Pemerintah ‘Digongseng’ Terus Menerus, Kenapa “Engkau” Minta Bantuan Terus

Beruntung jika diantara pembaca sempat merasakan langsung kiprah tujuh Presiden Indonesia dalam mengelola dan mengurus negeri ini. Tapi bagi saya –seiring dengan bertambah usia– hingga kini baru merasakan enam kiprah Presiden RI.

Tujuh orang Presiden telah datang dan pergi silih berganti di negeri ini. Bagiku  selama setengah abad lebih usiaku baru menjalani dan merasakan dibuai oleh enam kepala negara yang dipilih secara demokratis sesuai dengan pandangan, kebutuhan dan pengertian pada masanya masing-masing, yaitu : Demokrasi Parlementer, Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (guided democracy), dan Pemerintahan Orde Baru (Pancasila democracy).

Lebih setengah abad usiaku dan 71 tahun negeri ini menikmati kemerdekaannya, adakah ketujuhnya telah berusaha memberi kepuasan pada rakyatnya? Tentu saja YA, meskipun tidak menyentuh untuk semua rakyat.

Tapi apakah ketujuhnya bebas dari rongrongan dan badai politik? Jawabannya TIDAK. Seluruh Presiden tidak luput dari badai dan rongrongan digoyang dan disenggol-senggol akibat dinilai tidak memuaskan. Lihat saja fakta umumnya sebagai berkut :

Soekarno, banyak diterpa rongrongan politik dan pribadi hingga meninggal dunia akibat sakit pada 21 Juni 1970.  Tak kurang 23 kali usaha pembunuhan menimpa Soekarno. Tak terhitung sikap lawan Soekarno meruntuhkan mental dan kewibawaannya mulai dari masalah remeh temeh sampai masalah politik dan kudeta. Tak terhitung jumlah cibiran, umpatan bahkan serangan fisik dan mental menimpa kepala negara dan pemerintahan serta Panglima negeri ini pada masanya. Selain itu, pada masa Soekarno harga-harga sembako pada jaman itu mulai tidak terkendalikan.

Soeharto, tak kalah banyak diterpa rongrongan politik dan pribadi hingga juga meninggal dunia akibat sakit dan sepuh pada 27 Januari 2008 juga di RSPP. Meski represif, tiran dan otoriter hingga setengah masa berkuasa dan menggetarkan lawan politik namun separo kedua masa berkuasa juga tak luput dari ronrongan, cibiran umpatan dan berbagai penilaian ketidak puasan rakyatna   dan lawan politiknya. Mulai masalah pribadi hingga masalah korupsi, tudingan antek CIA dan tokoh misterius dalam menumpas PKI bukan hal menakutkan dan tabu lagi jelang akhir berkuasa. Akhirnya ia diturunkan melalui gerakan politik Reformasi pada 1998. Sang bapak pembangunan ini pun tersungkur dari kekuasaan setelah 31 tahun menjabat sebagai Presiden.

Harga sembako pada masa Soeharto makin melejit akibat sistim monopolisitis berbaur KKN.

B.J Habibie, meski menjabat singkat sebagai pengganti Soeharto untuk sementara waktu. BJ Habibie juga tak lepas dihujani ketidak puasan, salah satunya adalah keputusannya mengizinkan Timor Timur untuk  mengadakan referendum yang berakhir dengan berpisahnya wilayah tersebut dari Indonesiapada Oktober 1999.

Di bidang ekonomi selain banyak berhasil namun ada juga tidak berhasil, antara lain ketidak mampuan mengatasi harga sembako ditandai maraknya penyelundupan beras keluar negeri dan penimbunan beras. Tudingan lain adalah masalah program rekapitulasi pada 9 bank pada masa itu dinilai tidak efektif. Pidato Pertanggungjawabannya ditolak MPR RI.

