ISIS Tipu AS, Sebuah Perbandingan Teuku Umar Tipu Belanda

SANLIURFA, TURKEY - OCTOBER 6 : A photograph taken from Suruc district of Sanliurfa shows an Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) flag on the hill in the Syrian town of Ayn al-Arab (Kobani) on October 6, 2014. (Photo by Emin Menguarslan/Anadolu Agency/Getty Images)

SANLIURFA, TURKEY – OCTOBER 6 : A photograph taken from Suruc district of Sanliurfa shows an Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) flag on the hill in the Syrian town of Ayn al-Arab (Kobani) on October 6, 2014. (Photo by Emin Menguarslan/Anadolu Agency/Getty Images)

Alumni ke dua lulusan Divisi ke 30 sekitar 60 pejuang Suriah moderat telah selesai mengikuti latihan tempur, taktik dan intelijen di sebuah lokasi di Turki yang dilatih oleh AS berdasarkan sebuah program yang disebut Fighter  Division 30 berbiaya 500 juta USD. Mereka adalah sisa dari alumni pertama yang telah selesai diberangkatkan ke Suriah pada Juli 2015  lalu.

Menurut sumber lain di Suriah, jumlah personil yang menyeberang ke Suriah (dari Turki) sebanyak 12 kendaraan pick up dan 75 orang personil,sebagaimana disampaikan Reuter pada 20/9/2012 lalu. “ Meanwhile, Reuters reported Sunday the Syrian Observatory said 75 American trained rebels crossed into northern Syria from Turkey Friday in a 12-vehicle convoy equipped with mounted machine guns,” sesuai sumber ini : albawaba.20/9/2015.

Program yang telah disetujui oleh Kongres AS pada 2014 lalu telah dilaksanakan sejak Mai 2015 berlokasi di Turki dan Jordania ini bertujuan membentuk tentara baru Suriah yang lebih moderat yang disebut dengan NSF (New Syrian Forces). Program ini awalnya diikuti oleh 5.395 peserta Suriah berhaluan moderat.Sumber : aljazeera.

Sejumlah 54 orang alumni pertama yang disusupkan ke Aleppo pada Juli lalu nasibnya tidak sesuai dengan harapan program tersebut. Satu orang terbunuh, satu tertangkap, sembilan orang kembali berperang untuk kesatuannya, 11 lainnya masih aktif tapi tidak di Suriah, 14 yang benar benar kembali ke Suriah dan 18 orang lagi tidak diketahui rimbanya, sebut juru bicara Pusat Komando AS, Kolonel Pat Ryder ketika menanggapi situasi terkini kepada pers.

Kasus tertangkap dan menghilangnya pejuang alumni pertama pendidikan AS sebenarnya telah menyita perhatian  publik dan pers selama ini, akan tetapi Pentagon pihak paling bertanggung jawab dengan proram tersebut tidak memberi reaksi selama ini dengan alasan kehati-hatian dan penyelidikan ketepatan informasi.

Barulah setelah peristiwa terakhir (22 September 2015) tertangkapnya alumni ke dua rombongan Divisi 30 lulusan Turki dengan sejumlah peralatan yang mereka bawa dan kembali menjadi sorotan hangat media massa dan sosial AS yang kembali mempertanyakan keseriusan program tersebut baru Pentagon kini buka suara.

Setelah memberikan laporannya kepada Pusat Komando, pejabat Pentagon memberikan pertanggungjawabannya ke Kongres AS. Juru bicara Pentagon Kapten Jeff Davis memberi keterangan kepada pers mengakui bahwa rombongan terakhir 54 orang tersebut dengan 12 unit kendaraan pick up mereka berisi amnusi dan senjata berpapasan dengan rombongan al-Nusra di garis paling depan Suriah dekat perbatasan  Turki.

Salah satu ketua rombongan memberi informasi pada Jumat pagi bahwa kondisi mereka masih aman-amansaja. Namun siangnya mereka memberi informasi bahwa baru bisa meneruskan perjalanan jika menyerahkan sebagian peralatan dan amnunis mereka. Selanjutnya tim Divisi 30 tersebut menyerahkan 6 unit pick up mereka dan sejumlah persenjataan dan aminisinya.

