Andrey Karlov Tewas Akibat Konspirasi atau Sponsor?

Foto: Aljazeera.com

Peristiwa serangan terhadap kantor Kedutaan Besar, Konsulat atau kantor Perwakilan Diplomatik asing telah sering terjadi. Serangan mematikan atau melukai Duta Besar (Dubes), Konsul atau Diplomat juga banyak terjadi.

Jika dihitung sejak tewasnya Aleksander Griboyedov, Dubes Rusia untuk Persia (Iran) — tonggak pertama kematian Dubes di seluruh dunia— hingga kini telah terjadi 216 kali peristiwa serangan melukai hingga menewaskan sejumlah perwakil sebuah negara di negara lain tempat mereka ditugaskan.

Sebelum peristiwa tewasnya Andrey Karlov, Dubes Rusia untuk Turki (20/12) di Ankara, peristiwa serangan terhadap kantor Keudtaan Besar (Kedubes) terakhir adalah serangan kelompok Taliban terhadap kantor konsulat Jerman di Mazar i-Syarif pada 10 Nopember 2016 lalu menewaskan 8 orang terdiri atas 6 petugas konsulat dan warga serta 2 penyerang serta melukai ratusan orang di sekitarnya.

Dikutip dari berbagai sumber, telah terjadi 216 kali kasus serangan terhadap gedung Kedubes dan diplomat asing di seluruh negara. Dari jumlah itu terjadi 17 kali pembunuhan terhadap Dubes (tidak ikut konsul yang tewas akibat sakit atau kecelakaan) di seluruh dunia yaitu :

  1. Pada 19 Desember 2016, Andrey Karlov, Dubes Rusia untuk Turki
  2. Pada 11 September 2012,  Chris Stevens dan 3 staf di kantor Kedubes AS di Benghazie, Libya
  3. Pada 18 Januari 1993, Philippe Bernard, Dubes Perancis
  4. Pada 15 Desember 1981, Abdul Razzak Lafta, Dubes  Irak untuk Lebanon
  5. Pada 4 September 1981, Louis Delamare, Dubes Perancis untuk Lebanon
  6. Pada Pebruari 1979, Adolph Dubs, Dubes AS untuk Afghanistan
  7. Pada 11 Mai 1976, Joaquin Zenteno Anaya, Dubes Bolivia untuk Perancis
  8. Pada Juni 1976, Francis E Meloy, Dubes AS untuk Lebanon di Beirut
  9. Pada Agustus 1974, Rodger P Davies, Dubes AS untuk Siprus
  10. Pada 1 Maret 1973, Cleo A Noel, Dubes AS untuk Sudan
  11. Pada 7 April 1971, Vladimir Rolović, Dubes Yugoslavia di Stockholm, Swedia
  12. Pada 14 Juli 1979, Dubes Mesir untuk Turki
  13. Pada 28 Agustus 1968, John Gordon Mein, Dubes AS untuk Guatemala
  14. Pada 29 Nopember 1962,Momčilo Popović Dubes Yugo untuk Kroasia
  15. Pada 1927, Pyotr Voykov, Dubes Rusia untuk Polandia
  16. Pada 1923, Vatslav Varovsky, Dubes Rusia untuk Lausanne atau Swiss
  17. Pada 11 Pebruari 1829, Aleksander Griboyedov dubes Rusia untuk Persia (Iran)

Dari 17 kasus kematian Dubes di seluruh dunia, AS mengalami kehilangan jiwa Dubes sebanyak 8 Dubes, termasuk 2 Dubes tewas akibat kecelakaan pesawat, yaitu Arnold L. Raphel tewas di Pakistan pada 1988 dan Laurence A. Steinhardt tewas di Kanada  pada 1950.

Peristiwa kematian Dubes Karlov ini adalah kasus ke dua kematian Diplomat asing di Turki setelah peristiwa tewasnya konjen Israel Ephraim Elromrael untuk Turki pada 1971.

Bagi Rusia kematian Dubes Karlov ini melengkapi kematian ke 4 dubes mereka setelah Pyotr Voykov, Dubes Rusia untuk Polandia, Vatslav Varovsky, Dubes Rusia untuk Lausanne atau Swiss dan Aleksander Griboyedo terjadi hampir dua abad lalu, pada 11 Pebruari 1829.

Meskipun Rusia sedikit kehilangan diplomatnya (4 Dubes)  dibanding AS telah kehilangan 8 Dubesnya tapi kasus kehilangan dubes Rusia kali ini memang menarik dikaji. Ada apa, mengapa dan siapa dibalik pembunuhan terhadap Andrey Karlov Dubes Rusia untuk Turki ?