Abdurrahman Wahid, tokoh agama datang menggantikan BJ Habibie. Nasibnya bahkan tak semulus Habibie. Selama menjabat kurang 2 tahun  Gus  sangat banyak diterpa sindiran, cibiran, kektidak puasan bahkan tudingan mengarah pada hal-hal pribadi yang tak peru dituliskan di sini. Musuhnya di DPR sangat banyak setelah ia mengusulkan pembekuan DPR dan partai Golkar. Dia juga menyindir DPR tak ubah paduan suara anak-anak TK.

Pada bidang ekonomi, harga sembako semakin liar. Operasi pasar kesannya dijalankan sekadar basa-basi.

Pada 23 Juli 2016 MPR memakzulkan Gus Dur dan itu artinya sudah berakhir masa jabatannya sebagai Presiden. Sejumlah pengamat menilai Gus Dur adalah presiden penuh kontrovevsial.

Pada hari yang sama, 23 Juli 2016, MPR dalam sidang istimewanya mengangkat Megawati Soekarnoputri, sebagai presiden pengganti Gus Dur. Tapi nasib wanita Indonesia pertama sebagai Presiden RI ini pun tak luput dari cibiran dan tudingan macam-macam. Mulai dari masalah kedekatannya dengan Tiongkok, Penjualan gas Tangguh sangat murah, Lepasnya pulau Sipadan dan Ligitan, Melemahnya  lobi diplomat Indonesia, tidak semangat memberantas KKN bahkan wabah korupsi makin terang-terangan. Mega gagal melaksanakan agenda Reformasi. Ditambah lagi harga bahan pokok dan lain-lain makin melonjak.

Pada 20 Oktober 2004, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) terpilih melalu pelaksanaan Pemilu Presiden pertama secara demokratis dan langsung. Meski banyak jasa-jasa dan sukses memimpin negara bangsa Indnesia namun nilai ketidak puasan selama 10 tahun masa kekuasan SBY juga tak terhindarkan. antara lain adalah:  Kasus bersar belum tuntas ditangani pemerintah, seperti kasus Bank Century, kasus pembunuhan aktivis HAM Munir dan kasus dugaan suap atas Nazaruddin.

SBY juga dianggap tidak memiliki operator politik untuk membantunya menuntaskan masalah, Buruknya kinerja pemerintahan SBY tak lepas dari sikap pilih kasih dalam menjalankan roda pemerintahan. Masalah harga sembako pun semakin tak terkendalikan akibat praktek-praktek kapitalisme semakin marak. Sumber  petisi28. 

Sejak 20 Oktober 2016 Joko Widodo (Jokowi) datang menggantikan SBY. Meski baru seumur jagung hujatan dan cibiran terhadap pemerintahan Jokowi tak tanggung-tanggung. Rasa-rasanya inilah rekor Presiden paling banyak digongseng dalam daftar percaturan politik Indonesia. Tingkat hujatan, ketidak puasan bahkan menjurus menyelepelekan kian menghampiri “The Simple Man,” ini dari hari ke hari.

Simpel karena tak ingin dililit oleh sistim birokratisme yang tidak efisien membuat Jokowi melawan dengan konsep keterbukaan dan desentralisasi. Meski semangat anti KKN nya bagus namun popularitas Jokowi cenderung menurun. Sumber  teropongsenayan edisi 9/2/2016 menilai popularitas Jokowi menurun akibat räkyat semakin pintar menilai.

Selain itu, Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yuda pernah menilai popularitas Jokowi menurun. “Jika hari ini (saat survei –red) pemilu dilaksanakan dan jika hari ini diadakan pilpres diikuti tiga kandidat (Jokowi, Prabowo Subianto, dan Susilo Bambang Yudhoyono) perolehan suara berturut-turut adalah Prabowo 33,05 persen, Jokowi 31,37 persen dan SBY 15,58 persen,” sebut Hanta dikutip pada sumber Disini.

Daftar dan fakta di atas memperlihatkan bahwa :

  1. Tidak ada satupun presiden dinegeri ini mampu memberi kepuasan secara total dan universal pada bangsa dan negaranya
  2. Tidak ada satupun preseden di negeri ini luput dari Fitnah, tudingan, cibiran, umpatan dan hasutan
  3. Tidak ada satupun presiden sempurna tanpa cacat dalam pengertian profesionalisme dibidang jabatan Presiden
  4. Tidak ada satupun Presiden dianggap paling merakyat meski telah mewujudkan konsep-konsep demokrasi
  5. Tidak ada satupun presiden luput dari kesalahan dan pasti akan DISALAHKAN..!!!

