Laporan Ekonomi 2014 Bank Indonesia, Oh My God, kok gini?

Apa dan bagaimana realisasi perekonomian Indonesia pada 2014 dapat dilihat di bi.go.id/laporan-tahunan/perekonomian. Jika pun terhapus atau tidak dapat diakses, penulis telah menyimpannya dalam file dan akan memberikan pada yang memerlukannya.

Penulis melihat secara umum banyak hal positif yang kita dapatkan dari laporan BI tersebut. Di dalamnya mengungkap aneka bidang perekonomian, dari masalah ekonomi global, ekonomi domestik, pertumbuhan ekonomi Indonesia, neraca pembayaran, nilai tukar, kebijakan fiskal, inflasi, kebijakan moneter, Sistim Keuangan, Nilai Tukar hingga Prospek Perekonomian Indonesia. Tak kurang 15 Bab menghiasi 385 halaman laporan tersebut.

Agus D.W Martowardojo, Gubernur BI dalam kata sambutannya  pada halaman 23 menulis pencapaian yang telah terjadi serta ekspektasi ekonomi Indonesia di masa yang akan datang yang dirangkum secara umum. Selain itu memberi catatan sebagai berikut : “Kami persembahkan LPI 2014 dengan harapan bahwa buku ini akan memberi manfaat pengetahuan yang sebesarbesarnya bagi pembaca. Semoga buku ini juga mampu meneruskan reputasi LPI sebagai rujukan yang berkualitas dan terpercaya tentang perjalanan perekonomian bangsa Indonesia,” tulisnya antusias.

Berkaitan dengan harapan Gubernur BI di atas penulis yang tidak ahli di bidang ekonomi dan moneter –layaknya pegawai Bank Indonesia– ternyata kesulitan saat menyimak, mencermati dan memahami beberapa bagian pada LPI tersebut sehingga melihat  ada beberapa kejanggalan secara umum tentang “potret” LPI 2014 dalam beberapa catatan sebagai berikut :

Di awali dengan Visi pada halaman 5, perhatikan bunyi dan kalimatnya sebagai berikut : Menjadi lembaga bank sentral yang kredibel dan terbaik di regional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan nilai tukar yang stabil.

Pertanyaannya adalah, apakah visi tersebut telah menyentuh harapan sebagai diharapkan oleh BI sendiri? Jika penilaiannya adalah masyarakat, pertanyaannya adalah apakah masyarakat mampu merasakan pencapaian visi BI tersebut, khususnya tentang pencapaian nilai tukar yang stabil.

Pada tabel 1 halaman 26, LPI 2014 menyajikan tabel neraca pembayaran Indonesia 2014 lengkap dengan pembanding beberapa tahun sebelumnya (2010 hingga 2013) sehingga terlihat angka posisi cadangan devisa masing-masing tahun. Cadangan devisa 2014 disebutkan 111,8 triliun rupiah, sementara posisi cadangan devisa 2013 disebutkan 99,3 triliun rupiah. Sayang sekali ketika diperiksa ke LPI 2013 kita tidak menemukan sajian tabel dengan angka yang sama sehingga kita tidak tahu berapa sesungguhnya cadangan devisa pada akhir 2013.

Ketika kita dipaksakan mencari ke sumber lainnya (juga dari BI) kita mendapatkan angka posisi cadangan devisa negara pada akhir Desember 2013 sebesar US$99,4 miliar.sumber BI berikut ini :

No. 16/1/DKom
Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2013 disebutkan sebesar US$99,4 miliar, meningkat US$2,4 miliar dibandingkan posisi akhir November 2013 sebesar US$97,0 miliar.

Jika berpatokan pada posisi cadangan devisa 2013 pada sumber di atas, setarakah US$99,4 miliar itu dengan 99,3 triliun yang disebutkan pada tabel 1 halaman 26. Apakah kurs yang berlaku pada saat itu dihitung Rp 10.000 per USD atau berapa rata-ratanya?

