Lebih Kejam Kastrasi atau Lebih Sadis Pedofilia?

Hentikan Pedofilia…sekarang juga..! Dari berbagagai sumber: dok. shutterstock

Kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak di Indonesia semakin meningkat. Tragisnya lagi kekerasan tersebut berakhir maut dan cara yang keji, korban bukan saja dipaksa berhubungan seks melainkan dicabik-cabik lalu dibungkus kardus dan dibuang di dalam tong sampah atau ke dalam parit oleh pelaku.

Kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak (anak di bawah umur) di tanahair kita semakin menggila, dalam bulan Okotber 2015 saja peristiwa yang dapat terungkap hingga 20 Oktober 2015 tercatat empat kasus, yaitu :

  • Putri Nur Faiza (9) korban kekerasan seksual ditemukan tewas di Kalideres, Jakarta Barat (2/10). Pelakunya berinisial AD (39) mengaku melakukan kekerasan seks terhadap beberapa bocah lainnya, termasuk bocah pria
  • MY seorang ayah di Jakarta, menggilir putri kandungnya sejak Desember 2014 hingga Mei 2015 (selama 6 bulan) dengan alasan istrinya sedang hamil.
  • GV (16) salah satu siswi SMK di Jakarta Timur, diperkosa pemuda baru dikenalnya H(22). Peristiwa terjadi pada 15/10/2015
  • MT (46) seorang ayah dari Purwakarta memperkosa anak kandungnya (siswi SMP kelas 2) sejak 2009 bertahun-tahun lamanya dengan alasan istrinya sedang berada di luar negeri menjadi TKW.

Tidak bermaksud berharap, bisa saja kasusnya melebihi daftar di atas karena berbagai alasan kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak terjadi dimana saja hingga pelosok tanah air namun tidak terlliput berita atau belum terkuak masalahnya.

Kasus Pedofilia sesungguhnya BUKAN hal yang baru lagi, selain peristiwanya telah terjadi sangat lama diseluruh dunia juga jumlahnya terus bertambah. Rasa-rasanya Pedofilia telah terjadi hampir sama tuanya dengan tuanya sejarah peradaban di muka bum ini.

Meski demikian penyakit satu ini tetap menarik perhatian berbagai kalangan, selain mendalami apa dan mengapa seseorang terkena penyakit Paedofilia juga banyak yang mengkaji bagaimana cara menghentikannya bahkan ditingkat pejabat negara menyiapkan hukum atau aturan yang akan memberi sanksi berat kepada pelakunya.

Kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak SD di sekolah JISS merupakan peristiwa yang mengehentakkan kita. Selain itu, dari berbagai sumber, terdapat delapan pelaku peristiwa pedofilia paling menghebohkan Indonesia yaitu :

Baekuni alias Babe. Warga Negara : Indonesia
Korban : Mencabuli bocah yang merupakan anak jalanan dan membunuh 14 korbannya, 4 di antaranya dimutilasi pada 2010.
Modus : Babe yang merupakan koordinator pedagang asongan dan anak-anak pengamen jalanan mengajak korban bermain ding-dong atau memberi makan. Kemudian korban dibunuh dengan cara dijerat lehernya. Setelah tewas, korban kemudian disodomi lalu dimutilasi dan mayatnya dibuang.

Mario Manara. Warga Negara: Italia.
Korban: Mencabuli 9 anak kecil pada 2001.
Modus: Memberikan uang dan pakaian pada korban.

Grandfield Philip Robert alias Philip. Warga Negara: Australia.
Korban: Remaja usia sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA), yang semula hanya empat orang, menjadi sembilan orang sepanjang 2008.
Modus: Menyediakan meja biliar di rumahnya yang memancing para korban senang berkunjung ke rumah tersangka.

Michael Rene Heller. Warga Negara: Prancis.
Korban: Mencabuli 3 orang remaja berusia 14 tahun pada Januari hingga Juni 2001. Modus: Korban dijadikan anak angkat.

Max Le Clerco. Warga Negara: Belanda.
Korban: Mencabuli bocah berinisial K, yang baru berusia 9 tahun pada 2005.
Modus : Membujuk korbannya dengan berpura-pura berbuat baik.

MH. Warga Negara: Indonesia.
Korban: enam siswa sekolah dasar pada 2006.
Modus: Selalu memberi upah kepada korban Rp 1.000 setelah puas menyodomi korban.