Atas dasar itu aku heran ketika sekelompok orang yakin dan haqqul yakin bahwa ia akan lebih baik dari presiden lain atau pernah ada. Aku heran mengapa mereka yakin dapat berbuat lebih baik, berbuat lebih banyak hingga merasa akan sangat dicintai rakyat negeri ini. Meski tidak seluruhnya, padahal rakyat negeri ini memiliki karakter (mungkin sifat turunan) sebagai berikut :

  • Tidak pandai menghargai jasa pahlawan, sebab sejarah masa lalu tak penting dikenang, biarlah berlalu. Bila perlu biarkan tersapu deru dan debu kondisi perubahan  jaman
  • Tidak pandai beterimakasih pada jasa orang lain, sebab merasa orang lain (termasuk pemerintah) berkewajiban memberi
  • Tidak pandai menghargai masa lalu orang tua atau yang dituakan, sebab orang tua wajib mewarisi
  • Tidak penting nasionalisme, sebab lebih penting urusan perut, ekonomi bermegah-megah atau hedonisme
  • Tidak perlu banyak mendengar, sebab lebih penting banyak bicara
  • Tidak perlu menghormati posisi dan jasa pemimpin dan pimpinan (termasuk kepala negara) sebab merasa lebih baik dari yang sedang dan telah ada
  • Tidak perlu keterbukaan, sebab keterbukaan sama dengan bunuh diri
  • Tidak perlu standarisasi dan prosedur sebab tu memberatkan, nyelimet, sumpek dan membingungkan. “Pokoknya beres aja,” lebih gampang dan telah berlaku dari jaman sebelumnya dan telah “terbukti oke.”
  • Tidak penting menjaga kehormatan presiden, lebih penting pada ketajaman kritik.  Kritik tajam terhadap presiden berarti  fungsi kontrol dan legislasi telah berjalan
  • Tidak mau menanti lama-lama (proses sesuai alur) sebab segala sesuatu musti berjalan dengan cara instan
  • Tidak penting pada program sebab lebih penting pada tekanan. Jika tekanan tak terealisir akan ada demo, demo dan demo sampai tekanan membuahkan hasil
  • Tidak penting melihat keberhasilan presiden menjalankan pemerintahan sebab lebih menarik lihat kesalahan, kelemahan dan aib presiden

Setelah melihat pada sejumlah sifat di atas barulah aku sadar, ternyata itulah mengapa rakyat negeri ku ini semakin beringas pada kepala negara. Padahal jika aku merenung sejenak,  jika aku duduk dalam pemerintahan dan mengurusi bagaimana kebutuhan pokok seluruh rakyat bisa terpenuhi  -sebut saja beras misalnya– meskipun didatangkan dengan impor dan hutang akibat jumlah rakyatku makin subur berlimpah sementara luas lahan untuk persawahan semakin sempit akibat hadirnya komplek perumahan dimana-mana.

Ironis sekali, ketika sedang kuperjuangkan kebutuhan rakyat dengan berbagai cara namun di sisi lain para politkus, dalang Gongseng dan wakil rakyat tak henti-hentinya melakukan aksi Goyang Senggol. Bukan aku alergi dengan protes dan teguran, tapi aku bisa melihat aksi goyang dan senggol itu menjurus pada upaya mematikan karakterku bahkan mematikan langkahku.

Aku di gongseng, aku dirongrong setiap hari. Aku luput dari aksi gongseng cuma beberapa hari saja dalam setahun yaitu ketika hari raya Idul Fitri dan Idul Adha tiba. SMS maaf lahir batin dari dalang Gonseng dan politikus mirip tikus tak kenal takut pun seakan berlomba masuk dengan ribuan pesan serupa ke dalam HP ku. Selepas itu aksi Gongsent pun menghampiri k kembali. Dalam aksi goyang senggol itu mereka cuma melihat sisi negatifku, melihat kelemahanku dan keterbatasanku tanpa sedikitpun mau melihat pada sisi lain  keberhasilanku .

