Kisah Anak PSK dibawa ke Tempat Ibunya “Praktikum”

PSK

Kisah ini penulis alami dan lihat sendiri beberapa tahun lalu.

Kota Pontianak -saat itu- sedang diguyur hujan sejak sore hingga malam. Pada malam itu tanggal 4 Nopember 2010, jam tangan menunjukkan pukul 21.15 WIB. Saya di ajak berkeliling menyusuri sudut-sudut kota Pontianak. Teman saya bermaksud membawa saya untuk sekadar ‘cuci mata’ atau sekadar rileks saja untuk melihat suasana malam kota. Maklum saja saya baru saja petama sekali menetap di kota ini baru 2 (dua) hari.

Dari lampu merah dekat sebuah SPBU kami berbelok ke kanan. Kendaraan menyusuri jalan aspal -saat itu- mulai banyak terkelupas dan berlubang sehingga hanya bisa berjalan pelan-pelan saja. Kemudian setelah melewati tanah lapang kami mengambil jalan memutar. Setelah itu terlihatlah sebuah hotel yang memang agak mentereng.

Di pintu pagar yang seolah tidak dijaga oleh sekuriti itu (ternyata) tada beberapa kamera (cctv) yang dihubungkan ke pusat pengendali informasi. Belakangan saya melihat ternyata ada 12 kamera tersembunyi yang telihat di tempat penjagaan.

Setelah parkir, kami berjalan kaki ke lorong hotel itu. Lantas masuk ke ruangan yang agak besar. Suasana  hotel di luar kelihatan agak sepi dan tenang ternyata di dalamnya terdapat suasana kehidupan malam yang hingar bingar penuh tawa.

Teman saya menghubungi “mami” penjaga karangkeng, tempat berkumpulnya sejumlah wanita dalam pakaian yang mini, berhias wajah menor dan pasrah. Diantara mereka ada yang sedang merokok, bercengkerama dan ada juga beberapa diantaranya sedang pasang aksi dengan gaya masing-masing.

Terlihat beberapa orang lelaki melongokkan kepalanya tiada henti diantara celah-celah kaca yang memang diperuntukkan untuk melihat calon-calon wanita penghibur menurut selera masing-masing. Ada yang sampai nubruk kaca nako celah untuk melihat calon-calon pilihan, mungkin kebingungan tidak tahu mana yang akan dipilih.

Saya coba melihat melalui celah kaca itu. Saya hitung, satu, dua, tiga, tujuh, dua belas, tujuh belas, dua puluh satu…..  Wow…. ternyata ada 42 orang wanita di dalamnya dalam berbagai pose dan gaya seolah memancarkan signal atau pesan “bawalah daku ke ujung dunia, kemana pun engkau pergi“..

Tapi mata saya tersentak pada sesuatu yang mengagetkan saya. Di dalam itu ada seorang anak perempuan seusia 10 tahun. Saya heran dan geram luar biasa… Kenapa anak sekecil ini dipekerjakan untuk PSK. Gadis cilik itu memang tidak menor. Ia biasa-biasa saja duduk di deretan kursi panjang seperti balkon di samping wanita-wanita yang sudah matang dengan berbagai bentuk dan model.

 Kisah mama PSK dan anaknya (maaf nama samaran)

Gadis cililk itu kontras sekali dengan wanita dewasa di sekelilingnya.Si gadis kecil itu seperti memakai pakaian sekolah yang memakai rok warna merah maron tua, dan bajunya kelihatan putih tapi bukan pakaian sekolah yang ada lambang dan logo sekolah. Jika wanita-wanita dewasa itu ada yang berpostur tinggi besar seperti penggulat dari Rusia hingga ada yang kurus seperti pengungsi Ethiopia yang –maaf- dilanda kekurangan gizi, si gadis cilik itu tampil biasa-biasa saja. Persis anak sekolah masih di bagku SD kelas 3. Di tangannya pun ada boneka berambut panjang blonde.

Penasaran, saya coba memancing mami yang genit tapi sangat ramah itu. Saya  berpura-pura tanya, siapa nama gadis kecil itu. “Ohhh itu,.. namanya Santi,” jawabnya. Terus saya tanya lagi seolah-olah bernafsu untuk memancing perhatiannya. “Apakah boleh saya bertemu dengan Santi?”  Mami malah tertawa terkekeh-kekeh…”he..he..he… itu anaknya si mba Leni yang di sebelahnya”..

Saya kaget.. “Oh jadi mba leni yang pakai baju warna ungu yang di sebelah itu, mamanya si Santi?” Mami tersenyum kecut. ” Ya iya lah… Kalau mas mau yang kecil-kecil boleh lah besok saya sediakan,”  salah menduga, sang mami meyakini saya agar sabar dan menanti pesanan seperti itu.

Untuk memancing si mami agar lebih terbuka saya berusaha menyakininya, saya lalu bertanya “kenapa si Santi ikut ibunya ke situ?”. Mami menjelaskan bahwa Leni harus menghidupi Santi si buah hatinya. Kepada siapa dititipkan jika Leni cari nafkah, tak ada lagi papanya. Mereka sudah bercerai tiga tahun silam. Papanya dari Kuching, Malaysia meninggalkan Leni dan Santi begitu saja 3 tahun lalu.

Sang mami tidak menaruh curiga sedikitpun pada saa setelah saya katakan bahwa saya tamu dan menginap di hotel itu, padahal saya datang ke situ di bawa jalan-jalan sama teman. Saya tidak menginap di hotel itu.

