Menghargai Pengungsi Rohingya Meski Berakhir Tragis Untuk Aceh

Informasi terhangat tentang nasib pengungsi Rohingya di Aceh saat ini adalah dugaan peristiwa pelecehan seksual terhadap 4 wanita dan 6 pria Rohingya yang mencoba melarikan diri dari tempat penampungannya pada Senin lalu (28/9). Aksi mereka tercium lalu ditangkap oleh sejumlah orang tak dikenal tak jauh dari lokasi penampungan.

Mereka mengaku ditelanjangi lalu empat wanita mengaku diperkosa oleh beberapa pria yang tidak mereka kenal, sementara enam pria Rohingya hanya ditelanjangi saja (dibuka bajunya).

Benar tidaknya perisiwa pemerkosaan terhadap wanita-wanita Rohingya tersebut akan dibuktikan oleh hasil visum yang sedang diolah tim kesehatan dari RSUD Cut Meutia, Lhokseumawe dan penyelidikan Polisi. Sambil menantikan hasinya, mari kita telusuri ke belakang kisah nasib Rohingya yang bermimpi mencari kehidupan lebih layak sehingga kabur dari negerinya hingga terdampar di Aceh dalam beberapa poin penting berikut :

Pelarian Rohingya ke negeri impian

Sekadar mengulangi, pada umumnya warga Muslim Rohingya meninggalkan tanah airnya (Myanmar) akibat tidak tahan dengan sikap rasis pemeirntah dan warga mayoritas Myanmar yang beragama Budha. Sejumlah peristiwa berdarah telah datang silih berganti ejak puluhan tahun lalu sehingga banyak warga Rohingya berikutnya terinspirasi oleh keberhasilan Rohingya lainnya yang sukses di negeri impian.

Peristiwa pembantaian era Myanmar modern terhadap Rohingya paling berdarah terjadi pada 29 Mei 2012 hingga 3 Juni 2012. Akibat peiristiwa tersebut banyak warga Rohingya yang memilih melarikan diri dari Myamnar mencari negeri lain yang lebih memberi harapan hidup yang lebih baik (negeri impian) seperti Malaysia, Indonesia, Australia dan Jepang.

Kondisi itu dimanfaatkan betul oleh mafia penjualan dan penyelundupan manusia yang berbasis di Thailand yang memiliki jaringan yang rapi di negara asal pengungsi. Jaringan mafia menawarkan aneka jasa memikat mulai dari lowongan pekerja hingga mimpi perlakuan istimewa sejumlah negara terhadap Rohingya sebagaimana pernah ditulis di sini Bisnis penyelundupan pengungsi Rohingya dan Bangladesh

Rangkaian Manusia Perahu Tiba di Aceh

Minggu pagi (10/05/2015). Tim SAR Aceh mengevakuasi sekitar 150 orang yang diduga warga negara Myanmar yang terombang-ambing di perairan laut Aceh Utara. Sumber : article.wn.com

Masih pada hari yang sama, sebuah kapal sejenis tongkang berisi 582  manusia perahu (Myamnar dan Bangladesh) yang sehari sebelumnya dilepas dari perairan Thailand oleh petugas penjaga pantai Thailand  lolos masuk perairan Aceh dan sehari kemudian mendarat di pantai Aceh Utara.

Pada 15/5/2015, nelayan Aceh membantu manusia perahu yang terancam mati di tengah laut (Selat Malaka). Kapal mereka ditarik ke pantai (Aceh Timur). Dari kapal tesebut ditemukan 421 etnis bengal (Bangladesh) dan 256 etnis Rohingya.

Fakta lainnya, pada 20/5/2015, lagi-lagi nelayan Aceh melakukan “penyelamatan heroik”  meski ada larangan oleh TNI AL. Dari kapal tersebut terdapat 43 warga asal Bangladesh dan 399 etnis Rohingya mendarat di panai Julok, Aceh Timur.

