Damai Suriah “made in” Iran-Rusia-Turki, Tanpa Pizza, Vodka dan Amerika

Sumber: cfr.org

Proses damai Suriah sejak perang saudara meletus pada Maret 2011 lalu hingga di penghujung 2016 telah terlaksana 14 kali. Persetujuan damai terakhir diprakarsai -Rusia – Turki ditengah sejumlah upaya provokatif menggagalkan rintisan kedua negera tersebut oleh sejumlah peristiwa menegangkan. Kesepakatan damai terkini diprakarsai Rusia – Turki dan disponsori oleh Kazakhtan telah ditandatangai di ibukota Asatna, 29 Desember 2016 lalu.

Perjanjian damai itu telah dirintis oleh Putin dan Erdogan saat kunjungan Presiden Turki ke Rusia dan sejumlah pertemuan tingkat Menteri Luar Negeri kedua negara. Putin memberikan signal positif kesediaan Turki untuk bertemu di Astana saat ia memberi keterangan pers dalam kunjungannya ke Jepang pada Desember 2016 lalu. Kini kedua negara telah membuktikan rencana tersebut dan ibukota Astana menjadi saksi sejarah baru damai Suriah.

Mengapa itu disebut terobosan baru karena dari 13 kali proses dan kesepakatan damai telah dicapai sebelumnya diprakarsai sejumlah negara dan UE bahkan PBB tidak menghasilkan kondisi damai sesungguhnya. Gencatan senjata atau penghentian permusuhan sementara pun tidak mencapai tujuan sesuai harapan selain menjadi momentum seluruh pihak  memperkuat kembali sistim pertahanan masing-masing.

Tapi kali ini Turki akhirnya bersedia membuka diri. Setelah sarat sorotan tudingan menjadi salah satu sponsor dalam perang Suriah, kini Turki membuka diri pada Rusia setelah fakta memperlihatkan dan menunjukkan ketahanan dan stabilitas dalam negeri Turki menjadi longgar bahkan usaha kudeta terhadap Erdogan pada Juli lalu adalah sebuah fakta usaha melemahkan posisi Erdogan di Turki oleh negara berpura menjadi teman Turki.

Proses damai Turki – Rusia masuk pada babak baru perdamian Suriah. Hubungan Turki – Rusia pun kian menghangat setelah jet tempur kedua AU negara itu terlibat bahu membahu menghancurkan posisi ISIS di kota Al-Bab.

Akan tetapi apakah damai “made in” Turki – Rusia akan langgeng atau berhasil? Mari kita lihat perkembanganna sebelum mengambil kesimpulan damai kali ini sukses atau tidak dan mengapa hal itu terjadi.

Sebelum kesepakatanini telah digelar 12 kali upaya gencatan senjata untuk damai Suriah, antara lain adalah : 

  1. Usulan Perdamaian oleh Liga Arab ke-1 pada November 2011
  2. Usulan Perdamaian oleh Liga Arab ke-2 pada Desember 2011- Januari 2012
  3. Usulan proposal Rusia (dikenal dengan proposal VitalY Churkin) pada Februari 2012. Churkin adalah dubes Rusia untuk PBB saat itu.
  4. Usulan Koffi Annan (dikenal dengan istilah six-points Peace Plan for Syria) pada Maret 2012
  5. Pertemuan pembicaraan damai Jenewa 1 (30 Juni 2012)
  6. Usulan Lakhdar Brahimi pada Agustus 2012. Lakhdar adalah wakil PBB untuk menjadi negosiator damai Suriah
  7. Inisiatif Damai oleh AS-Rusia (Mai 2013)
  8. Pertemuan Jenewa 2 (23–31 January 2014)
  9. Proposal Staffan Domingo de Mistura (29 Juli 2015) de Mistura adalah utusan PBB untuk damai Suriah menggantikan Lakhdar sejak 10 Juli 2014.
  10. Genjatan senjata Zabadani (24 September 2015). Atas permintaan PBB, kepungan terhadap ratusan pemberontak dari desa Al-Fou’aa and Kafraya di Provinsi Idlib pada 26 September 2015 dibebaskan sehingga ribuan warga dan ratusan pemberontak dievakuasi ke luar dari dua desa yang dikepung selama 6 bulan oleh tentara Suriah.
  11. Pertemuan International Syria Support Group (ISSG) di Wina, Austria (30 Oktober 2015). Sebanyak 17 negara berpengaruh terkait konflik Suriah bernegosiasi untuk memberi bantuan perdamaian pada Suriah
  12. Pertemuan Jenewa (sepakat disebut dengan Jenewa III) pada 1 Pebruari 2016. Sebanyak 36 sayap organisasi dan milisi dukungan Arab Saudi serta YPG, Al-Nusra dan IS diputuskan tidak diundang PBB. Utusan yang diundang adalah the High Negotiations Committee (HNC). Ketua DELEGASI dipimpin oleh Asaad al-Zoubi. Sementara delegasi Suriah dipimpin dubes Suriah untuk PBB, Bashar Jafaari.
  13. Perjanjian damai usulan AS dan Rusia  pada 10/9/2016 di Jenewa Swiss.
  14. Kesepakatan damai usulan Turki – Rusia – Iran, 29 Desember 2016 di Astana, Kazakhstan,

