Kerry and Lavrov ‘Collaboration’ for Syrian with Love (Kolaborasi Kerry dan Lavrov untuk Damai Suriah)

Jhon Kerry saat kunjungan ke Moskow 15 Des 2015 Sumber: The Guardian.com. Edit abanggeutanyo

Gencatan senjata dan pedamaian Suriah kembali disepakati AS dan Rusia kemarin (Sabtu) atau Jumat malam waktu Jenewa setelah melalui rangkaian pertemuan marathon 12 jam lebih antara Menteri Luar Negeri Menlu AS John Kerry  dengan mitranya  Menlu Rusia, Sergey Lavrov di Jenewa. Sementara itu Presiden AS dan Rusia sama-sama bertemu dan mengikuti perkembangan di sela-sela acara G-20 di China.

Tak terhitung berapa kali sudah pertemuan pembicaaan damai tingkat kedua Menlu itu telah digelar di beberapa tempat untuk mencapai gencatan senjata dan mengakhii perang Suriah namun fakta mempelihatkan kondisi sangat kontras dengan tujuan tersebut. Sekian kali gencatan senjata dan perdamaian itu dlsepakati sekian kali juga wujud perdamaian Suriah hancur berantakan.

Kesepakatan damai terakhir digelar Rusia dan AS dalam konflik Suriah adalah gencatan senjata dan penghentian permusuhan (case fire and cessation of hostilities) diterapkan pada 27 Februari 2016 lalu. Apa yang tejadi,  jauh panggang dari api. Konflik Suriah bukannya meredup malah semakin membara saat sejumlah grup pejuang Suriah (FSA) makin kuat setelah dilatih dan dipersenjatai AS, Turki dan aliansi Saudi Arabia. 

Meski demikian ditengah rasa skeptis dan putus asa upaya dialog AS-Rusia, UE dan PBB terus berjalan. Sejumlah petemuan maraton antara Kerry dan Lavrov telah digelar sejak tahun lalu dan semakin fokus sejak Januari lalu sampai kini. Belasan kali petemuan Lavrov – Kerry telah berlangsung dan empat 40 kali sambungan telepon antara keduanya telah dilaksanakan merintis jalan damai untuk Suriah.

Rintisan jalan damai Suriah akhirnya dicapai setelah  AS  dan Suriah menemukan kesepakatan-kesepakatan khusus pada 10/9/2016 Jumat malam waktu Jenewa (11/9/2016 di Indonesia). Rintisan jalan damai  berupa penghentian permusuhan itupun telah diumumkan dan efektif belaku mulai Senin besok 13/9/2016.

Kesepakatan kali ini menurut banyak pengamat memiliki aroma kekuatan dan keseriusan berbeda dengan kesepakatan sebelumnya. Kesepakatan damai kali ini dianggap memiliki kredibilitas lebih tinggi karena :

  • Menuntut AS dan Rusia sama-sama bergabung menyerang ISIS, Al-Nusra dan Al-Qaeda atau grup teroris tergabung di dalamnya.
  • Menghentikan serangan udara rezim Assad pada penduduk sipil dan melarang mengunakan bom curah atau barrel bom pada penduduk sipil.
  • Sama-sama terlibat memberikan bantuan kemanusiaan pada daerah terkepung dan hancur akibat perang dan menangani bersama-sama masalah pengungsi dan migran Suriah.

Sebelum kesepakatanini telah digelar 12 kali upaya gencatan senjata untuk damai Suriah, antara lain adalah : 

