Blunder Novanto di MKD Jebak Diri Sendiri

Aneka ekspresi wajah Setya Novanto usai sidang MKD Senin (7/12/2015). Gambar : ROL dan berbagai sumber lainnya. edit.dok. Abanggeutanyo

Jika dicermati secara seksama profil wajah, raut muka dan ekspresi Setya Novanto usai sidang di Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) Senin (7/12), apa yang terlihat dari sorot mata Novanto yang berusaha bersahabat menyapa di tengah percikan ribuan kali lampu kilat (blitz) kamera wartawan yang telah lama menunggunya?

Tentu banyak hal yang dapat digali dari peristiwa munculnya Novanto yang keluar dari ruang sidang MKD super istimewa tersebut, beberapa diantaranya adalah :

  • Novanto kelelahan dan kecewa
  • Novanto tertekan oleh beberapa pertanyaan “keras” beberapa anggota MKD yang dinilai berseberangan dengannya
  • Novanto marah besar
  • Novanto merasa terancam
  • Novanto gagal merangkul semua anggota MKD
  • Novanto tidak mampu memberikan keterangan yang memuaskan

Selain sedang merasakan beberapa hal disebut di atas mungkin juga ia merasa telah mampu menyamakan kesimbangan tekanan politik. Ibarat permainan sepak bola, Novanto merasa telah menyamakan skor menjadi 2-2 mungkin itu sebabnya ia sangat merasa lelah disamping juga meninggalkan sejumlah tanda tanya mendalam atau misteri.

Penampilan Novanto pada sidang terhadap dirinya memang penuh misteri, beberapa diantaranya adalah :

  • Perubahan mendadak ketua sidang yang pada awalnya dipimpin oleh Surahman Hidayat berpindah posisi kepada Kahar Muzakir (Fraksi Golkar) menjelang sesi mendengar nota pembelaan Setya Novanto pada pukul 16.00.
  • Novanto masuk ke ruang sidang ternyata tidak masuk dari pintu masuk utama ke ruag MKD melainkan masuk melalui pintu darurat di bagian lain ruangan Nusantara II dewan yang mulia tersebut. Akibatnya wartawan yang telah menanti sejak pagi terpaksa menanti hingga pukul 13.30 itupun tak berhasil ditemui karena Novnto masuk melalui pintu lain.
  • Pergantian beberapa anggota MKD oleh beberapa fraksi karena diduga adanya “serangan fajar” berupa iming-iming kucuran dana terhadap fraksi-fraksi yang mampu membela Novanto sebesar 2 miliar per orang. Tawaran tidak berlaku untuk fraksi yang dinilai telah berseberangan dengannya. Informasi lainnya menyebutkan pergantian beberapa anggota MKD karena terindikasi kurang greget pada dua sidang sebelumnya dalam membela kepentingan Novanto.
  • Permintaan Novanto agar sidang terhadap dirinya dilaksanakan tertutup karena alasan kerahasiaan informasi yang dibeberkannya serta mengacu pada hak yang setara dengan permintaan dua sidang sebelumnya (Sudirman Said dan Maroef Syamsuddin) meminta sidang terbuka, permintaan Novanto agar sidang diminta tertutup merupakan cermin demokrasi yang melambangkan hak yang setara atau seimbang. Informasi lainnya menyebutkan permintaan Novanto agar sidang terhadapnya digelar tertutup lebih kepada
  • Saat Novanto memberi keterangan atau informasi diharapkan tidak boleh ada yang membantah. Junirmar Girsang menyampaikan hal itu berapi-api kepada pers setelah sidang selesai meluapkan kekecewaannya.

Sejumlah hal misterius di atas tepatnya disebut aneh atau ganjil karena telah menyita perhatian publik dan rasa ingin tahu ada apa dibalik sejumlah keganjilan atau keanehan tesebut.

