Erdogan Tak Perduli Isolasi

Sumber gambar : https://img.rt.com. Edit Abanggeutanyo

Economictimes.indiatimes edisi 31 Nopember 2015 telah mengulas beberapa sisi karakter persamaan dan perbedaan antara Presiden Recep Tayyip  Erdogan dan Presiden Vladimir Putin. Sumber itu juga menjelaskan mengapa Erdogan akan menjadi musuh nomor satu Rusia. Kenyataanya, hubungan Turki khususnya Erdogan dengan Putin atau Rusia kini benar-benar sangat tegang jika tak pantas disebut memburuk.

Meski di sisi lain Erdogan punya banyak hubungan baik dengan pemimpin negara lain akan tetapi memburuknya sikap Erdogan terhadap beberapa negara menjadi tanda tanya sangat besar, mengapa Erdogan menjadi seperti itu dan apa yang melatar belakanginya bisa bersikap demikian.  Beberapa peristiwa memburuknya hubungan Edogan dengan beberapa pemimpin dunia atau negara lain adalah :

  • Saat menjabat Pedana Menteri (PM) pernah marah pada Perancis setelah parlemen Perancis pada 2011 menyetujui UU aksi genosida oleh Turki terhadap Armenia. UU Perancis tersebut juga menetapkan sejumlah sanksi terhadap Turki
  • Marah  dan memaki Obama akibat AS bemuka dua atas sikap dan pandangan positif AS terhadap Kurdi Suriah (YPG).
  • Marah pada Uni Eropa (UE)  karena Turki kebanjiran pengungsi Suriah – Irak tanpa sokongan dana sesuai dengan janji UE dalam mengatasi pengungsi
  • Terkini, marah pada Jeman karena palemen Jeman menyetujui UU anti Genosida dilakukan Turki pada PD-1 antara 1915 – 1917

Pada 31 Mei 2016 lalu, Merve Buyuksarac salah satu mantan ratu kecantikan dunia peraih Miss Turki 2006, telah diadili dengan hukuman percobaan 14 bulan penjara karena kembali membuli Erdogan. Merve pernah membuli Edogan saat ia masih menjabat  PM beberapa tahun silam dalam kartun bertajuk “The Master’s Poem” di majalah Uykusuz pada 2014 lalu, berisi pesan anti korupsi terhadap Erdogan.

Meski hukuman percobaan dan untuk mantan ratu kecantikan sejagad, tujuannya  adalah memberi pesan pada setiap warga Turki atau siapapun bahwa menghina Erdogan akan berakibat fatal.

Si Nona ini bisa dituntut hukuman hingga lima tahun penjara. Menurut informasi, saat ini pengadilan Turki sedang memproses hampir dua ribu kasus penghinaan terhadap Erdogan.

Hubungan buruk juga terjadi dengan mantan Perdana Menteri Ahmed Davutoglu dipaksa mengungundurkan diri pada Mei lalu akibat tegang dan berbeda visi dalam kebijakan luar negeri Turki sehingga Ahmed tak mampu bertahan lagi.

Hal senada, Edogan juga menyerang Fethullah Gulen, alias Hocaefendi seorang ulama kharismatik Turki yang pernah jadi teman baik Erdogan dalam karier politiknya sejak 2008 yang kini terpaksa menetap di AS. Begitu buruknya hubungan keduanya sampai Erdogan minta Obama mengekstradisi Gullen ke Turki pada 6/9/2014.

Gulen juga dituding berkomplot melakukan fitnah melakukan korupsi saat Erdogan menjabat Perdana Menteri Turki. Selain itu Gullen dicurigai sedang membangun kekuatan politik yang dikuatirkan sangat berbahaya bagi kepentingan kelompok sekuler yang kini mendominasi kekuasaan Turki.

