Ahok dan Tiongkok, Gubernur Ok Wapres pun Cocok?

Ahok okePemilu Presiden dan Wapres (pilpres) 2019 masih lama tapi prosesnya mulai berdenyut sejak saat ini. Meski demikian tak ada salahnya melihat dari “sisi lain” tentang proses menggiring salah satu calonnya yang sedang bejuang pada level lain yang nantinya dipersiapkan menuju bakal calon Wapres 2019.

Salah satu sorotan kita tertuju pada Ahok yang makin panas akibat munculnya polemik hebat saat ini. Ada apa di balik serunya polemik memperkuat posisi Ahok dan upaya meruntuhkan kejayaan Ahok sebagai calon gubernur dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017 makin seru tak ubahnya dalam proses kampanye calon presiden AS yang juga sedang dimulai di AS saat ini.

Kisah “duet mesra” Jokowi sebagai Gubernur DKI dan Ahok sebagai Wagub DKI telah berakhir manis, mengantarkan Jokowi sebagai Presiden terpilih RI ketujuh. Meski tidak ada bukti keterlibatan Ahok mengantarkan Jokowi (bosnya saat di Pemprov DKI) tapi beberapa tugas gubernur yang ditugaskan pada Ahok pada masa-masa itu adalah fakta dukungan moral Ahok pada Jokowi.

Duet Jokowi – Ahok untuk DKI meski singkat tapi penuh dengan kesan dan makna. Dukungan politik dan masayarakat untuk keduanya pada saat itu luar biasa besarnya meski di sisi lain banyak juga pihak yang ingin melenyapkan pasangan tersebut untuk meraih mimpi menjadi DKI 1 dan 2 dengan aneka isu hangat dan vulgar.

Duet DKI Jokowi-Ahok penuh kesan karena sejarah DKI dengan bangga mencatat seorang gubernurnya bisa menjadi Presiden RI. Keberrhasilan itu tidak saja menimbulkan kekaguman melainkan juga eforia nyaris tanpa batas. Bahkan, jika saja kantor Pemprov DKI bisa bicara pada saat itu ia akan mengatakan kekagumannya tentang kehebatan salah satu gubernurnya mampu mencapai prestasi langka tersebut.

Penuh makna karena meski Ahok dituntut netral serta tidak menggunakan fasilitas negara dan publik untuk membela siapapun dalam kampanye pilpres 2014, akan tetapi dalam hati Ahok siapa yang tahu. Siapa yang mampu menyelami hati sekaligus alam pikiran Ahok pada siapa ia akan melabuhkan dukungan moral, finansial bahkan secara teknisdalam kondisi kedekatannya dengan Jokowi saat itu nyaris sangat mesra jika tak pantas disebut ‘romantis’, Heheheheee..

Kini Ahok sedang menyiapkan masa keduanya berkuasa di DKI, sangat banyak sudah berita-berita yang menyudutkan Ahok dalam polemik dan analisa terasa bagaikan tak bertepi. Entah berapa ribu tulisan di seluruh media massa dan media online serta media sosial menyerang Ahok dari berbagai sudut.

Dari isu bertema anti logika hingga isu beraroma irasional tak henti-hentinya menyerang sang “dinamit” yang kerap meledakkan keangkuhan wabah penyakit kronis dan akut dalam tubuh birokrat dan politkus, yakni sebuah gaya klasik amtenar yang dijangkiti penyakit feodal kronis dan akut dalam sistem birokrat DKI seperti penyakit hampir sama dalam tubuh birokrat seluruh negeri ini.

Mengapa Kampanye Anti-Ahok Kian Vulgar?
Lawan Ahok bukan saja saingannya dari bursa calon Gubernur DKI, sebagiannya juga berasal  birokrat pegawai pemerintah DKI, parpol dan politisi yang terjangkit penyakit akut dan kronis berupa gaya feodal bermental amtenar. (Pegawai pemerintah).

Memang tidak semua PNS atau pegawai pemerintah (amtenar) itu bermental feodal kronis sebab pasti masih ada yang bermental profesional dan bersikap menjadi pengabdi untuk negara (bangsanya) ketimbang minta dilayani oleh bangsanya (negaranya). Yang bermental bobrok seperti inilah menjadi sasaran dinamit Ahok melalui glasnot dan perestroika-nya ala Mikhael Gorbacev mantan Presiden Uni Soviet dahulu melahirkan Uni Rusia seperti sekarang ini.