Menurut penjelasan Jeff Davis perlengkapan yang diserahkan adalah 6 unit pick up dan  25% amunisi serta senapan mesin yang melekat pada kendaraan tersebut yang diserahkan kata Jeff Davis mengutip laporan ketua rombongan yang tidak dsebutkan namanya. Namun demikian Jeff Davis  mengakui kondisi sangat menyesal tersebut karena terlambat sekali mengetahui peristiwa tersebut. “Sayang sekali, kami baru saja (terlambat) mengetahui bahwa FSN sebenarnya menyerahkan 6 kendaraan pickup bersama senjata mesin dan amunisinya,” katanya kepada pers seraya menambahkan peristiwa itu terjadi Jumat siang (22/9).  Sumber : dailymail.(26/9/2015).

Berita penyerahan perlengkapan senjata kepada al-Qaeda (Front al-Nusra) kini mulai menghangat sampai menyerempet sisi lain tentang ada isu bombcell dalam tubuh militer AS. Peristiwa tersebut membuat geli sekaligus geram rakyat, pers dan pejabat AS.

Jenderal Lloyd Austin yang kini bertugas sebagai Kepala US CENTCOM menilai program tersebut kecil sekali dampaknya dan tidak signifikan hasilnya. Hanya 4 atau 5 orang saja yang benar-benar memenuhi maksud dan tujuan Syrian Force Program dukungan Pentagon tersebut,  katanya menanggapi peristiwa merasa tertipunya AS untuk ke dua kali. Sumber : bulletinleader

Pusat Komando AS (CENTCOM) beralasan penyerahan itu sebagai barter agar NSF dapat meneruskan perjalanan mereka sebagaimana disampaikan juru bicaranya, Kolonel Patrick Ryder sekaligus menilai jika informasi itu benar maka itu adalah pelanggaran sangat serius terhadap program tersebut. “If accurate, the report of NSF members providing equipment to Al Nusrah Front is very concerning and a violation of Syria train and equip program guidelines.” katanya.

Sementara itu Senator John Mc Cain yang pernah terlibat dalam pusat komando tersebut sebelumnya melihat peristiwa sangat buruk dan belum pernah ada terjadi peristiwa separah ini sebelumnya  “I’ve been a member of the committee for nearly 30 years and I’ve never heard testimony like this. Never.” ujarnya berang.

Spekulasi tentang adanya semacam pelemahan dalam tubuh militer AS oleh Centcom kian menghangat dibicarakan oleh media AS. Lebih dari 50 analis intelelijen yang bekerja di Centcom mengeluh setelah terjadi beberapa kali informasi mereka diubah oleh pejabat senior di centcom.

Tanpa menunjuk siapa pejabat yang dituduh menjadi sejenis kanker dalam tubuh Pusat Komando AS tersebut, seorang pejabt pertahanan AS mengakuinya. “Kanker itu berada di tingkat senior dalam perintah intelijen,” tulis .thedailybeast.com edisi 9 September lalu.

 Kisah Teuku Umar khianati Belanda

‘Peristiwanya terjadi pada 1883 ketika Gubernur Belanda Van Teijn menerima tawaran damai Teuku Umar. Di balik itu, sang menir ternyata ingin memanfaatkan Teuku Umar untuk mengajaknya merebut hati rakyat Aceh, maka Teuku Umar pun dimasukkan dalam dinas militer Belanda.

Teuku Umar pun menjalankan beberapa aksi memerangi beberapa pos pasukan Aceh ketika berpihak pada Belanda beberapa bulan sehingga menarik perhatian Belanda. Teuku Umar lalu meminta syarat lebih besar agar bisa menundukkan pejuang Aceh lebih cepat dan lebih luas. Ia meminta prajurit sebanyak 120 orang, komandan 17 orang dan panglima laut 1 orang. Meski sempat kuatir permintaan itu dikabulkan sang menir, saat itu.

Setahun kemudian (1884) sebuah kapal dagang Inggris “Nicero”dibajak (katanya terdampar) di Samudera Hinda dekat perairan Aceh Barat dan seluruh awaknya ditahan oleh Raja Teunom dengan tebusan 10 ribu dolar pada saat itu. Kondisi itu membuat hangat pemerintah Inggris seraya meminta bantuan Belanda di Aceh.

