Waspadai Gempa 23 Nopember dan “Gempa” 25 Nopember 2016

Gambar harianjogja.com dan

Mengamati laporan gempa aktual dan uptodate diterbitkan emsc-csem 22 Nopember 2016 membantu kita melihat aneka sisi dan informasi dibalik peristiwa gempa bumi terjadi di seluruh penjuru bumi pada 24 jam terakhir. Dari pengamatan pada data 4 hari berturut-turut (pengamatan pada Data-red) yakni pada data 19 Nopember 2016 – 22 Nopember 2016 terjadi sejumlah gempa di seluruh dunia. Beberapa catatan menarik dibalik peristiwa itu adalah sebagai berikut :

  1. Pada 19 Nopember 2016, dalam rentang waktu 24 jam (00:02.5 hingga 23:14.8 waktu UTC) terjadi 134 kali gempa di sejumlah sis perut bumi. Gempa terkuat –berdasarkan magnitudo– terjadi di Kepulauan Talaud, 5,1 Nm pada kedalaman 100 km.
  2. Pada 20 Nopember 2016, terjadi 123 kali gempa di sekujur perut bumi. Gempa terkuat terjadi di Sant Juan, Argentina 6,5 Mn pada kedalaman 116 km.
  3. Pada 21 Nopember 2016, terjadi 149 kali gempa di sekujur perut bumi. Gempat terkuat terjadi di Honshu Jepang, 6,5 Mn pada kedalaman 10 km.
  4. Pada 22 Nopember 2016.Hingga pukul 13:43:55 UTC, terjadi 76 kali gempa di sekujur perut bumi. Gempa terkuat sementara –saat tulsian ini disiapkan– di North Island, New Zealand 5,9 Mn pada kedalaman 10 km.

Dari empat sumber data di atas beberapa info dari sisi lain -mungkin- menarik juga kita petik adalah :

  • Gempa terjadi di mana-mana. Dari kawasan dekat kutub utara- selatan dan timur – barat terjadi gempa tanpa pandang bulu akibat masalah politik, agama atau apapun
  • Dalam sehari terjadi ratusan kali gempa dari dari sedang hingga berpotensi Tsunami seperti di pantai timur Honshu Jepang pada 21 Nopember lalu. Hingga detik terkahir tulisan ini dibuat dan setelah melihat kembali data sumber di atas gempa susulan ternyata kembali terjadi pada pukul 14: 03:38 UTC dengan kekuatan 5,2 Mn di pantai timur Honshu, Jepang.
  • Berdasarkan rata-rata gempa dalam  tiga hari terakhir -sebut saja- 132 kali dalam sehari maka jumlah gempa setiap jam adalah 2 kali gempa, atau setiap setengah jam terjadi sekali gempa. .
  • Kejadian gempa besar tidak pilih waktu spesial siang atau malam. Contoh pada kasus gempa di New Zealand hari ini terjadi pada pukul 00:19:42 UTC atau pada pukul  07.19 pagi waktu Indonesia barat. Entah secara kebtulan gempa terbesar dalam sejarah modern dunia di laut Hindia pada 26 Desember 2004, terjadi pada pukul 7.59 pagi WIB atau 00:59 UTC. Gempa 9,3 SR itu kemudian menyebabkan Tsunami Aceh dan kawasan lain di Asia Tenggara pada saat itu. Akan tetapi gempa terkuat pada 20 Nopémber 2016 lalu di San Juan Argentina terjadi pada pukul 20:57 UTC atau pukul 03.57 WIB. Sementara itu gempa di Honshu, Jepang di atas, terjadi pada pukul 20:59 atau pukul 4 pagi WIB.
  • Gempa  dalam topik tulisan ini tentu bukanlah gempa akibat letusan gunung berapi vulkanik, melainkan gempa tektonik yang disebabkan oleh banyak hal sebagaimana telah diurai banyak dan berkali-kali di berbagai argikel dan literatur. Berdasarkan data tersebut dalam sepekan terakhir Indonesia tdak rawan gempa meski ada  teJadi dua kali di dua lokasi terpisah dan waktu terpisah yaitu gempa 4.5 Mn kedalaman 120 km di laut Banda pada 21 Nopember lalu. Selain itu juga terjadi gempa di kepualauan Talaud Sulut disebutkan di atas.
  •  Meski dalam sepekan terakhir wilayah Indonesia lebih stabil dari serangan gempa bumi tidak berarti kondisi itu akan terus aman, sebab berdasarkan ekspektasi gempa Nopember yang diterbitkan sumber  earthquakepredict.com  memprediksi  gempa  akan melanda kawasan Indonesia pada 23  Nopember 2016 (hari ini-red) dengan taksiran di atas 5 SR tapi katagori sedang. Tidak disebutkan dimana gempa itu akan terjadi dan bagaiamna mekanisme ekpektasi itu dilakukan.

