Bahaya Tolak Bayar Hutang yang Perlu Diketahui

Gambar ilustrasi. Dokumen abanggeutanyo

Berapa banyak orang yang datang pada Anda meminta pertolongan pinjamkan uang anda? Ada teman, tetangga, rekan sejawat, keluarga, rekan bisnis dan mungkin saja orang lain yang karena terketuk perasaan iba lalu Anda pinjamkan uang dengan janji ini dan itu dengan skema pembayaran dari yang bersifat kemanusiaan (sekadar pinjam) hingga skema bisnis (tambah keuntungan).

Mungkin tak terhitung jumlahnya atau malas menghitung berapa orang sudah yang tidak menepati janjinya membayar hutang pada Anda sebagaimana dijanjikan dengan bahasa manis penuh rayuan maut dan menghiba saat mereka datang meminta uluran bantuan Anda.

Beberapa alasan dalam bahasa klise sering kita temukan dengan tema tidak bisa melunasi hutang pada umumnya adalah sebagai berikut :

  • “Maaf , uangnya belum ada..”
  • “Maaf saya belum dapat nyicil karena usaha saya macet..”
  • “Si polan belum bayar ke saya..”
  • “Anak saya sakit”
  • “Istri saya sakit..”
  • “Saya sedang susah juga nikh..”
  • Dan lain-lain alasan yang bertema tidak bisa bayar utang dengan sangat mudah sekali

Jika kita berada pada kondisi di atas (kita yang berhutang) apakah lantas kita menilai sejumlah jawaban di atas adalah jawaban atau alasan yang wajar-wajar saja?

Sementara jika kita berada pada posisi pemberi hutang (pemberi pinjaman) jawaban di atas pasti jawaban berkesan tidak bertanggung berjawab. Apalagi jawabannya “yang itu-itu saja”  selama  ketika ditanyakan ke yang berhutang (selama dua tahun) kapan bisa melunasi hutangnya. ironisnya lagi jika yang bersangkutan ketahuan malah beli tanah, mobil baru atau benda berharga lainnya. Apakah jawaban seperti itu dapat dimaklumi? Uuhhhh “sakitnya tuh di sini,” rasanya bukan?

Tak heran akibat hutang piutang pertemanan hancur berantakan. Persahabatan menjadi musuh seketika. Persadaraan putus karena merasa dibohongi bahkan akibat hutang piutang terjadi tindakan pidana menjurus penganiyaan bahkan pembunuhan akibat hutang tidak dibayar-bayar atau yang berhutang malah jengkel karena merasa ditagih-tagih terus sama pemberi pinjaman.

Benar sebuah kata bijak mengingatkan, “jangan berikan hutang jika tak ingin pertemanan anda terputus.” Peristiwa permusuhan akibat utang piutang banyak terjadi dimana-mana. Pemberi hutang pun kalap dan panik bercampur stres akibat penerima utang tidak membayar utangnya. Tindakan kriminal pun kerap terjadi.

Di lain pihak, ada kalanya penerima utang merasa panik, stres tertekan sehingga menganggu stabilitais emosi dan mentalnya lalu jatuh sakit akibat depresi berkepanjangan. Tak tahan ditagih ia melakukan jalan pintas, bunuh diri atau melakukan tindakan kriminal terhadap pemberi hutang. Ibarat kata pepatah, tipe seperti ini tidak tahu berterimakasih, sudah ditolong malah membunuh.

Tapi begitulah risikonya, pemmberi hutang dan penerima hutang terpaksa siap-siap memutuskan hubungan baik mereka jika fakta pelunasannya ternyata tidak seindah yang dibayangkan.

Sering niat baik atas dasar kemanusiaan dan persahabatan serta perhatian agar seseorang merasa perlu ditolong (tanpa dikenakan bunga pinjaman) tapi yang terjadi adalah kebalikannya, rasa perhatian dan tanggung jawab tersebut berakhir dengan permusuhan, penganiyaan bahkan pembunuhan oleh penerima utang yang tidak mau (tak mampu) melunasi hutannya.

Meski demkian faktaya mengapa orang masih senang berhutang dan masih banyak orang yang memberi hutang? Padahal Bank resmi saja menerapkan syarat yang berat-berat masih juga dililit masalah oleh ingkar janjinya pembayar hutang. Konon lagi pemberi hutang individual yang memberi bantuan utang atas dasar pertemanan. Jangan heran dan panik jika akhirnya anda berhadapan dengan munculnya aneka jawaban klise seperti disebut di atas.

