Dusta Pengungsi Rohingya Pada Aceh, Melatih Sabar dan Tawakkal Kita

http://www.utusan.com.my/polopoly_fs/1.93093.1431882009!/image/image.jpg_gen/derivatives/landscape_650/image.jpgEntah karena saat ini sedang trend aksi tipu menipu, pelaku tipu-tipu pun tidak kenal batas ruang dan waktu. Dari anak kecil sampai orang tua masih banyak berperangai yang satu ini. Dari pejabat kelas kakap sampai rakyat jelata pun tak asing lagi rasanya  kita temukan perangai negatif tersebut.

Tak pandang bulu, pengungsi Rohingya pun ternyata melakukannya. Salah satu berita yang paling hot di media lokal saat ini adalah tuduhan perkosaan dan pelecehan seksual terhadap 6 wanita Rohingya yang mencoba melarikan diri (kabur) dari kamp Blang Adoe, Aceh Utara, Aceh pada 28/10/2015 tengah malam sebagaimana telah ditulis di sini Apresiasi Untuk Rohingya, Tragis Untuk Aceh

Sekadar mengulangi, pada tulisan terdahulu disebutkan 6 wanita Rohingya gagal melarikan diri karena tertangkap warga tak dikenal. Ke 4 dari 6 wanita mengaku diperkosa sedang 2 wanita lainnya mengaku digonyoh-gonyoh (diraba-raba paksa).

Informasi tersebut merebak cepat di kemp tempat mereka melarikan diri bahkan sebelum mereka kembali ke barak asalnya sehingga menuai protes dan marah penghuni barak pengungsi Rohingya. Akibatnya, 300-an penhuni lainnya langsung  protes dan memaksa minggat dari kemp keesokan harinya (pagi 29/10/2015).

Masih dalam  tulisan terdahulu,  banyak ditemukan informasi aneh beraroma rekayasa pada kasus tersebut sehingga penulis menyimpulkan –pada tulisan sebelumnya– bahwa tidak ada indikasi yang mengarah pada perbuatan asusila tersebut. Bahkan peristiwa tersebut menambah serangkaian fakta bahwa pengungsi Rohingya membuat dalih melalui skenario demi skenario yang bertujuan dapat melarikan diri atau ditampung kembali oleh agen atau jaringan yang membawa mereka keluar dari negarnya.

Kepala Polisi Resort Lhokseumawe (Kapolres) menyampaikan hasil visum menunjukkan negatif perkosaan. “Jadi, bagaimana lagi kasus ini dilanjutkan, jika ahli yang memvisumnya sudah menegaskan bahwa tidak terjadi pemerkosaan terhadap mereka,” ujar Kapolres Lhokseumawe, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Anang Triarsono, Jumat, 2 Oktober 2015.Sumber :tribunnews.com

Akibatnya, Polisi tidak meneruskan lagi perkara atas tuduhan tersebut karena tidak cukup bukti. Bahkan ada kemungkinan pembuat laporan palsu bersama timnya akan diproses sesuai aturan dan hukum yang berlaku JIKA tidak dimaafkan oleh warga setempat atau pemerintah daerah setempat.

Jenis dan kadar Tipu-tipu

Arti “Tipu” tentu sudah banyak yang tahu. Sekadar mengulangi,  dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) “Tipu” adalah kata benda yang mengandung arti “perbuatan atau perkataan yg tidak jujur (bohong, palsu, dsb) dng maksud untuk menyesatkan, mengakali, atau mencari untung; kecoh.

Aneka turunan dari kata kerja (verb) “menipu” telah berevolusi sedemikian rupa sehingga muncullah kata kerja jenis menipu yang beraneka ragam bentuk dan coraknya tapi kadarnya tetap sama, 100% menipu, yaitu : Tipu Daya; Tipu Muslihat; Bohong; Dusta atau Gombal.

Memang benar, masing-masing sebutan di atas mempunyai koniotasi yang sama, tapi penempatannya saja yang perlu diperhatikan.

  1. Tipu, berkaitan dengan kerugian yang dialami pihak yang merasa tertipu
  2. Tipu Daya berkaitan dengan berbagai daya upaya untuk menipu dengan tujuan apapun
  3. Tipu Muslihat, berkaitan dengan siasat, konsepnya amat halus dan biasanya digunakan pada perang
  4. Bohong, berkaitan dengan kondisi yang netral bahkan biasa saja tidak menimbulkan kerugian pada orang yang dibohongi
  5. Dusta, berkaitan sengaja memberi informasi yang salah tentang sesuatu (saat seseorang mengucapkannya)
  6. Gombal, berkaitan dengan penilaian melebihi dari porsinya (melebihi dari realitanya) untuk meminta sesuatu
  7. Bual, berkaitan dengan hal – hal yang tidak serius atau tidak penting bagi orang lain

Berdasarkan uraian di atas, pengakuan yang diberikan oleh sekolompok pengungsi Rohingya pada kasus di atas termasuk tipun bergenre Dusta dan Tipu Daya. Meski tidak ada kerugian material bagi yang tertipu akan tapi mencoreng nama baik orang yang orang lain yang dituduhkan, misalnya warga yang menangkap mereka melakukan perkosaan terhadapnya.

