Melawan Teror dan Teroris, Anti Teror Siaga Satu

Gambar ilustrasi melawan aksi terorisme di Indonesia.Dok.abanggeutanyo

Setiap akhir tahun kelihatannya sering terjadi ancaman terutama menjelang pergantian tahun. Dalam dua dekade terakhir. Isu tentang hal tersebut bukan sesuatu yang baru bahkan seolah-olah menjadi bagian berita hangat melengkapi pergantian tahun.

Akan tetapi kondisi saat ini sangat beda, sejumlah elemen yang berkompeten di bidang keamanan dan ketertiban masyarakat kini benar-benar siaga satu, menandakan ancaman kali ini patut diwaspadai dan diantisipasi lebih intensif dengan mengerahkan seluruh daya tangkal dengan lebih maksimal dari sebelumnya..

Badan Intelijen Negara (BIN) telah mengumumkan Indonesia siaga satu menghadapai ancaman terorisme di penghujung tahun 2015. Kondisi ini ditentukan setelah melihat adanya potensi ancaman terorisme yang akan dilaksanakan kekuatan radikal di penghujung tahun ini. Sutiyoso menyampakan hal tersebut kepada pers pada 21/12/2015 kemarin.

Kapolri juga telah mengingatkan siaga satu tersebut setelah data intelijen dalam negeri memperlihatkan potensi tersebut. Hal ini diperkuat oleh informasi dari Intelijen Kepolisan Federal Australia dan Intelijen Sinagapore meminta Indonesia waspada terhadap rencana teorisme menjelang malam pergantian tahun 2015 (malam tahun baru 2016).

Menurut sumber theaustralian.com.21/12/2015 menyebutkan sesuai dengan pengembangan informasi dari 9 orang Indonesia yang ditangkap setelah 5 serangan terjadi pada 5 lokasi Indonesia akhir-akhir ini sejumlah kekuatan radikal merencanakan aksi serangan tunggal, aksi serangan masif atau serangan berkelanjutan pada pergantian malam tahun baru. Sumber tersenit menyebutkan serangan kimia merupakan salah satu cara yang akan digunakan oleh penyerang.

Menko Polkam, Luhut B Panjuatan juga telah mengeluarkan pernyataannya tentang terciumnya aroma sabotase di Indonesia pada akhir tahun ini. Tidak ada satupun negara yang kebal terhadap aksi terorisme namun yang dapat dilakukan adalah berusaha sekuat tenaga mencegah aksi tersebut, katanya sekaligus meminta pihak berkomepeten meningkatkan peranan intelejen.

Sementara itu skynews.com (21/12/2015) melaporkan dari 800 warga Indonesia yang bergabung dengan ISIS 100 diantaranya telah kembali dan masuk ke Indonesia. Entah darimana asal angka diperoeh SkyNews, kenyataannya kita mendapat indormasi dari sumber lain (pernyataan Kapolri) jumlah orang Indonesia yang bergabung dengan ISIS di Suriah dan irak mencapai 300 orang. “Yang by name sekitar tiga ratusan,” ujarnya, di Mabes Polri, katanya (27/11/2015). Sumber :Di sini.

Di sisi lain, sejak Agustus 2015 lalu Densus 88 telah menangkap puluhan orang yang dicurigai terkait dengan rencana aksi teroris di senatero negeri ini. Sebanyak 9 orang terduga teroris telah ditangkap berturut-turut pada 18 Desember dan 19 Desember 2015 lalu. Tangkapan terkini terjadi kemarin Rabu (23/12) satu orang terduga teroris digelandang Densus 88 dari tempatnya di Bekasi yang disebutkan akan melakukan aksinya pada malam tahun baru 2016.

Mengapa aksi radikal dalam bentuk terorisme kini semakin mengancam Indonesia? Apakah ini hanya rencana Australia, Singapore atau negara lainnya yang ingin membuat suasana Indonesia menjadi tidak tenang? Atau apakah penangkapan tersebut hanya untuk memperlihatkan aksi antisipasi pihak keamanan nasional telah berjalan dengan baik?

Ternyata tidak. Bukan itu alasannya meski beberapa pengamat mungkin mengira arahnya ke sana dengan model konspirasi, rekayasa, adu domba atau bahkan menganut konsep Flase Flage untuk skenario teror anti terorisme.

