Ibu-ibu Lihatlah Kelakuan MKD Kita

ibu-ibu-demo-copot-setya-novanto-3-491x326

Ada tiga hal mengapa ibu-ibu terpilih pada tulisan  berkaitan tingkah laku anggota Mahkamah Kehormatan Dewan  (MKD) terhormat ini. MKD telah memperlihatkan siapa sebenarnya mereka. Ibu-ibu “terpanggil” pada tulisan ini karena tiga hal, yaitu :

Pertama : Ibu-ibu yang telah melahirkannya, memelihara sejak bayi, lalu tumbuh menjadi anak-anak, remaja hingga dewasa dan menjadi politikus di negeri ini ternyata hanya pandai nian mengolah kata verbal untuk kepentingan dan tujuan yang tidak elok rasanya. Tak terbayangkan oleh ibu ternyata sang bayinya kelak berperangai seperti itu.

Kedua: Ibu-ibu sebagai pilar rumah tangga bertugas mengawasi dan mendidik keluarganya (termasuk suami) agar menjadi keluarga yang bahagia lahir batin dan mendapat rahmat dari Tuhan maha pencipta yang telah menciptakan seisi alam termasuk ibu, suami dan anak-anaknya.

Ketiga : Ibu-ibu biasanya sksn lebih berani dan nekat jika sudah terdesak, tertekan dan marah, lalu berteriak, Hhhuuuuuuuu………

Oleh karena itulah ibu-ibu terpanggil kali ini untuk melihat tingkah laku anggota MKD yang barusan beraksi di pentas panggung rakyat yang disebut DPR dalam episiode pertama sidang MKD Selasa (2/12/2015) dari pihak pelapor (Sudirman Said) Menteri ESDM.

Lihatlah bagaimana beberapa hakim MKD dan beberapa anggota MKD yang katanya terhormat ternyata berperilaku amat tidak terhormat dengan mengeroyok Sudirman yang tidak menyangka situasinya ternyata seperti itu. Sebagian anggota MKD menguliti, mengupas dan berusaha merontokkan mental Sudrman Said bagaikan seonggok kelinci percobaan seakan tak ada yang membelanya selain beberapa orang saja.

Beberapa anggota MKD jelas mudah terbaca memberi pelajaran terhadap Sudirman melalui tekanan bertubi-tubi terutama oleh kubu  koalisi KMP jelang pergantian personil yang telah dilatih untuk menjalankan misi top gun “penyelamatan” Setia Novanto.

Padahal dalam sidang perdana itu Sudirman tidak mencela atau telah menjatuhkan martabat suami ibu-ibu selain melaporkan seorang Setya Novanto ke lembaganya sendiri (MKD) karena dinilai telah melewati batas kewenangannya dan menyalahi aturan sebagai anggota Dewan dan pimpinan DPR.

Lihatlah beberapa fakta saja tingkah laku MKD yang dapat disebutkan berikut ini.

Baru beberapa menit sidang dibuka sudah dihujani interupsi. Ridwan Bae dari fraksi Golkar langsung kepincut sama mikropon di depannya, lalu teriak mempermasalahkan bukti awal Sudirman Said. Bahkan beberapa anggota lainnya tak sabar melolong depan mike, “Interupsi Yang Mulia, ini melanggar undang-undang.” Entah apa dan siapa melanggar Undang-undang tak jelas, pokoknya teriak saja.

Ada lagi yang lebih kekanakan mengaitkan masalah sidang penting ini dengan pekerjaan lainnya dan minta sidang diundur ke pekan depan. Apa tidak mikir atau lepas kontrol atau  buat psang taktik baru. Lihat saja apa kata Ridwan Kamil (maaf, Ridwan Bae maksudnya-red), “”Yang Mulia, sudahlah ini capek mau pilkada. Kalau bisa, ditunda saja sampai minggu depan,” ujar Ridwan.” katanya tanpa merasa beban.