Apa daya, dinamit Ahok seperti itu berusaha dipadamkan oleh lawannyam bahkan kini serangan lawannya kian terbuka seiring dengan majunya Ahok menuju DKI-1, apalagi ketika ia memilih pola politik yang tak lazim yakni tidak tergantung dan berharap banyak pada partai politik (parpol) yang mau mengusungnya atau deparpolisasi.

Serangan terhadap Ahok memang terasa vulgar karena serangan terhadapnya kini boleh disebut berlebihan. Posisinya dikait-kaitkan dengan sukunya, agama, ras serta tudingan pada misi-misi terselubung Ahok yang sesungguhnya sangat tendensius. Padahal jika dicermati dengan saksama sangat mudah mencium aroma sepeti apa di balik serangan vulgar menghina Ahok seperti itu.

Harusnya tidaklah sampai seperti itu JIKA nurani berkata jujur dalam mencari kebenaran tertuama berkaitan dengan mencari kebenaran dalam tubuh birokrat dan partai politik yang sepantasnya bermental profesional untuk membangun sistim pemerintahan yang cepat, efektif dan efisien, bukan sistem pemerintahan yang dijangkiti oleh penyakit akut dan kronis bermental feodal.

Seharusnya kita bangga memiliki bangsa seperti Ahok. Talentanya langka selain berani juga cerdas dan siap menanggung risiko.

Selain itu ada sebuah rencana raksasa yang terstruktur dan rahasia serta memiliki kekuatan besar di balik ganasnya upaya mempetahankan Ahok di DKI 1 yang harus diawali dengan sebuah syarat mirip sebuah “harga mati” agar Ahok harus bisa duduk sebagai Gubernur DKI untuk kedua kali untuk mencapai level yang lebih tinggi. Alasannya sebagai berikut :

  1. Zhōng Wànxué alias Ahok mendapat dukungan pemerintah dan rakyat Cina (Tiongkok). Mengenai hal ini mudah terlihat yaitu banyaknya warga Etnis Tionghoa di tanah air yang mendukung Ahok. Bahkan beberapa perusahan besar mengumpulkan KTP pegawainya untuk memberi dukungan pada Ahok seperti dilansir oleh triaspolitica.net pada 25 Maret201 lalu,
  2. Aspirasi warga Tinghoa di Indonesia mendapat perhatian khusus di negara nenek moyangnya di RRC (Tiongkok). Kepentingan dan aspirasi warga Tionghoa senantiasa menjadi hal yang istimewa dalam kerjasama bilateral Indonesia dan RRC. Oleh karenanya, jika aspirasi warga Tionghoa pada umumnya mendukung Ahok maka RRC berada di balik itu dengan seluruh kekuatannya mendukung aspirasi warga perantauan,
  3. Kerjasama ekonomi Indonesia dan Tiongkok kerap dipengaruhi oleh sejauh apa perilaku pemerintah Indonesia terhadap warga Tionghoa pada umumnya. Lingkaran konsentris Indonesia dalam konstelasi kebijakan luar negerinya tetap dipengaruhi RRC sejak pemerintahan era Orde Baru sampai kini, meski Indonesia punya skala prioritas konsentris lebih utama dengan negara-negara tetangga tedekat,
  4. Kunjungan Wakil Panglima Armada Laut Republik Rakyat Tiongkok, Admiral Wang Qiandaohu pada 2 Januari201 lalu tidak dapat dipandang sebagai kunjungan biasa dan kebetulan agenda kunjungan tersebut adalah resmi dan telah dipersiapkan dengan meninggalkan sebuah pesan kepada warga Tionghoa bahwa RRC(Tiongkok) ada di sebelah mereka.
  5. Tampilnya Ahok dalam salah satu wawancara di siaran televisi di Tiongkok (CCTV 4) pada 9 September 2015 lalu dengan berbahasa Mandarin memperlihatkan kebanggaan warga Tiongkok di negeri leluhur karena juga menjadi kebanggaan warga Tionghoa perantauan yang dianggap sukses dan punya peluang masa depan  politik yang dapat diandalkan.
  6. Kwik Kian Gie dan terutama Ahok telah menjungkir balikkan fakta bahwa warga Tionghoa tabu menjadi pejabat penting Indonesia. Fakta tersebut terjadi karena tak lain dan bukan berkat dukungan mayoritas warga etnis Tionghoa ditambah dari warga pribumi yang mendukung mereka tentunya. Perlu diingat, hampir 100% warg etnis Tionghoa pada pipres Gubernur  DKI memilih duet Jokowi – Ahok.
  7. Ekspektasi terbesar yang diharapkan warga etnis Tionghoa pada umumnya adalah Ahok akan menjadi calon wakil Presiden RI untuk pemilu 2019 berpasangan dengan Joko Widodo. Pasangan duet yang pernah merasakan roamntisme singkat dalam pemerintahan DKI Jakarta diperkirakan akan bertemu kembali untuk melangkah ke jenjang lebih tinggi, yakni pasangan calon Presiden dan Wapres 2019.