Lalu berpura-pura mengambil rokok yang tertingal di mobil, saya menepuk pundak rekan saya agar berlalu dari situ.

Setelah tiba di hotel lain tempat saya menginap 3-4 km dari lokasi sang mami barulah saya merenung, tidak habis pikir mengapa ada seorang ibu mengasuh anak seperti cara Leni?

Siapakah yang salah?.

Apa yang dilihat dan direkam dalam memori Santi tentang prostitusi dan kehidupan malam?. Memang Santi tidak diberikan kesempatan dan izin menjadi PSK, tapi rekaman dan fenomena yang terlihat dengan mata kepala dan hatinya setiap hari tentang jenis kehidupan seperti ini mampukan meredam Santi suatu saat nanti tidak terjerumus dalam kancah prostitusi?

Jika Santi masih SMP dan terlibat dalam prostitusi nanti apakah ini yang disebut Child Trafficking, karena saat ini Santi masih dalam proses pelatihan atau training?. Akankah Santi nanti akan menambah deretan anak-anak pekerja seks komersial?

Data dan Fakta Anak-anak PSK

Menurut data Save Our Children, ada sekitar 2 juta anak-anak wanita diperdagangkan setiap tahun untuk dijadikan PSK. Dari eksploitasi ini, para mami dan penyedia anak-anak PSK menangguk keuntungan hingga !2 Milya Dolar per tahun (data ILO tahun 2009).

DI Indonesia diperkirakan ada sekitar 20 % anak-anak PSK dari total angka selurh eksploitir perdagangan anak-anak untuk tujuan seks atau  Child Trafficking ada sekitar 400 ribuan anak-anak. Disebut anakanak yakni yang masih di bawah usia 18 tahun. Kebanayakan merka di jual untuk kepentingan domestik hingga 60%, sisanya atau 40% lagi dijual ke Malaysia, SIngapore, Thailand, Brunai, Tawan, Jepang dan Arab Saudi. (sumber Save Our Children.cm tanggal 29 Maret 2009).

Apa yang menyebabkan eksploitasi terhadap nak-anak?. Biasanya anak perempuan yang berada dalam kondisi lingkungan yang buruk mereka dianggap tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Orang tua picik dan melanggar HAM anak hanya memandang anak-anak perempuan nanti urusannya tetap saja di bagian  informil. Kejam sekali bukan orang tua seperti ini?

Akibatnya banyak kejadian anak perempuan putus sekolah,  mereka ada yang terpaksa menjadi TKW, pelayan Cafe, PRT dan maaf ada yang  memilih jadi pelacur. Tentu pengecualian tetap ada karena di sudut lain masih banyak terdapat anak wanita putus sekolah namun akibat didikan yang hebat dan ketat orang tua yang memiliki bidaya dan martabat tinggi tetap saja anak perempuannya berada dalam lingkungan bermoral dan terhormat.

Faktor Eksploitasi Terhadap Anak

Anak-anak tidak hanya berada dalam situasi lingkungan yang buruk, tetapi mereka pun dipandang tidak sesuai jika diukur dari hak-hak anak. Orang tua masih memandang bahwa perempuan hanya berada di wilayah domestik. Anak perempuan tidak perlu bersekolah tinggi, karena pada akhirnya hanya kembali ke rumah, ke dapur, sumur, dan kasur melayani suami. Akibatnya angka putus sekolah tinggi. Anak perempuan kemudian menjadi TKW, pelacur, pelayan café, atau PRT.

Kesimpulan

Orang tua yang menjadikan anak nya menjadi pelacur, sengaja dan tanpa sengajaadalah tindakan kejahatan. Namun demikian meski itu tindakan kriminal tapi belum ada contoh pemberian hukuman kepada orang tua yang melacurkan anaknya sengaja maupun tidak.

Persoalan sosial berupa pengangguran dan tidak ada anak yang menjaga di rumah mba Santi  tidak tepat dijadikan alasan untuk membawa serta anak dalam lingkungan busuk seperti ini. Banyak cara dan teknis menitip anak di tempat saudara atau meninggalkannya di kampung halaman.

Pantas diberikan ganjaran  hukuman yang berat kepada orang tua yang memberi contoh pelacuran kepada anak, apalagi mengeskploitir anak menjadi PSK. Lihatlah apa yang diterapkan di China atas seorang ibu guru sekolah SD yang menyaring 22 anak SD menjadi PSK. Ia dihukum mati, tembak di lapangan.

Seorang perempuan di Cina dihukum mati setelah terbukti bersalah memaksa 22 anak sekolah menjadi pekerja seks. Zhao Qingmei menjalani hukuman mati di provinsi Guizhou, Cina bagian Barat Laut, setelah permintaan naik bandingnya ditolak. Zhao dan enam orang lainnya dijatuhi hukuman setelah memaksa 22 orang anak, beberapa berusia baru enam tahun, menjadi pekerja seks di daerah pegunungan miskin tersebut dari bulan Maret sampai Juni 2006. (sumber ABC Radio Australia, 15 Desember 2009)

 **********

Dalam kasus Santi menemani mama Leni, apakah ada diantara kita yang masih dapat memberi toleransi selain memberi penilaian buruk di atas?.

Semoga Santi tidak terjerumus ke dalam jurang dan lembah hitam seperti ibunya yang telah kehilangan naluri keibuannya hanya karena frustrasi, stres atau balas dendam atau juga karena masalah tekanan hidup dalam bidang ekonomi yang teramat berat ia rasakan.

Semoga bermanfaat.

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s