Tak tanggung-tanggung Erdogan juga menuntut salah satu media massa Jerman ang memuat gambar dan tulisan satir tentang dirina. Jan Boehmermann, salah satu broadcaster pada TV Komik ZDF dituntut otoritas Turki karena dalam kartunnya melukiskan Erdogan otoriter bertindak represif terhadap minoritas Kurdi dan Kristen.  Boehmermann melukiskan Erdogan sedang menampar air sebagai ekpresi perbuatan sia-sia. Tak ampun, pemerintah Turki berekasi sangat keras dan meminta pengadilan Jerman mengadili komedian itu.

Tapi apa ang terjadi di Jeman adalah sebaliknya. Akhir Mei lalu, Jerman menjadi negara ke 20 meloloskan UU yang menyatakan Turki terlibat genosida terhadap 1,5 juta warga Armenia pada masa Perang Dunia pertama, tepatnya antara 1915 – 1917. Tentang Genosida tersebut sekilas dapat dilihat pada artikel penulis di Kompasiana: Turki Meradang Genosida Armenia :Abanggeutanyo

Parlemen Jerman Kamis 1 Juni 2016 menetujui rancangan UU mengakui aksi Genosida oleh Turki. Meski Kanselir jerman Merkel memberi suara penolakan “NO” tapi tak cukup suara menghentikan keputusan parlemen Jerman meloloskan rancangan Undang-Undang tesebut menjadi UU yang langsung membuat Turki khususnya Erdogan membara dan mengeluarkan pernyataan pedasnya bernada mengancam akan bedampak buruk terhadap hubungan Turki-Jerman.

Terhadap presiden Mesir terpilih pun Erdogan tak pandang bulu ia tetap menyerang. Abdul Fattah al-Sisi dituding sebagai “Tiran” yang terpilih dan pendukung Isarel untuk Mesir. Bahkan Erdogan enggan duduk di sebelah al-Sisi dalam salah satu pertemuan sidang umum PBB pada akhir September 2015 lalu. Pernyataan keras Erdogan itu membuat Mesir menarik pulang dubes mereka dari Ankara dan yang juga dibalas hal sama oleh Turki;.

Masalah kebebasan pers pun Erdogan  mendapat sorotan. Ia disebut-sebut membatasi kebebasan pers di Turki. Pengekangan terhadap hal ini memancing Presiden Obama bereaksi dengan memberi pernyataan sangat hati-hati pada sekutunya. “Tak ada keraguan terpilihnya Erdogan secara demokratis sebagai pemimpin Turki, akan tetapi membatasi kebebasan pers adalah  hal yang sangat menganggu,” ujar Obama.

Seperti biasa, Erdogan membalas sikap Obama bernada mengejek, “Mereka yang coba memberikan kita pelajaran tentang demokrasi harusnya malu dan -lebih baik- renungkan diri sendiri terlebih dahulu,” ujarnya seperti dikutip dari indopremier.com edisi lalu 4 April 2016 lalu.

Terhadap Rusia pun Erdogan tak khawatir. Setelah tensi kedua negara memanas akibat peristiwa tertembak jatuhnya jet tempur Shukoi Su-24 M Rusia oleh F-16 Turki pada 24 November 2015, Erdogan mengatakan Turki tidak akan meminta maaf atas kejadian itu dan akan mengancam menembak lagi pesawat lainnya jika melanggar udara wilayahnya

.Jika tehadap sejumlah kepala negara disebut di atas Erdogan sangat berani tak tehitung apa dan bagaimana pandangan sinisnya tehadap Presiden Suriah, Bashar al-Assad. salah satunya adalah menuduh Assad sebagai teroris karena membantai rakyatnya sendiri.

Baru-baru ini Erdogan kembali berkicau, kali ini meminta wanita Turki dan muslim dunia menolak program pengendalian tingat kelahiran atau Keluarga Berencana. Menurutnya, wanita memang ditkdirkan untuk melahirkan karena kodrat itu adalah kehendak Tuhan untuk wanita.