Jika melihat beberapa tingkah laku MKD sebelum sidang perdana lebih seru lagi ada yang menggebrak meja dan memaksa keputusan memanggil ketua DPR harus dianulir. Apakah tidak ada gendang di rumah sehingga meja pun ikut digebuk?

Mengapa suami ibu-ibu menjadi galak? Mengapa suami ibu-ibu menjadi kalap dan membuat tekanan pada penegak kebanaran (Sudirman) sehingga tega berseberangan dengan aspirasi masyarakat Indonesia pada umumnya yang sedang berjuang menghadirkan Indonesia bersih dari praktek Korpusi dan politik kotot?

Sudirman tidak menyerang suami ibu-ibu tapi ia diperlakukan sampai tidak bisa bernapas rasanya. Di sisi lain jutaan ibu-ibu lainnya di seluruh Indonesia mungkin menyaksikan acara tersebut telah memahami latar belakang peristiwa tersebut dan siap berdiri di belakang Sudirman Said dalam menegakkan kebenaran meski risiko besar sekalipun harus dihadapi oleh seorang tipekal seperti Sudirman.

Sebagai pilar rumah tangga tak salah ibu-ibu memberi pelajaran pada suami karena ibu adalah guru sekalgus sekolah paling tepat dalam membentuk karakter dan membangun nilai kebenaran dalam keluarga.

Sekadar mengingatkan peranan ibu sebagai pilar rumah tangga, berikut saya tampilkan 10 tugas pokok ibu dalam rumah tangga, yaitu :

  • Para ibu harus membiasakan perbuatan-perbuatan terpuji pada anak,
  • Para ibu harus memperingatkan anak-anak mereka akan segala kejahatan dan kebiasaan buruk, perilaku yang tidak sesuai dengan kebiasaan sosial dan agama,
  • Para ibu harus memiliki kesucian dan moralitas sebagai jalan pendidikan untuk putra-putri mereka,
  • Para ibu jangan berlebihan dalam memanjakan anak,
  • Para ibu harus menanamkan pada anak rasa hormat pada ayah mereka (dan orang lain-red).
  • Para ibu jangan pernah menentang suami, sebab akan menciptakan aspek kebencian dengan kedengkian satu sama lain,
  • Para ibu harus memberi tahukan pada kepala keluarga setiap penyelewengan tingkah laku anak-anak mereka (termasuk suami-red).
  • Para ibu harus melindungi anak dari hal-hal buruk menggoda serta dorongan-dorongan perilaku anti sosial,
  • Para ibu harus menghilangkan segala ajaran atau metode yang dapat mencederai kesucian serta kemurnian atau meruntuhkan moral dan etika seperti buku-buku porno novel,
  • Para ibu harus memelihara kesucian dan perilaku terpuji (termasuk menjaga suami-red).

Dikutip dari belajarpsikologi.com

Beranikah ibu-ibu mengingatkan dan menjaga suami agar tidak terperosok dalam arus yang melawan norma-norma kebenaran hakiki? Jika tidak berani karena kuatir malah meja di rumah yang digebuk ya apa hendak dikata, ternyata begitulah adanya suami ibu-ibu, dari kecil hingga besar jadi politikus hanya untuk melawan nilai kebenaran.

Saya yakin diantara kita dan ibu-ibu TIDAK mengalami kondisi seperti ibu-ibu pada tulisan ini. Tulisan ini dibuat karena sebagian besar rakyat Indonesia tak sanggup lagi rasanya melihat lelucon sangat vulgar itu terjadi dihadapan jutaan pemirsa. Mungkin ibu-ibu lah yang mampu meredam kelakuan anaknya, suaminya, atau dibiarkan saja dan akan diteriakin jutaan ibu-ibu lainnya, “Hhhhuuuuuuuuuuu..!!!,” hehehehehee...

Semoga bermanfaat

AG

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s