Cabo di Kali Jodo Memang tak Jodoh

Lain dulu lain sekarang di Kali Jodo. Gambar Ilustrasi : abanggeutanyo

Hiruk pikuk soal rencana penggusuran kawasan Kali Jodo (ada yang menulis Kalijodo atau Kali Jodoh) kembali hangat saat ini ketika kawasan prostitusi di Muara Angke, jakarta Barat tersebut akan disterilkan menjadi kawasan hijau, asri dan menjadi obyek wisata yang akan mempersolek Jakarta menjadi lebih Bestari (Bersih, Tertata dan Asri).

Sesuai dengan judul tulisan ini terdapat dua kata dari bahasa Tionghoa Hokkian yaitu “Ca Bao” yang mengandung pengertian harfiah  Wanita Penghibur (Ca Bau Kan) yakni sebutan atau istilah wanita pelacur keturunan Tionghoa pada masa kolonial yang menghiasi dunia malam pingiran kota Jakarta hingga era Orde lama.

Seiring dengan berkembangnya industri pemuas syahwat semakin banyak juga aneka layanan pemuas birahi dan semakin komplit juga jenis penyedia jasa tersebut, misalnya dari keturunan Tionghoa, Arab, Asia Selatan atau lainnya. Makanya sekaang ada istilah “Cabo” sebutan lain untuk wanita pelacur tionghoa atau pribumi turunan tionghoa yang erat kaitannya dengan sebutan “Ca Bau kan” di atas meski ternyata kini Cabo tersebut bukan saja dari etnis Tionghoa.

Tak usahlah kita menarik garis ke belakang dari mana asal usulnya Ca Bao itu karena teramat panjang dan berkaitan dengan aneka diimesi dalam adat, budaya bahkan tradisinya sehingga menambah panjang tulisan ini. Jadi mari kita fokuskan saja pada tema tulisan ini tentang keberadaan Ca Bao atau Cabo yang telah menyita perhatian masyarakat akibat tangguhnya perlawanan mereka saat akan digusur dari kawasan Kali Jodo, di Muara Angke dan sekitarnya di Jakarta Barat yang kini sedang menghangat.

Hadirnya cabo masa kini karena jeli memanfaatkan kebutuhan pemakai jasa birahi dan mengemasnya dalam sisitim promosi medsos dan network yang terintegral dari hulu sampai hilir di seluruh tanah air sehingga menjadi industri pemuas syahwat yang solid, mengakar dan berani tampil terbuka tanpa perasaan sungkan apalagi tabu yang justru dianggap kolot alias kampungan bin udikan.

Cabo modern (masa kini) hadir dimana-mana di kota Jakarta termasuk di pusat (central) pelayanan di sepanjang bantaran Kali Jodo, kontras dengan Ca Baoe tempo dulu awalnya justru agak jauh dari bantaran kali jodo. Cabo modern kini merangksek ke kali jodo hingga subur dan berkembang lantas mengakar hingga susah direlokalisasi ke tempat lain.

Kini Cabo modern telah menancapkan kukunya di sana. Jika ditanyakan pada mereka (Cabo) sudah berapa tahun menetap dan praktek di Kali Jodo, langusng dijawab lugas “sudah 40 tahun” atau “50 tahun” atau malah lebih lama lagi sejak Kakek atau nenek Cabo sudah ada (menetap) di situ.

Rencana menggusur Cabo kali jodo telah lama menjadi skala prioritas Gubernur DKI sebelumnya termasuk Gubernur saat ini.  Menurut  catatan Ahok telah pasang kuda-kuda menggusur daerah terlarang tersebut sejk Desember 2014 tapi sulit ekali seperti melawan kawanan gurita. Setelah lama tertunda  kini pemerintah DKI sedang bertarung melawan kedigdyaan Cabo Kali Jodo.

Tak mau kalah, Cabo Kali Jodo pun belajar dari kehebatan beberapa komunitas lain untuk menjadi organisasi yang kuat dan terlindungi misalnya bekerjasama dengan LBH, lembaga HAM, punya pengacara, menguasai media massa dan berani berkorban dana untuk propaganda. Pendeknya mereka belajar dari organisasi lain yang eksis dan kuat misalnya LGBT dan PSK di lokaliasi lainnya.

Padahal dari sisi apapun untuk kepentingan pembangunan daerah apalagi untuk ibu kota negara (jakarta) yang dituntut menyediakan kota, tata ruang, lingkungan yang asri, sehat, nyaman, aman dan bersih adalah sebuah keharusan agar jakarta menjadi kota yang dapat diandalkan dengan kulitas kota meteropolitan dunia lainnya dalam beberapa standard misalanya dari sisi keindahan, kebersihan, keamanan dan kenyamanan untuk hidup.