Penting diketahui adalah apabila terjadi kasus serangan terhadap suatu kedubes di sebuah negara belum tentu negara tempat Dubes itu ditempatkan sebagai pelaku serangan.Serangan dan pembunuhan terhadap Dubes Perancis di Beirut pada 4 September 1981 adalah salah satu contoh. Intelijen Perancis menduduh Suriah bertanggung jawab pada kasus menewaskan Dubes Louis Delamare pada masa itu.

Begitu juga dengan kematian Dubes Andrey Karlov di atas bisa jadi tak lepas dari dugaan konspirasi lawan-lawan Rusia, setdaknya berkaitan dengan perang Suriah, seperti dugaan intlejen Rusia tentang peranan intelijen barat dalam kasus kematian dubes Karlov tersebut.

Namun demikian tidak tertutup kemungkinan juga ada konspirasi internal Rusia menghilangkan diplomat mereka sendiri atas dasar tujuan dan kepentingan tertentu.

Berdasarkan beberapa pertanyaan mencurigakan, mengapa selama 6 tahun perang Suriah kita tidak mendengar serangan apapun terhadap kedubes Suriah di manapun meskipun hal itu tidak kita harapkan.

Mengapa serangan terhadap Karlov dan dengan cara sangat mudah dan terbuka? Ke dua pertanyaan itu adalah contoh pertanyaan betapa mencurigakan dibalik kasus kematian Karlov.

Andrey Karlov menempati pos Turki sejak 12 Juli 2013 – 19 Desember 2016. Jika perang Suriah berjalan hampir 6 tahun maka Karlov menempati posisi strategis dan paling rumit di Turki hampir 1/2 dari usia perang Suriah. Dengan kata lain Karlov dinilai lebih banyak tahu, lebih berperan dan lebih strategis dalam menjembatani urusan Rusia dengan Turki dalam sejumlah trik dan intrik perang Suriah, termasuk intrik-intrik menghadapi siasat barat.

Dalam karier sebagai Dubes, sebelumnya pada 9 Juli 2001 – 20 Desember 2006 ia bertugas di pos Pyongyang, Korut. Dan sebelum itu ia menjadi staf di kedubes itu sejak 1992 hingga 1997.

Diplomat tamatan Universitas Moskow jurusan hubungan Internasional berusia 62 tahun ini tewas dengan cara amat mudah, terbuka di depan umum dalam acara pembukaan pameran foto di luar kantor Kedubes di Ankara. Ia ditembak dengan sangat dekat oleh polisi Turki Mevlüt Mert Altıntaş yang sedang tidak bertugas pada saat itu dan sedang mengunjungi acara seni foto tersebut.

Sponsor, Konspirasi atau Spontanitas?

Altıntaş adalah anggota polisi anti huru-hara Turki di Ankara. Ia berpakaian necis dan membawa pistol ke dalam acara yang dijaga petugas keamanan Turki. Mengapa Altintas bisa lolos dan mendekati Karlov lalu bertindak sangat cepat dan tidak ada upaya mencegah Altintas mendekati karlov pada saat itu adalah sebuah teka-teki tak perlu lama untuk menjawab siapa sponsor dibalik aksi tersebut.

Meski pelakunya adalah polisi Turki sejumlah pengamat menilai ada pihak lain sebagai sponsor eksekusi tersebut. Selain itu tidak mungkin kejadian begitu saja terjadi mendadak, mendesak dan tidak terencana, artinya tidak mungkin aksi itu adalah spontanitas Altantis semata. Ada sponsor besar dibalik aksi tersebut.

Proses kematian Altantis setelah baku tembak berlangsung 2 jam adalah sesuatu yang mencurigakan mengingat Altantis telah menghabiskan 5 peluru dari dalam magazin pistol FN nya. Altantis tidak bisa ditangkap hidup-hidup sehingga memutuskan seluruh rangkaian sponsor tersebut.

Kelihatannya sponsor Altantis ingin membuat Rusia malu sekaligus melampiaskan dendam akibat “kekalahan” di Aleppo pada Karlov. Hal itu sangat mudah terbaca karena Rusia telah habis-habisan membantu Suriah dan memenangkan secara dejuri perang tersebut dengan jatuhnya kota Aleppo dari tangan FSA ke tangan pasukan SAA.

