Duri – Pekanbaru, Benar-benar “Duri” bagi Riau

Tampaknya perjalanan darat lintas timur dari Sumatera Utara ke Riau (Pekanbaru) saat ini bukan lagi perjalanan yang menyenangkan.

Setidaknya sejak 4 bulan terakhir berbagai informasi dari berita secara intensif membeberkan fakta tentang luluh lantaknya jalur Kandis ke Duri yang rasanya seperti neraka bagi semua pengguna jalan di sekitar lokasi tersebut akhir akhir ini..

Penulis merasakan sendiri bagaimana rumitnya melewati jalur Kandis- Minas (dari atau ke Pekanbaru) saat perjalanan dari Banda Aceh Selasa (6/10) lalu.

Sekitar pukul 03.15 kendaraan penulis tumpangi berada di posisi terakhir sebuah antriaan. Setelah menanti beberapa menit tidak ada pergerakan penulis coba bergerak melewati satu persatu kedaraan antrian berlapis dua bahkan lapis 3. Rasa-rasanya tidak habis-habisnya melewati ribuan kendaraan truk, tangki, kendaraan pribadi, bus aneka jenis dan ukuran hingga akhirnya “finish” di sebuah lokasi tepatnya di Kandis.

Setelah tak bergerak 3 jam barulah pukul 06.30 antrian dari arah Medan diberi kesempatan bergerak, namun lagi-lagi berhenti berpuluh kali menanti kesempatan bergerak (gaya buka tutup jalur) yang dilakukan oleh masyarakat dan pemuda setiap desa di lintasan Kandis – Duri sepanjang 65 km.

Perjuangan belum selesai, dari Kandis ke Minas beberapa kali kemacetan panjang masih terjadi sehingga perjalanan sejauh 92 km dengan waktu tempauh normal 1 jam saja menjadi 3 jam.

Total waktu macet yang penulis rasakan selama 6 jam belum seberapa dibanding sejumlah pengguna lain yang tidak berani berspekulasi menerobos antrian yakni 12 jam bahkan lebih seperti yang dialami sopir truk berat dan bus umum berbadan besar.

Saat kembali dari Pekanbaru Jumat (9/10) sekitar pukul 17 WIB, persoalan yang sama pun terjadi kembali. Kali ini memaksa penulis ikut menorobos jalan pintas. Awalnya penulis ragu menerobos jalan pintas karena kondisi kendaraan yang penulis tumpangi kurang kompatibel dengan perkiraan kondisi medan sepanjang jalan pintas.

Mempertimbangkan waktu dan kepentingan lainnya akhirnya penulis ikut meneobos jalan pintas di jalur perkebunan yang dipandu oleh joki yang rela mengantarkan penulis sampai di ujung jalan lintasan yang -katanya- sudah bebas sampai ke Medan ternyata masih terjebak macet kembali meski hanya 2 jam saja.

Perjalanan menerobos lintasan perkampungan dan perkebunan juga terpaksa dilakukan karena menurut informasi warga yang melintas dengan sepeda motor, di desa Semunai ada sebuah truk terguling dan melintang di tengah jalan yang sempit sehingga tidak ada satupun kendaraan yang dapat meloloskan diri meski mobil ukuran kecil sekalipun kecuali sepeda motor.

Pemandu (joki) dua orang anak muda bersedia mengantar penulis memasuki jalan berbatuan terjal dan berbukit hingga memotong tiga kali jalan Aspal (nasional) masuk kembali ke perkebunan sampai akhirnya tiba kembali di titik jalan nasional yang katanya sudah bebas macet disebut di atas.

Menariknya adalah kisah menerobos jalan perkebunan yang juga dilalui oleh sejumlah kendaraan ukuran sedang dan kendaraan pribadi lalu lalang sekitar Semunai. Di setiap persimpangan berdiri sejumlah anak muda menerima kutipan dari setiap kendaraan yang melintas minimal 2000 rupiah di setiap simpang jalan kampung atau perkebunan.

