Inikah Bikin Ratu Elizabeth II Berang Pada Uni Eropa?

Sumber: Theatlantic.com - Edit: abanggeutanyo

Hampir tak ada satu alasan logis dibalik sikap Inggris memilih keluar dari Uni Eropa (UE). Tangguhnya  pertahanan ekonomi kerajaan Inggriis sejak 25 tahun terakhir telah diakui dunia dan itu adalah fakta positif, kontras sekali  dengan keputusan Inggris menutup 40 tahun lembaran catatan Ekonomi dalam “buku harian” nya bersama UE.

Fakta itu dapat dilihat pada sejumlah indikator positif dalam 25 tahun terakhir. Inggris telah mampu menghadapi beberapa tekanan dan krisis ekonomi Eropa yang mulai mengakar sejak 2000 kemudian mulai merebak sejak 2010  dan terus mengintai Eropa hingga saat ini.

Meski tak melihat seluruh indikator dimaksud mari kita lihat beberapa sisi indikator saja beikut ini :

  • Nilai tukar Poundsterling atau Bitish Pound atau GBP pada 24 Juni 1990, rata-rata USD 1 setara dengan 0.58 GBP atau 1 USD=0.578368 GBP. Kini, 26 tahun kemudian  pada 24 Juni 2016 keangkuhan GBP masih bertahan, 1 USD=0.73 GBP. Nilai tukar mata uang Inggris mampu bertahan nyaris tak tergoyahkan oleh fluktuasi dolar AS. Selengkapnya dapat dilihat di sini : fxtop.com
  • Tingkat pengangguran turun sejak 1990 dari 7% menjadi 5%  pada Juni 2016, menurun dratis dalam 6 tahun terakhir sejak 2010.
  • Gross National Income juga mengalami peningkatan pesat sejak 2013 dari £420 miliar menjadi £455 miliar pada Januari 2016..
  • Upah minimum per jam meningkat pesat dari 5,35 menjadi £6,7 pada Januari 2016.
  • Upah tenaga minimum skill rendah bekisar terus tumbuh sejak Januari 2015 dari £1.160 per bulan menjadi £1,300  per bulan.
  • Nilai eksport meningkat pesat dari £ 43,4 miliar pada Mei 2013 menjadi £ 44,7 miliar pada April 2016.
  • Pengelolaan utang pemerintah juga tergolong bagus. Inggis berakredetasi AA plus dengan nilai 97 di bawah AS dengan nilai 98 dan Denmark  pada posisi terbaik dengan nilai 100, menurut laporan Major Credit rating agencies pada 26/6/2016. Sumber : tradingeconomics.com.
  • Inggris, khususna kota London juga menempati urutan teratas negara paling favorite wisatawan dunia 2016 . Sumber : BBC .

Apa yang telah diraih itu tentunya tidak terlepas dari kerjasama dengan negara lain, terutama dalam komunitas Uni Eropa tempat Inggris dan negara Eropa lainnya berinteraksi untuk berbagai kepentingan negara dan masyarakat UE terutama untuk Inggris sendiri. Diakui atau tidak oleh Inggris, UE telah berjasa meningkatkan dan memelihara stabiitas ekonomi dan daya saing produk dan jasa Inggris dalam berbagai bidang dalam tataran Ekonomi.

Memang diakui ada beberapa sisi lain yang terlihat trend menurun saat ini, misalnya pada sisi GDP khususnya sektor industri pabrik, setelah sempat meroket sejak Juli 2013 pada pencapaian £ 39 miliar kini menurun menjadi £ 38,4 miliar dalam 3 tahun terakhir hingga hingga Januari 2016. Selain itu secara umum GNP juga terlihat menurun sejak Juli 2013 lalu 2,2% menjadi 2% pada Apil 2016.  Namun demikian rata-rata GDP sejak 1956 hingga Juni 2016 stabil bekisar 2.47 %.

Tentu masih banyak dimensi lain yang tak mampu diungkapkan di sini, setidaknya beberapa contoh di atas dapat menjadi sebuah pengakuan reputasi ekonomi Inggris dalam mengisi kancah ekonomi dunia yang semakin sengit hampir 3 dekade terakhir. Inggris mampu stabil dan mandiri dalam berbagai hal selain beberapa kelemahan disebutkan di atas.

Dengan melihat apa yang telah diraih Inggris wajar menimbukan pertanyaan mengapa Inggris memutuskan keluar dari Uni Eropa yang telah berjasa membesarkan ekonomi Inggris. Meskipun rakyat Inggis yang memilih dan menentukan pilihan setidakna kondisi itu menggambakan dukungan dan sikap ratu Elizabeth II seperti telah lama menyimpan murka dan memilih bercerai dengan UE.