Tony William Stuart Brown
Warga Negara: Australia.
Korban: Mencabuli 2 remaja, yakni IB (16) dan IM (14), pada 2004.
Modus: Membujuk korban dengan uang dan makanan.

Tjandra Adi Gunawan
Warga Negara: Indonesia.
Korban: Menyebarkan 10 ribu foto porno anak-anak di bawah umur pada Maret 2014 .
Modus: Membuat akun Facebook dengan menyamar sebagai wanita yang berprofesi sebagai dokter kesehatan reproduksi remaja.

Di Aceh juga tak lepas dari persoalan pengidap Pedofilia seperti di atas. Beberapa kasus antara lain misalnya seorang remaja, Hasbi (kini berusia 20 tahun) melakukan pemerkosaan dan pembunuhan dengan cara mematahkan leher Dina keponakannya sendiri. (saat peristiwa terjadi  Dina berusia 6 tahun). Hasbi dibantu temannya Amiruddin melakukan aksi bejat yang menuai demonstrasi di seluruh kota dan Kabupaten atas aksi biadab tersebut. Keduanya telah diproses dan menjalani hukuman.

Peristiwa di atas bukan satu-satunya peristiwa kekerasan seksual terhadap anak di Aceh. Dalam laporan Kompas.com.2013 tercatat 66 serangan kekerasan seksual terhadap anak di Aceh pada 2013 lalu. Salah satunya adalah peristiwa terhadap Dina di atas.

Mengapa seseorang terjangkit penyakit Pedofilia?

Penulis bukan psikolog dan juga bukan pakarnya, penulis hanya melihat dari sisi umum, yaitu aktifitas dan interaksi sosial pelaku saja. Ternyata penyakit itu timbul pada umumnya karena pengalaman pernah merasakan kekerasan seksual pada masa kecilnya baik yang dilakukan keluarga terdekatnya maupun oleh tetangga atau teman dekatnya bahkan teman yang baru dikenalnya.

Contoh peristiwa seperti ini dilakukan oleh Agus (27) saat tertangkap pada 9 Mei 2014. Dia  mengaku berbuat sodomi terhadap beberapa bocah lelaki di Jember Jawa Timur. Dia mengaku melakukan kejahatan dan kekerasan karena luka truma yang dialaminya saat ia masih duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar

Mungkin kasus Agus karena alasan (faktor) dendam. Selain karena dendam, sebab lainnya seseorang terjangkit penyakit ini karena memang bermaksud menipu, seperti dilakukan BD di Bengkulu (usia 28 tahun saat ditangkap polisi 17/4/2014). Pria yang sudah beristri dan punya 2 anak ini melakukan aksi terhadap bocah wanita kelas 5 SD  (teman anaknya sendiri) dengan alasan ditinggal isterinya menjadi TKW di LN. Selain itu karena dia merasa suka saja dan ia siap menikahi bocah berusia 11 tahun tersebut. (sebuah alasan yang sangat konyol, bukan?)

Selain motif di atas, sangat banyak kita temukan modus operandi yang ditrapkan oleh pelaku yang bermuara pada motif Trauma, Iseng atau Tipu-tipu. Karena sangat banyak kita tidak bahas lagi aneka modus tersebut.

Bagaimana proses terjangkitnya Paedofilia?

Menurut informasi yang penulis dapatkan dari Jorge Ponseti seorang ilmuwan Psikologi dan Psikoterapi Jerman, ia mengaku hingga kini BELUM berhasil menguak otak pelaku Paedofilia. Akan tetapi berdasarkan pengamatan terkait perilaku pengidap paedofilia, ia mengatakan beberapa hal yaitu :

Otak manusia dapat mengaktifkan mode perilaku visualisasi pada wajah seseorang. Jika lelaki dewasa normal melihat wanita seusianya dan mode otaknya memvisualisasi hal menarik tentang wanita dewasa dan memancing perilakunya maka pada pelaku Paedofilia justru tertarik jika melihat anak kecil yang seksi.

Gangguan pedofilia cuma berlaku jika seseorang memiliki hasrat seksual terhadap anak-anak dan menjalaninya. “Tapi jika sesorang cuma memiliki hasrat belaka tanpa menjadi pelaku, kita bisa menyebutnya sebagai orientasi seksual,”  katanya ponseti.