Akhir-akhir ini budaya tidak malu karena tak mau bayar hutang semakin menjadi-jadi. Berutang bahkan menjadi sebuah hobi karena mudahnya ingkar janji di sana-sini tempat mereka bisa berhutang. Berhutang juga menjadi semacam skill yang dapat di asah menjadi sebuah teknik menipu, menggugah pemberi uang dengan seribus satu rayuan.

Kini semakin banyak orang-orang pandai menipu dengan dalih pinjam uang atau berhutang untuk bebagai keperluan si peminjam. Bagi penghutang sejati, berhasi menipu mungkin terasa nikmat dan bikin puas dirinya meski ternyata sesaat saja.

Penghutang sepertinya paham betul, tindakannya tidak bisa diproses polisi karena masalah  utang piutang dalam ranah hukum masuk dalam kasus perdata. Jika pun berlanjut dalam proses hukum, dalam disidang di depan Hakim dengan mudahnya si penghutang mengatakan akan melunasi utangnya dengan cara cicil sebesar kemampuannya. Misalnya 10 ribu perhari atau 300 ribu perbulan, padahal utang yang harus diselesaikan Rp 30 juta rupiah misalnya. Perlu waktu hampir 10 tahun lamanya melunasi utang tersebut dan bisa jadi penagih pun surut semangatnya setelah beberapa bulan menagih lalu berhadapan lagi dengan “nyanyian” klise disebut di atas.

Mudah berutang tapi tak mudah membayar adalah kenyataan yang kerap terjadi di dalam hubungan utang piutang di manapun seluruh Indonesia. Artinya tidak dapat diberi stempel suku ini dan itu suka berhutang. Suku anu jagonya tipu. Dan suku yang satu itu tidak bertanggung jawab dalam soal piutang. Suku yang satu lagi malah ngancam kalau ditagih. Tidaklah pantas memberi stempel (cap) seperti itu karena budaya tidak malu seperti itu kini semakin banyak terlihat, telah lazim terjadi di mana saja di seluruh tanah air.

Mengapa budaya malu berhutang semakin terkikis, tersapu oleh waktu yang justru membalikkan keadaan dan kondisi menjadi berhutang itu menjadi hal biasa dan tak mau melunasinya adalah kepuasan tesendiri.

Kini fenomema tidak mau membayar utang tak lagi sebagai beban mental atau moral. Konsep menanganinya mudah saja, hafal mati saja  kalimat  ini “Saya tak ada uang membayarnya,” sudah selesai… Begitulah rendahnya adab masyarakat yang getol hutang sana-sini dan berhutang hal yang biasa. Padahal jika dikaji sipenghutang itu memahami betul nilai-nilai dan norma agama, hafal alquran, hadis dan kemampuan ilmu agamanya sudah setingkat dengan ustad atau ustadzah.

Penulis tak tahu dari sisi ajaran agama lain tentang utang piutang. Tapi dari ajaran agama Islam yang saya ketahui menyebutkan beberapa dalil tentang Hutang dan melunasinya karena psosi berhutang sangat berbahaya jika tidak melunasinya, yaitu sebagai berikut :

 “Barangsiapa yang ruhnya terpisah dari jasadnya dan dia terbebas dari tiga hal: [1] sombong, [2] ghulul (khianat), dan [3] hutang, maka dia akan masuk surga.” (HR. Ibnu Majah no. 2412. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih). Ibnu Majah membawakan hadits ini pada Bab “Peringatan keras mengenai hutang.

Bayangkan, amalan paling hebat (Jihad) saja tidak mampu melunturkan posisi hutang konon lagi amalan lain yang lebih rendah dari jihad. Artinya posisi hutang ini sangat penting, jangan menganggap enteng dengan aneka dalih dan dalil lain tentunya.

Sementara hadis lain menyebutkan : “Ruh seorang mukmin itu tergantung kepada utangnya hingga dibayarkan utangnya.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi).

Hadis lainnya mengingatkan betapa besarnya posisi utang berikut ini. “Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali hutang.” (HR. Muslim no. 1886)

Hadis lainnya mengingatkan betapa buruknya perangai orang yang berhutang pada umumnya. “Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas memungkiri.” (HR. Bukhari).