Pernyataan itu langsung mendapat reaksi kelompok pembela aktivis perempuan di Turki. Salah satu aktivis lokal dari kelompok Platform to Stop Violence Against Women, menyebut opini Erdogan kuno dan berbau abad pertengahan. “Kami akan melindungi hak-hak kami,” tutur kelompok tersebut lewat kicauan di Twitter, Senin, 30/5/2016,

Sejumlah tudingan dialamatkan pada pemimpin negara itu bahwa Turki mendukung ISIS, sesuatu yang juga kerap dibantah pemerintah Turki bahkan bisa menuding balik negara atau kelompok manapun justru sebagai pendukung ISIS.

Apapun reaksi atau sikap penolakan Turki tehadap tudingan tersebut kelihatannya dunia mulai mampu melihat sebuah kesimpulan sendiri dibalik aksi dan sikap Turki dalam perang Suriah. Dunia kelihatannya mampu membaca dimensi lain tentang sikap seperti apa sesungguhnya Turki terhadap ISIS.

Selahattin Demirtas, ketua Partai Rakyat Demokratis (HDP) pro Kurdi terang-terangan menyebut sikap pro Turki terhadap ISIS. Demitras menuding Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang didirikan Erdogan memiliki hubungan kotor dengan ISIS sebab ada gabungan antara idiologi AKP dengan pikiran ISIS. “ada hubungan erat antara rezim Turki dengan ISIS,” sebutnya. Ia menambahkan koalisi Arab Saudi-Qatar dan Turki bertujuan untuk melindungi ISIS. Sumber voa-islamnews.com edisi 13/02/2016.

Tak terhitung jumlah tudingan menghujam pemerintah Erdogan sebagai pelindung ISIS khususnya pada kelompok Jabhat al-Nusra. mirip tudingan Demirtas di atas dan mungkin tak sesuai dengan kondisi sesungguhnya dalam pandangan rezim Erdogan. Maka wajar juga tak terhitung  juga reaksi penolakan oleh rezim Erdogan atas sejumlah aksi tudingan minor terhadap Turki.

Meski dalam beberapa hal Turki memperlihatkan aksi menyerang ISIS namun apa daya masih dianggap sangat kecil peranannya oleh dunia. Stigma dan cap pun telah melekat pada Turki sebagai negara pendukung ISIS meski Turki bukan satu-satunya negara penghambat proses damai Suriah atau mengakhiri perang Suriah.

Proses penyelundupan minyak dari Suriah dan Irak ke Turki memperlihatkan bukti betapa lemah pengamanan otoritas Turki di perbatasan dengan Suriah. Selain itu masuknya sejumlah pejuang asing melawan rezim Suriah dari Turki bukan berita hisapan jempol lagi. Berbagai media dunia banyak menyoroti hal ini namun media Rusia paling agresif membeberkan berita dan fakta keterlibatan keluarga Erdogan dalam penyelundupan tersebut.

Sumber mintpressnews bukan media Rusia atau Iran. Media ini membeberkan peranan salah satu putra ketiga Erdogan dalam mendanai ISIS. Sumber analisa dan investigasi yang didirikan oleh wanita muslim Arab berhijab dan berkantor di AS ini mengurai bagaimana Necmettin Bilal Erdoganali as Bilal Erdogan putra ketiga Erdogan bekerjasama dengan jaringan ISIS.

Propaganda aksi sistematis Rusia menghancurkan ratusan truk penyelundupan minyak semakin membuka jawaban ada misteri apa di balik sikap dan peranan Turki di balik konflik Suriah.

Cepat atau lambat, intelijen Uni Eropa, AS, Rusia dan sejumlah negara lain akan menemukan ada apa di balik sikap terselubung Turki dalam konflik Suriah. Meski bersikap hati-hati –dengan alasan sama-sama anggota NATO- sejumlah negara secara implisit pada akhirnya memperlihatkan kegusaran mereka atas sikap tertutup Turki dalam konflik Suriah.

Apakah karena itu lantas Erdogan merasa dikucilkan oleh dunia termasuk oleh rekan aliansi dalam negara NATO?