Inggris keluar dari UE populer dengan sebutan Brexit atau “Britania Exit” atau “British Exit,” ungkapan hampir sama pernah digunakan pada 2012 lalu saat Yunani atau Greece mempertimbangkan akan keluar dari ekonomi Eurozone akibat krisis ekonomi tak kunjung usai. Istilah populer mengenai rencana Yunani keluar dari UE saat itu disebut “Grexit,” berasal dari kata  “Greek” dan “exit.” Istilah itu pertama dilontarkan oleh Ebrahim Rahbari, salah satu pengamat ekonomi dari Citigroup’s Global Chief Economist pada 6 Februari 2012 dalam diskusi potensi keluarnya Yunani dari ekonomi Eurozone.

Yunani sendiri telah melaksanakan referendum seperti Inggris pada 25 Januari 2015. Hasilnya rakat Yunani lebih banyak memilih tetap berada dalam UE dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Setahun kemudian tepat 23 Juni 2016, giliran Inggris beraksi melaksanakan referendum dan hasilnya mengejutkan. Sama-sama telah kita ketahui 51.9%  suara (17,410,742 votes) meemilih keluar dari UE, mengalahkan 48.1% suara (16,141,241 votes) pemilih bertahan dalam UE. Inggris pun bersiap melaksanakan hasil pemilu tersebut meski kecaman dan penyesalan datang dari berbagai penjuru dunia termasuk dari negara anggota UE sendiri.

Keluar dan masuknya anggota dan calon anggota Uni Eopa memang telah diatur dalam pasal 49 dan 50. Jadi  persiapan Inggris untuk memahami tatatertib UE pasti telah disiapkan dengan berbagai pertimbangan sebab akan banyak hal Pe-Er yang harus mampu dipenuhi Inggris pada UE jika keluar.

Salah satu pasal penting patut dicerna untuk anggota ang mengundurkan diri di atur dalam pasal   dan jika suatu saat akan masuk kembali telah juga telah diatur carana pada pasal 49, seperti dilihat berikut ini :

Edit: abanggeutanyo

Melihat pada mekanisme keluar masuk UE di  atas tidak menurunkan minat masyarakat dan negara besar sehebat Inggris meski melaksanakan referendum dengan biaa besar.

Lalu apa sesungguhnya yang membuat ratu Elizabeth II seperti menyimpan sakit hati tak tertahankan selama ini pada UE? Apalagi jika melihat pada pencapaian beberapa parameter ekonomi disebut di atas terlalu tega kelihatannya ratu Elizabeth II membiarkan Inggris keluar dari rumah idaman masa depan Eropa setelah mengecap manisnya pencapaian ekonomi hampir 3 dekade terakhir.

Banyak sudah ulasan dan analisa mengenai sebab dugaan keluarnya Inggris dari UE telah kita ketahui bersama. Bebraepa sebab yang sering menonjol diantaranya adalah :

  • Kekuasaan UE telalu besar sehingga menganggu kedaulatan Inggris
  • Markas UE dicuigai sebagai sarang melaksanakan sistim bisnis yang tidak efisien
  • Kaum imigran masuk ke Inggris memperlebar tingkat pengangguran.
  • UE menekan Inggris lebih kuat agar memperlonggar menerima imigran
  • Kaum imigran dari timur tengah menjadi momok paling menakutkan hingga timbul stigma negatif semacam islam phobia celah masuknya ISIS. Sumber : cnn.com

Apakah konten (lebih fokus) pada masalah imigran ini dibalik terbakarnya semangat Inggris keluar dari UE? Apakah tidak ada fakor lain lebih logis mengapa Inggris keluar dari UE? Mungkin faktor berikut ini mungkin bisa jadi pertimbangan. Mari kita lihat dari sisi lain yakni tak mampunya Inggris “menjajah” mata uang Euro bahkan posisi nilai kurs mata uang GBP semakin melemah terhadap Euro.

Lihatlah catatan sejarah dan fakta sederhana berikut ini berdasarkan pencarian pada sumber Bank Federasi Rusia.

Pada 1998 ketika hampir seluruh negara Eropa barat bergabung dalam UE lalu terintegrasi dalam mata uang tunggal Euro sebagai sistem keuangan Eropa, nilai tukar £1 (GBP) terhadap €1 (EUR) pada 1 Januari 1999 atau pada masa awal  berlaku sistim mata uang Euro € (EUR) rata-rata berkisar  pada 1,44 per £1 (GBP) dengan kata lain, 1GBP = 1.43 EUR.

