Aleppo Barat Jadi Kuburan Raksasa Jika….

Gambar Ilustrasi : abanggeutanyo

Ulasan independent edisi 1/12/2016 memprediksi kawasan dikuasai pemberontak Suriah di Kota Aleppo (kini tersisa di Kota Aleppo barat –red).  Akankah aksi balasan paukan SAA itu akan menjadi kuburan raksasa di Suriah melengkapi sejumlah “ladang pembantaian” di seluruh dunia?

Stephen O’Brien, utusan UNHCR mengingatkan hal itu pada pemerintah Suriah agar mengutamakan dan menjamin keselamatan warga sipil keluar dari zona perang yang telah dikepung total SAA sejak 28 November lalu dan kini menyisakan kawasan seluas 22 – 25 km² untuk FSA di bagian barat Kota Aleppo. “For the sake of humanity, we call on, we plead, with the parties, and those with influence, to do everything in their power to protect civilians and enable access to the besieged part of eastern Aleppo before it becomes one giant graveyard,” sebut O’Brien seperti dikutip pada sumber di atas.

Sebagaimana telah diprediksi pada tulisan sebelumnya di sini edisi 28 November lalu, gerakan SAA ternyata melebihi ekspektasi penulis, di mana pada saat itu diprediksi SAA akan menyisakan sebagian kecil kawasan di bagian timur Kota Aleppo dekat perbatasan dengan SDF/PG (antara Al-Snobari Park ke Wadi Hama) dan sebagian kecil di bagian tengah Kota Aleppo (antara distrik Maysalon dengan New Islamic Cemetary) untuk FSA. Ternyata kawasan-kawasan disebutkan itu disapu bersih oleh SAA dibantu SDF/YPG.

Prediksi selanjutnya SAA akan melaksanakan ofensif ke kawasan barat Kota Aleppo, hingga kini tampaknya prediksi itu benar-benar akurat setelah kawasan antara distrik Azizi dan Shekh Saeed dikuasai SAA dan upaya menutup jalan nasional sepanjang 1,2 km di pabrik semen Jibren, sebelah Shekh Saeed, sedang berlangsung sengit berganti posisi. Jika ruas sepanjang 1,2 km itu mampu dikuasai SAA maka ketebalan pertahanan SAA di barat kota itu  (luar kota) menjadi 6 km. Semakin berat FSA menembus blokade di tempat itu dibanding sukses FSA pada Agustus lalu saat menembus kepungan di kawasan sama dengan ketebalan pertahanan SAA saat itu hanya 2,2 km.

Seluruh kekuatan Fatah Halab kini bertumpu di Kota Aleppo bavat. Jika SAA mampu menggiring FSA ke lokasi terbuka di sudut Aleppo barat maka aksi pembantaian di Kota Aleppo barat itu akan menambah deretan daftar The Killing Field dunia, melengkapi jumlah arena pembantaian pernah ada di dunia sejak abad 17 saat mulai dikenal aksi pembunuhan massal atau genocida dalam perang.

Mengacu pada sejarah The Killing Field pada tiga fase perang Dzungar melawan dinasti Qing abad 17 (1687–1758). Kekalahan Dzungar menyebabkan tentara Qing melaksanakan pembunuhan massal -genosid- terhadap 500 ribu – 600 ribu tentara Dzungar di sejumlah kawasan perbatasan Mongolia, Kazakhtan dan Kyrgystan saat ini.

Mungkin terlalu lama mengacu pada kasus abad 17 jaman tempo doeloe itu, kita ambil saja kasus genosida dalam Perang Dunia 1 dan PD-2 di mana banyak juga terjadi kasus pembunuhan massal atau genosida akibat perang. Salah satu kasus terkenal adalah pembanataian kaum Yahudi di sejumlah kamp konsentrasi Nazi Jerman pada PD-2.

Sementara pasca PD-1 pada 1922 tentara Ottoman Turki (dituding) melaksanakan Genosid terhadap 450,000–750,000 orang Yunani dampak Greco-Turkish War (1919–1922). Hampir bersamaan dengan itu, di tempat lain, pasukan Ottoman Turki juga (dituding) melaksanakan pembunuhan massal terhadap 1,5 juta warga Armenia pada 1915-1923.

Di sudut lain, pada 1912-1925 pembantaian massal atau sejenis dengan itu juga menghampiri warga sipil Suriah oleh pasukan Ottoman Turki berkolaborasi dengan milisi Kurdi. Koran Washington Times edisi 26 Maret 1915 melaporkan berita tersebut setelah mengumpulkan data dan fakta tentang aksi Turki-Kurdi ketika masih terikat kerja sama mesra pada masa itu.

Tentara Merah Rusia juga dituduh melakukan pembantaian saat melaksanakan operasi pembasmian terhadap etnis Chechen dan Ingush dalam Operation Lentil pada 1944 masa PD-2 hingga 19₄8 pasca PD2. Tak kurang 144,704 Checen, Ingush dan warga Caucasus utara tewas.