Tidak terhitung berapa jumlah imigran gelap asal Rohingya dan Bangladesh yang masuk dalam jumlah kecil di berbagai pantai di Aceh setelah tanggal di atas. Intinya, terdapat seribuan lebih imigran gelap atau manusia perahu yang mengaku sebagai pencari suaka politik asal Myanmar dan Bangladesh yang mendarat di pantai Aceh.

 Penerimaan warga Aceh

Berita bombastis dan dramatis kondisi manusia perahu di atas kapal kayu yang terkatung-katung berhari-hari sangat menyentuh sensor nuarani (rasa iba) warga Aceh, terlebih lagi sebagian besar mereka adalah muslim. Kontan saja seluruh Aceh bergemuruh memberi perhatian ke pengungsi Rohingya khususnya.

Perhatian dalam aneka bentuk dari seluruh lapisan masyarakat dan pejabat daerah mengalir untuk seluruh pengungsi di Aceh. Seakan berlomba-lomba memberi bantuan yang terbaik itulah yang terjadi saat itu. Beberapa kegiatan yang dapat dicatat pada tulisan ini adalah :

  • Sekelompok orang mengenakan jaket mahasiswa mengumpulkan sumbanan masayarakat di jalan utama, protokol dan lintas provinsi.
  • Penyediaan tempat (shelter) untuk pengungsi yang memenuhi standard sanitasi termasuk fogging anti nyamuk berkala.
  • Pengumpulan pakaian dan bahan makanan yang akan diberikan untuk pengungsi
  • Pembuatan dapur umum untuk makan pengungsi
  • Penyediaan layanan medis gratis oleh pemerintah daerah setempat
  • Aneka informasi dan berita di media massa, blog serta portal (situs) berita online tentang semangat membantu pengungsi menggema serasa tak habis-habisnya.
  • Penduduk setempat berlinang air mata memperlihatkan rasa haru dan prihatin atas cerita nasib pengungsi sejak dari negara asalnya hingga terdampar di lokasi tesebut. Bahkan menteri sosial, Khofifah Indera Parawangsa pun tak mampu membendung air matanya
  • Propaganda “Save Rohingya” muncul di mana-mana. Beberapa situs tampaknya sengaja dibuat khusus untuk mendukung Rohingya meskipun beritanya di dalamnya hanya sampai akhir Mei 2015. Tidak terlihat lagi perkembangan informasi tentang Rohingya pada Juni, Juli dan seterusnya pada situs aksi Save Rohingya tersebut. Lihat saja dua situs ini misalnya, http://www.acehpedulirohingya.org/  atau   hanya berisi informasi tentang Rohingya sampai Mei 2015 saja saat tulisan ini ditayangkan (2/10/2015).
  • Masa melakukan demo dukungan terhadap pengungsi Rohingya sering dilaksanakan di Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh.
  • Televisi dan media lokal tak henti-hentinya menayangkan suasana dan kondisi pengungsi Rohingya. Meida nasional juga kerap menginformasikan berita tentang Rohingya sehingga akan terasa tersisih jika ada yang kurang sependapat dengan aksi tersebut pada saat itu.

Aneka aksi Rohingya di Aceh

Waktu terus berjalan. Tiga bulan pertama telah dilalui dengan baik oleh pengungsi sehingga suasan Idul Fitri di tempat pengungsian pun menjadi kenangan tak terlupakan pengungsi dan masayarakat setempat. Suasana haru biru masih menghiasi tali persaudaraan melebih saudara sekandung sekalipun rasanya.

Warga Aceh sangat menghormati para pengungsi dengan memperhatikan aneka keluhan dan kekuranga standar pengungsi. Bahkan perlindungan keamanan juga diberikan karena khawatir terjadi apa-apa pada nasib pengungsi misanya anak-anak yang diculik atau wanita yang diperlakukan tidak sesuai syariat bahkan pria Rohingya yang tidak mendapat makanan dan pakaian dan sedang sakit segera memdapat pertolongan.

Dalam soal menu makanan pun rasanya diperlakukan istimewa. Meski tidak setiap hari tersedia gulai kambing tapi menu tersebut kerap disediakan oleh dapur umum atau dari bantuan warga.