Bagaimana cara kerja batang otak pelaku paedofilia hingga menstimulir visualisasi menarik pada anak-anak hingga kini belum penulis temukan. Mungkin diantara rekan pembaca budiman berkenan menambhkan mohon tambahannya melengkapi artikel ini.

Bagaimana cara menghentikan penyakit Paedofilia?

Meski beberapa negara seperti Rusia,Turki, beberapa negara bagian AS, Korea Selatan, Australia, Denmark dan lainnya telah menerapkan UU dan sanksi berat terhadap pelaku Paedofilia nyatanya aksi tersebut semakin meningkat di negara-negara tersebut.

Indonesia baru saja menyetujui penerapan sanksi keras terhadap pelaku Pedofilia. Selasa (20/10/2015) Jaksa Agung, Muhammad Prasetyo telah memberikan keterangan pers bahwa Presiden Jokowi menyetujui terbitnya peraturan tentang anti wabah Paedofilia yakni dengan melaksanakan Kastrasi (pengkebirian) melalui bahan kimia dari obat-obat khusus. Penyuntikan atau pemberian hormon wanita ke dalam testis pria diharapkan akan menekan hasrat pria penderita Paedofilia. (bagaimana mekanisme kerjanya mohon pembaca membantu menjelaskannya).

Meski langkah tersebut ditolak beberapa kalangan anggota dewan (DPR) seperti dari PKS dan sejumlah LSM namun keputusan Presiden Jokowi disambut postif oleh banyak kalangan, misalnya :

  • Josua Manurung- Komnas PA: Kebiri Hukuman Pantas untuk Predator Anak
  • PBNU Dukung Hukuman Kebiri bagi Pelaku Paedofil
  • Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Niam Soleh mengapresiasi langkah yang diambil pemerintah

Salah satu pakar psikologi Indonesia, Sarlito Sarwono, melakukan analisa mendalam tentang daftar pembunuhan berantai di dalam dan luar negeri melalu blognya di http://www.sarlitosarwono.com/358524546 . Dari analisisnya ia memukan 5 aksis penyebab pembunuhan berantai tersebut dimana salah satunya adalah mengidap Pedophilia, yaitu :

Axis I yaitu diagnosis terhadap gagguan jiwanya itu sendiri (termasuk disini: Paraphilia, atau gangguan seksual, di mana di dalamnya terdapat Pedophilia, yaitu hasrat seksual hanya bangkit terhadap anak-anak di bawah umur); Axis II adalah tentang kelainan kepribadian (kepribadian Anti Sosial termasuk di sini); Axis III terkait dengan kondisi medis yang diperkirakan bisa berpengaruh pada Axis I dan II (penyakit, cacat fisik, trauma fisik, dan lain-lain yang biasanya menjadi urusannya dokter umum/spesialis); Axis IV adalah masalah dukungan atau gangguan dari lingkungan sosial (orangtua, kerabat, teman dekat, tetangga dll) yang juga diperkirakan besar pengaruhnya terhadap Axis I dan II dan Axis V adalah pandangan psikolog/dokter tentang prognosis pasien/subyek

Ancaman berupa hukuman dan denda yang diterapkan pada  UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yaitu minimal tiga tahun, dan maksimal 15 tahun penjara serta denda Rp300 juta ternyata tidak memberi efek jera. Kemudian pemerintah sebelumnya masih sebatas akan dan akan menerbitkan UU terbaru yang katanya memperkuat posisi UU No.23 di atas tapi tak kunjung nyata hingga saat ini.

Apakah kita harus menanti lebih lama lagi hingga generasi kita nanti dihuni oleh para penjagal dan perusak akhlak anak-anak Indonesia  yang traumatis akibat pengalaman serangan seksual pada mereka?

jadi segeralah beraksi. Jangan hiraukan anggota dewan dan sejumlah pendapat yang menolak rencana hukuman yang lebih berat pada pelaku yang pura-pura bodoh itu. Jangankan pengkebirian, mungkin hukuman gantung juga pantas rasanya.

Melanggar HAM? Oh my God.. Apakah pelaku serangan seksual terhadap anak-anak dan pembela Pedofilia tahu bahwa perbuatan mereka itu selain melanggar HAM juga sangat biadab? Mengapa harus kawatir dan menolaknya, bukan?

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s