Bukan karena ekses penangkapan teroris di Solo pada 14 Agustus 2015 lalu atau pengeboman mal Alam Sutera (28/10/2015) di Jakarta pada  serta ancaman pengeboman terhadap sejumlah pejabat negara yang kini sedang heboh menyebabkan peningkatan rencana aksi teror di Jakarta atau kawasan vital lainnya di Indonesia terutama menjelang malam tahun baru, kini meningkat.

Aksi radikalisme di tanah air kita telah ada sejak dahulu bahkan masa Oder Baru sekalipun. Akan tetapi ancaman aksi teror di tanah air kita tahun ini rasanya sangat pesat peningkatannya, ditandai dengan sejumlah peristiwa serangan teror, sejumlah aksi penangkapan massif terhadap terduga teroris serta potensi penyusupan teroris ke dalam konflik horizontal. Tak terbayangkan bagaiman jadinya jika terjadi penyusupan ke dalam struktur vertikal dalam pemerintahan dan lembaga lainnya.

Selain indikator disebut diatas, beberapa fenomena lainnya menandakan negara kita sedang dalam sorotan teroris adalah:

  • Indonesia menjadi sasaran perang proksi yang sudah lama diminati oleh negara asing, terutama tetangga. Dunia mengakui, tidak akan mudah merubuhkan NKRI kecuali dengan perang saudara atau konflik horinzontal bermotif SARA
  • Ketidak taatan penegak hukum dan pejabat negara dan politkus serta pengusaha kakap terhadap aturan dan hukum yang berlaku di negeri kita yang dipertontonkan secara vulgar, sistematis dan masif selama ini membuat sejumlah warga putus asa lalu mencari keadilan ke negara lain yang kebetulan sedang lama menanti aktor yang dapat dipercaya mengemban misi tersebut di negerinya sendiri.
  • Rebutan sumber daya alam dan luas wilayah negara lain yang semakin langka dan terasa sempit menyebabkan pihak asing mencari celah yang dapat digunakan untuk menebar kerusuhan berkepanjangan agar masalah sumber daya alam dan teritorial negara menjadi terpinggirkan, kurang diperhatikan dan mungkin terlupakan akibat terkonsetrasi pada masalah konflik internal.
  • Issue nasionalisme semakin terpinggirkan bahkan menjadi bahan tertawaan dan lawakan. Pada skala tertentu, issue nasionalisme dibandingkan dengan masalah kemakmuran, ekonomi, urusan perut dan skala prioritas. Tanpa terasa sikap nasionalisme menjadi luntur nyaris tak berbekas apalagi di kalangan polikus tertentu, tak ada isue nasionalisme selain duit, duit dan duit serta meningkatkan kekayaan demi anak, cucu dan cicit, mungkin untuk tujuh turunan.
  • Pembangunan ekonomi dan kesejahteraan yang tidak merata beberapa dekade lalu berimplikasi terhadap kondisi saat ini. Para petualang politik memanfaatkan celah ini untuk memojokkan otoritas saat ini.
  • Pembangunan pendidikan acak adul dengan konsep-konsep uji coba telah mengorbankan generasi muda menjadi kebingungan dan merasa kurang berkualitas terutama di daerah-daerah terpinggirka. Konsep pendidikan instan dan kurang bermutu telah melahirkan sebagian kecil generasi masa depan yang berpikir instan termasuk ingin lekas jadi sarjana tapi kualitasnya tidak memadai.
  • Maraknya penyelundupan narkoba dari luar negeri memperlihatkan betapa rentannya sistim pengamanan dan peranan intelijen anti narkoba. Padahal diketahui narkoba mampu membuat kualitas pendidikan dan pembangunan masyarakat Indonesia menjadi sangat rendah. Mengapa petugas berkompeten di bidangnya tergiur oleh rayuan jaringan narkoba sehingga rela melihat masa depan generasinya (anaknya dan anak orang lain seluruh tanah air) menjadi korban Narkoba?
  • Bandit berkerah putih (White Colar Crime) atau kejahatan kerah putih telah tumbuh subur dimana-mana membentuk aliansi rantai mafia dalam bentuk kartel. Kita kenal mafia kasus (Markus),Mafia anggaran, Mafia Minyak, Mafia Ijazah palsu, Mafia Sembako, Mafia penyelundupan orang, Mafia Narkotik, Mafia elektronik, Mafia Mobil, Mafia Operator seluluer, mafia pelabuhan, mafia daging sampai mafia prostitusi bahkan mafia senjata ilegal sering terdengar. Apa susahnya bagi sebagian mafia berlimpah dolar dan rupiah untuk mengacaukan keadaan jika kepentingannya merasa terganggu?