Kesepakatan damai usulan Turki – Rusia, 29 Desember 2016

Proses damai dicapai Turki dan Rusia kali ini tak kalah rumit dengan sejumlah proses damai telah digelar sebelumnya. Perdamaian kali ini tidak melibatkan ISIS, Al Nusra, SDF/ YPG dan kelompok FSA moderat dukungan AS bahkan AS senidiri. Selain itu juga tidak melibatkan kelompok kuat dalam tubuh FSA yaitu Jaysh al-Islam (Army of Islam) dan  (akhinya) Ahrar al-Sham juga tidak terlibat.

Untuk mengetahui ada apa dibalik proses damai itu dan apa perkembanganna serta akan seperti apa nasib damai “made in” Turki – Rusia mari kita lihat beberapa hal dibalik itu sebagai berikut :

Sehari sebelum perdamaian dilaksanakan Menteri Pertahan Rusia mengatakan ada 14 kelompok FSA akan terlibat dalam perdamaian yaitu : .  Namun dua hari setelah damai itu salah satu pejabat kelompok FSA di front utara menolak damai itu karena tidak dilibatkan. “Free Syrian Army Southern Front spokesperson Major Issam al-Rees rejects the Russian-Turkish brokered ceasefire because they weren’t invited to the talks,” sebut sumber  twitter.com 

Sehari sebelum penandatangan dilakukan, Rusia menerbitkan daftar kelompok Moderat FSA (selama ini AS menolak menebutkannya). Salah satu kelompok dari daftar itu adalah grup paling kuat, Ahrar al-Sham yang memiliki kekuatan 80 detasemen dengan jumlah petempur seluruhnya mencapai 16.000-an orang. Selama ini dan sebelum damai Turki – Rusia dicapai, kelompok ini masuk katagori teroris Suriah.

Rusia terpaksa membatalkan sebutan teroris terhadap kelompaok Ahrar al-Sham sebagai salah satu syarat keterlibatan kelompok tersebut. Namun apa daya pada saat damai ditandatangani kelompok itu mengatakan tidak terlibat dalam perdamaian meskipun awalna memberi jawabab ikut serta dan akan menandatangani.

Entah karena terlalu sibuk atau alasan apa Turki hampir lupa mengundang atau mengajak AS. Tapi akhirnya sehari sebelum pertemuan Astana, MenluTurki Mevlut Cavusoglu, kepada pers mengatakan akan mengundang AS terlibat dalam proses damai kali ini. “We welcome the (possible) US participation in the meeting in Astana,”  katanya menjawan pertaynaan the Al Arabiya TV channel. Sumber : almasdarnews.

Pemimpin spiritual Kurdi menyayangkan Rusia dan Turki tidak melibatkan PYD dan PKK. Tapi apa boleh buat, Turki membuat syarat kedua kelompok itu ke dua Organisasi Kurdi itu  –kini didukung AS- tidak dimasukkan dalam perundingan. Akan tetapi menurut sumber lain mengatakan Pihak Kurdi  memang tidak mau telibat. “The Kurdish YPG would not take part in the peace talks, the FSA said,”  tulis BBC edisi 29/12∫2016.

Saat gencatan senjata dan damai berlangsung, Osama Abou Zaid ketua perwakilan FSA yang dianggap mewakili kubu FSA mengatakan, dari 40 grup bersenjata melawan rezim Assad dan dukungannya. Dari jumlah 40 itu ada 13 kelompok bersenjata FSA menerima gencatan senjata dan perdamaian kali ini. Zaid tidak menyebutkan 13 kelompok atau grup itu namun menebutkan beberapa saja antara lain adalah Faylaq al-Sham, Ahrar al-Sham, Jaysh al-Islam, Thuwwar Ahl al-Sham, Jaysh al-Mujahidin, Jaysh Idlib and al-Jabhah al-Shamiyah, sebutnya seperti diukutip dari  hurriyetdailynews  edisi 29/12/2016.

Sorotan paling utama kelompok FSA adalah keberadaan pasukan dan milisi Syiah-Iran di Suriah. Untuk itu posisi Rusia sangat sulit namun menjamin hal itu pada Turki akan dapat dilaksanakan penarikan jika damai Suriah dapat dicapai

Dua jam setelah gencatan senjata ditandatangani sekelompok FSA Idblib menyerang posisi SAA di sebuah desa Muhardah selatan menyebabkan 1 SAA tewas ditempat. Ini adalah catatan pertama pelanggaran gencatan senjata pasca ditandatangani Turki- Rusia dan pihak bertikai dalam SAA dan 13 grup dalam FSA.

