Rusia Siap Perang di Suriah, Solusi Damai Timur Tengah?

Agen berita berbasis di Iran FNA (Far News Agency) pada 24 September 2014 pukul 18.33 melaporkan 120 pemberontak yang mereka sebut “Takfiri Teroris” tewas dalam serangan terbaru pemerintah Suriah terhadap basis pemeberontak di bagian timur Aleppo dekat bandara Kowaires.

Militer suriah (SAA) juga menguasai kembali beberapa area di timur Aleppo dan menekan pemberontak jauh ke luar dari posisi kepungan pemberontak di sekitar bandara Kowaires sejak dua tahun terakhir.

Pada hari yang sama militer Suriah juga berhasil menembak jatuh sebuah drone yang dimiliki oleh pemberontak pada hari Kamis (24/9) pagi waktu setempat.

Informasi senada juga dikutip oleh Panorma Am salah satu portal berita berbasis di Armenia,  seraya menambahkan 4 peralatan tempur ISIS dan Jabhat al-Nusra dihancurkan dalam pertempuran hebat di provinsi Aleppo bagian timur dan provinsi Quneitra bagian selatan hari ini tepatnya di sekitar Tal al-N’am, al-Radwaniyeh, Tal Riman, Huweijineh, Tal Faouri, Tal istabl, al-Jabboul and Jib al-Safa.

Kehadiran pasukan Rusia dan suplai tambahan persenjataan modern secara terbuka terhadap rezim Suriah tampaknya mirip sebuah invasi Rusia. Kondisi tersebut sangat dikuatirkan kelompok negara pendukung pemberontak  karena dipastikan akan terjadi perkembangan positif bagi bagi rezim Suriah.

Sebagaimana dipublkasikan oleh media barat nytimes pada 21/9/2015 lalu, berdasarkan informasi pejabat AS dari satelit udara melaporkan sejumlah peralatan tempur Rusia telah tiba pada awal September 2015 di pelabuhan Tarsus Suriah, terdiri dari :

  • Pengiriman 500 pasukan khusus untuk penempatan di Provinsi Latakia dan pengamanan pelabuhan Tarsus.
  • Selusin SU-24 Fencer jet pengebom taktis
  • Selusin SU-25 Frogfoot jet pendukung serangan infanteri
  • 4 unit SU-30 Jet penyerang
  • 4 unit SU-27 Flanker
  • Selusin Tank tempur T-90
  • Helikopter serbu Mi-24 Hind

Helikopter trnasprort Mi 17 Hip

  • Penambahan baterai SA-22 rudal permukaan ke udara
  • Penggunaan pesawat tak berakwak drone Rusia

Melihat pada aktifitas dan jenis bantuan di atas Rusia seperti melaksanakan invasi ke Suriah. Rusia (dahulu masih Uni Soviet) sekitar 26 tahun lalu menginvasi Afganistan. Uni Soviet mengirim sejumlah kecil peralatan pendukung  tempur ke perbatasan Afganistan pada 1989 lalu sebelum invasi besar-besaran dilakukan. Uni Soviet akhirnya menanggung malu dan kalah melawan Mujahidin dukungan AS dan sekutu saat itu.

Meski kini bukan untuk menginvasi Suriah tapi sangat menarik mencermati mengapa Rusia seperti mencuri start lebih dahulu sebelum terlambat ketika barat atau Nato memberlakukan zona larangan terbang dan blokade laut untuk pelabuhan Tarsus, berpotensi mempersempit leluasa Rusia nantinya.

Saat ini memang ada zona aman dari pesawat terbang Suriah yang diberlakukan Turki di rung udara Suriah (antara Afrin dan Kobane) yang berbatasan dengan Turki. Turki membuat penyangga tersebut pada Agustus lalu akan tetapi belum mencapai kesepekatan dengan AS sehingga zona aman (larangan terbang) itu tidak berlaku efektif sampai kini. Kelihatannya zona aman yang diumumkan Turki tersebut lebih bermuatan untuk kepentingan Turki (melindungi pemberontak yang lari dari Suriah atau masuk ke Suriah) dari kejaran pesawat tempur Suriah ketimbang kekuatiran ancaman tentara Suriah menganggu Turki.

Mengapa Rusia siap tempur untuk Suriah?