  1. Usulan Perdamaian oleh Liga Arab ke-1 pada November 2011
  2. Usulan Perdamaian oleh Liga Arab ke-2 pada Desember 2011- Januari 2012
  3. Usulan proposal Rusia (dikenal dengan proposal VitalY Churkin) pada Februari 2012. Churkin adalah dubes Rusia untuk PBB saat itu.
  4. Usulan Koffi Annan (dikenal dengan istilah six-points Peace Plan for Syria) pada Maret 2012
  5. Pertemuan pembicaraan damai Jenewa 1 (30 Juni 2012)
  6. Usulan Lakhdar Brahimi pada Agustus 2012. Lakhdar adalah wakil PBB untuk menjadi negosiator damai Suriah
  7. Inisiatif Damai oleh AS-Rusia (Mai 2013)
  8. Pertemuan Jenewa 2 (23–31 January 2014)
  9. Proposal Staffan Domingo de Mistura (29 Juli 2015) de Mistura adalah utusan PBB untuk damai Suriah menggantikan Lakhdar sejak 10 Juli 2014.
  10. Genjatan senjata Zabadani (24 September 2015). Atas permintaan PBB, kepungan terhadap ratusan pemberontak dari desa Al-Fou’aa and Kafraya di Provinsi Idlib pada 26 September 2015 dibebaskan sehingga ribuan warga dan ratusan pemberontak dievakuasi ke luar dari dua desa yang dikepung selama 6 bulan oleh tentara Suriah.
  11. Pertemuan International Syria Support Group (ISSG) di Wina, Austria (30 Oktober 2015). Sebanyak 17 negara berpengaruh terkait konflik Suriah bernegosiasi untuk memberi bantuan perdamaian pada Suriah
  12. Pertemuan Jenewa (sepakat disebut dengan Jenewa III) pada 1 Pebruari 2016. Sebanyak 36 sayap organisasi dan milisi dukungan Arab Saudi serta YPG, Al-Nusra dan IS diputuskan tidak diundang PBB. Utusan yang diundang adalah the High Negotiations Committee (HNC). Ketua DELEGASI dipimpin oleh Asaad al-Zoubi. Sementara delegasi Suriah dipimpin dubes Suriah untuk PBB, Bashar Jafaari.
  13. Upaya tekini disepakati AS dan Rusia kemarin (10/9/2016) di Jenewa Swiss setelah sempat tertunda 12 jam akibat Menlu Kerry harus menanti lebih dahulu proses aproval pihak terkait di negerinya. Kesepaktan ini disebut dan akan belaku mulai Senin (13/9/2016).

Meski banyak pihak skeptis dengan pencapaian kesepakatan AS dan Rusia guna mengakhiri perang Suriah namun beberapa pengamat menilai kali ini AS-Rusia melaksanakan upaya dengan sangat seius untuk perdamaian di Suriah. Beberapa media berita online menyebut pencapaian itu dengan judul berita menarik dan optimis.

  1. Media Turki menulis berita optimis sekaligus ambisius, “Turkey says backs Syria truce deal, preparing aid for Aleppo” tulis media itu. Sumber : ynetnews 
  2. Media Arab menulis judul Liga Arab menambut baik upaa damai tersebut. ” Arab League welcomes Syria truce deal,” tulis sumber aa.com
  3. Media Iran, Hezbollah dan Suriah masing-masing menurunkan berita sambutan baik dan sikap positif mereka tentang kesepakatan dan upaya damai tersebut
  4. Media AS menilai titik balik hubungan AS dan Rusia untuk menemukan persamaan persepsi menuju damai Suriah. “‘A turning point’: U.S., Russia announce Syrian ceasefire plan,” tulis cbc.ca. Media AS lain sepeti Vox.com bahkan menulis Obama mencapai kesepakatan hebat dengan Rusia untuk damai Suriah. Media lain NY times dan WPost juga menurunkan berita optimis penuh harapan pada upaya dicapai kedua negara tersebut.
  5. Media Yunani menulis komentar postif Menlu Yunani menaruh harapan besar pada kesepakatan paling menentukan itu.
  6. Media berita online dunia banyak mengespos pencapaian dilakukan AS dan Rusia kemarin, sayangnya penulis BELUM menemukan media kita menyikapi upaa dihasilkan AS dan Rusia tersebut. Padahal kesepakatan ini dicapai setelah melewati titik-titik paling berat yang harus diterima AS dan Rusia untuk mewujudkan damai Suriah seperti disampaikan oleh bbcindonesia.

Di samping sambutan postif di atas ada juga pihak yang kurang yakin dengan upaya tesebut, salah satunya adalah pihak opoisi Suriah. Pihak oposan kelihatan skeptis dengan upaya tersebut.

Saat tulisan ini sedang disiapkan, pimpinan Ahrar al-Sham salah satu grup militan kuat dalam FSA mengumumkan dalam dalam khutbah Idul Adha menolak kesepakatan damai digagas AS dan Rusia. Sumber : twitter.com.

