi tetap juga ingin menusuk Rusia dari belakang.

Haruskah Putin mengangkut S-500 senjata pamungkasnya atau memindahkan gudang militer Rusia ke Suriah untuk menjaga muka Rusia? Semua orang pasti tahu itu tidak mungkin, tapi orang juga tahu Putin meskipun berbiaya mahal ia tidak akan mau jika Rusia dipermalukan.

Putin sedang membatin, inilah yang musti diwaspadai Israel.

Salam AGI

Update 23/3/2017:

Serangan Israel terhadap Suriah terjadi lagi pada 23 Maret 2017. Total serangan menjadi 49 kali.

In the wake of threats by Israeli Defense Minister Avigdor Liberman, the Israel Air Force (IAF) carried out two strikes against Assad regime and Hezbollah targets in Syria on Sunday and early Monday morning. These latest airstrikes come only two days after an IAF raid on Hezbollah weapons shipments in Palmyra, and seemingly as a response to an attempt by the Syrian Air Defense Forces (SADF) to shoot down the attacking Israeli jets.

Sumber : Longwar

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s