Bahkan terhadap orang yang sengaja mengurlur waktu dan mau membayar utangnya teryata lebih keras lagi.

“Barangsiapa yang mengambil harta orang lain (berhutang) dengan tujuan untuk membayarnya (mengembalikannya), maka Allah akan tunaikan untuknya. Dan barangsiapa mengambilnya untuk menghabiskannya (tidak melunasinya, pent), maka Allah akan membinasakannya”. (HR. Bukhari, II/841 bab man akhodza amwala an-naasi yuridu ada’aha, no. 2257). 

Sejumlah hadis lainnya menerangkan tentang bahaya hutang yang tak terbayar seseorang sehingga Nabi Muhammad SAW enggan menyalatkan orang  tersebut.

Alquran telah mengatur dan memperbolehkan tentang utang piutang dengan ketentuan yang sangat rapi, diantaranya disebutkan pada Al-Baqarah ayat 282, yang intinya adalah :

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. (Kita disuruh mencatatakannya- red.)

Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Rabbnya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. (Kita diperintahkan menulis dengan benar dengan disaksikan oleh saksi-red).

Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. (Diketahui oleh wali yang berhutang jika terjadi sesuatu-red).

Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tidak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. (mengatur komposisi wali-red.)

Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil, dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. (Jangan lengah dan malas dalam pencatatannya-red.)

Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. (Transaksi tunai tak diharuskan menulis)

Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli ; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian) maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. (Ketentuan jangan memberatkan pihak yang berhutang-red)

Dan bertakwalah kepada Allah ; Allah mengajarmu ; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al-Baqarah: 282)

Dari penjelasan di atas sesungguhnya utang piutang dalam Islam memang tidak dilarang, akan tetapi mengingat dampaknya sangat besar (meski telah dianjurkan memberi kelonggaran) sebaiknya kita dianjurkan mengindari utang kecuali sangat penting untuk hal hal yang mendesak.

Dalam ajaran Islam, berhutang TIDAK BOLEH untuk :

  • Berhutang untuk menutupi hutang yang sebelumnya tidak terbayar
  • Berhutang untuk sekedar bersenang-senang
  • Berhutang dengan niat meminta. Karena biasanya jika meminta tidak diberi, maka digunakan istilah hutang agar mau memberi.
  • Berhutang dengan niat tidak akan melunasinya atau bertujuan menipu.

Dalam hidup bersosial dan bermasyarakat utang piutng memang tidak dapat dihindari, kadang yang merasa cukup pun suatu ketika terpaksa berutang karena berbagai hal.

Tulisan ini mengajak kita semua bagi yang berhutang dan memberi hutang agar sama-sama bersifat menolong dan sama-sama menghargai agar persahabatan membawa berkat dan rahmat untuk sesama. Jangan sampai hubungan baik lalu memburuk bahkan jadi tindakan kriminalitas sebagaimana disebut di atas akibat utang dengan dalih apapun sengaja bertujuan tidak ingin dibayar.

Demikian rekan pembaca budiman, semoga hati-hati dalam memberi utang. Dan untuk yang doyan hutang kiranya secuil gambaran di atas mampu memberi gambaran betapa beratnya posisi tersebut.

Jika dari sisi agama pun sudah tidak mampu menggugah lagi hati nurani kita soal berhutang konon lagi dari cara lain? Jika itu terjadi jangan salahkan orang lain jika suatu saat hubungan yang pernah terbina baik penuh persaudaraan dan perhatian menjadi terputus dan hancur seketika gara-gara utang yang tidak dibayarkan apalagi sengaja tidak mau mau dibayar.

Mungkin hilangnya pertemanan atau persaudaraan tidak penting bagi si hobbi hutang, tapi  apakah tidak kuatir, tak takutkah pada Allah yang telah memberi peringatan melalui Al-Quranz?

Rasululah, Muhammad SAW dengan sangat serius juga telah mengingatkan ummatnya di dalam Hadist betapa bahayanya punya hobbi berhutang dan tak mau melunasi hutangnya dengan dalih 1001 alasan.

Sebagai ummat beragama dan mengakui adanya Tuhan maha pencipta, alam kubur dan hari kiamat tak khawatirkah kita yang punya hobi seperti ini?

Wallahu’alam bissawwaaab…

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s