Poin nomor 7 di atas adalah muara tertinggi dari sebuah rencana mega raksasa mengantarkan Ahok menjadi pemimpin besar Indonesia setidaknya menjadi Wapres leboh dahulu, sebab Ahok punya segalanya untuk mencapai maksud dan tujuan di atas, selain mempunyai keberanian mengubah mentalitas bobrok amtenar dan politkus negara ini ia juga punya dukungan warga etnis Tionghoa dan tentu saja dukungan tanah leluhurnya dari pemerintah Tiongkok.

Seperti dikutip dari worldometers, terdapat 259 juta penduduk Indonesia saat ini (2016) dimana penduduk etnis Tionghoa mencapai 5,5% atau hampir 15 juta jiwa mnempati rangking 4 terbesar suku di Indonesia. Dan khususnya di DKI yang yang berpenduduk hampir 9 juta juta pada malam hari, etnis Tionghoa Jakarta mencapai juga mencapai 5,5% atau sekitar 400 ribuan orang.

Terlalu berlebihankah ekspektasi di atas? Tentu tidak bagi pendukung Ahok dan jelas sangat menggentarkan rasanya bagi lawan Ahok.

Berlebihan atau tidak, lihat saja salah satu ekspektasi warga Tionghoa dalam sebuah sumber di media internet yang melayani aneka pertanyaan dan diskusi anggotanya pada link berikut quora.com ini.

Meski pernyataan seperti di atas bukanlah gambaran harapan umumnya etnis Tionghoa setidaknya demikianlah ekspektasi warga Tionghoa tentang kemana Ahok harus (akan) melangkah setelah berhasil merebut dan mendapatkan kursi DKI -1.

Isue dukungan politik pemeritah China atau Tiongkok terhadap pemerintahan Jokowi bukan lagi rahasia meski tak dapat dibuktikan sumber dan datanya tapi dengan kasat mata terlihat RRC mendukung pencalonan Jokowi dan (mungkin) akan berharap banyak dalam kerjasama ekonomi dan perdagangan serta masa depan politik Indonesia pada masa pemerintahan Jokowi.

Isu yang merebak pada masa kampanye pilpres Jokowi pada saat itu berkaitan dengan RRC sangat banyak, antara lain adalah :

  • Isu dukungan moral dan finansial mafia China pada Jokowi yang katanya mampu menyiapkan dana hingga Rp.10 trilun demi memenangkan Jokowi menjadi Presiden RI dengan tujuan skala prioritas kerjasama ekonomi
  • Tekanan tehadap Megawati agar mengusung Jokowi denan ancaman membongkar aib korupsi jika tidak mengusung Jokowi
  • Adanya konspirasi China dan AS dalam pencalonanJokowi.
  • Maraknya aski anti China pada masa kampanye pilpres Jokowi menunjukkan bukti terciumnya aroma pengaruh China pada masa itu

Jika benar isu yang pernah menggelegar panggung politk pilpres 2014 disebutkan bisa jadi betapa negeri tirai bambu tersebut mendukung pemerintahan Jokowi.

