Mengapa ISIS “Tertarik” pada Australia?

Gambar ilustrasi. Sebaran ISIS dan FTF sejak 1980 hingga 2015. Dok.abanggeutanyo

Berapa banyak pejuang asing yang disebut Jihadis atau Mercenaries atau Foreing Terrorist Fighters atau istilah lainnya menjadi angota ISIS atau afilliasinya di Suriah? Ada yang menyatakan 20.000 orang, ada 22.000, 24.000, 28.000 bahkan ada yang menyebutkan 30.000 orang seperti pernyataan timesofisrael.com pada laporannya 27 September 2015 lalu.

Perhatian ke Suriah atas alasan hubungan agama dan aliran yang dahulunya lazim disebut “Jihad” telah memancing sejumlah warga asing dari berbagai belahan dunia berpihak pada pilihan menurut keyakinan masing-masing. Pada umumnya yang terbanyak berpihak kepada ISIS dan aliansinya seperti al-Nusra. Beberapa diantara mereka ada yang berpihak FSA dan aliansi moderatnya.

Sejumlah warga negara asing atas dasar beberapa kepentingan di atas menuju Suriah pada umumnya melalui Turki meski ada juga dari Jordania dan Irak. Tak tekecuali sejumlah pemuda Australia memilih jalan hidupnya menuju Suriah untuk berbagai alasan dan kepentingan disebut di atas.

Meski Australia bukanlah kontibutor terbanyak pemasok anggota ISIS tapi Australia menjadi pilihan topik tulisan ini mengingat posisinya sebagai tetangga Indoneisa dan terkait dengan sejumlah aksi kontra terorisme yang diterapkan akhri-akhir ini serta kaitannya dengan hubungan politik dengan Indonesia.

Pernyataan Jaksa Agung Australia, George Brandis Jumat (6/11) sebagaimana dikutip di sbs.com mengatakan bahwa dari 140 orang Australia yang pergi ke Timur Tengah diyakini 110 orang telah berjuang dan pada umumnya bergabung dengan ISIS.

Sebelumnya, pada 18 Juni 2014, Menlu Australia, Julia Bishop mengatakan pada sebuah acara ABC’s AM program an “extraordinary” number of Australians had joined the extremist cause, jumlah pejuang asal Australia di Irak dan Suriah mencapai 150 orang. Salah satu pejuang asal Australia yang pernah dikenal adalah Adam Dahman, remaja asal Melbourne yang mejadi pelaku bom bunuh diri di sebah masjid di Irak pada Juli 2014 lalu.

Di Australia sendiri sekitar 190 orang dituduh terkait jaringan tersebut. Dari jumlah tersebut 146 paspor mereka telah dibatalkan. Bandis juga menyebutkan, sebanyak 40 jihadis Australia telah terbunuh pada sejumlah peristiwa dalam perang Suriah dan Irak.

Meski Bandis menyebutkan jumlah jihadis Australia di Suriah mencapai 110 orang akan tetapi informasi lainnya menyebutkan jumlah warga Australia bergabung dengan ISIS melebihi angka tersebut, sekitar 120 orang seperti disampaikan Adam Brookman yang ditangkap atas tuduhan sebagai jaringan ISIS Australia, Adam Brookman dituntut 25 tahun penjara.

Kepada Australian.com  yang melaporkan pengalamannya (31/10) Brookman mengatakan bahwa pejuang asal Australia pada umumnya tidak akan kembali lagi ke Australia dan ada yang menikahi wanita ISIS. “Sebagian besar dari mereka (pria) telah menikah dengan wanita setempat dan mereka tidak akan ambil risiko dipenjarakan jika kembali pulang ke negaranya. Meski demikian ada sekitar 30 orang yang diperkirakan ingin kembali namun terkendala akibat,” katanya.

The Washington Post mendiskrpsikan total petempur asing di Suriah dari berbagai negara termasuk dari Australia justru lebih banyak lagi yaitu 250 orang dan petempur asing asal Indonesia sebanyak 60 orang. Dan masih banyak informasi menyebutkan jumlah petempur asing asal Australia dalam tubuh ISIS mencapai 250 orang. Salah satu gambaran jumlah anggota ISIS dari berbagai negara termasuk Australia seperti pada gambar berikut ini :

Melihat Data dan Fakta perkembangan ISIS demikian pesatnya, pada September 2015 lalu Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (Department of Homeland Security) membuat laporan khusus dan kerangka kerja perang melawan ISIS berjudul COMBATING TERRORIST AND FOREIGN FIGHTER TRAVEL (homeland.house.FinalReport).

Dalam kata pengantar pada laporan setebal 66 halaman tersebut, direktur FBI, James Comey menyebutkan secara singkat tentang adanya petempur asing yang masuk ke Irak dan Suriah yaiitu ekstrimis yang menggunakan kekerasan dalam menyebarkan idiologi radikal ke negara masing-masing termasuk AS.

Sejumlah (nama) anggota ISIS di berbagai negara bagian AS dan tewasnya 10.000 anggota dalam setahun serangan koalisi AS-Arab terhadap ISIS. Disebutkan juga asal muasal terbentuknya ISIS dan seberapa besar peranan petempur asing dalam membesarkan ISIS. Sejumlah negara juga disebutkan menjadi target ISIS.

