Menggila di Suriah, Rusia Hadapi Risiko

http://thesaker.is/wp-content/uploads/2015/10/Latuff-on-Russia-in-Syria.jpg

Setelah membombardir pusat pelatihan ISIS  yang dikelola CIA dan beberapa negara Arab di Liwa Suqour al-Jabal bagian barat Aleppo pada 7 Oktober 2015 lalu, serangan udara Rusia semakin menggila. Minggu (11/10) Rusia melancarkan 63 kali serangan udara ke beberapa posisi ISIS di bagian tengah Suriah tepatnya di provinsi Hama, Latakia, Idlib dan Raqqa.

Akibat terlalu agresif menyerang, peristiwa penyusupan pesawat tempur Rusia ke zona udara Turki pun tak terhindarkan, salah satunya ke wilayah Turki yang berbatasan dengan Suriah sehingga (pernah) menuai reaksi dan ancaman Turki pada minggu lalu. Turki mengancam pesawat tempur Rusia jika terjadi hal yang sama terhadap ruang udara atau wilayahnya akan menembak pesawat tempur Rusia.

Ditengah isu terjadinya serangan udara militer Irak terhadap konvoi rombongan pemimpin besar ISIS, Abubakar al- Baghdadi di bagian barat provinsi Anbar pada Minggu (11/10), militer Turki dikabarkan telah menembak jatuh sebuah pesawat tempur Rusia yang dituding melanggar wilayahnya.

Tampaknya peringatan PM Turki, Ahmet Davutoglu minggu lalu terhadap Rusia benar-benar serius, sehingga pada Minggu (11/10) sebagaimana dilansir oleh dua media Inggris dailymail.co.uk dan express.co.uk dua F-16 Turki menembak jatuh sebuah Mig 29 Rusia di Yayladagi,  Provinsi Hatay dekat perbatasan Turki dan Suriah. Beberapa saksi mata membenarkan peristiwa tersebut sebagaimana dilansir dari sumber di atas.

Terhadap informasi dari kedua sumber di atas tentang peristiwa tertembak jatuh pesawat tempur Rusia tersebut, BELUM dapat dipastikan kebenarannya karena belum ada konfirmasi dari Rusia tentang peristiwa tersebut hingga tulisan ini diturunkan.

Sementara itu pasukan rezim Suriah (SAA) memanfaatkan betul momentum tenaga Rusia tesebut. Perlahan tapi pasti SAA mulai memperlihatkan tanda-tanda kebangkitannya setelah mendapat bantuan Rusia. Beberapa wilayah yang awalnya dikuasai ISIS kini mulai dikuasai kembali seperti penguasaan kembali pangkalan udara Kuweires di Aleppo pada Minggu 11/10.2015.

Beberapa lokasi lainnya juga telah dikuasai kembali pada hari yang sama (Minggu) seperti dataran tinggi Tal Skik di provinsi Idlib setelah memanfaatkan pengeboman intensif di daerah tersebut oleh pesawat tempur Rusia.

Di tengah kegusaran Turki terhadap serangan Rusia terhadap ISIS yang menyerempat ke ruang udaranya, peristiwa berdarah kembali menghantam Turki. Kali ini serangan bunuh diri terjadi pada 9/10/2015 di ibukota Ankara merengut nyawa 127 orang dan melukai 247 orang lainnya. Pejabat Turki menduga ISIS di balik peristiwa tersebut sebagaimana dilansir oleh dailymail.

Kembali pada fokus tulisan ini, jika benar terjadi peristiwa tertembak jatuh pesawat Rusia oleh Turki (NATO) bisa jadi ini adalah sebuah babak baru percikan api perang dunia 3 yang banyak diramalkan oleh pengamat berawal dari Timur Tengah. Karena bisa jadi Rusia akan semakin mengganas atau beringas dengan menerjunkan 150 ribu pasukannya untuk pertaruhan gengsi mereka di Timur Tengah.

Entah bagaimana cara pandang  Turki dan NATO terhadap konflik di Suriah yang terkesan membela ISIS padahal di sisi lain ISIS dituduh melakukan serangkaian teror seperti disebutkan di atas dan dijadikan musuh bersama global.

Hal yang sama entah bagaimana Rusia berani habis-habisan membela rezim Suriah saat gempuran ISIS sangat menentukan berakhirnya kejayaan rezim Bashar al-Assad.

Kini Rusia semakin mengintensifkan serangannya seolah tak perduli lagi dengan apapun protes dan siasat NATO. Intensitas sortir Rusia ke kubu ISIS kelihatannya akan semakin ditingkatkan. Jika dalam sehari saat ini terjadi 63 sortir diprediksi akan semakin meningkat, sebagaimana dijanjikan oleh pejabat Rusia bahwa semakin hari Rusia akan semakin meningkatkan serangannya seperti disebutkan salah satu pejabat militer Rusia, Andrei Kartapolov, “We will not only continue strikes… We will also increase their intensity, dikutip dari reuters.

Di sisi lain, meski serangan udara Rusia semakin menggila dan siasat Turki (NATO) semakin taktis tidak berarti ISIS mengalami kemunduran di berbagai front. Di tengah mengganasnya serangan Rusia, ISIS pada 9/10/2015 lalu justru berhasil menguasai 6  desa di sepanjang koridor dalam zona penyangga yang dibuat Turki. Koridor dan enam desa tersebut sangat strategis karena dapat menghubungkan bagian utara Aleppo dengan perbatasan Turki sebagaimana dilansir oleh nytimes 10/10/2015

Entah akan seperti apa kondisi Suriah setelah Rusia semakin menggila atau siasat NATO semakin taktis membantu pejuang Suriah, kita nantikan saja perkembangannya.

Kita tidak berharap timbulnya PD-3 dari politik dan krisis Suriah, apalagi pembicaraan setingkat kepala negara NATO dan Arab dengan Rusia telah berlangsung intensif dan kompromis.

Salah satu pertemuan terkini dari koalisi Arab dan AS adalah kunjungan Menteri pertahanan Saudi Arabia, pangeran Mohammed bin Salman bin Abdulaziz ke Rusia. Pangeran Mohammades bin Salman menyatakan dukungannya pada Moskow dalam memerangi ISIS yang disampaikan saat bertemu Vladimir Putin di Sochi, Rusia 11/10/2015.

KSA bukan satu-satunya penentu berakhirnya perang Suriah akan tetapi sikap netralnya pada kondisi seperti ini memperlihatkan adanya kemajuan dalam upaya menyamakan persepsi melawan ISIS meski tahap berikutnya adalah bagaimana menghentikan Assad menjadi siasat paling utama KSA juga NATO dalam masalah Suriah.

Salam AGI

Sumber Ilustrasi 

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s