  • Pada Desember 2000, 1 GBP, max 1.75, min 1.56 per 1 EUR. Posisi 1 GBP terhadap EUR menguat.
  • Pada Desember 2001, 1 GBP, max 1.68, min 1.56 per 1 EUR
  • Pada Desember 2002, 1 GBP, max 1.65, min 1.54 per 1 EUR. Posisi 1 GBP terhadap EUR mulai melemah
  • Pada Desember 2005, 1 GBP, max 1.65, min 1.54, per 1 EUR
  • Pada Desember 2007, 1 GBP, max 1.53, min 1.36, per 1 EUR terus melemah
  • Pada Desember 2009 atau sepuluh tahun setelah bergabung teus melorot, max 1.18, min 1.03 per 1 EUR
  • Pada Desember 2011, 1 GBP, max 1.2, min 1.11 per 1 EUR. Level terburuk sepanjang sejarah nilai tukar GBP terhadap EUR
  • Pada Desember 2012, 1 GBP, max 1.29, min 1.18 per 1 EUR
  • Pada Desember 2014, sedikit menguat, 1 GBP, max 1.28, min 1.19 per 1 EUR
  • Pada Desember 2015, 1 GBP, max 1.44, min 1.28 per 1 EUR
  • Pada 1 Juni 2016, kembali melemah. 1 GBP, max 1.36, min 1.23 per 1 EUR

Meski pada saat yang sama posisi EUR terhadap mata uang Eropa lainnya juga terus menguat namun bagi Inggris hal itu berbeda. Kenyataan itu membuat Inggris tidak puas berada dalam lingkungan “rumah UE.” Pasalnya rakyat Inggris yang lebih kritis terhadap nilai – nilai nasionalisme merasa GBP telah memilki nilai sangat kuat kuat sejak sebelum  masa Perang Dunia 1 dan menjadi mata uang terkuat selama PD-,1 hingga kini karena mampu mengalahkan keangkuhan USD. Sampai kini pun pada 26 Juni 2016, nilai tukar 1USD hanya  0.74 GBP saja, tak sampai 1GBP per 1USD.

Sekadar catatan tambahan, nilai kurs rata-rata maksimum GBP terhadap  USD pada 1992 adalah  0.66 dan minimum 0.5 saja. Hampir 25 tahun terakhir GBP tak mampu “dijajah” oleh ekonomi AS, mungkin itulah bentuk egoisme yang telah mendarah daging dalam pandangan sebagian warga Inggris dan mungkin  saja dalam batin ratu Elizabeth II.

Pantas saja benyak juga pengamat menilai keputusan Brexit itu berlatar belakang konsep  kebodohan jika tak pantas disebut sebagai sikap egoisme tradisional yang masih melekat pada alam bawah sadar sebagian warga kerajaan Inggris. Jika ini sebabnya pantas juga akibat kondisi ini membuat Inggris tidak terima melihat mata uangnya merasa “dikerjai” oleh UE.

UE dan dunia telah memperingatkan Inggris agar tidak gegabah mengambil keputusannya, Tapi apa daya referendum telah dijalankan dan hasilnya telah mengikat dan memutuskan Inggris keluar dari UE. Petisi lebih 1 juta tanda tangan warga kota London dan Britania raya pun seakan tak mampu lagi menahan laju animo Brexit tersebut.

Inggris pasti telah memikirkan langkah pengamanan dan proteksi terhadap sejumlah potensi masalah yang bakal terjadi, diantaranya adalah :

  • Mempertahankan supremasi mata uang paling kuat di dunia.
  • Nasib perusahaan Inggris yang berafiliasi dengan perusahaan negara Eropa lainnya
  • Nasib pekerja dari negara Eropa lain yang bekerja dan menetap di Inggris dan telah membayar pajaknya ke Inggris dan sebalikna nasib pekerja Inggris di negara Eropa lain.
  • Sistim keamanan keimigrasian warga non Inggris yang menetap di seluruh Inggris
  • Potensi penarikan GBP dalam jumlah besar dan  serentak atau rush beserta cara mengatasinya
  • Masalah penarikan seluruh unsur dari dalam organ penting organisasi UE seperti : Komisi Eropa, Parlemen Eropa, Dewan Eropa, Mahkamah Eropa dan menyuesuaikan modalnya padai Bank Sentral Eropa
  • Potensi migrasi perusahaan Inggris yang akan memindahkan usahanya ke luar negeri dan tentu saja sederet masalah lainnya dari urusan “remeh temeh” hingga masalah krusial dalam bidang pinjaman luar negeri yang harus segera disiasati dengan cermat agar tidak menguras cadangan devisa negara serta sejumlah masalah lain yang tak mampu disebutkan satu persatu pada tulisan ini.