Rusia berpihak untuk Suriah sebenarnya sejak awal perang saudara terjadi sejak awal meletusnya perang saudara meletus 15 Maret 2011. Akan tetapi keberadaan Rusia sudah dikenal akrab dengan Suriah telah lama berlangsung sejak lama saat masih berbentuk Uni Soviet. Beberapa informasi menyebutkan hubungan baik itu bahkan sebelum Suriah Merdeka dan diakui di PBB pada 17 April 1946.

Suriah menjadi kawasan terpenting Rusia di Timur Tengah setelah Vladimir Putin menerapkan National Strategy Concept pada 2000 lalu menandakan Rusia (setelah bubarnya Uni Soviet) kembali lagi ke kancah politik Internasional untuk mengulangi kejayaan Uni Soviet masa lalu sebagia penyeimbang pengaruh Globalisasi AS dan sekutunya.

Menurut pandangan Rusia, kawasan Timur Tengah adalah kawasan Shatterbelt, yakni kawasan konflik internal Arab dan kawasan yang sangat bernilai bagi AS (sehingga Rusia juga merasa perlu memainkan peranannya).

Suriah menjadi pilihan mengingat geografisnya memungkinkan untuk akses langsung dari wilayah terluar Rusia di Magaramkentsky (Dagestan) yang berbatasan dengan Azerbaizan memungkinkan akses langsung ke Iran.

Dari Iran keluar melalu teluk Persia ke laut Arab. Kemudian berbelok ke kanan menuju teluk Aden hinga masuk ke laut Merah. Lalu menyusuri terusan Suez. Lalu keluar dari Suez bertemu laut Miditerania tempat pelabuhan Tarsus itu berada. Di sinilah jalur paling rawan karena Israel untuk kepentingan AS dan negaranya siap memata-matai seluruh aktifitas kapal yang akan keluar dan masuk terusan Suez termasuk aktifitas Rusia dari dan ke pelabuhan Tarsus.

Jalur “Sutera” yang sama dengan i atas juga dilakukan oleh Tiongkok memberi bala bantuan via laut menuju ke Suriah. Tak heran, posisi Iran ini sangat strategis menyokong Rusia dan China dalam peranannya di Timur Tengah dan terutama Suriah.

Kini Rusia memperlihatkan sikap terang-terangannya lebih terbuka kepada Nato (AS dan sekutunya) bahwa Suriah sangat penting bagi Rusia bukanlah karena Suriah secara ekonomi kaya kandungan alamnya, tak lain adalah posisi Geografis dan rute sutera tersebut jangan sampai terhapus sebab jika terhapus maka bukan saja pelabuhan strategis merka di Tarsus akan hilang tapi juga pengaruh Rusia di Timur Tengah akan pudar dan membiarkan AS dan sekutunya bermain tunggal mempengaruhi Timur Tengah seperti di kawasan lainnya.

Rusia juga tak ingin menanggung malu mirip peristiwa invasi ke Afganistan sehingga telah mempelajari sejumlah potensi masalah sehingga tidak akan berpotensi mengalahkan Rusia seperti kalahnya Uni Soviet dahulu.

Pantas Rusia mati-matian mempertahankan Suriah. Bahkan kini mereka mengirimkan armada perang yang amat besar sekaligsu menyampaikan pesan pada Eropa dan AS (NATO) bahwa Rusia siap menggunakan nuklirnya jika merasa diinvasi dalam wilayahnya mungkin termasuk pelabuhan Tarsus (Suriah) dan Crimea yang mereka maksudkan.

Menlu Rusia Labarov pernah menyampaikan hal itu beberapa kali saat mengingatkan NATO agar tidak terlalu ikut campur dalam masalah mereka di Crimea dan Ukraina. Selain itu juga memberi ultimatum pada Denmark atas sikap pembelaannya pada kasus pelanggagran wilayah Swedia oleh kapal selam Rusia pada Maret 2015 lalu.

Apakah Rusia sekadar gertak sambal atau sangat serius? Kelihatannya Rusia sangat serius membangun masa kejayaan seperti era Uni Soviet dahulu. Itu artinya sama dengan seriusnya mereka mempersiapkan kemungkinan terburuk yakni terjadinya peang nuklir.