Beberapa jam setelah perdamaian disepakai, sejumlah warga di kantong-kantong besar dan kecil kota dikuasai FSA hampir serentak melaksanakan demonstrasi besar meminta FSA melanjutkan perjuangan melawan pemerintah. Tak kurang belasan kota besar dan kecil melaksanakan aksi demo pada hari sama dan jam hampir sama  mendukung FSA meneruskan perjuangan. Salah satu kota adalah Wadi Barada yang kemudian kembali diserang  SAA pada 30 Desember 2016 atau setelah sehari sebelumnya mundur dari kawasan kota tersebut menikapi hasil gencatan senjata dalam catatan pengamatan Lembaga kemanusiaan di kota itu.

Sehari setelah gencatan senjata dan damai ditandatangani 13 grup FSA ikut perjanjian damai, para petinggi dan pemuka agama di kalangan FSA serta tokoh masyarakat mengeluarkan statemen dan usulan penggabungan seluruh kelompok pemberontak FSA menjadi Pasukan Islam Idlib. Tokoh agama dan masyarakat dari Ahrar al Syam dan Jabhat Fateh al-Sham (dahulu Al Nusra) mendukung dan mempublikasikan keputusan tersebut sehari setelah damai.

Sehari setelah kesepakatan damai, pesawat tempur Rusia – Turki kini berkolaborasi menyerang posisi ISIS di atas kota Al-Bab. Akan tetapi AU Rusia tidak terlibat membantu AU Turki (TuAF) di dalam kawasan SDF seperti di at kota Manbij pada hari ini saat tulisan ini dibuat.

Sedikit terlambat, dua hari setelah kesepakatan itu ditandangani, tepat di penghujung tahun ini, 31 Desember 2016  Dewan Keamanan PBB menerbitkan resolusi 2336 mendukung proses damai Suriah oleh Turki-Iran-Rusia. Meski terlambat bereaksi namun dukungan PBB seperti menjadi obat pelepas dahaga pencari perdamaian Suriah

Hampir sama dengan PBB, AS baru mengakui perjanjian damai itu dua hari setelah gencatan dan perundingan damai disepakati di Astana. Entah mengapa kali ini AS sangat terlambat menyikapi hal tersebut

Tiga hari pasca perdamaian dan gencatan senjata, sebuah bom meledak di kota Tarsus menewaskan dua polisi Suriah

Tiga hari pasca gencatan senjata, SAA menyerang Ein Tarma dan Wadi Barada. Pengamat menilai SAA melanggar gencatan senjata meskipun hal itu tak lepas dari sikap warga dan kelompok bersenjata di kota itu tak mendukung gencatan senjata dimediasi Turki – Rusia. Bahkan serangan pertama terhadap posisi SAA di desa Idlib menewaskan dua SAA adalah pelanggaran pertama dalam catatan pengamat.

Empat hari setelah kesepakatan damai dicapai atau tepatnya pada 1 Januari 2017, menyiikapi kondisi dan sikap SAA dan FSA pada sejumlah kasus disebut “pelanggaran” oleh sebagian pengamat pada Suriah, Menteri pertahanan Turki Fikri Isik kepada media  berita Turki Anadola Agency mengatakan sejauh ini hal itu belum dapat merusak upaya damai dan gencatan senjata di Suriah,” sebutnya.

Dari serangkaian gambaran di atas terlihat bahwa :