Beberapa mobil juga terlihat dipandu oleh joki lainnya hingga tiba ke jalan nasional ke arah Pekanbaru. Sama seperti joki lainnya, Joki yang penulis gunakan sangat bertanggung jawab mengarahkan lubang bahkan menghentikan kendaraan lain agar kendaraan punulis tumpangi dapat masuk lebih dahulu di jalan sempit terjal, berbatu dan licin akibat hujan beberapa jam sebelumnya.

Setelah tiba diujung lintasan, penulis sodorkan Rp50.000 kepada mereka yang telah berjasa menuntun arah menuju jalan pintas daripada terjebak antrean sampai pagi. Meskipun tanpa joki kita hanya mengeluarkan 20 ribu saja di 10 titik persimpangan jalan kampung tapi rasa-rasanya tarif itu masih jauh lebih murah karena penulis telah kembali lagi ke jalur lintas sumatera ke arah Medan dan seterusnya ke Banda Aceh.

Menurut beberapa informasi, kondisi seperti itu telah terjadi sejak 2 atau 3 tahun terakhir, namun yang paling parah adalah peristiwa pada 9 Oktober lalu saat penulis kembali dari Pekanbaru menuju Medan.

Peristiwa terguling atau kecelakaan truk pengangkut barang, tanki dan bus umum sangat sering terjadi di ruas jalan Minas – Duri – Kandis untuk pelebaran jalan dan peninggian serta membuat jalan semen beton khususnya di Kandis.

Disebutkan, biaya Proyek Multi Years pembangunan ruas Jl Pekanbaru-Kandis-Duri-Dumai (49 km) Rp299,8 miliar telah digelontorkan sejak 2013 untuk mengatasi persoalan akut dan menahun di Duri yang rasanya benar-benar berduri bagi pengguna jalur tersebut sejak beberapa tahun terakhir.

Di sisi lain, hampir bersamaan sejak 2012 lalu pemerintah (Kementerian Pekerjaan Umum) telah mengalokasikan anggaran dari APBN sebesar 99,88 triliun untuk membangun jalan tol lintas sumatera berkonsep HGH (Higt Grade Highway) untuk ruas sepanjang 2700 km dari Banda Aceh ke Bandar Lampung.

Di Riau, posisi jalan HGH tersebut berdekatan dengan jalan yang sedang mati-matian dibangun saat ini misalnya di Kandis saat dibangun saat ini. Jika HGH dibangun di Riau (Kandis) posisi HGH nantinya bukan pada jalan sedang dibangun saat ini. Sumber : skyscrapercity.com

Sejak 21 Nopember 2008, tiga gubernur Riau telah pergi dan datang silih berganti, nasib parah jalan Kandis – Duri tetap penuh onak dan duri. Meski saat ini sedang dikerjakan agar lebih baik tapi antisipasi cara mengurai kemacetan mengeliminir risiko kecelakaan terhadap kendaraan dan pengguna jalan kelihatannya kurang diwaspadai. Banyak terjadi peristiwa terjungkalnya kendaraan ke parit dan rawa semak belukar hingga menimbulkanl kemacetan parah tidak tertangani dengan segera.

Di sekitar Kandis – Duri hingga Minas sepanjang lebih kurang 80 km banyak ditemukan kendaraan (truk) yang terguling atau kerusakan teknis diberi “makan” rumput dedaunan mengganti segi tiga pengaman di jalan raya. Entah dari mana asal muasalnya penggunaan rumput dan dedaunan telah digunakan sopir yang mgogok kendaraannya menggantikan segitiga pengamanan di kalangan pengguna jalan raya.  Tatatertib dan aturan  lalulintas sepertinya BELUM ada perubahan tentang penggunaan rumput, dedaunan, tempat sampah atau ban bekas pada kendaraan yang sedang mogok di jalan raya.