Sementara itu kelompok terkuat lain dalam FSA, Jabhat Fateh al-Sham juga menolak gencatan senjata itu. Penolakan itu disampaikan juru bicara Ahrar al-Syam (JFS), Abu Yousif Al-Muhajar, mereka tidak akan patuh pada gencatan senjata diprakarsai AS – Rusia.

Strategi AS dan Rusia dibalik kesepakatan damai Suriah (11/9).

Sikap AS dalam usulan damai itu sebuah kemenangan bagi Rusia karena dengan demikian fokus rezim Assad adalah hanya bertahan dari rongrongan FSA saja, bukan dari ISIS atau sempalan Al-Qaeda. Setidaknya dengan demikian Assad akan bertahan dari rongrongan lebih lama dalam sasaran FSA saja.

Bagi AS langkah ini juga sebuah kemenangan mengingat intensitas serangan Rusia mulai meningkat dari penggunaan bom berdaya ledak kecil menjadi lebih besar seperti penggunaan rudal misil dan termo Bom akan menimbulkan kerusakan pada alam, lingkungan dan jiwa pemberontak dan warga Suriah lebih besar. Korban jiwa lebiih banyak di pihak FSA akan melemahkan perjuangan FSA.

Bagi Rusia kesepakatan joint monitoring dengan AS ini adalah sebuah kemenangan karena selama ini AS tidak terbuka pada Rusia dalam memberikan data dan informasi apapun tentang Suriah meskipun tentang perang terhadap teroris. Bahkan Rusia sering kecolongan karena lebih terbuka pada niat baik AS dan merasa tertipu seperti pada saat FSA menerobos kepungan SAA di Aleppo barat pada pertengahan Juli lalu. Kondisi seperti ini membuat Rusia bisa geram sehingga pernah bikin Rusia berang dan mengancam akan menutup kejasama apapun dengan AS tentang Suriah. Bisa jadi Rusia kecolongan kembali JIKA dimanfaatkan AS melalui kejasama ini untuk “mencuri” informasi tentang aktifitas intelijen Rusia dalam memerangi teroris.

Bagi AS joint monitoring ini juga sebuah langkah strategis melihat kesediaan Rusia mengendurkan pengaruhnya di dalam konflik Ukraina.

Selain itu kesediaan AS bekerjasama dengan Rusia pasti tidak akan gratis. AS meminta jaminan Rusia memastikan pasokan gas melalui pipa jalur darat ke sejumlah negara Eropa dan Turki dapat kembali berjalan normal.

Tidak ada yang tak mungkin JIKA negara-negara terlibat di dalam konflik Suriah jujur dan tulus mendukung gencatan senjata dan penghentian permusuhan ini, Mungkin itu sebabnya peranan media juga dilibatkan untuk mensosialisasikan hasil yang dicapai AS – Rusia diatas untuk disosialisasikan ke seluruh dunia agar gaung dan sambutannya membahana sekaligus mengkondisikan situasi yang diharapkan berupa tercapaianya gencatan senjata dan akhirna terciptalah perdamaian itu.

Mungkinkah kali ini akan terwujud impian AS dan Rusia serta negara tergabung dalam International Syria Support Group (ISSG). Sebagian orang berpikir negatif dan sebagian lagi menilai postif. Pikiran negatif tak salah juga terlebih menjelang berlaku penghentian permusuhan itu pasukan Surah seperti kesetanan mengejar target menyerang  posisi FSA di seluruh kawasan dikuasai FSA.

Apapun nama dan istilah dipakai untuk penghentian permusuahan di Suriah serta apapun penilaian terhadap niat baik untuk itu, upaya kali ini diharapkan  benar-benar akan berjalan serius dan berdaya positif guna mencapai perdamaian Suriah.

JIKA tidak, AS dan Rusia akan dianggap hanya lelucon saja di dalam konflik Suriah. Petemuan Kerry dan Lavrov hanya akan menambah daftar ungkapan satir dan nyeleneh “From Russian With Love,” misalnya “Kerry and Lavrov from Russian with love.”  Padahal jika keduanya mampu menghadirkan damai Suriah bisa saja istilah tadi akan lebih kredibel untuk meraih hadiah Nobel Perdamaian 2016. Sebut saja misal menjadi “Kerry and Lavrov for syrian with love,” hehehehehehhe…

Salam AGI

 

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s