Siti Aisyah dan Altantuya Korban Agen?

Gambar : Okezone.com. Abc.net.au @abanggeutanyo

Altantuya Shariibuu yang tewas diluar kota Shah Alam, Selangor Malaysia pada 18 Oktober 2006 lalu menjadi inpirasi penulis dalam kasus tertangkapnya Siti Aisyah kini sedang menghangat terkait pembunuhan Kim Jung- Nam, saudara tiri pemimpin Korea Utara (Korut) di Malaysia.

Rahasia apa saja dibalik  kematian Altantuya telah diketahui banyak orang. Dia korban konspirasi level tinggi dengan cara amat sadis. Sisa mayat Altantuya baru ditemukan pada 7 Nopember 2006. Bahan peledak C-4 digunakan menamatkan riawayat wanita malang itu benar-benar bekerja sangat dahsyat hingga sobekan pakaiannya terlempar kemana-mana. Satu bagian potongannya tersangkut di sebuah ranting pohon di Mukim Bukit Raja, sebuah kawasan pinggir kota Shah Alam.

Dua polisi dan satu politisi  dituding sebagai agen telah berkomplot melakukan pembunuhan berencana terhadap wanita itu. Kedua polisi telah dijatuhi hukuman mati sedangkan Abdul Razak Baginda politisi dan penguasaha papan atas Malaysia dibebaskan dari tuduhan. Kedua agen polisi itu Azilah dan Sirul Azhar digantung pada 13 Januari 2015 seakan-akan ikut mengubur kasus pembunuhan tingkat tinggi itu namun ternyata tidak, kasus itu tetap kontroversial hingga saat ini.

Mengapa Altantuya tewas ditangan kedua agen polisi Malaysia dengan lebih detail dan konprehensif  dan tewas dengan cara amat keji tentu penyidik Malaysia lebih tahu sebab musababnya. Kita hanya mengetahui dari luar bahwa Altantuya –kala itu masih berusia 28 tahun–  tewas akibat konspirasi tingkat tinggi pengusaha dan penguasa Malaysia.

Entah karena terlalu banyak tahu tentang rahasia dibalik negosiasi pembelian kapal selam itu atau entah karena menuntut hak nya (komisi) terlalu tinggi atas sisa komisi dari pembelian dua unit Scorpene pada 2002  atau karena terlibat kasih asmara dengan politisi Malaysia, faktanya adalah 4 tahun setelah skandal korupsi  atas pembelian dua unit Scorpene makin terkuak dan menghangat terjadilah kasus pembunuhan sadis terhadap wanita malang itu hingga mengakibatkan kedua agen polisi Malaysia hampir 10 tahun setelah kematian Altantuya.

Pada kasus Altantuya status kedua polisi itu adalah agen membunuh agen Scorpene. Meski sebagai penerjemah negosiasi ia juga agen pembelian dua kapal selam Scorpene. Kedua polisi itu  menjalankan tugas pembunuhan terhadap ‘agen’ scorpene.

Kini, korban akibat korban akibat ulah agen mucul kembali. Kali ini menimpa wanita berwarga negara Indonesia sedang menetap di Malaysia sejak 2010 lalu, Siti Aisyah namanya. Dia adalah isteri dari Gunawan Hasyim salah satu putra Lian Kong, pengusaha konveksi di Jalan Angke Indah Gang III nomor 16, RT05/03, Tambora, Jakarta. TKI wanita ini dituduh menjadi salah satu agen pembunuhan terhadap Kim Jong – Nam, kakak tiri pemimpin Korea Utara, Kim Jon Un di salah satu kawasan bandara Kuala Lumpur International Airport Jumat, 17 Pebruari 2017.

Siti Aisyah wanita asal Serang, Banten ini tidak berpendidikan tinggi. Jika dibandingkan Altantuya “Aminah” dengan pendidikan tinggi hingga ke Paris dan segudang pengalaman dijajaran elite jetset politikus Malaysia  Siti Aisyah hanya tamatan SD dari Serang, Banten Jabar  dan tidak mungkin tidak tahu politik apa – apa tentang Korea Utara (Korut) dan musuh-musuhnya.

Siti Aishah dan seorang wanita buronan lain –Thi Huong asal Vietnam– dituding pelakunya. Artinya bisa jadi nasib Siti Aisyah akan seperti nasib kedua polisi Malaysia menjadi korban dalam korban pembunuhan terhadap Altantuya.