Indikator di atas adalah beberapa signal sangat penting untuk kita ketahui meski beberapa diantaranya adalah dampak dari kondisi bertahun-tahun sebelumnya.

Di luar indikasi di atas, yang lebih memprihatinkan adalah pernyataan menjurus meremehkan dari Kapolri Jenderal Badroedin Haiti pada 24/11/2015 lalu yang menantang teroris meledakkan Polda metro Jaya. Dalam sebuah pertemuan di Makassar saat itu Kapolri menanggapi ancaman Santoso alias Abu Warda simpatisan ISIS yang dalam videonya mengancam akan meledakkan  Polda Metro Jaya.

“Silakan kalau mau meledakkan (Polda Metro Jaya) dan kita sudah antisipasi itu, silakan datang,” ujar Kapolri saat membuka Rakorda Pilkada Serentak 2015 Provinsi Sulawesi Selatan di Makassar, Selasa (24/11). Sumber : Republika.co.id 25/11/2015.

Kita tahu apa yang dimaksud secara implisit oleh Kapolri adalah mengirim pesan kepada masyarakat bahwa daya tahan, kekuatan dan kemampuan proteksi Polisi terhadap ancaman seperti itu tidak akan mudah bagi teroris yang mencoba masuk ke lingkungan “steril” tersebut. Masyarakat pasti yakin Polisi akan mampu menanggulangi atau mengantisipasi rencana tersebut dengan mudah apalagi ingin “mengirim donat” ke lingkungan tersebut. Meski demikian pernyataan seperti itu tak lazim, jarang ditemukan di mana pun seluruh dunia oleh pejabat negara dalam menghadapi tantangan bandit, perusuh apalagi teroris.

Meski kecil pengaruhnya terhadap analisa pada topik ini pernyataan seperti di atas selayaknya tidak diperlukan karena terkesan meremehkan tantangan (ancaman) meski kenyataannya Polri adalah lembaga terkuat dan terpercaya melaksanakan fungsi keamanan dan kemyamanan untuk masyarakat di negeri kita.

Berdasarkan beberapa analisa di atas, obyek yang perlu dijaga untuk mengeliminir serangan teroris sesuai dugaan diatas akan terlaksana akhir tahun ini terutama menjelang pertukaran tahun maka beberapa hal penting yang perlu diantisipasi adalah :

  • Presiden dan Wapres. Mengingat ancaman perang proksi sudah terindentifikasi, dikhawatirkan menyasar ke pejabat tinggi negara.
  • Obyek Vital. Lembaga negara negara dan perusahaan negara
  • Obyek sarana publik, bandara, pelabuhan, terminal dan taman publik
  • Hotel dan restoran serta cafe modern
  • Tempat perayaan umum malam tahun baru
  • Kota-kota besar dan menengah di tempat-tempat disebut diatas
  • Masjid dan Gereja serta tempat ibadah penganut agama lainnya
  • Tempat bersantai berkumpulnya para turis Eropa dan Amerika
  • Gedung kedutaan besar negara tetangga, Kedubes dan konsulat AS dan Eropa serta Rusia
  • Pasar modern (Mall) dan pasar besar tradisional

Kita berharap tidak akan terjadi suatu peristiwa apapun di malam tahun baru atau dipenghujung tahun ini bahkan di masa yang akan datang. Bisa jadi akhirnya masyarakat mempertanyakan analisa dan laporan intelijen Australia dan Singapore yang sengaja bikin suasana mencekam supaya menjadi lebih mencekam. Tapi tak apalah, bukankah memperingatkan itu lebih baik agar semua elemen berkompeten didalamnya menjadi waspada atau mawas diri, daripada kita harus merasakan hal yang TIDAK kita harapkan..

———

Salam  AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s