Setelah PD-2 arena pembantiaian terhadap warga sipil, milisi dan tentara atau pemerintah akibat perang antarnegara, perang saudara atau pemberontakan masih terjadi dalam bentuk pembunuhan massal atau Genocide Mascare, pembersihan etnis atau Ethnic Cleansing, pemaksaan atau Forced Conversion. Aneka jenis bentuk penebar maut itu menimbulkan kematian massal dalam jumlah banyak dan dianggap sebagai “kuburan massal,” atau “kuburan-kuburan raksasa” di sejumlah tempat dalam sebuah negara. sumber: dokumen pribadi

Berikut daftar pembantaian massal menyebabkan sejumlah “kuburan massal” atau kuburan raksasa sebenarnya di berbagai negara pasca PD-2 :

  • The genocides in Bangladesh antara 21 Maret – 16 Desember 1971 ketika tentara Pakistan (dituduh) melaksanakan pembunuham massal terhadap 300.000- 3.0000.0000 warga Bangladesh akibat memisahkan diri dari Pakistan.
  • The Burundian genocides pada 1972- 1993
  • The Cambodian genocide pada 1975 – 1979
  • The Guatemalan genocide pada 1981-1983
  • The Al-Anfal campaign atau Kurdish genocide, pada 1986–1989
  • The Rwandan genocide pada 1994
  • The Bosnian genicide pada 11 Juli 1995 – 13 Juli 1995
  • Srebrenica massacre pada 11–22 July 1995
  • Yazidi genocides pada Agustus 2014
  • The genocide of Shia Muslims sekitar Agustus 2014 ketika ISIS ekspansi ke sejumlah kota-kota di Irak dari perbatasan Suriah. Pembunuhan terutama terjadi terhadap Muslim Syiah, Yazidi dan warga Kristen diperbatasan Irak-Suriah dan kota-kota sekitar perbatasan serta kantong-kantong komunitas disebutkan di atas.

Hingga kini tidak diketahui secara pasti berapa total korban jiwa terbunuh atau dibunuh secara massal akibat perang saudara atau perang antarnegara di negara-negara disebutkan di atas. Menurut prediksi jumlah kematian manusia bisa mencapai jutaan terbunuh dalam “kuburan massal” di sejumlah negara.

Jika dibandingkan dengan aksi SAA saat ini sedang menekan FSA penjaga Aleppo ke arah bagian barat Kota Aleppo tepatnya ke kawasan terbuka antara distrik Seihk Saeed dengan distrik Aziz hingga ke batas jalan utama Arroumi St ada kemungkinan besar di tempat itulah akan menjadi “kuburan raksasa” atau “kuburan massal” atau the giant graveyard, di Kota Aleppo tepatnya di bagian Aleppo barat.

Berapa jumlah pasti Fateh Halab (FSA) Aleppo kini terdesak atau mempertahankan diri di sudut barat Kota Aleppo belum diketahui dengan akurat hingga saat ini. Menurut perkiraan jumlah FSA terkepung di Aleppo lebih kurang sekitar 20 ribu orang berdasarkan pengamatan pada jumlah personil beberapa kelompok tersebut sebelum SAA mendominasi Kota Aleppo. Meski jumlah FSA penunggu Kota Aleppo itu tidak seberapa dibanding jumlah kematian di sejumlah tempat pembantaian massal di beberapa lokasi disebut di atas tapi angka 20.000 adalah angka yang besar dan teramat besar jika untuk hilangnya nyawa umat manusia secara serentak dalam satu kasus.

Oleh karenanya pantas dunia mengkhawatirkan jika hal itu terjadi di Aleppo khususnya Aleppo barat, apalagi jika warga sipil juga terkena dampak pembunuhan massal tersebut maka jelas Aleppo akan menjadi kuburan massal yang amat dikuatirkan PBB sebagaimana dikutip sumber The Independent di atas.

Siapa yang mampu menghentikan Perang Suriah? Ketika satu kubu mulai membuka jalan damai kubu lain memilih jalan sebaliknya memanfaatkan kesempatan untuk reinforcement, konsolidasi dan penambahan amunisi. Akan tetapi kali ini persoalannya lain, siapa sanggup mengorbankan 20 ribu jiwa manusia dan siapa sanggup mengirimkan jiwa-jiwa itu ke dalam kuburan massal?

Tampaknya JIKA menggunakan akal sehat, logika dan naluri manusiawi hal itu tak akan terjadi. Akan tetapi –-sekali lagi-– ini lain, tempatnya ada di Suriah (Negeri Syam), tempat paling banyak nabi utusan Allah diturunkan untuk mengurus dan memperbaiki akhlak dan iman manusia.

Jika FSA memilih opsi menyerah di Kota Aleppo, lalu dipindahkan dengan jaminan keamanan ke kota lain seperti telah dilaksanakan oleh beberapa kelompok FSA lain dievakuasi ke kota-kota lain basis FSA di Suriah, itu adalah salah satu upaya mengeliminir risiko tersebut. Selain itu, diharapkan SAA dapat bersabar, tidak ambisius menuntaskan dendam kesumat dan amarahnya semata meski telah unggul dalam beberapa hal di kota Aleppo. Jika hal itu tidak diperhatikan SAA maka tuduhan melanggar HAM berupa pembunuhan massal akan melekat pada tentara Pemerintah dan itu artinya pemerintahan Assad akan dikenai tuduhan tindakan kriminal perang.

Jika tidak sabar, serangan bunuh diri ala kamikaze dan kendaraan bom (VBEID) serta serangan bom bawah tanah FSA bisa menjadi jebakan maut bagi pasukan SAA. Maka dari itu kesabaran lebih tinggi harus diperlihatkan SAA agar hal-hal seperti itu tidak terjadi, terutama adalah untuk menghindari bertambahnya daftar “Kuburan Massal.”  Menyedihkan!

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s