Dalam analisa tentang pengangguran BI menggunakan data BPS dengan kode (catatan) “Diolah” seperti yang telihat pada tabel 3.5 Angaktan kejra dan Pengangguran. Akibatnya, informasi tabel dengan penjelasan (uraian) bertolak belakang. Lihat saja kalimat berikut ini :

“Moderasi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2014 menurunkan daya serap perekonomian terhadap tenaga kerja. Tren penurunan tingkat pengangguran yang telah terjadi sejak 2005 mulai tertahan dan justru mengalami sedikit peningkatan pada Agustus 2014.”

Pada bagian berikutnya tertulis : “Tingkat penyerapan tenaga kerja mengalami penurunan. Berdasarkan prakiraan model “Okun’s Law” Indonesia, pertumbuhan ekonomi yang melambat di bawah kisaran 5,3% berisiko meningkatkan tingkat pengangguran (Grafik 3.27). Pengangguran yang meningkat juga diakibatkan oleh tingkat penyerapan tenaga kerja yang menurun.”

Padahal dalam tabel (3.5) tersebut memperlihatkan tingkat pengangguran pada periode Agustus 2014 justru menurun (menjadi 5,9%) dari periode yang sama Agustus 2013 (6,2%). Seharusnya kondisi ini memperlihatkan adanya serapan tenaga kerja yang lebih baik, bukan membuat analisa seperti pada kutipan di atas dengan menyebutkan penyerapan tenaga kerja yang menurun.

Kemudian menyangkut penduduk miskin yang berjumlah 27,73 juta pada 2014 (11%), lagi-lagi BI menggunakan data BPS dengan tambahan keterangan “Diolah.” Dalam analisa ini BI mengambil acuan berdasarkan tingkat pendapatan yang sangat tidak masuk akal. Selain itu pada bab ini disebutkan, jumlah penduduk miskin berkurang karena laju inflasi berhasil ditahan. Berikut kutipannya:

Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan. Garis kemiskinan untuk perkotaan dan perdesaan pada bulan September 2014 mencapai Rp312.328 per kapita per bulan.

Secara historis, kenaikan garis kemiskinan sejalan dengan perkembangan inflasi, namun dengan magnitude yang lebih tinggi. Hal ini terkait dengan komposisi keranjang masyarakat miskin yang didominasi oleh komoditas makanan yang pergerakan harganya lebih bergejolak.

Pertanyaannya adalah, apakah jumlah penduduk miskin hanya sejumlah 27,7 juta jika berasumsi pada tingkat pendapatan yang sekitar 10 ribuan per hari atau 300 ribuan sebulan. Jika mengacu pada angka ini bisa jadi angka masyarakat miskin semakin banyak.

Katakanlah benar assumsi angka pendapatan pada bab ini, tapi jika dikorelasikan dengan laju inflasi disebut pada bab lainnya di atas yang terjadi adalah sebaliknya, yakni kemiskinan semakin bertambah karena berdasarkan LPI 2014 tersebut laju inflasi 2014 justru 8,36%  paling buruk setelah 2008 (11%). Paling tidak semakin memburuk dalam 5 tahun terakhir.Sumber : Inflasi/BI 2001-2014

Penulis bukan bankir atau ahli ekonomi dan moneter atau keuangan. Sekadar mengingatkan saja, berdasarkan teori, iInflasi yang tinggi menyebabkan pendapatan riel masyarakat akan menurun sehingga standar hidup masyarakat juga turun. Itu artinya sama dengan inflasi berpotensi membuat orang menjadi (merasa) miskin.

Pada bagian lainnya tentang tingkat kemiskinan laporan tersebut juga menulis dengan pengertian yang susah dicerna. Perhatikan kalimat berikut ini :

Indeks Kedalaman Kemiskinan merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap batas miskin. Semakin tinggi nilai indeks ini, rata-rata pengeluaran penduduk semakin jauh dari garis kemiskinan atau tingkat kemiskinan semakin dalam.