Lalu Teuku Umar mendapat tugas pembebasan tersebut. Teuku umar menyanggupi dengan syarat, tambahan logisitik dan pasukan khusus Belanda sebanyak 32 orang dengan pasukan dan komandannya dengan membawa perbekalan amunisi, senjata dan logistik yang banyak memenuhi kapal Bengkulen. Dari Aceh Besar (Banda Aceh) mereka menuju ke perairan Aceh Barat.

Tidak lama sampai di sana, seluruh pasukan khusus Belanda dibunuh dan dilempar ke laut. Lalu kapal beserta amunisi dan senjata yang ada didalamnya dibawa kembali ke kesatuannya. Sejak saat itu Teuku Umar kembali berjuang melawan Belanda dan meningatkan Raja Teunom agar TIDAK mengurangi tuntutannya kepada Inggris.

Kejadian tersebut membuat Teuku Umar menjadi salah satu orang paling dicari oleh Beladan (termasuk Inggris). Beberapa kali upaya menjebaknya gagal. Pengumuman berhadiah dari Belanda 25000 dolar menarik minat beberapa peserta tapi beraakhir malang bagi peserta yang ingin menangkap Umar.

Pada 1893 Umar pun menyerahkan diri pada Gubernur Deykerhooff karena tak tahan melihat pendieritaan rakyat Aceh akibat marahnya Belanda pada Umar. Setelah itu Umar bekerjasama dengan Belanda “mengusir” pejuang Aceh untuk ke dua kalinya yang ingin menyerang Belanda. Beberapa sandiwara “pengejaran” dilakukan Umar padahal mereka bertukar informasi di kawasan tertentu di kawasan hutan Aceh.

Tiga tahun menjadi “mitra” Belanda, kepercayaan Belanda pada Umar pulih kembali. Teuku Umar mulai dipercaya penuh. Lalu pada 30 Maret 1896 Umar dan pasukannya keluar dari dinas militer Belanda untuk ke dua kalinya. Kali ini Teuku Umar Johan Pahlawan berhasil membawa lari 800 pucuk senjata, 25 ribu amunisi dan amunisi 600 kg dan uang 18.000 dolar dan tentu saja sejumlah angkutan peralatan logisitk.

Gubernur Deykerhooff dipecat dari jabatannya dan dikembalikan ke Batavia diganti Gubernur lain lebih galak. Sementara Teuku Umar selain semakin dipuji di Aceh tapi dicaci oleh Belanda sehingga menjadikannya sasaran DPO paling mahal.

Akhirnya pada 11 Februari 1899 teuku Umar tewas dalam perang di pinggiran kota Meulaboh setelah dinantikan kehadirannya oleh tentara Belanda dalam jumlah besar melakukan serangan mengejutkan.

Dari ke dua peristiwa tersebut, apa persamaan dan bedanya antara pengalaman Belanda dan Amerika Serikat? Persamaannya secara umum adalah : Sama-sama dikadalin berkali-kali oleh lawannya.

Bedanya banyak. Teuku Umar berperang bukan untuk mencari kekayaan. teuku Umar bukan menjadi pasukan asing untuk mengacau negara lain, tapi membela tanah airnya tumpah darahnya.  Teuku Umar berjuang juga bukan untuk memecah belah ummat sesama Muslim dan masih banyak yang lainnya (silahkan tambahkan jika berkenan). Tentu tidak termasuk perbedaan tingkat kemajuan teknologi transportasi, komunikasi, persejataan dan logistik seperti sekarang ini banding masa entah berantah saat itu..

Peristiwa ke duanya mengilhami kita bahwa setiap angkara murka pasti berhadapan dengan penyikapan yang sama bukan? Maka tebarlah damai dimuka bumi dimana pun dan kapan pun dan saling menghormati sesama ummat manusia.

Bukankah begitu , kawan? hehehehhehehe

 Salam AGI

Gambar : General Lloyd Austin, head of US Central Command

Sumber : .telegraph.co.uk

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s