Jika para Cabo Kali Jodo dan pelindungnya merasa terganggu ekonominya akibat rencana relokasi kawasan tesebut itu sah-sah saja karena apabila kepentingan ekonominya terganggu artinya keuangannya juga ikut terganggu. Akan tetapi perlu jga diingat “masa depannya” BELUM tentu ikut terganggu. Selain itu sebagai warga negara yang baik wajib melaksanakan aturan pemerintah. Mana ada setiap warga dapat membuat aturan sendiri apalagi melawan aturan pemeirntah dengan kekerasan alias menantang.

Jika dikaitkan dengan eksistensi Ca Bao masa lalu yang turun temurun hingga ratusan tahun di sekitar kali jodo dibanding dengan daya tahan sekitar 50 tahun Cabo modern di kawasan tersebut berarti Ca Bao masa lalu lebih hebat daya tahan dan eksistensinya ketimbang Cabao masa kini.

Apa alasannya sehingga Cabao masa kini lebih rentan meski telah belajar ilmu (trik) kesana kemari untuk bertahan dan mampu mengadopsi teknik bertahan dan berkembangnya LGBT. Beberapa diantaranya adalah:

  • Cabo masa kini lebih garang sementara Ca Bao tempo dulu lebih kemayu
  • Cabo masa kini lebih berorientasi pada uang, pengen lekas capai target dan kesannya sangat komersil. Sedangkan Ca Bao tempo dulu benar-benar menyediakan hiburan untuk pelanggannya tanpa merasa perlu kejar target tapi penghasilannya sudah cukup meski hanya untuk beli kebutuhan pokok saja.
  • Cabo masa kini lebih banyak stres akibat persaingan internal sesama Cabo, sementara Ca Bao tempo dulu kurang saingan. Selain tidak banyak yang pengen jadi Ca bao pelanggannya juga selektif, tidak ada anak sekolahan SMP apalagi SD sebagaimana pernah terjadi di lokaliasi KramTung dahulu dan Gang Dolly, Surabaya
  • Cabo masa kini habis dana untuk penampilan dan hura-hura, sementara Ca Bao tempo dulu tak kenal namanya Hape, facebook atau Twitter buat nyejali tampangnya di medsos. Mereka ada di lokalisasinya menanti pelanggan dengan sabar dan mungkin sambil berdoa seperti dalam liriknya lagu berjudul “Kupu Kupu Malam” yang dilantun oleh eyang Titiek Puspa
  • Dan terakhir, Ca Bao masa kini berlomba-lomba menempati petak demi petak areal di kali Jodo sementara Ca Bao tempo dulu malah kurang tertarik berdesakan ke sana. Bukan khawatir sewaktu-waktu bisa tercebur ke dalam kali (maaf) sedang “indehoy” melainkan karena mereka tahu bantaran kali adalah tempat berbahya dan jalur itu bukan untuk bisa bertahan hidup yang baik

Mengapa Cabo modern di Kali Jodo sulit direlokalisasi?

  • Ada oknum yang membeking areal kali jodo tersebut
  • Ada LBH dan pengacaranya yang bertugas melindungi secara hukum
  • Ada media massa yang prihatin atau perhatian pada nasib mereka
  • Ada dana berlimpah untuk melakukan perlawanan melalui aneka media termasuk media massa dan menggnakan jasa preman dan pemuda setempat
  • Adanya saling ketergantungan dalam konsep simbiosis mutulisme dari agen hingga pedagang di sekitar lokasi tersebut.
  • Turunnya wibawa aparat penegak hukum karena khawatir melakukan pendekatan dengan kekerasan yang nantinya dituding melanggar HAM dan sebagainya.

Demikian rekan pembaca budiman sekilas tentang Cabao masa kini yang menghiasi bantaran kali jodo yang katanya telah beranak pinak dan punya cucu dan warisan dari keluarga masa lalu mereka di sana. Mereka kini sangat sulit diminta pindah dari lokasi tersebut bahkan beberapa preman berani-beraninya menantang pajabat atau aparat atau petugas keamanan yang berwenang berkaitan program pemerintah DKI di lokasi tersebut.

Padahal di berbagai lokalisasi lain di sejumlah tempat di tanah air termasuk Kamat Tunggak, gang Doli Surabaya dan lainnya telah lama memahani dan menyadarinya meski pada awalnya juga dengan berat hati.Tokh buktinya profesi mereka masih terus bergulir di lokasi baru, bukan?

Sampai kapan hal ini akan terus terjadi. Bukankah sikap tersebut sangat tidak mencerminkan warga negara yang baik dan taat pada aturan? Padahal yang diminta adalah pindah ke lokasi lain, bukan profesinya yang diminta hentikan.

Semoga para Cabo modern menyadari langkah pemerintah DKI disebut di atas. Dengarkan kembali pesan-pesan menyentuh jiwa dalam syair dan lirik pada lagu “Kupu-kupu Malam” yang dinyanyikan (dicptakan) Titiek Puspa untuk menyadarkan Ca Bao masa “tempo doeloe”.

Siapa tahu bisa lebih kemayu dikit, heheheee..

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s