Australia disebutkan ternyata menjadi salah satu target serangan ISIS sejak 2014 disamping Inggris dan AS seperti penjelasan pada gambar berikut ini :

Rencana ISIS mulai 2014 di sejumlah negara termasuk Australia. Sumber : homeland.house.gov September 2015

Berdasarkan laporan tersebut memperlihatkan ternyata Australia telah diplotkan menjadi salah satu lokasi yang inspiratif sebagai tempat yang dianggap aman untuk ISIS. Entah dari mana sumbernya yang jelas laporan AS tersebut menyertakan literatur dan sumber yang sangat banyak di bagian akhirnya.

Bagian terpanjang pada laporan tersebut adalah pada program VWP (The Visa Waiver Program) yang dianggap menjadi celah masuknya terorisme dan radikalisme ke AS dari sejumlah negara pada program tesebut. Sejumlah srekomendasi kunci penanganan dan pencegahannya juga disebutkan pada bagian akhir laporan tersebut.

Sementara itu dari analisa intelijen lainnya, Meir amit intelligence and terrorism information center  Israel menguraikan petempur asing dari kelompk Eropa dan kelompok non Eropa yang terlibat di Suriah. Dari non Eropa termasuk didalamnya Amerika, Amerika Utara dan Australia.

Masih menurut intelijen Israel tersebut, dari Australia diperkirakan mencapai seratus orang, mengutip pernyataan Peter Drennan, pejabat senior keopolisian federal (AFP). Sedangkan menurut Kepala Australian Security Intelligence Organisation (ASIO) David Irving mengatakan, “Terdapat ratusan warga Australia di Suriah, akan tetapi sekitar 100 orang saja yang bergabung dalam fron al-Nusra,” sebutnya.

Animo warga Australia menjadi petempur di Suriah meningkat pada 2013. Kebanyakan dari mereka adalah usia muda yang lahir di Australia atau yang datang ke Australia ketika usia muda. Alasan utama mereka ke Suriah pada umumnya dengan alasan sukarelewan atau menangani masalah kemanusiaan. Akan tetapi selanjutnya mereka bergabung dengan forn al-Nusra, tulis laoran intelijen Israel di atas.

Jika mengacu pada jumlah petempur asal Australia di Suriah dan Irak, kelihatannya jumlah 100-an hingga 250 orang  tersebut tergolong tidak signifikan. Australia termasuk katagori partisipasi yang rendah dibanding negara eropa lainnya dan AS yang mnedominasi kelompok ISIS Eropa dan non Eropa.

Akan tetapi mengingat Australia adalah tetangga terdekat Indonesia dan dijadikan sebagai salah satu home base ISIS di masa depan (sebagaimana laporan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS di atas)  mau tak mau kondisi itu mempengaruhi perhatian kita pada posisi Australia dan menjadi topik pada tulisan ini.

Berkatian dengan masalah ini, BBC 12/3/2015 menyebutkan, total penduduk bergama Muslim seluruh Australia sekitar 2,2%, artinya sekitar 500 ribuan dari total populasi 2013 Australia (23,9 juta jiwa pada 2015 -red).

Ironis sekali JIKA pemerintah Australia mengaitkannya aksi teror dan radikalisme dengan komunitas Muslim di Australia. Padahal  jika dibandingkan dengan ulasan BBC di atas, total penganut agama Islam (muslim) sebanyak 500 ribuan jiwa dengan 100 atu 200 petempur asing asal Australia dalam ISIS terlihat prosentasenya sangatlah tidak signifikan, hanya 0,02% dari total warga muslim seluruh Australia.

Dari Indonesia sendiri,  jumlah petempur asal Indonesia diperkirakani mencapai 60 orang. Ini artinya 0,00003% dari total populasi Muslim Indonesia yang diperkirakan mencapai 205 juta jiwa. Meski lebih kecil dari Australia tetap perlu diantasipasi dari sekarang potensi ancamannya di masa yang akan datang.

Berdasarkan penjelasan di atas, pada semangat anti terorisme yang digadang-gadang pemerintah Australia mendukung perang terorisme global dan aktif di pentas internasional sesungguhnya Australia kebobolan menjalankan program kontra terorisme di dalam negerinya sendiri.

Indikasi lainnya adalah sorotan internasional mengenai misteri hadirnya ribuan kendaraan Toyota Hillux juga terkait dengan Australia dimana ratusan Hilux terindikasi hasil ekspor gelap warga Australia ke timur tengah. Ironis, ekspor gelap dalam jumlah besar dan telah berlangsung lama dan sistematis tersebut tidak diketahui oleh agen intelijen dan pihak berkompeten Australia.

Australia melihat Indonesia sebagai ancaman radikalisme bukan rahasia umum lagi. Seperti negara eropa lainnya kerap dengan stigma negatif dan inditimidasi terhadap minoritas muslim di negaranya setiap terjadi issue terorisme di Australia. Padahal sebagaimana uraian di atas, sangat tidak beralasan mengaitkannya dengan muslim di seluruh Australia karena selain tidak ada hubugannya dengan sebagian besar warga muslim yang tidak berkepentingan terhadap teroris juga jumlahnya sangat tidak signifikan dan mudah dikontrol.

Kenyataannya radikalisme dan terorisme di Australia itu datangnya dari warga Australia sendiri yang lahir dan besar di Australia, Mereka mengirimkan kendaraan dan sumber daya manusia secara sistematis, lalu mengancam akan berjihad di Australia sebagaimana menjadikan Inggris dan AS sebagai target serangan disebut dalam laporan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS di atas.

Sepertinya pihak otoritas terkait Australia perlu mengkaji kembali semangat dan retorika anti terorisme global mereka dengan membenahi internal dalam negeri sendiri lebih dahulu.

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s