Operasi Intelijen Tingkat Tinggi Di balik Menyerahnya Din Minimi

http://cdn-2.tstatic.net/aceh/foto/bank/images/din-minimi-bersama-anggotanya-turun-gunung_20151229_181633.jpg

Sinyal penyerahan diri Din Minimi (Nurdin Ismail) pimpinan kelompok Gerakan Aceh Merdeka yang masih tersisa setelah perjanjian damai Helsinki 2006 lalu sesungguhnya telah terlihat sejak 3 bulan terakhir saat pasukan gabungan dari TNI dan Polres Aceh Timur, Aceh Utara- Lhokseumawe dan Polda Aceh meningkatkan intensitas pencarian demi pencarian sejak Din Minimi mulai beraksi di beberapa Kabupaten di Aceh dua tahun lalu.

Nama “Minimi” yang melekat di belakang nama singkatannya “Din” (Nurdin) adalah predikat yang diterimanya dari rekan seperjuangan saat pergolakan Gerakan Aceh Merdeka sedang panas-panasnya era 200dterbu0 hingga sebelum perjanjian Helsinki.

Minimi (FN Minimi) adalah sejenis Senjata Mesin Ringan (SMR) serbu buatan Belgia yang mampu mengisi peluru dalam berbagai jumlah antara 150 butir sampai 1000 butir peluru (tergantung jenisnya) dalam perut magazennya. Senjata ini tergolong mewah dan paling canggih pada masanya dalam beberapa bidang antara lain berat (keluwesan), daya tahan, jarak tembak, rentetan tembakan dan akurasinya. Tak heran Nurdin kala itu termasuk penyandang salah satu senjata “mutakhir” GAM dan karena menggunakan senjata itu dijuluki “Minimi” di akhir namanya menjadi “Din Minimi.”

Lama setelah perburuan terhadap dirinya bagaikan menemukan tembok tak berbatas ketebalannya akhirnya pada di desa Ladang Baro, Kecamatan Julok, Aceh Timur, Senin malam, 28 Desember 2015 di rumah ibunya. Berakhirlah sudah petualang pentolan paling dicari-cari tersebut setelah timbul korban sejumlah anak buah dan kaki tangan serta perantara yang telah tertangkap atau terembak mati dalam perburuan melelahkan dua tahun terakhir.

Tiga bulan terakhir memberi tanda-tanda Din Minimi akan menyerahkan diri. Berbagai perkembangan tentang keberadaannya yang menghiasi media massa lokal mampu memberi masukan semacam kesimpulan tentang akan tiba saat yang dinantikan tersebut. Hal senada juga disampaikan Kapolri Jenderal Badroeddin Haiti di Jakarta kemarin menanggapi aksi penyerahan diri kelompok mantan kombatan GAM tersebut.

Sejumlah informasi media massa lokal kerap memberitakan betapa licinnya sang komandan Minimi berkali-kali lolos dan mampu menyelinap bahkan sebelum tentara atau polisi datang menyergap. Sering juga terjalin kontak telepon dan wawancara di media lokal tentang apa yang diharapkan olehnya serta apa yang menjadi tuntutannyajika menginginkannya dan anak buahnya menyerah.

Suatu ketika Din Minimi melontarkan pernyataan dalam media lokal, “Polisi tak usah cari masalah menangkap saya, bereskan saja dulu persoalan hukum yang belum berjalan sepenuhnya di Aceh,” katanya beberapa waktu pada harian Serambi Indonesia.

Kisah perburuan Din Minimi pun tak pernah kendur meski beberapa aparat keamanan menjadi korban luka bahkan terbunuh oleh jaringan Din Minimi seperti dialami dua prajurit intelijen TNI beberapa waktu di sebuah desa di Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara.

Meski disebut sebagai mantan kombatan GAM, lambat tapi pasti popularitas Din Minimi dan kelompoknya naik daun di kalangan masyarakat desa tertentu karena dalam masa gerilyanya ia tidak menggunakan pola lama yang dipakai oleh oknum-oknum GAM pada masa lalu yaitu intiimidasi, penculikan dan memaksa penduduk desa.

