Strategi Perang Suriah Berubah, Kawan dan Lawan Tak Abadi Demi Geopolitik Sindrom

The skyline of Aleppo, Syria. (Lorenzo Tugnoli/For The Washington Post)

Pada usianya bulan ke 63, tepatnya sejak Juni 2016 banyak terjadi perubahan strategi dalam pertikaian perang saudara Suriah. Dengan menyimak perubahan strategi dalam konflik tersebut sedikit tidaknya membawa kita mencermati lebih seksama akan seperti apakah masa depan konflik Suriah? Berikut ini beberapa perubahan strategi yang dapat penulis catat, antara lain adalah :

Perubahan sikap Turki terhadap Zona aman

Pelan-pelan Turki menemukan solusi akibat tekanan negara sahabat tentang Zona penyangga atau Buffer Zone-nya. Harapan pada zona aman tersebut mungkin akan mulai dilupakan. Turki mulai menekan ISIS lebih intensif di zona aman yang dibuatnya sendiri di wilayah negara lain.

Pertemuan Menlu Turki dan AS di Brussel, Kamis 16 Juni lalu memang berlangsung tertutup dan rahasia, akan tetapi beredar tema yang mereka bicarakan salah satunya adalah sorotan media dunia atas sikap Turki menciptakan zona aman yang tidak terlalu penting bagi perdamaian Suriah.

Kelihatannya pemerintah Turki mulai menyikapi positif sorotan dunia yang menuding zona tersebut hanya untuk kepentingan Turki saja, selain itu pintu perbatasan tempat keluar masuk petempur asing dalam konflik Suriah juga akan ditutup permanen. Turki juga akan memperbaiki sikap kakunya selama ini dengan membuka kembali lembaran baru dengan Iran, Mesir dan Rusia. Pada bagian lain, Turki makin intensif meningkatkan serangan terhadap ISIS, tidak lagi semata-mata mempersempit ruang gerak pasukan Kurdi Suriah (YPG).

Pasukan ISIS mulai meninggalkan ibukota Raqqa

Rombongan besar ISIS dilaporkan telah bergerak menuju ke kota al-Tabqah. Bagian pasukan lain maju ke utara Raqqa menahan laju SDF dan sisanya bertahan di kota meski ada juga menuju ke al-Bukamal di perbatasan Suriah – Irak.

Pergerakan ini mengisyaratkan ISIS memilih “memperlonggar” SAA ketimbang SDF. Tak heran kemampuan SAA menjangkau Raqqa lebih cepat ketimbang SDF. Dalam seminggu SAA mampu menjangkau 20 km. Kini posisinya telah menembus gurun pasir Rasafah. Perang di gurun pasir sementara ini dimenangkan oleh SAA. Jika tak terbendung, dalam sepekan SAA bisa mencapai jalan pintas menuju gerbang Raqqa untuk menjangkau 14 km lagi ke pusat kota Raqqa tanpa harus menaklukkan al-Tabqah lebih dahulu.

Koalisi SDF dukungan AS tunda masuk ke ibukota Raqqa

Koalisi SDF/YPG berhenti di pinggir ibu kota Raqqa sejak akhir Mei lalu. Secara teoritis, kondisi dan performa SDF mampu masuk ke kota itu. Karena alasan politis dan strategis SDF memilih menunda masuk ke Raqqa.

Kondisi ini mengisyaratkan dua hal, pertama SDF harus fokus ke kawasan Manbij khususnva merebut dan membersihkan kota Manbij dari ISIS sekaligus hampir sempurna menutupi jalur suplai dan penyusupan ISIS dari Turki ke Suriah.

Ke dua mengisyaratkan SDF pada akhirnya akan saling bertempur melawan SAA apabila tugas menumpas ISIS telah selesai. Paling minimal, pemerintah Assad akan mempertimbangkan masa depan Kurdi Suriah untuk menikmati kebebasannya di kawasan impian mereka yakni bagian utara Suriah meskipun tidak sampai meliputi ibu kota Raqqa.

Pasukan khusus Jerman dan Perancis masuk ke kubu SDF

Setelah AS memasukkan 200 personil pasukan khusus bergabung dengan SDF kini giliran Jerman dan Perancis memasukkan pasukan khusus ke kantong Kurdi Suriah di bawah komando SDF/YPG dan kantong Kurdi Irak KrG. Meski ke dua negara itu membantah infomasi tersebut, Reuters melaporkan kedua negara telah menempatkan posisi pasukan mereka di Ain al-Arab atau Kobani dan Manbij.

Hadirnya pasukan sekutu dalam komando Kurdi Suriah dan Irak secara implisit merupakan sebuah tamparan ke muka Turki akibat memainkan politik tidak strategis bagi kepetingan NATO selama ini.

Salah satu informasi memperlihatkan peralatan militer Perancis telah tiba kemarin (17/6) di sebuah lokasi Kurdi Irak ang dikuasai KRG. Sumber : https://isis.liveuamap.com/en/2016/16-june-french-military-shipment-arrives-in-kurdistan--

Pesawat  tempur SuAF Assad mulai intensif menyerang kantong-kantong kecil terkepung FSA 

Jika sebelumnya pasukan pro pemerintah, SAA fokus pada usaha mempertahankan atau merebut jengkal demi jengkal wilayahnya  yang dikuasai FSA maka sejak Juni 2016 SAA mulai menggebrak kantong-kantong terkepung FSA. Tak kurang 12 kantong FSA dan ISIS dikepung oleh pasukan SAA di seluruh Suriah. Dari jumlah tersebut, 7 kantong mulai intensif diserang dengan bom atau dengan artileri berat pada bulan ini, seperti terjadi di  desa Madya dan Zabadani. Lalu di kota Hom bagian utara, Talbiseh. Kemudian bagian selatan kota Damaskus, Daraa, dan Estern Ghouta serta bagian terkepung lainnya di Khan as-Shih dan Al-Hirak, Salah satu rangkaian strategi itu sedang berlangsung di Eastern Ghouta, dapat dilihat di sini : syria.liveuamap 6 Juni 2016.