Meski Siti Aisyah bukan agen akan tetapi ada beberapa catatan menarik dari kasus Siti Aisyah di atas yang mungkin dapat membantu kita melihat apakah ada kaitannya dengan profesinya agen, dimanfaatkan agen atau jadi korban agen seperti Altantuya. Beberapa catatan sekaligus pertanyaan itu antara lain adalah :

  • Aisyah sudah menetap dan bekerja di Malaysia hampir 7 tahun. Apa tugas sesungguhnya Aisyah di Malaysia? Jika tidak berpenghasilan lebih mungkinkah Aisyah bisa bertahan lama-lama hingga 7 tahun di Malaysia?
  • Aisyah ternyata mampu menjalin komunikasi dan interaksi dengan warga Vietnam. Siapa penghubungnya dengan wanita Vietnam itu. Suaminya sendiri ataukah ada pihak lain?
  • Ia dituding menerima bayaran USD 100 atau sekitar Rp 1,3 juta (kurs USD 1 sama dengan Rp 13.340) untuk aksi “gurauan.” itu. Dia tidak menyangka aksi itu berdampak pada kematian pada seseorang melalui suntikan beracun.
  • Mungkinkah ada pihak lain menerima upah lebih tinggi dibalik Aisah?
  • Mungkinkah Siti Aisyah bekerja untuk teman-teman kumpulnya cuma karena kepolosan dan keluguannya?
  • Mungkinkah ada agen Malaysia menggunakan jasa wanita polos tersebut? Beberapa jam lalu saat tulisan ini disiapkan, Polisi Malaysia menangkap salah satu terduga lain yaitu Ri Jong Chol, warga Korut kelahiran 6 Mai 1970 bekerja di Malaysia. Dengan demikian jumlah tersangka dalam kasus pembunuhan terhadap saudara tiri pemimpin Korea Utara kini menjadi 3 orang.

Menurut sejumlah informasi Siti Aisyah tidak tahu apa yang dikerjakan selain sebuah canda-candaan. Ia tak tahu obyek candaan itu adalah saudara tiri pemimpin besar Korut. Bagi agen negeri-negeri anti Korut obyek seperti itu adalah sasaran empuk, dapat diekploitir untuk meningkatkan ketegangan dan mempengaruhi psikologis pemimpin Korut. Maka pembunuhan terhadap kakak tiri Kin Jong Un salah satu tujuannya adalah upaya membuat Kin Jong Un tertekan.

Pembunuhan terhadap saudara tirinya juga mengirim pesan pada Un bahwa nasib Un pun dapat berakhir sama dengan saudara tirinya.Biasanya tugas-tugas seperti itu adalah misi khusus agen rahasia diterapkan intelijen negara musuh Korea Utara.

Jika melihat pada peta lawan atau musuh Korut saat ini adalah : Korea Selatan; Jepang; Burma ; Amerika Serikat dan Uni Eropa. Mungkinkah negara-negara musuh Korut menggunakan tenaga intelijen sekelas Siti Aisyah? Jawabnya mungkin saja justru melalui kepolosan Siti Aisyah. Kepolosan  Aisah dimanfaatkan tim khusus untuk melenyapkan saudara tiri Kim Jon Un dengan tujuan menekan Kim Jon Un secara psikologis.

Apapun dan siapapun dibalik itu Aisah kini dituduh melakukan tindakan kriminal pembunuhan jiwa orang lain dan itu terjadi di Malaysia dan itu berdampak pada risiko besar terhadap Siti Aisyah yang polos itu.

Dibanding dengan Altantuya Siti Aisyah berbeda kelas dalam berbagai hal. Sayangnya, meski beda kelas dalam segala hal risikonya adalah sama : Siti Aisyah bisa menjadi korban meskipun tuduhan terhadap Siti Aisyah –sebut saja–  rekayasa.  Pantas pihak Korut melihat kasus ini benar-benar kentara rekayasanya dengan sindiran  “amatiran.”

Maka dari itu ada baiknya anda, TKI dan kita menjaga kepolosan dan keramahan dalam bergaul sehingga tidak dimanfaatkan pihak lain menjalankan misi-misi khusus mengeksploitir keterbukaan kita sehingga menimbulkan masalah besar, apalagi —ternyata kemudian— dampaknya sangat serius. Akan beda sudut pandangnya jika kita sendiri telah siap menerima dampak negatif apapun jika misi-misi khusus itu gagal dan telah paham tentang hal itu walaupun mencoba memberi alibi sebagai taktik mengelabui ketika pemeriksaan sebagaimana kondisi Aisah disebutkan di atas.

Jadi kita simak saja sejauh apa polisi Malaysia menguak tabir dibalik kematian Kim Jong Nam dengan lebih profesional. Semoga kebenaran kali ini akan terkuak lebih awal sehingga Aisah tidak dikorbankan akibat kepolosannya oleh agen manapun.

Apapun hasilnya kita hormati polisi Malaysia menjalankan penyidikannya terhadap siapapun di negerinya sendiri. Tentu saja polisi Malaysia tak ingin diintervensi oleh opini apapun, namun demikian tetap penting mempertimbangkan aneka masukan-masukan setidaknya sebagai pembanding.

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s