  • Proses damai made in Rusia Turki memperlihatkan ada kekuatan besar di balik kekuatan Turki dalam tubuh FSA. Di dalam tubuh FSA telah masuk kepentingan negara lain selain pengaruh Turki. Bahkan Turki tidak mampu mengendalikan satuan dan unit tempur ellite seperti Jaish al-Islam milisi asli dominan Suriah seperti  Faylaq al-Sham, Ahrar al-Sham, Jaysh al-Islam, Thuwwar Ahl al-Sham, Jaysh Idlib and al-Jabhah al-Shamiyah meskipun grup itu menerima bantuan Turki.
  • Kontra intelijen sedang diterapkan oleh kubu Anti damai dengan menggelar demo serentak meminta FSA bersatu tetap berperang melawan SAA dan aliansi Suriah Kelompok pemuka agama dan masyarakat telah digerakkan oleh kepentingan lain untuk tetap meneruskan perang Suriah. Ini artinya perpecahan dalam kubu FSA. Jika mengacu pada 40 jumlah sayap militer disebutkan di atas maka akan terjadi pertempuran baru 13 milisi FSA melawan 27 milisi FSA atau mungkin bisa kurang jika merger terlaksana.
  • Kampanye merger FSA berlangsung saat damai saat ini diikuti oleh 13 grup FSA memperlihatkan dalam tubuh FSA terjadi rebutan kekuasaan menentukan kelompok mana selama ini paling berambisi menjadi kubu paling kuat diantara sesama kelompok FSA. Grub FSA dari Faylaq al-Sham, Ahrar al-Sham, Jaysh al-Islam, Thuwwar Ahl al-Sham, Jaysh al-Mujahidin, Jaysh Idlib and al-Jabhah al-Shamiyah adalah kekuatan kuat ang lebih fokus pada kepentingan Suriah tidak untuk kepentingan negara lain walaupun menjadi sponsor mereka.
  • Kesepakatan dicapai Iran, Rusia dan Turki adalah sebuah pesan mengandung tamparan ke wajah PBB, UE dan mungkin barat koalisi pimpinan AS. Dewan keamanan PBB buru-buru melaksanakan pertemuan sebelum libur tahun baru agar dapat menghaslkan resolusi meskipun dipenghujung tahun untuk  merespon manuver Turki – Rusia. Sepertinya PBB mampu mengantisipasi dalam merespon hasil pertemuan positif damai Suriah disponsori Turki – Rusia sehingga harus meeting dipenghujung tahun.
  • Meskipun akhirnya AS mengucapkan selamat atas tercapainya hasil damai tersebut tapi mengapa AS seperti kurang bersemangat? Mungkinkah ini disebabkan karena tidak dilibatkan dalam negosiasi dan proses bahkan dalam implementasi sekalipun. Namun demikian AS seperti biasa akan bereaksi pada saatnya. Pertama mengucapkan selamat atas pencapaian damai tersebut meskipun setelah dua atau tiga hari.
  • Kedua, AS akan menyiapkan pembalasan. “Tamparan” ini telak untuk ukuran AS karena kolaborasi Turki – Russia itu mengirim pesan pada dunia bahwa tanpa AS pun proses damai dapat dilaksanakan. Bahkan pesan lebih pahit dan memojokkan adalah seolah-olah AS lah paling tidak senang dengan perdamaian Suriah meskipun untuk dan atas kepentingan negara lain yang bersedia “membayar lebih: untuk itu.
    • Masih ingat betapa alotnya pencapaian kesepakatan damai setengah hati AS pada pertemuan Swiss  pada 10/9/2016 lalu di Jenewa Swiss? Upaya disepakati AS dan Rusia saat itu terhenti beberapa jam akibat beradu kepentingan Pentagon dengan Senat AS.  Menlu Kerry harus menunggu lama proses aproval pihak terkait di negerinya. Dan setelah ditandatangani mucul kabar tak sedap adanya beda sikap antara Pentago, Senat dan Pemerintah Obama.

Pesta Pizza dan Vodka untuk merayakan keberhasilan damai saat itu sekaligus melepas kelelahan juru runding AS- Rusia pun seakan sirna  seiring tidak efektifnya implementasi damai setlah itu. Sejumlah poin-poin damai pun tak jelas bentuknya hingga saat ini. Damai itu menguap sendirinya bersama bara api letusan aneka senjata yang membakar seluruh Suriah.

Lebih menyedihkan lagi nasib rakyat Suriah pun semakin pahit. Perang berlanjut dan penderitaan tak berkesudahan, sementara negara sponsor atas dasar kepentingan tertentu bermain di atas jwa dan nyawa  rakyat Suriah.

Ketika warga kota Aleppo diberi kesempatan untuk keluar dari zona bahaya kota itu pun masih ada pihak-pihak tertentu melarang bahkan mengancam penduduk kota itu agar tetap tinggal bersama mereka. Provokasi dijalankan dengan aneka tudingan menakutkan jika warga keluar dari kota. Kini mereka sudah tahu dan pasti lebih tahu sehingga kini mereka mulai kembali lagi ke rumah mereka di kota itu setelah kota itu “dibersihkan.”

Apakah perundingan damai dan gencatan senjata kali ini akan membuahkan hasil? Menurut informasi proses damai ini disokong PBB dan akan diperkuat lagi oleh PBB dengan mengadakan pertemuan tingkat tinggi di PBB pada Pebruari nanti.

Semoga tidak ada lagi yang bermain-main diatas jiwa dan nyawa rakyat Suriah dengan dalih dan tujuan apapun. Persetujuan damai Iran- Turki dan Rusia kali tak perlu Vodka dan Pizza semoga tidak sekadar damainya para Menlu tiga serangkai diatas saja. Pertemuan lanjutan pada Pebruari 2017 nanti pun tak perlu pesta Pizza dan Vodka untuk mengakhiri perang paling rumit di abad modern di planet ini. Pizzanya buat saya saja.. hehehehee..

Salam AGI

Save

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s