Tipu bersama seluruh “genre” disebut di atas juga mengandung kadar yang lemah sampai tertinggi. Seperti emas dn bellian menyandang kadar karat tertentu dan alkohol yang mengandung persentase tertentu atau kondisi udara yang mengandung kadar tertentu, tipuan pun demikian halnya, ia memiliki ranking bobot tertentu.

Jika diurut berdasarkan kadar konotasi negatif terendah hingga tertinggi susunannya adalah :

  1. Bual
  2. Gombal
  3. Bohong
  4. Dusta
  5. Tipu Muslihat
  6. Tipu Daya
  7. Tipu

Mungkin tanpa kita sadari kita terpaksa berbohong pada pasangan kita demi menjaga persaannya agar tidak gundah gulana atau cemas. Atau terpaksa melakukan tipu dengan SENGAJA pada keluarga kita yang sedang sakit keras bahwa kondisinya baik-baik saja. Meski jenis tipu seperti itu masih dapat ditolerir namun apakah kita menganggap hal tersebut sebagai hal yang biasa, padahal bisa jadi kebiasaan menjadi hal biasa suatu saat nanti?

Psikopat dan Sosiopat akibat kebiasaan Tipu

Menurut informasi, di dunia ini terdapat 1% orang yang suka berbohong. Oleh karenanya, di sekitar kita sangat banyak orang suka berbohong bahkan menjadi semacam hobi.

Mereka yang termasuk golongan suka berbohong adalah orang-orang yang mengalami kelainan kepribadian yang melanggar norma-norma sosial (anti norma sosial), hukum dan agama. Mereka dengan sengaja atau tanpa sengaja (sering) merugikan orang terdekat dengannya. Mereka seperti ini disebut Psikopat atau Sosiopat.

Ciri-ciri umum psikopat atau sosiopat banyak ragamnya sesuai dengan keragaman pendapat ahlinya. Salah satu ciri psikopat dan sosiopat dapat dilihat dari sudut pandang sosiolog dan kriminolog yaitu Profesor Scott A. Bonn. Phd dari Drew University, Madison – Ner Jersey, AS di sini Psychologytoday.com, yaitu :

  • Mengabaikan hukum dan adat istiadat dalam sosial masyarakat
  • Mengabaikan hak orang lain
  • Tidak ada rasa menyesal karena bersalah
  • Cenderung berperilaku kekerasan

Berdasarkan uraian di atas tentang penyakit kelainan jiwa jenis tipuan dan kaitannya dengan aksi tipu-tipu pengungsi Rohingya di Aceh, mungkinkah sebagian kecil pengungsi tersebut mengalami penyakit gangguan jiwa Psikopat kadar rendah? Mungkinkah mereka terpaksa menipu karena ada tekanan atau karena alasan ingin bebas kembali ke negeri asalnya?

Kita tentu TIDAK menjeneralisasikan stempel psikopat pada seluruh pengungsi Rohingya. Pasti masih banyak Rohingya yang tidak terlibat aksi tipu-tipu yang selama ini terjadi di Aceh. Mereka yang menipu pun bisa jadi terpaksa menipu karena depresi, karena putus asa atau ditekan oleh mafia yang berada dalam barisan pengungsi. Masih banyak anak-anak, remaja dan wanita baik-baik yang polos memerlukan bantuan dan perhatian dari kita semua. Kemana mereka akan pergi jika warga setempat kompak ramai-ramai mengusir mereka, bukan? Tentu kasihan sekali..

Oleh karenanya, atas dasar prinsip kemanusiaan dan tanggung jawab sosial, sebaiknya pemerintah Indonesia atau pemerintah daerah hanya dapat menerima pengungsi yang memang berharap menjadi warga Indonesia yang baik yang mau menerima aturan sosial dan budaya setempat, taat pada aturan negara dan ajaran agama. Selebihnya segera dideportasi saja meski tidak semudah yang kita bayangkan proses deportasi tersebut,

Meski sebagian kecil pengungsi Rohingya memperlihatkan aksi tipu-tipu yang membuat kita  kecewa mendalam namun sebaiknya JANGAN sampai hal itu membuat kita ikut-ikutan membenci lalu berlaku kasar pada mereka. Sebab, selain mereka juga manusia yang membutuhkan perhatian pertolongan juga hal tersebut tidak sesuai dengan ajaran agama.

Lagi pula jika ditelusuri lebih mendalam mungkin saja mereka berperilaku mengecewakan karena konndisi memaksa atau dipaksakan oleh segelintir geng mafia yang menyusup diantara pengungsi dengan wajah memelas tapi bodinya gempal berisi saat mendarat pertama sekali di pantai kita.

Salam AGI

Gambar ilustrasi :

Sebahagian wanita Rohingya, beratur ketika ingin mengambil sarapan di kem pelarian sementara di Kampung Kuala Cangkoi di Lhoksukon, Aceh, – See more at: http://www.utusan.com.my/berita/luar-negara/myanmar-enggan-akui-kesilapan-1.93094#sthash.tznxjj1M.dpuf

REUTERS

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s