Tak heran ia mampu bersimbiosis mutualisme dalam lingkungan masyarakat desa tertentu sehingga semakin mempersulit pencarian terahdap dirinya walaupun informasi intelejen sangat akurat pada posisi A1. Giliran tim gabungan menyergap Din Minimi dan kelompoknya ia sudah menyelinap, raib seolah ditelan hutan sekiar desa yang satu ke desa lainnya di antara Kabupaten Aceh Timur, Aceh Utara, Pidei dan Bireun.

Selain itu, Din Minimi juga sering mengingatkan kepala desa dan warganya agar tidak melayani kelompok atau orang tertentu yang mencatut namanya meminta bantuan karena ia tidak memerintahkan instruksi tersebut seraya meninggalkan nomor hapenya agar menghubunginya jika mendapat teror atau ancaman dari kelompok-kelompok yang mengatasnamakan dirinya.

Meski tak sedikit anak buahnya tertangkap bahkan terbunuh dalam operasi pencarian tim gabungan ternyata jumlah kelompok ini terus bertambah, padahal dalam beberapa pernyataan Kapolda beberapa tahun lalu tim Minimi hanya belasan orang saja. Ternyata yang terlihat dalam gambar saja mencapai seratusan orang belum termasuk yang tidak terlihat dalam gambar apalagi yang telah tertangkap bahkan terbunuh. “Ada sekitar 120 orang kelompok Din Minimi yang akan turun gunung,” kata Sutyoso dalam konferensi pers.

Jika demikian halnya, mengapa dan bagaimana proses terjadinya penyerahan diri Din Minimi?

Beberapa bulan lalu, Pandam Iskandar Muda dan Kapolda berulang kali memberi kesempatan pada sang komandan Minimi agar menyerahkan diri atau jika tertangkap bisa saja terbunuh. Jika menyerahkan diri akan diperlakukan baik-baik dan menjalani proses sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Sejumlah mediasi yang dilaksanakan oleh beberapa perantara untuk menjembatani aspirasi Din Minimi dengan pihak keamanan juga telah terjadi meski tidak diketahui perkembangannya seperti apa. Sementara itu tim mediasi lain secara rahasia melakukan kontak dengan Din Minimi tentang peluang penyerahan dirinya dan kelompokny.

Dari serangkaian mediasi oleh berbagai tim dan intelijen tingkat tinggi akhirnya Din Minimi memberikan 6 (enam) syarat penyerhan dirinya, yaitu :

  1. Reintegrasi perjanjian Helsinski
  2. Semua mantan GAM pada saat perjanjian Helsinski minta amnesti
  3. Pemerintah diminta menerjunkan pengamat atau peninjau independen saat digelarnya pemilihan kepala daerah di Aceh pada 2017 nanti
  4. Pemeriksaan indikasi kasus korupsi dalam APBA Aceh
  5. Perhatian terhadap janda dan mantan pasukan wanita “Inong Balee” yang masih terlantar
  6. Membantu secara khusus anak yatim korban peristiwa perlawanan GAM masa lalu.

Meski syarat tersebut telah beberapa bulan lalu disampaikan akan tetapi di lapangan proses pencarian dan perburuan terus berlanjut. Namun dibalik itu peranan intelijen tingkat tinggi mengatur penyerahan dirinya ditandai dengan kedatangan kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso dan beberapa tim lainnya seperti Juha Christensen mantan ketua penasihat politik Ketua Aceh Monitoring Mission (AMM) yang juga pernah aktif di Crisis Management Initiaves (CMI) Finlandia dan Interpeace ke kota Lhokseumawe pada pagi hari dengan pesawat terbang pribadi Type H-800 XP mendarat pukul 07.45 pagi pada 28 Desember lalu.

Diinformasikan ke berbagai media, Sutiyoso langsung menuju di Hotel Lido Graha dan mengadakan rapat tertutup dengan jajaran Polisi dan TNI. Malamnya Sutyoso tidak menerima tamu siapapun. Setelah itu diinformasikan Pangdam Iskandar Muda, Agus Kriswanto dikabarkan menginap di Mes Lilawangsa milik TNI di jantung kota Lhokseumawe.

Meski rada aneh dan menimbulkan tanda tanya tapi tak terlalu penting hal itu karena apapun alasannya tentunya adalah misi rahasia Sutiyoso memang harus terjaga agar agenda pertemuan dengan Din Minimi tidak bocor dan berpotensi merusak rencana detail yang telah disusun bahkan bisa mencederai kepercayaan sang komandan Minimi jika dirinya merasa dalam jebakan.

