Waspadai Pengamanan Raja Salman

Kita sambut dengan riang gembira kedatangan rombongan besar kerajaan Arab Saudi. Dari sudut apapun kunjungan itu telah dikaji sangat fenomenal sehingga tak usah dikaji lagi pada tulisan ini. Mari kita simak sisi lain kedatangan raja Salman ke tanah air kita yakni upaya mencegah aksi teroris terhadap tamu kehormatan Indonesia selama  kunjungan ke Indonesia.

Secara harfiah false flag adalah operasi intelijen menciptakan permusuhan hingga mampu menciptakan opini dan sikap melawan terhadap musuh atau sesuatu menjadi objek sasaran intelijen itu sendiri.

Akan tetapi kini operasi false flage bukan lagi sebatas itu, operasi false flage bisa dilaksanakan oleh organsisasi lain, negara lain atau intelijen lain untuk memberi kesan seolah-olah pelakunya adalah negara atau organisasi tertentu. Dengan kata lain operasi false flag adalah operasi intelien tingkat tinggi untuk mengkambing hitamkan pihak lain.

Sebut saja beberapa contoh legendaris operasi false flag adalah operasi Northworth pada 13 Maret 1962. ketika sebuah pesawat komersil AS meledak dan menuduh Kuba dibalik aksi tersebut lalu memancing kongres AS melegetimasi invasi AS ke Kuba. Invasi singkat dijalankan pada 17–19 April 1961 dengan hasil AS gagal besar atas invasi tersebut.

Operasi Mukden pada 1931 ketika intelijen Jepang meledakkan jalur kereta api sendiri  di Jepang lalu menuduh China di balik aski tersebut dan melegetimasi invasi ke Manchuria pada 19 September 1931 – 27 Pebruari 1932 dengan hasil kemenangan besar bagi Jepang.

Turki melakukan pemboman di konsulat sendiri di Yunani pada 5  September 1955 lalu menyalahkan Yunani dengan tujuan menghasut dan membebaskan aksi kekerasan dan anti Yunani di Turki. Sumber :  e-book.

Operasi 11 September 2001 peledakan gedung kembar WTC di New York diduga melibatkan intelijen Israel telah memicu sumpah serapah AS terhadap al-Qaeda hingga melegetimasi operasi anti terorisme ke seluruh dunia sampai saat ini.

Pembunuhan terhadap tokoh utama Hamas di Dubai pada 20  Januari 2010 dilakukan oleh agen Mossad menggunakan paspor palsu Australia dan Inggris dengan tujuan menyalahkan Australia dan Inggris di balik aksi tersebut. Meski berhasil membunuh misi itu berkatagori amatiran. Pemerintah Inggris sampai “mengusir” diplomat Israel dari negeri itu untuk beberapa saat.

Masih banyak false flag operation sejenis di atas yang menimbulkan kecelakaan atau korban pejabat negara atau kerajaan sehingga menimbulkan tuduhan atau fitnah terhadap negara tertentu seperti terjadi pada Franz Ferdinand von Habsburg pangeran kekaisaran Austria – Hongaria pada 28 Juni 1914 yang tewas saat kunjungan ke Sarajevo. Pelaku adalah Gavrilo Princip, agen Serbia dengan tujuan menyalahkan  Bosnia. Kondisi itu disebut-sebut salah satu pencetus perang dunia pertama pada saat itu.

Terkait dengan situasi timur tengah melibatkan Kerajaan Saudi Arabia (KSA) di dalam perang Suriah dan Yaman serta kampanye KSA dalam anti terorisme dunia jelas membuat kelompok-kelompok merasa dirugikan oleh KSA mengintip dan mengintai celah apa dapat digunakan untuk membuat kekacauan, setidaknya adalah membuat tuduhan atau fitnah terhadap Indonesia dari upaya teror terhadap Raja Salman.

Tujuan teror terhadap raja Salman adalah :

  • Balas dendam terhadap KSA atas peran kerajaan tersebut dalam konflik di Suriah, Irak dan Yaman serta peranan KSA lainnya dalam perang melawan terorisme dunia
  • Menimpakan fitnah dan tuduhan terhadap Indonesia
  • Membuat kekacauan dan perpecahan di Indonesia
  • Membuat pemerintah dan militer Indonesia lemah dan tersudut di mata dunia internasional

Dengan pertahanan sipil, tentu tidak mudah menjalankan aksi teror di Indonesia apalagi terhadap Raja Salman dengan sistim penanganan pengamanan kelas dunia oleh intelijen KSA dan Indonesia. Kita juga tidak menginginkan ada gangguan terhadap kunjungan fenomenal Raja dan rombongan KSA di tanah air ini. Seluruh  rakyat Indonesia antusias menyambut riang gembira kedatangan “saudara sepupu” dari Arab Saudi.

Oleh karenanya kita berharap TIDAK akan terjadi apa-apa yang bisa mencoreng wajah kita atau menimbulkan fitnah terhadap bangsa dan negara Indonesia. Untuk itu sekadar mengingatkan agar pihak keamanan dan intelijen KSA-Indonesia TIDAK menyepelekan ancaman teror pada rombongan KSA baik langsung atau tidak.

Meski kecil peristiwa bom panci di Bandung kemarin (27/2) mungkin dilaksanakan oleh tim amatiran tapi patut diberi apresiasi semangat dan kesigapan petugas keamanan menangani aksi teror. Tapi bagaimana jika hal itu adalah sebuah uji coba pada sebuah peristiwa lebih besar terjadi pada saat kedatangan atau masa kunjungan rombongan KSA sedang di Indonesia? Tentu dapat menimbulkan fitnah bukan?

Oleh karena itu, mari sama-sama kita awasi lingkungan kita. Ciptakan ketenangan, perdamaian dan persatuan. Jangan sampai negara dan bangsa ini digiring dalam fitnah. Selain itu diharapkan petugas keamanan dan intelijen siap pertaruhkan segalanya untuk mengisi hari-hari panjang melelahkan cegah tangkal potensi gangguan keamanan selama rombongan KSA berada di Indonesia, dalam situasi dan kondisi timur tengah tidak kondusif.

Jangan anggap enteng,. jangan cuma melihat bom panci atau teror Sarinah. Antisipasi untuk cegah tangkal (cekal)  potensi ancaman skala lebih besar sehingga kita semua sama-sama sukses menjaga keamanan sesuai dengan povsi dan tanggung jawab masing-masing.

“Ahlan wa sahlan Raja Salman..” Semoga senang dan bangga dengan Indonesia. Kiranya berkenan juga mengunjungi “Serambi Mekkah,” Aceh.., hehehehehe.

salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s