Serangan ke kantong terkepung seperti ini mengandung pesan dan menuntut sikap hati-hati FSA, “jika  anda terlalu ofensif akan berkonsekwensi pada tragedi kemanusiaan di sejumlah kawasan terkepung anda,” demikian kira kira makna implisit pesan tersebut.

Saat ini rezim Assad didukung RuAF Rusia semakin intens menjatuhkan bom, barel, kluster dan bom Posfor sehingga menimbulkan kobaran api skala besar dan kerusakan berat bagi manusia dan lingkungan di berbagai lokasi terkepung disebutkan di atas.  .

SAA mulai terlibat clash dengan Hezbollah

Perbedaan pendapat dalam hal kepentingan penguasaan wilayah yang berhasil dibebaskan oleh kedua belah pihak berkoalisi ternyata sering memicu ketidak puasan ke dua belah pihak. Setelah beberapa kali terjadi clash kecil pecahlah clash besar antara dua bersaudara tersebut. Awalnya terjadi seminggu lalu ketika Hezbollah menyerang kawasan Nubol dan al-Zahraa di provinsi Aleppo bagian utara. Seorang perwira SAA dan 7 anggotanya tewas.

Selanjutnya, pada Rabu 16 Juni, sejumlah petempur Hezbollah tewas akibat dibom oleh pesawat tempur angkatan udara Suriah SuAF. Saat bersamaan kelompok al-Nusa memanfaatkan situasi dengan menyerang posisi Hezzbollah menyebabkan 14 anggotanya tewas dan melukai puluhan lainnya. Tewasnya anggota milisi Hezbollah akibat bentrok dengan SAA ini seakan melupakan 2.000 milisi Hezbollah telah tewas atau hilang saat mulai membantu SAA tiga tahun lalu.

Peristiwa ini mengisyaratkan persekutuan Suriah- Iran mulai goyang setidaknya di level bawah. Kondisi ini sangat diharapkan lawan-lawan mereka karena diyakini SAA tanpa bantuan Hezbollah akan lebih lemah bahkan nyaris kolap seperti dua tahun lalu saat  sebagian besar wilayahnya “disapu”  FSA dan ISIS.

Diplomat AS mulai menekan Obama agar menyerang SAA

Sebanyak 50 pejabat tinggi AS telah menandatangani petisi meminta agar Presiden AS melaksanakan tindakan militer terhadap pasukan Assad. AS menilai rezim Assad telah melanggar secara massif gencatan senjata terhadap pemberontak dan warga Suriah. Menurut salah satu pejabat militer Rusia, rencana itu melanggar resolusi PBB.

Kondisi ini mengisyaratkan AS TIDAK ingin melihat rezim Assad menang dalam perang Suriah. Penguasaan kota Raqqa, Aleppo dan selanjutnya Deir Ezzor adalah fakta tak sedap perkembangan rezim Assad jika menjadi pemenang. Hal ini tidak akan dapat ditolerir oleh barat yang berkoalisi dengan Turki dan Arab Saudi, dua sponsor penentu masa depan rezim Assad.

Angkatan Udara Rusia mulai menyerang pasukan The New Syrian Army (NSA)

Setelah dua kali peristiwa sama terjadi awal Juni  lalu, serangan RuAF terhadap NSA terjadi kembali pada Kamis 16 Juni lalu . Kondisi ini menyebabkan AS meminta penjelasan Rusia mengapa hal itu bisa terjadi. Juru bicara Dephan AS, Peter Cook, mengakui sangat terganggu dengan aksi Rusia tersebut. Bagi AS pasukan NSA adalah aliansi penting dan terkuat dalam memerangi ISIS. Dukungan AS untuk NSA sangat jelas dari pelatihan, persenjataan, intelijen hingga pendanaan. Seharusnya NSA tidak menjadi target Rusia dan Suriah.

Serangan Rusia terhadap NSA sama halnya dengan serangan AS tehadap SAA karena NSA adalah aliansi penting dan tepercaya AS di selatan Suriah selain SDF/ YPG di utara Suriah.  Akan tetapi di mata Rusia, NSA tak ubahnya FSA setelah melihat bukti kontradiktif dengan apa yang dilihat AS. Mungkin saja senjata-senjata bantuan AS  untuk NSA ternyata sampai juga ke tangan ISIS untuk menumpas rezim Assad. Meski ini adalah hanya anggapan, beberapa kasus memperlihatkan hal itu pernah terjadi.

Tentu masih banyak lagi perubahan strategi lain yang tak dapat disebutkan pada artikel ini misalnya adanya perselisihan internal di kubu FSA atau VSO (Vetted Syrian Opposition) alias pemberontak moderat Suriah, bisa jadi inidikasi masuknya anasir-anasir yang akan membelah organisasi FSA menjadi lemah dari dalam.

Mempelajari beberapa perkembangan di atas setidaknya kita dapat memprediksi akan seperti apa nasib pemerintah Assad dan bangsa Suriah ke depan, terutama saat perang itu akhirnya reda ketika tanah Suriah menyisakan lahan-lahan kering tempat beseraknya 400 ribu tulang belulang mayat manusia korban kebuasan dan keserakahan dari sebuah kekuatiran, yaitu Geopolitik Sindrom.

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s