Ternyata sejenak di Lhokseumawe, Sutiyoso berangkat menuju ke Aceh Timur, hal ini diketahui belakangan Sutiyoso dan rombongannya sampai tengah malam masih berada di rumah Din Minimi.

Kondisi itu sepertinya sangat dirahasiakan terbukti saat sejumlah anggota Polisi yang  belakangan datang ke lokasi ketika Sutiyoso dan rombongan telah membawa Din Minimi dan kelompoknya sehingga sempat menimbulkan salah paham antara beberapa warga sekitar rumah Din Minimi  dengan pihak kepolisian yang datang pagi hari.

Berdasarkan sumber Tempo, rombongan Sutiyoso bergerak kembali ke Lhokseumawe pukul 00.12 WIB (Selasa 29/12). Enam mobil minibus berjalan beriringan dari Kuta Binje Aceh Timur menuju Lhokseumawe. Rombongan tersebut adalah rombongan Kepala BIN Sutiyoso yang baru saja kembali dari rumah Din Minimi dengan membawa 15 pucuk senjata dan 1 karung amunisi yang diserahkan anggota Din Minimi. Mungkin ini kado akhir tahun yang terindah untuk kita, termasuk untuk Sutyoso,

Setelah tiba di Lhokseumawe, pada Selasa (29/12) barulah dilaksanakan konferensi Pers menandai secara resmi aksi penyerahan kelompok Din Minimi. Selanjutnya Sutiyoso yang mengatakan telah melaporkan sebelumnya pada Presiden tentang rencana rahasianya ke Aceh untuk tujuan tersebut telah kembali ke Jakarta.

Apa yang dapat kita tarik dari peristiwa penyerahan diri Din Minimi yang paling diburon (DPO) dalam 2 dua tahun terakhir? Beberapa benang merah yang mungkin dapat kita simak adalah :

  1. Peristiwa bersejarah dan berharga ini patut kita syukuri mengingat kedamaian Aceh yang telah tercetus dalam perjanjian Helsinki ternyata masih terhalang implementasi seutuhnya oleh “secercah noda hitam” aktivitas kelompok Din Minimi yang membuat tanda tanya resistensi perdamaian Aceh seutuhnya. Dengan peristiwa diharapkan tidak ada alasan apapun lagi menuju perdamaian yang abadi dan sejati serta jujur.
  2. Proses tawar menawar berlangsung secara rahasia memperlihatkan adanya permainan intelejen kelas tinggi dalam mengatur posisi kelompok ini
  3. Penyerahan diri tersebut terjadi menjelang penyaringan calon Gubernur dan Wagub Aceh yang akan digelar. Tak tertutup kemungkinan Din Minimi mencalonkan diri jika diampuni kesalahan atau dosanya oleh negara. Posisi Din Minimi dianggap mampu menjembatani figur kontroversial yang selama ini telah menjabat di jajaran elite pemerintahan Aceh namun dianggap kurang mampu beradaptasi dengan Jakarta.
  4. Mengingat indikasi adanya permainan intelijen disebut diatas, tak tertutup kemungkinan di masa yang akan datang akan terulang lagi kisah berikutnya tentang hadirnua sosok-sosok “Din Minimi” lainnya jika dikemudian hari Aceh masih tetap bergelayut dengan aroma saling curiga dan saling menyalahkan yang tidak produktif membangun masa depan generasi semua warga yang ada di Aceh.

Atas dasar penjelasan di atas, secara keseluruhan kita menyambut dengan suka cita kembalinya saudara kita yang telah kembali kepangkuan ibu pertiwi, semoga tidak ada lagi riak-riak perpecahan berwujud diplomasi palsu, sementara atau apapun yang mirip dengan hal tersebut.

Sudah saatnya Aceh harus maju dalam setiap bidang agar pengangguran tidak bertambah, perekonomiannya dapat berkembang dan menjadi daerah yang mandiri dengan hadirnya industri yang membuka lapangan kerja untuk seluruh usia kerja. Syarat utamanya : Damailah yang sejati dan harus mampu meningkatkan kualitas pembangunan manusia Aceh di segala bidang.

Semoga tidak ada pihak-pihak yang keberatan dengan syarat disebutkan di atas, hehehehe..

Salam kompasiana

abanggeutanyo

Gambar : Sutyoso dan Din Minimi. Sumber gambar aceh.tribunnews.com

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s