Rusia telah melaksanakan trik dan intrik apapun berkaitan dengan counter trik-intrik barat dalam mendukung pemberontakan di Suriah

Rusia mampu menarik dan memberi keyakinan pelan tapi pasti sehingga otoritas Turki akin dan percaya adanya upaya menggagalkan ambis Turki mencapai cita-cita anti sekulernya

Rusia, Turki dan Iran telah sepakat bertemu di negara netral pada hari ini membicarakan langkah kongkrit penyelesaian perang Suriah. Upaya ini telah ditempuh berbulan-bulan lalu dan mengerucut pada Desember lalu disepakati pertemuan segitiga itu pada hari ini. Kegiatan tersebut tetap dijalankan meskipun terjadi peristiwa yang mudah “dibaca” oleh Erdogan dan Putin sebagai langkah provokatif untuk memecah konsentrasi kerjasama Turki-Rusia.

Siapa tokoh dibalik keberhasilan seluruh pengkondisian dan proses tersebut, tak lain salah satunya adalah tokoh Andrei Karlov. Dialah tokoh kunci Rusia dalam memainkan aneka kebijakan dan taktis Rusia dalam perang paling tidak punya rasa malu lagi di abad modern di planet ini.

Itulah dugaan keterlibatan sejumlah negara sebagai sponsor Altantis dalam aksi “penghakiman” the killing field terhadap Karlov.

Selain dugaan Sponsorship, dugaan tak kalah menarik adalah konspirasi internal Rusia sendiri  bisa juga terjadi.

Kemungkinan Karlov menjadi target agen Rusia sendiri adalah bukan hal mustahil. Perbedaan pandangan, sikap dan kebijakan tentang cara Rusia menangani perang Suriah dimana korban dan kerugian dipihak Rusia semakin menjadi-jadi sejak pertengahan tahun 2016 ini bisa jadi membuat posisi Karlov dibuat demikian longgar dari pengawasan dan perlindungan keamanan berada di tengah-tengah keramaian dan terbuka di negeri sedang menahan gejolak ankara murka terutma di kota Ankara itu sendiri.

Pada jaman Uni Soviet, kasus seperti Litvinenko juga sering terjadi. Kini, kasus kematian pejabat Rusia ditangan agen agen Rusia bukan sesuatu yang mustahil. Peristiwa hampir serupa seperti Karlov pernah menimpa terhadap pejabat sendiri pada jaman Uni Soviet dan jaman Rusia.

Sebut saja, Alexander Litvinenko mantan pejabat Secret Service pada Federal Security Service (FSB) diduga berbagai kalangan dibunuh oleh spion Rusia sendiri karena mengetahui banyak hal. Ia dibunuh di London pada 23 November 2006.

Kesimpulan  : 

Tewasnya Karlov —terkait dengan perang Suriah– disponsori  negara pendukung pemberontak FSA bertujuan memecah konsentrasi tripartit Turki-Rusia-Iran yang sedang membuat aliansi baru yakni mengakhiri dominasi dan konspirasi teroris dikawasan Suriah-Turki-Irak. Tujuannya mudah terbaca sebab terjadi sehari sebelum perundingan 3 negara itu digelar di Lithuania.

Tewasnya Karlov bisa juga akibat konspirasi internal intelijen atau spionase Rusia sendiri mengingat peranan Karlov di Turki tergolong lama dan menjadi kunci penting dalam setiap proses damai atau proses perang termasuk pemain kunci dalam hubungan Rusia – Turki. Penghilangan jiwa pejabat Rusia oleh Spionase sendiri bisa saja terjadi dan telah banyak terjadi.

Tewasnya Karlov tidak mungkin aksi tunggal dan mendadak atau spontanitas Altintas sendiri mengingat mekanisme cara ia masuk ke lokasi dan proses penghilangan jejaknya serta sikap low profile Rusia – Turki demikian tenang.

Siapakah yang lebih tahu dibalik setiap aksi pembunuhan selain korban itu sendiri. Tapi dalam kaitan kematian sejumlah dubes -terutama Karlov- berdasarkan sejumlah data-data dana kasus-kasus disebutkan di atas kedua kemungkinan itu bisa terjadi. Namun demikian kemungkinan manakah menurut rekan pembaca budiman lebih berpeluang terjadi?

Kita harapkan perang Suriah dan proses damai sedang dilaksanakan tripartit itu dapat menghasilkan titik terang diakhiri. Bukan saja kita TIDAK menginginkan kasus kematian seperti Karlov terulang kembali tetapi lebih penting adalah penderitaan jutaan warga sipil Suriah dapat segera diakhiri oleh permainan “Sandiwara Politik” bermodalkan nyawa umat manusia yang diperankan oleh negara Sponsor atau negara Pendukung.

Untuk apa? toh tidak ada hasilnya, tidak kelihatan juga siapa pemenang sejatinya.

 

Salam AGI

Sumber tambahan:  revolvy.com,  foxnews.com,  aljazeera.com 

Save

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s