Akan tetapi, secara lambat tapi pasti sebagian kecil pengungsi Rohingya mulai memperlihatkan tanda-tanda aslinya. Dimulai dari peristiwa kecil-kecilan sampai hal besar, seperti :

Pada 25/5/2015, usai Shubuh, sejumlah pengungsi asal Bangladesh nyaris berbuat ulah di lokasi penampungan Pelabuhan Kuala Langsa, Kota Langsa, Nanggroe Aceh Darussalam. Entah pasal apa, sejumlah imigran gelap Bangladesh menyerang  lokasi pengungsi Rohingya yang terpisah 100-an meter saja di lokasi penampungan yang sama di Kuala Langsa.

Selanjutnya pada Senin (1/6/2015) di kamp penampungan Birem Bayeum, Aceh Timur. sebanyak 417 pengungsi akan mendapat menu makan siang istimewa, gulai kambing khas Aceh. Panitia menyiapkan 500 kotak yang berarti melebihi dari jumlah 417 pengungsi. Apa yang terjadi? Ternyata malah tidak cukup, padahal saat itu masih ada 30 antrian lagi untuk menerima makanan tersebut. Hasil penyelidikan ternyata ada pengungsi yang berulang ulang antri sehingga mengurangi jatah temannya yang belum kebagian.

Pada 7/7/2015, sebanyak 7 Bangladesh  berupaya kabur ala ninja dari tempat pengungsian di Blang Mangat, Lhokseumawe.

Pada 12/7/2015, saat shalat tarawih sedang dilaksanakan 10 Rohingya memilih kabur dari tempat penampungan di Bayeun, Kabupaten Aceh Timur. Hasil penyelidikan dari 3 yang tertangkap kembali mengatakan temannya kabur menggunakan mobil Avanza yang menjemput mereka pada saat yang telah ditetapkan ketika orang sedang shalat Taraweh.

Pada 12/8/2015, empat pemuda  Rohingya ditangkap petugas karena sedang fly akibat menghisap ganja. Peristiwa seperti itu juga terjadi kembali pada 27/8/2015 ketika seorang pengungsi Rohingya sedang on di kamarnya  dan ditangkap petugas.

Pada 14/8/2015, sebanyak 4 wanita rohingya dan 2 pria serta seorang bayi berusaha melarikan diri ke Medan bersama dua orang yang bertugas menjemput yang kemudia ditangkap oleh Polsek Rantauselamat, Aceh Timur.

Pada 1/9/2015, sebanyak 15 Bangladesh menggunakan angkutan umum mini bus L-300 kabur dari tempat pengungsian di di bekas kantor Imigrasi Lhokseumawe, Desa Punteut, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe.

Pada 21/8/2015, pengungsi rohingya bikin gaduh sesama Rohingya. Sejumlah lelaki dewasa mengeroyok seorang remaja Rohingya berusia 14 tahun karena dituduh membocorkan rahasia rencana aksi pelarian kelompok tersebut kepada petugas jaga

Pada 7/9/2015, sebuah mobil yang berusaha membawa kabur 4 wanita Rohingya dirusak massa dari warga Desa Paya Pelawi Kecamatan Birem Bayeun, Aceh Timur.

Terakhir pada 29/9/2015 ratusn pengungsi Rohingya berusaha kabur dari kamp penampungan sementara di Desa Blang Adoe, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara. Aksi tersebut terjadi setelah merebak isu perkosaan terhadap 4 wanita pada 28/9/2015 malam yang berusaha kabur bersama 6 pria Rohingya lainnya tapi “digagalkan” oleh warga yang tidak diketahui identitasnya.