http://www.earthquakepredict.com/2016/11/indonesia-earthquake-predictions-for.html

Tabel di atas memperlihatkan pada 23 Nopember (hari ini-red) akan terjadi gempa dalam wilayah Indonesia diatas 5SR, mungkin sampai 7 SR, namum tidak disebutkan dimana lokasinya. Entah akurat atau malah melenceng ekspektasi sumber itu nantinya mari kita lihat saja pada alat atau teknologi yang akan mencatat aneka peristiwa gempa dengan tingkat kedalaman dan info lainya seperti pada salah satu media ifnormasi di atas.

Jika mengacu pada jari-jari bumi rata-rata 6.329 km, kedalaman bumi atau Deep Earth lebih kurang sama yakni lebih 6 ribu-an kilometer. Dari total kedalaman itu yang telah dapat diekploitasi oleh manusia hingga saat ini hanya hingga pada kedalaman maksimal 12,2 km saja, di sebuah lubang eksplorasi minyak di Pechengsky, Rusia yang disebut  lubang Pengeboran Kola atau Kola Superdeep Borehole. Dengan kata lain hingga kini manusia baru mampu mengeolah tidak sampai 0,5% kedalaman perut bumi.

Lalu jika manusia baru mampu mengelola tidak sampai 0,5% kedalaman bumi bagaimana mungkin manusia dapat mengetahui apa yang terjadi lebih dalam lagi misal pada kedalaman 100 km, 200km, 500 km dan seterusnya pada ribuan kilometer di bawah permukaan bumi, seperti tentang lapisan-lapisan bumi, mineral-mineral yang mengikat air laut dibawah mantel bumi, cadangan air di perut bumi pada kedalam 500 km dan lain-lain. Apakah semua itu lantas disebut dengan dugaan atau mengada-mengada sebab manusia baru “tiba” pada Km 12?

Tentu tidak, sebab telah ada ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat menuntun alam pikiran mansia untuk bisa “tiba” di sana tanpa harus berada di sana. Salah satu alat dan teknologi itu adalah pencatatan gempa bumi yang mampu menghadirkan informasi posisi dan kedalaman gempa di kedalaman tertentu dalam perut bumi.

Di luar ekspektasi gempa 23  Nopember hari ini memang ada desas-desus akan terjadi “gempa” jenis lain melanda Indonesia yaitu “gempa 25 Nopember,” dalam bentuk asi demonstrasi di Jakarta menuntut Ahok. Dugaan akan ada aksi itu dilansir  Kapolri pada media massa dua hari lalu berdasarkan informasi intelijen.

Entah dari mana  asal data dan sejauh apa akurasi informasi itu, bahkan untuk tujuan apa info tersebut, secara kasat kita melihat “Gempa” jenis ini adalah gempa akibat ulah manusia agar Indonesia kacau, dalam huru hara lalu terkoyak  dampak kisruh politik tak berkesudahan.

Demo atau gempa akibat ulah manusia itu diharapkan bikin kacau ekonomi. Issu rush bikin  mafia piawai bermain valas dan moneter mampu mengeruk keuntungan kembali akibat ketidak seimbangan ekonomi dan keuangan nasional. Pialang-pialang maut katagori “raja tega”  sedang menunggu meomen indah itu. Selain itu para “tuan takur” alias takut kurang juga mengintip kesempatan baru.

Jika itu terjadi ujung-ujungnya rakyat kecil juga kembali mengelus dada melihat Tuan Takur dan Raja Tega berpesta pora meraup keuntungan akibat pasar uang dan eknomi nasional sedang goncang.

Semoga gempa akibat ulah manusia ini tidak akan terjadi, sebab gempa alami saja telah mengintai kita setiap saat, untuk apa menambah gempa susulan buatan manusia, bukan? Apalagi gempa ulah manusia akibat  bara politik. Dendam kesumat dalam kemasan adu trik dan intrk politik tak berkesudahan.

Diseberang sana, puluhan juta jutaan orang, tulang punggung keluarga sedang berjuang menghidupkan keluarga masing-masing di atas bara kehidupan yang makin sulit. Mereka terpaksa teguh, tak ingin larut dan terpedaya dalam tipuan politik. Mengapa terpaksa, karena masih ada lebih skala prioritas di dalam setiap keputusan dan kebijakan.

Waspadalah dan bijaksanalah menghadapi “gempa” tersebut. Semoga kita semua senantiasa dilindungi Allah SWT,  Maha Kuasa, pencipta alam semesta dan seisinya..

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s