Tentang persiapan serius Rusia untuk perang nuklir disampaikan oleh Jenderal Hans-Lothar Domröse komandan Nato. Dalam satu wawancaranya dengan majalah di Jerman, Focus online, ia melihat Rusia  sangat serius dan siap melancarkan serangan umum dengan dua ribu senjata nuklir taktis. “Putin, sangat serius, penjudi yang amat berbaaya,” katanya dalam wawanara 26 mei 2015 seperti dikutip di sini : biznewsindex

Analisa Hanz Lothar Dmorose di atas mungkin benar adanya sebab beberapa indikasi lainnya tentang akan semakin remuk redamnya Suriah semakin nyata dan jika tidak dihentikan segera.  Hancurnya Suriah bukan saja merugikan Timur Tengah tapi juga merugikan ketenangan di Eropa dengan terjadinya gelombang pengungsi ke Eropa baru-baru ini hingga saat ini. Apalagi melihat persiapan Rusia sangat serius mempersiapkan perang besar maka potensi dunia akan hancur jika terjebak dalam perang dunia 3 akan semakin merugikan semua pihak.
Beberapa indikasi lain akan diciptakan perdamaian menyeluruh di Suriah adalah sebagai berikut :
  1. Pada 21 September 2015, PM Israel, Benyamin Natanyahu berkunjung ke Rusia setelah melihat data dan informasi NATO tentang rekaman satelit NATO yang memastikan adanya pernambahan kekuatan militer Suriah dengan hadirnya perlatan tempur Rusia sebagamana disebut di atas. Natanyahu  juga ingin memastikan bahwa situasi di Suriah tidak akan berdampak pada terjadinya pertempuran antara Israel dan Rusia.
  2. Pada 23 September 2015, Kanselir Jerman dalam pertemuan pimpinan Uni Eropa di Brussel menyatakan UE akan melibatkan Bashar al-Assad dalam mengakhiri konflik di Suriah. Pernyataan ini sebelumnya tidak pernah terjadi dimana Assad dianggap sebagai sumber masalah konflik Suriah. “In a sign the Europeans’ position on Assad may also be softening, German Chancellor Angela Merkel said “we have to speak with many actors, this includes Assad, but others as well,” tulis 3News mengutip pernyataan Merkel.
  3. Pada 26/9/2015 dijadwalkan Presiden Putin akan berkunjung ke AS bertemu Obama dan PBB. Puitn juga akan bertemu beberapa pemimpin negara lainnya di AS terkait perdamaian Suriah. Obama telah memberi tanda menerima kunjungan Putin dalam waktu dekat ini seperti disampaikan 3News di atas.
  4. Pada 22 September 2015, AS (Pentagon) telah mengirim pasukan pemberontak (Jabhat al-Nusra) terlatih ke Suriah. Sebanyak 12 kendaraan tempur dilengkapi senapan mesin penuh dan amunisi dari Divisi ke 30 Jabhat Al-Nusra berkuatan 75 personil yang selama ini dilatih di Turki masuk ke Suriah dari Turki. SOHR (Observatorium Suriah utuk HAM) melaporkan aktifitas tersebut seperti terlihat pada sumber ini : telegraphbrani
  5. Suriah untuk pertama sekali telah menggunakan drone milik Rusia pada 22 September lalu menyerang konsentrasi pemberontak di Aleppo.
  6. Salah satu sayap pasukan khusus Iran mulai berdatangan ke Suriah. Quds Force berkekuatan 15000 pasukan berani mati telah disusupkan ke Suriah sejak Juni 2015 lalu.
  7. Peralatan tempur Rusia langsung menai korban, sebanyak 120 pemberontak tewas menandakan peta kekuatan Suriah. mulai bangkit kembali. Berapa korban akan berjatuhan ke depan saat peralatan dan pasukan Rusia dan Iran semakin intensif.

Mungkinkah dengan cara seperti itu AS (sekutu) atau NATO bahkan PBB baru kini mengakomodir usul perdamaian yang ditawarkan Rusia?  Terlalu lama rasanya memahami draft yang diusul Rusia bebearpa waktu lalu baru kini mulai diperhatikan.

Dialog dalam kesetaraan dengan melibatkan pihak yang dianggap juru kunci masalah Suriah tentu akan memberi sandi kunci untuk membuka gembok perdamaian di Suriah semakin terarah dan lebih cepat. Kelihatannya jurus Rusia kali ini akan tepat sekali mengenai sasaran..

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s