Menarik kita kaji dari peristiwa terkahir disebut diatas adalah temuan beberapa informasi yang aneh dalam peristiwa tersebut, yaitu :

  1. Awalnya Pengungsi Rohingya lainnya kompak menolak ke empat wanita tersebut diajak visum. Mereka melarang wanita yang disebut korban perkosaan ke rumah sakit. Setelah negosiasi dan ada jaminan dikawal baru ke 4 wanita tadi menjalani visum. Meski hasil visum belum diumumkan (saat tulisan ini dibuat) tapi berdasarkan informasi Kapolres Lhokseumawa, AKBP Anang Triarsono, hingga saat ini Polisi belum menemukan bukit adanya perlakuan pelecehan seksual terhaap wanita Rohingya tersebut. Sumber : portalsatu.com
    Namun, untuk sementara waktu pihaknya belum berhasil menemukan bukti yang mengarah kepada perlakuan pelecehan seksual kepada para pengungsi wanita Rohingya. – See more at: http://archives.portalsatu.com/news/polres-lhokseumawe-masih-selidiki-kasus-dugaan-pelecehan-seksual-terhadap-wanita-rohingya/#sthash.m3GiEEhQ.dpufSumber :
  2. Informasi adanya perkosaan terhadap ke 4 wanita tersebut telah menyeruak di kamp pengungsi sebelum mereka tiba kembali di kemp pengungsi yang berjarak lebih kurang beberapa ratus meter dari lolasi kejadian.
  3. Aksi berangkat ramai-ramai tersebut terjadi menjelang kunjungan utusan PBB untuk pengungsian (UNHCR). Koordinator Working Group Shelter Khuzaimah dan UNHCR datang ke penampungan, tetapi tak bisa masuk karena gerbang pagar digembok. Apakah hal ini bertujuan untuk menduniakan issu tersebut sehingga seluruh dunia memberi stigma tidak bagus untuk warga Aceh? Apalagi JIKA ternyata wanita tersebut memberikan Laporan Palsu.. Apa daya dunia terlanjur memberi stigma minor terhadap warga Aceh yang mendapat nilai brutal, tidak bermoral.

Kita tentu setuju JIKA hasi visum ternyata BENAR pantaslah mereka resah dan berontak dan pelakunya harus ditindak, tapi jika TIDAK BENAR maka akan semakin lengkaplah aksi tipu-tipu pengungsi Rohingya menyikapi sambutan “Selamat Datang” di tanah impian mereka. Padahal beberapa pengungsi pernah melontarkan kalimat “Lebih baik mati di Aceh daripada kembali ke negerinya. Seperti terlontar dari ucapan M Husen dan didukung temannya saat baru mendarat di Aceh beberapa waktu lalu

“Aku tak mau pigi (pergi). Kalau mau pigi antar lebih baik mati di Aceh. Kalau diantar ke sana dalam 1 atau 2 hari sampai 1 bulan kita akan mati,” kata Muhammad Husen.

Aksi peduli dan rasa empati melebihi saudara sendiri yang diperlihatkan warga Aceh kini menuai hasilnya. Aksi heroik nelayan Aceh pun rasanya sia-sia belaka jika tidak terindikasi berkolaborasi. Begitu juga dengan aksi peduli yang diperlihatkan sejumlah media online yang kini hanya berisi informasi itu itu saja sejak akhir Mei 2015 lalu tanpa mengupdate informasinya lebih lanjut tentang nasib Rohingya yang mereka perjuangkan sebelumnya.

Kita tentu memahami juga bahwa tidak semua pengungsi Rohingya itu berperangai buruk, pasti ada yang tulus menerima uluran tangan serta perhatian warga Aceh, terutama wanita dan anak-anak. Sayangnya mereka yang tahu berterimakasih ini “tersapu” oleh ganasnya arus kuat yang menginginkan seluruh pengungsi Rohingya segera minggat dari Aceh untuk mencari negeri impian lainnya.

Itu artinya, mafia peneyelundupan orang Rohingya akan mendapat “proyek” baru kembali… “Mau tinggal di sini diperkosa lalu mati atau kita berangkat ke negeri impian lain,?” mungkin cukup sebut kalimat atau bertanya seperti itu Sapi perahnya tetap mengeluarkan susu demi susu kembali, meskipun beberapa diantaranya mungkin mengeluarkan tetetasan susu yang terakhir..

Tragis memang…

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s