Masalah terisolasi dari dunia Erdogan merasakan sendiri sejak 2015 dan dia sendiri mengakuinya. Ia mengatakan bahwa dirinya diisolasi oleh pemimin dunia karena ia bisa lebih fokus pada masalah regional sehingga menjadi target kritik. Ia mengakui tak ambil pusing jika itu hanya karena rasa iri saja. “Mungkin ada isolasi pada tingkat pemimpin, tapi tidak masalah sepanjang hanya rasa iri,” katanya. Sumber : yahoo.com/news.

Sedikit pun Erdogan tak akan gusar dengan aksi –sementara– dikucilkan pemimpin negara manapun, selain karena alasan telah disebutkan di atas, alasan “hebat” lainnya adalah :

  • Erdogan masih dicintai rakyat karena faktanya Ia terplilih sebagai Pesiden Turki pertama melalui pemilu demokratis
  • Memiliki 560,000 tentara setia yang kuat dan milisi hebat. Puluhan ribu tentaranya  telah menguasi kantong Manbij untuk mendukung suplai pada 35,000 FSA di Aleppo.
  • Punya jembatan dan selat paling strategis penghubung Asia dan Eropa
  • Mampu menduduki Rusia dalam waktu sepekan
  • Punya kekuatan politik dalam negeri sangat kuat dan mampu “mengiring” parlemen mengubah konsitusi sehingga memberi kekuasaan lebih besar pada Presiden.
  • Punya sejarah dan reputasi gemilang masa lalu dan berambisi menjadi Sultan -Empire- paling powefull setelah Kemal Attaturk
  • Punya kemampuan menjadi negara paling berpengaruh di dunia .
  • Punya ketahanan ekonomi dan sanggup mandiri tanpa dipengaruhi negara lain

Pantas Erdogan tak perlu risau meski merasa dikucilkan. Buktinya saat ekonomi Turki mulai terpuruk akibat terganggunya ekspor ke sejumlah negara, Erdogan mencari mitra baru yang lebih terpercaya dan impresif atau menarik. Erdogan  membuka kembali pasar bagus untuk ekspor dan  menambah jalur penerbangan ke Afika Utara dan Sub Sahara Afrika.

Meski tak terkait kecewa pada barat, Erdogan melalukan kunjungan kenegaraan selama 4 hari ke Uganda dan Kenya, sejak 2 Juni – 5 Juni 2016 lalu. Kunjungan ke Afrika kali ini adalah kunjungan ke 8 dalam 18 bulan terakhir.

Sumber: next-geebee.ft.com

Turki akan mengepakkan sayap ekonominya kembali ke kawasan Afika utara dan sub Sahara Afrika. Turki melakukan penetrasi pasar ekspor ke negara Sub Sahara Afrika karena mengalami pertumbuhan positif 4.7 persen.Akan tetapi kunjungan ke Afika Utara, Uganda dan Kena adalah petamana dalam rangka mencari pasar ekspor baru.  Sumber next.ft.com.

Pantas Erdogan tak peduli apapun penilaian pemimpin dunia, apalagi sekadar mengucilkannya. Pemimpin negara lainlah “seharusnya” mengenal watak dan jalan berpikirnya, bukan sebaliknya dia yang harus mengikuti jalan bepikir pemimpin lain. Setidaknya demikian pandangan Erdogan pada dirinya dalam mewujudkan ambisinya, yakni memiliki sistim pemeintahan yang kuat seperti sistim pemerintahan Hitler dan di sisi lain ingin membentuk bangsa yang tangguh seperti bangsa Israel.

Luar biasa, bukan? Pantas Erdogan tak peduli mau diisolasi ataupun tidak diidolasi oleh siapapun.  Pantas juga rakyat Turki sendiri bangga memiliki pemimpin bermental baja paling disegani meski di sisi lain tingkat keamanan dalam negeri semakin terganggu.

Pada akhirnya hanya rakyat Turki sajalah yang lebih mengerti dan memahaminya.

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s