Berdasarkan penjelasan di atas, tak heran beberapa calon Gubernur DKI yang awalnya dengan gagah berani menyala-nyala menyatakan akan bersaing pada pilkada DKI bersaing denan Ahok akhirnya mundur satu per satu. Diantara yang sudah mundur adalah :

  • Ridwan Kamil. Alasan, baru menjabat amanah di Jawa Barat 1
  • Lulung, anggota DPRD DKI. Alasan tak jelas. Ketua DPW PPP DKI Jakarta kini mengaku tak berniat lagi meneruskan langkahnya. “Kalau gue udah nggak ngarepin maju,” katanya tanpa alasan yang jelas atau mungkin sudah hitung-hitungan mubazir alias sia-sia
  • Mohamad Taufik, Ketua DPD DKI Jakarta Partai Gerindra, mengisyaratkan bakal mengundurkan diri dari bursa bakal calon gubernur hasil penjaringan, yang hendak diusung Gerindra pada Pilgub DKI 2017
  • Mantan Wakil Menteri Pertahanan Letnan Jenderal (Purn) Sjafri Sjamsoeddin mengundurkan diri. Tak jelas mengapa mengundurkan diri dari usungan Gerindra
  • Sanusi dari Gerindra malah terpaksa membatalkan niat baiknya karena terjerat uang siluman
  • Mirip dengan Tantowi Yahya yang mengundurkan diri dari calon Pilgub DKI lebih dahulu, Ahmad Dhani yang diramalkan mbah Mijan akan menjadi Gubernur DKI 2017 akhirnya melupakan mimpinya menghapuskan Trans Jakarta jika terpilih akibat tak jadi dicalonkan PKB
  • Informasi mengejutkan datang dari calon tak kalah hebat yakini Yusril Ihza Mahendra. Menurut informasi Kompas.com beberapa jam lalu saat tulisan ini dibuat, Partai Gerindra meminta kubu Yusril menunda pengembalian formulir bakal calon Gubernur DKI ke KPU tanpa batasan waktu yang jelas. “Bukan dari kami penundaannya, tetapi dari Gerindra. Belum ada batasan waktu/ Mereka (Gerindra) akan hubungi kami lagi segera,” ujar Ferry Noor koordinator duta Yusril.

Selain Yusril yang masih bertahan, tiga balon Gubernur lainnya yang tergoda rayuan parpol adalah Adhyaksa Dault, Nachrowi Ramli dan Sandiago Uno pebisnis yang pernah mengecap pendidikan di Wichita State University dan George Washington University. Uno sempat terjerat beberapa kasus bisnis. Dua kasus yang sangat terkenal adalah kasus Pertamina dan Garuda Indonesia.

Demikian telihat betapa para balon (bakal calon) Gubernur DKI banyak yang mengundurkan diri dari bursa calon gubernur DKI entah karena apa masalahnya.

Apakah mereka melihat ada kekuatan besar di balik Ahok ataukah karena mereka terpaksa merelakan biarlah Ahok yang meledak-ledak ucapannya bagaikan dinamit tak sedap terdengar rasanya  akan kembali meretas hari-harinya dalam karier menuju wapres 2019.

Kendala dalam UUD 1945 pasal  ayat (1) pun telah diamandemen, menjadi :

Calon Presiden dan calon Wakil Presiden harus seorang warga negara Indonesia sejak kelahirannya dan tidak pernah menerima kewarganegaraan lain karena kehendaknya sendiri, tidak pernah menghianati negara, serta mampu secara rohani dan jasmani untuk melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai Presiden dan Wakil Presiden.

Jadi mau kemanakah Ahok dialah yang tahu ukuran dan kemampuannya sampai dimana. Terpenting bagi kita adalah konsistensinya dalam revolusi mental melalui ledakan dinamitnya dalam tubuh birokrasi PNS dan politk yang bermental feodal akan semakin nyata berkurang atau hilang sehingga mampu melahirkan zaman PNS dan birokrat bermental profesional yang efketif dan efisien.

Akankah skenario mega rencana terstruktur itu menjadi kenyataan? Mari kita lihat saja, asal jangan ribut-ribut melulu. Kalau main “ribut-ribut” pemenangnya justru anti Ahok, hehehhee…

 

salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s