Belum lagi jika mengacu pada beberapa poin penting pembelaannya pada sidang MKD tersebut bahwa Ia (Setya Novanto) tidak mengakui adanya percakapan tersebut dan menuding Soedirman telah memfitnah dirinya. Sesuai informasi kompas.com (7/12). Perhatikan pernyataan Novanto menuding Sudirman (mengedarkan rekaman) telah melakukan rekayasa politik (memfitnah secara politik terhadapnya-red) berikut ini :

“Saya sungguh mencermati, merasakan, dan melihat, bagaimana pengaduan yang disampaikan Saudara Pengadu (Sudirman Said), sebagai bentuk rekayasan politik yang luar biasa. Berbagai kesimpulan yang disampaikan dalam surat pengadu tersebut, telah menghakimi saya secaras sepihak,” kata Setya seperti dalam nota pembelaan yang diterima Kompas.com, Senin (7/12/2015);

Sementara terhadap Maroef yang dituding melakukan perbuatan ilegal karena merekam ia menyampaikan pembelaannya yang dikutip dari Nota Pembelaan Setya Novanto, berikut ini :

Yang Mulia Pimpinan dan Anggota Majelis Kehormatan,
Illegal Evidence is not Evidence (Alat bukti yang ilegal bukan alat bukti)

Rekaman yang dimiliki oleh Saudara Maroef Sjamsoeddin diperoleh secara melawan hukum, tanpa hak, tanpa izin serta bertentangan dengan undang-undang karena itu tidak boleh digunakan sebagai alat bukti dalam persidangan etik yang mulia ini, sebab alat bukti rekaman tersebut adalah ilegal.
1. Bahwa dasar pengaduan yang dilakukan oleh Saudara Pengadu Sudirman Said selaku Menteri ESDM adalah rekaman ilegal;
2. Bahwa saya sangat keberatan apabila rekaman ilegal tersebut dijadikan alat bukti dalam persidangan ini;
3. Bahwa rekaman yang ilegal tersebut diperoleh secara melawan hukum dan bertentangan dengan Undang-Undang yang berlaku di Republik Indonesia.-.

Berdasarkan transkrip pembelaan di atas tampaklah semakin rancu antara tudingan memfitnah dengan tudingan ilegal (melawan hukum). Mengedarkan rekaman dituding sebagai Fitnah. Sementara itu merekam dituding sebagai perbuatan tidak sah atau melanggar hukum.

Melapor dan menyerahkan rekaman adalah fitnah (rekayasa). Kenapa Novanto harus repot amat bagaikan kebakaran jenggot lalu menyebut merekamnya adalah perbuatan melanggar hukum. Selayaknya jika itu Fitnah (rekayasa) rekaman itu seharusnya tidak ada sehingga tak perlu ditanggapi sebagai melanggar hukum.

Tak salah lagi berdasarkan keterangan dan informasi di atas tampaklah Setya Novanto telah membuat blunder dengan membuat trik-trik yang aneh dan misterius tapi untuk mengubur diri sendiri. Entah siapa berada di balik trik-trik tersebut sehingga tanpa disadarinya trik seperti itu justru semakin membuatnya tenggelam dalam lumpur jebakannya sendiri.

Blunder inikah yang dimaksud sebagai “Jebakan Betmen” oleh beberapa pengamat dan politikus serta berbagai tulisan tentang jebakan yang dibuat Novanto?

Entah apapun istilahnya, sejumlah fakta pada peristiwa sidang MKD tertutup (Senin 7/12) memperlihatkan posisi Novanto yang semakin kian tak menentu. Terasa benar kepanikan seorang politkus tersohor dan ternama kita ini. Sorot mata dan wajahnya diakhir sidang mencerminkan kondisi tersebut.

Tulisan ini bukan permainan kata-kata, assumsi, interpretasi sendiri, absurt dan subyektif apalagi disebut tendensius dalam menganalisa nota pembelaan Setya Novanto disebutkan di atas. Sesungguhnya tulisan ini adalah ekspresi prihatin sangat mencengangkan, mengapa ketua DPR RI kita digiring semakin ke dalam lumpur jebakan oleh sahabatnya teman setia tapi ternyata tidak setia untuk seorang Setya Novanto

——–

Salam  AGI

 

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s