Kondisi itu kadang membuatku bertanya, apakah jika mereka menempati posisi ini akankah mereka menerima goyang senggol juga atau mereka akan lebih baik? Mungkin saja ada beberapa diantara mereka coba melihat pada posisiku.

Di atas adalah sebuah majas perumpamaan. Atas dasar perumpamaan itu kini aku ingin katakan padamu saudaraku, aku tidak setuju kalian merongrong pemerintahan yang sah yang telah dipilih melalui proses demokrasi yang sah, bahkan selayaknya harus diakui dan disikapi juga dengan demokratis. Jadi apa tujuan menggongseng pemerintah yang sah ini terus menerus? Yakinlah tak ada gading yang tak retak. Setiap presiden bukanlah seorang Superman karena ia tidak bekerja sendirian untuk mewujudkan aneka janji-janji dan programnya.

Jika Anda pada posisi sebagai kepala negara atau pemerintahan akupun akan bersikap sama pada mu, tak ingin orang lain menggonseng dirimu, melemahkan mentalmu, mematikan karaktermu apalagi membunuh langkahmu, kecuali JIKA engkau melanggar UU sebagai kepala negara dalam pengertian jelas, bukan menurut tafsir-tafsir pengertian tersirat di luar pasal.

Aku akan menolak upaya-upaya tidak elegan yaitu konspirasi mematikan langkahmu saat engkau sedang berusaha menghidupi hajat hidup rakyatmu. Dan aku akan menulis  sama seperti ini untuk melindungi amanah yang melekat pada jabatan mu hingga –engkau akan sama seperti para pendahulumu– tiba pada batas titik orbit maskimum dirimu dan kembali menjadi warga biasa.

Aku akan mendukung langkah mu tanpa berharap menjadi salah satu mitra atau bagian penting mu sekecil atau sebesar apapun bentuknya, sama seperti engkau lihat ketika aku mendukung pengelola negeri saat ini tanpa mengaharap kontribusi apapun di dalam roda pemerintahannya.

Mengapa engkau masih merasa lebih mampu berbuat padahal engkau tidak berada dalam posisi itu. Tidakkah lebih baik berikan saja enegi positif mu pada pengelola negara dan bangsa ini?

Perlu juga engkau sadari jika engkau memaksa keinginanmu, tak mampu membendung hasrat dan hasad serta hasut atau dengki hatimu maka diseberang sana telah ada sebagaian orang yang menilai sebaliknya dengan apa yang engkau nilai atau engkau sangka.  Mereka itu tidak akan membiarkan kepercayaan dan pilihan mereka melalui mekanisme demokrasi yang sah diperlakukan semena-mena. Apa jadinya jika mereka memaksa engkau untuk bersikap dan berperilaku santun pada setiap orang termasuk pada kepala negara mereka, mungkin akan ada kekacauan.

Apakah itu yang engkau harapkan, Tidak, bukan?

Jika tidak,  akan lebih baik  berikan saja kesempatan pada mereka yang sedang mengurus ANEKA KEBUTUHAN bangsa ini, sebab hal sama pun akan terjadi jika engkau menjadi  penanggung jawab negeri ini suatu saat nanti, seperti engkau lihat pada saat ini .

Jadi aku tegaskan kembali, Aku Tak Setuju Jika Engkau “Gongseng”  Pemerintah ini terus menerus. Kritik dan pengawasan tetap perlu namun sampaikan melalui cara elegan, profesional dan menghargai orang sedang berjuang malaksankan amanah, memenuhi aneka kebutuhan hampir 260 juta penduduk pada lokasi-lokasi berpencar di negara himpunan kepulauan yang sangat banyak ini.

(Sebuah inspirasi dari kisah kesetiaan prajurit Suriah pada bangsa dan negaranya)

Salam AGI

 

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s