Setelah langit Riau tercemar oleh pembakaran lahan dan hutan yang berdampak pada aneka dimensi sosial, serangan berikutnya adalah lumpuhnya bandara Sultan Kasim Syarif yang terpaksa ditutup operasionalnya sejak bulan lalu, kini peristiwa macet akut dan menahun yang mempengaruhi perekonomian Pekanbaru atau Riau melengkapi persoalan masyarakat Riau.

Ironis sekali, dalam situasi terakhir nyaris tidak terlihat petugas kepolisian mengatur lalulintas apalagi tiba di lokasi peristiwa kecekalakaan dan kerusakan teknis sejumlah kendaraan. Yang terlihat justru masyarakat dan para sopir menjadi polisi mengatasi persoalannya sendiri.

Ketika ditanyakan pada salah satu masyarakat mengapa Polisi tidak terlihat di lokasi kecelakaan dan mengurai kemacetan, sesorang mengatakan bahwa karena pembangunan jalan tersebut adalah bagian dari proyek yang ditenderkan sehingga polisi tidak merasa punya kewajiban untuk itu..

Jawaban yang menyedihkan sekali.. Padahal TUGAS POKOK Polisi adalah :

  1. Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat;
  2. Menegakan hukum, dan
  3. Memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

Di dalam menjalankan 3 TUGAS POKOK di atas, Polisi mempunyai 12 tugas utama lainnya, salah satunya adalah : menyelenggaran segala kegiatan dalam menjamin keamanan ketertiban dan kelancaran lalu lintas di jalan.

Lebih lanjut lagi tentang tugas pokok di atas, Polisi masih mempunyai 13 wewenang lainnya antara lain adalah : mencegah dan menanggulangi tumbuhnya penyakit masyarakat;

Kabut dan asap telah menyebabkan sejumlah korban jiwa dan terganggungya aktifitas sosial dan ekonomi masyarakat Riau di mana-mana, Tak terhitung berapa kerugian non material yang ditanggung masyarakat Riau sejak 3 bulan terakhir dan telah berulang kali terjadi mirip ritual tahunan. Padahal negara merupakan pihak paling bertanggung jawab memberi dan menciptakan lingkungan bersih pada warganya.

Lumpuhnya bandara SSK Pekanbaru -sementara waktu- telah menambah sulitnya aktifitas warga meskipun masih ada jalur lainnya menuju Pekanbaru atau kabupaten lainnya, setidaknya lumpuhnya bandara utama telah mempengaruhi aktifitas sosial dan ekonomi warga Riau pada umumnya dan Pekanbaru khususnya.

Kini hancur leburnya jalan lintas timur telah terjadi berbulan-bulan bahkan menahun telah melengkapi penyakit sosial di Riau di mana sejumlah perumahan warga di sisi kiri dan kanan jalan rusak sepanjang Kandis- Duri dan Minas menjadi terganggu aktifitasnya telah sangat lama.

Apakah ke tiga hal sistematis tersebut merupakan bencana alam sehingga kesannya sengaja dibiarkan sembuh dan teratasi dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu memulihkan dirinya sendiri? Seperti masalah kabut dan asap misalnya, saat penulis berada di Pekanbaru 9 dan 10 Okotber, cuaca saat itu mendadak cerah dan bersahabat di Pekanbaru dan sekitarnya, tak tampak kabut berarti sama sekali di kota Pekanbaru dan kecamatan sekitarnya. Dari Kandis dan ke Pekanbaru cuaca di langit pada malam macet itu terlihat bintang terang benderang..

Tak tahulah kenapa kesannya dibiarkan, nyatanya saya telah melihat ke lokasinya sendiri, Riau sanggup bertahan walaupun 3 masalah sosial di atas telah terjadi sangat lama dan telah terjadi secara sistematis yang sewajarnya memerlukan perhatian aparatur negara secepatnya.

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s