Pantas, Brexit seperti gempa besar di Eropa tapi getarannya menjalar ke seluruh dunia bahkan sampai ke Indonesia dengan kekuatiran klasik menyasar pada isu klasik yaitu kekuatiran pembelian USD dalam jumlah besaroleh petualang dolar di tanah air. Banyak pengamat menduga tentang hal ini termasuk Menteri Keuangan, Darmin Nasution  meminta Indonesia waspada menghadapi dampak Brexit ala Inggris.

Apakah isu yang dikuatirkan Indonesia akan menjadi kenyataan, meski tanpa peristiwa Brexit pun nilai tukar rupiah sangat rentan dipermainkan sejak ‘dahulu kala’ samai kini oleh mafia-mafia penangguk keuntungan yang bermain diantara kebijakan-kebijakan “putus asa” diterbitkan pihak berwenang Indonesia? Faktanya tanpa Brexit pun mata uang kita  rentan menjadi obyek permainan dalam dunia pertukaran mata uang.

Kembali ke masalah Brexit..

Keluarnya Yunani atau kehilangan negara Eropa timur mungkin tak terlalu masalah bagi UE. Tapi  beda jika  kehilangan Inggris, apalagi jika langkah Inggris akan diikuti beberapa negara lainnya seperti Yunani yang belum stabil juga dari wabah krisis ekonomi Eropa sejak 2012 lalu. Keberanian Inggris mengambil sikap berbeda setidaknya akan membuat negara lain terinspirasi bepikir ulang jika harus bersama UE dan siap melaksankan referendum ulangan meski berbiaya sangat mahal.

Peristiwa Brexit telah ditanggapi oleh dunia secara sinis, memojokkan, menyalahkan serta menyayangkan sikap Inggris. Jika seluruh opini dunia memojokkan dan menyesali kepuutusan Inggris tentu sah-sah saja, akan tetapi Inggis punya pandangan dan alasan yang jelas dan telah menyiapkan konsekwensinya.  Inggris begeming, komit untuk melaksanakan aturan dan peraturan yang telah dibuat.

Jika Inggris mampu mengatasi masalahnya dalam kurun waktu 1 tahun maka langkah Inggris berpotensi diikuti oleh Yunani dan mungkin juga negara lain di kawasan Great Britania  seperti Wales, Irlandia dan Skotlandia. Jelas fenomena ini membuat UE terasa panas dingin dan mungkin akan tinggal kenangan jika muncul Greexit kedua, atau Irexit atau Walexit dan Skotexit dalam waktu dekat.

Kekuatiran UE sangat beralasan sehingga kanselir Jerman Angela Markel kemarin meminta agar Eropa tidak mengikuti langkah Inggris. Wajar jika Markel menghimbau dengan tegas dan jelas untuk anggota UE lainnya, bukan saja karena UE  akan menguburkan impian penyatuan Eropa yang telah digagas dalam perjanjian Roma pada 1957 dan tebentuknya the European Economic Community (EEC) cikal bakal hadirnya UE, tapi juga karena goncangan ekonomi internal UE akan menciptkan krisis ekonomi parah dan akut untuk Eropa dan bisa merembes pada krisis Global.

Entah karena putus asa dan kecewa beberapa jam lalu Presiden Perancis Francois Hollande malah meminta Inggris mempercepat proses keluar dari UE melalui pernyataan emosional. “Tidak ada yang lebih buruk dari ketidakpastian. Ketidakpastian seringkali menghasilkan perilaku tidak rasional. Ketidakpastian juga menyebabkan pasar keuangan menjadi semakin sulit diperhitungkan, sulit bagi negara-negara di Uni Eropa untuk bertindak tidak rasional.” katannya. Sumber : detik.com.

Sayangnya pernyataaan Hollande itu disikapi Polandia dengan skeptis. Beberapa jam lalu  kompas menurunkan berita hangat, Menlu Polandia, Witold Waszczykowski meminta negaranya berpikir ulang di dalam UE. Waszczykowski mempertanyakan apakah dorongan untuk “satu lembaga politik dengan otoritas terpusat”, seperti di UE, bisa bekerja efektif, tulis kompas.com.

Mungkinkah langkah Inggris akan membuat UE semakin sakit? Mari kita lihat saja sambil berharap kondisi ini tidak membuat pemain valas dan petualang dolar ikut latah mempemainkan rupiah kita.

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s