Perhatikan kalimat di atas, satu sisi disebutkan semakin JAUH dari kemiskinan sementara kalimat lain berbunyi tingkat kemiskinan MAKIN DALAM.

Berdasarkan sejumlah potret buram di atas, kesan yang dapat kita tangkap dari beberapa bagian laporan setebal 385 halaman berisi 15 Bab tersebut adalah :

  • Laporan dikerjakan secara keroyokan sehingga terlihat beda analisanya. Ada yang membahas kembali angka pada tabel ada juga yang memang menganalisis sebab penurunan atau pertumbuhannya yang dikorelasikan dengan kondisi nasional, regional dan kondisi global.
  • Dibuat dengan mengejar target penyelesaian yang terburu-buru.
  • Dikerjakan oleh banyak pihak.
  • Terlalu banyak halaman seakan menjadi celah untuk mengaburkan kondisi riel sebenarnya.
  • BI kekurangan Informasi  sehingga mengambil data BPS yang sudah dikenal umum kurang up to date.
  • Pembuat laporan kebingungan mengolah data. Catatan kaki pada tabel seperti “Sumber BPS, Olahan” dan * (angka semantara) atau ** (angka sangat-sangat sementara) memperlihatkan tingkat kebenaran informasinya tidak dapat dipegang.
  • Beberapa kalimat pada LPI 2013 mirip dengan kalimat LPI 2014, hanya angka saja yang diubah
  • Penggunaan data sepertinya beruba-ubah sesuai dengan tujuan dan kepentingan

Kelihatannya harapan Gubernur BI disebut di atas  (agar LPI 2014 bermafaat bagi pembaca) menjadi sedikit kurang bermakna akibat penyajian data, informasi dan analisisnya mirip laporan perusahaan konvensional saat sejumlah karyawannya terdesak waktu untuk mengkuti meeting tahunan tapi laporannya baru mulai pada Bab Pendahuluan dari  15 Bab yang harus diselesaikan.

Meski demikian, secara keseluruhan kita mengakui laporan setebal 385 halaman itu banyak memberikan informasi yang bermanfaat ketimbang yang tidak bermanfaat. Misalnya kita mendapat informasi tentang perlambatan pertumbuhan ekonomi di Kawasan Timur Indonesia dan Sumatera .

Selain itu pertumbuhan ekonomi kita yang lebih baik dari beberapa negara serta kemampuan kita menahan gempuran tekanan global jauh lebih baik dari sejumlah negara lainnya. Tentu saja kemampuan membayar Utang Luar Negeri (ULN) yang signifikan juga merupakan informasi yang menarik.

Banyak informasi lainnya tentang kebijakan moneter yang patut membuat kita kagum. Sementara itu neraca perdagangan ekspor impor menyajikan informasi menarik tentang peranan ekspor non migas yang meningkat (kecuali mengalami penurunan untuk ekspor tujuan AS). Akan tetapi sayang sekali laporan itu dibuat seolah-olah kerja keroyokan sehingga menjadi kurang terkoneksi satu dengan lainnya bahkan dengan beberapa informasi tahun sebelumnya.

Sebaiknya laporan tidak usah terlalu tebal. Terpenting adalah angka dan grafik serta tabelnya menyajikan angka dan kondisi informatif dan aktual serta berkorelasi satu dengan lainnya. Selain itu, beberapa bagian seperti kata pengantar terlalu panjang serta ucapan terimakasih kepada rekan sejawat mantan pimpinan tidak terlalu penting.

Semoga ke depannya selain mencapai prestasi yang diharapkan dalam visi dan misi serta nilai strategis BI akan melakukan koreksi-koreksi dan penyajian informasi yang lebih bermafaat. Gubernur BI dan pihak berkompeten di dalamnya kiranya menerima kriitkan dan masukan ini dengan lapang dada agar BI mampu menjadi pilar strategis pembangunan untuk bangsa dan negara, lebih baik, lebih nyata dan lebih profesional di segala bidang, termasuk dalam memberikan laporan kepada publik.

salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s