Ketua MKD Dalam Misi: Menjaring Ketua dan Wakil Ketua DPR

Upaya penyelidikan dugaan pelanggaran kode etik rombongan DPR yang dipimpin ketua DPR RI Setya Novanto kini semakin mencurigakan. Sejumlah indikator memperlihatkan jurang tanda tanya semakin dalam. Ada apa di balik semua itu, kini semakin mencurigakan.

Pergantian ketua penyidik MKD kasus pelanggaran kode etik Setya Novanto dan rombongan, sebelumnya dijabat oleh Sufi Dasco Ahmad (politkus Gerindra) kepada ketua MKD (Surahman Hidayat, politkus PKS) terjadi setelah proses penyidikan masalah tersebut terkesan lamban dan tidak memberi tanda (hasil) yang signifikan.

Rapat internal tertutup  MKD dan Sekretariat berlangsung alot. Beberapa anggota yang ditunjuk menolak jabatan tersebut sehingga sepakat menetapkan ketua MKD sebagai ketua tim penyidik kasus pelanggaran kode etik Setya Novanto dan rombongannya. Situasi ini membangkitkan tanda tanya mengapa tidak ada yang bersedia menjadi ketua, apakah jabatan tersebut sama dengan melaksanakan tugas “The Mission Impossibel?”

Sekjen DPR RI, Winantuningtyastiti telah diundang MKD untuk dimintai keterangannya pada 16/9/2015, namun ia tidak memenuhi undangan tersebut. Kondisi ini membangkitkan kembali kecurigaan mendalam beberapa pihak.

Junirmart Girsang (PDIP) menduga adanya intervensi ketua DPR karena sesuai penjelasan Sekjen, selain sibuk sekali terim tamu ketidak hadirannya menyangkut dengan izin dari ketua DPR. Menyikapi hal tersebut, Surahman menyikapi hati-hati, “Kita ini serius, tapi kan fleksibel,” menandakan ia kurang nyaman menjalankan misinya menangani kasus tesebut secara cepat.

Sementara itu, mangkirnya sekjen DPR memenuhi panggilan MKD menimbulkan pertanyaan lebih tajam lagi.  Lucius Karus, ketua Peneliti Formappi (Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia) menduga ada yang tidak beres dan ada upaya menutup-nutupi kasus tersebut. Menurutnya, ada indikasi Sekjen dilarang ketua DPR untuk tidak memberikan informasi dan laporan tentang kunjungan tersebut.

Pergantian mendadak ketua penyidik kasus rombongan Setya Novanto akibat adanya friksi pro dan kontra meski Surahman Hidayat) tidak mengakuinya. Namun dari pernyataannya menanggapi mangkirnya sekjen disebut di atas memperlihatkan adanya tekanan berat di kedua belah pihak pro dan kontra.

Sebelumnya, sekjen DPR RI telah berjanji akan kooperatif pada MKD. “Kita akan kooperatif pada MKD,” katanya pada pers (16/9) saat memberi keterangan alasan mangkir terhadap undangan MKD. Namun hingga batas waktu yang ditetapkan MKD per 18/9, sang Sekjen tidak memenuhi panggilan tersebut bahkan kini belum memberi alasan sedikitpun.

Dalam kondisi seperti itu, mungkinkah Surahman Hidayat mampu menjalankan tugasnya secara independen dan mempercepat proses penyidikan yang sudah diduga akan mandeg terbentur tembok-tembok tebal dan anti ledakan di DPR? Beberapa kemungkinan yang akan terjadi adalah :

  1. Surahman akan terjebak pada permainan ulur waktu yang diterapkan kelompok yang kontra pada penyidikan tersebut. Dan pada saat tertentu nanti Surahman akan mengeluarkan hasil pemeriksaan yang normatif saja alias kurang bermakna dengan arus melawan arogansi terhadap kode etik anggota DPR.
  2. Surahman akan bernasib sama dengan ketua sebelumnya, tak mampu mengemban misi tesebut sesuai harapan yang berkembang saat ini.
  3. Surahman tidak mampu memeriksa dengan serius pihak terpenting dalam kasus tersebut. Lalu pada masa yang tepat (saat persoalan itu terasa sudah dingin kembali) ia bersama tim merancang laporan bahwa tidak ada tanda-tanda melanggar kode etik oleh anggota DPR dalam kasus pelanggaran kode etik ketua DPR dan rombongannya.

Tanda -tanda mengarah seperti di atas sesungguhnya mudah terbaca mengingat hal tersebut kini sudah memasuki minggu ke tiga namun penyidikan kasus tersebut tidak memperlihatkan tanda-tanda yang berarti. Apalagi ternyata mulai besok (9/9) hingga 28/9, Setya Novanto dan Fadli Zon (bersama Isteri masing-masing) akan melaksanakan ibadah haji 2015 atas undangan kerajaan Saudi Arabia.

Berdasarkan gambaran di atas, artinya hingga 28/9 Surahman TIDAK akan mampu melakukan pemeriksaan terhadap ketua DPR dan wakilnya terkait masalah yang sedang dalam penyidikan MKD DPR tersebut. Ironisnya, di sisi lain, Surahman juga tidak akan mampu memeriksa Sekjen DPR RI karena alasan tidak atau belum mendapat persetujuan ketua DPR.

Meski kita berharap Surahman  seperti Tom Cruise mampu menjalankan peranan yang tidak mungkin menjadi sesuatu yang mungkin dengan hasil gemilang sebagaimana harapan dan desakan yang sangat keras saat ini, namun kelihatannya hal itu terlalu berat terlaksana paling tidak untuk sementara ini.

Taktik ulur waktu dan mengisinya dengan tema kasus yang baru adalah sebuah cara yang lazim dan ampuh digunakan dalam politik di negeri kita terbukti mampu mengurai intensitas sorotan kuat menjadi lemah, lalu menguap dan akhirnya hilang bersama angin.

Itu sebabnya beberapa calon ketua penyidik lainnya menolak ditunjuk menjadi ketua penyidik meski beberapa pendapat mengatakan  alasan penolakan tersebut jangan sampai menimbulkan kepentingan interes (tidak mungkin obyektif menjadi penyidik untuk periksa teman satu partai atau satu koalisi).

Oleh karena itu dapat ditebak dari sekarang Surahman lebih tepat disebut menjalankan Mission Impossible mirip film serial The Mission Impossible era 1996 yang diperankan Tom Cruise.

Tom “Surahman” Cruise akan berhadapan dengan tembok-tembok baja tebal anti ledakan biasa. Kecuali Surahman sudah siap mengambil risiko disisihkan atau tersisihkan dari jabatannya bahkan dari DPR oleh partai dan koalisinya. Atau Tom Cruise kita ini mendapat sokongan besar kekuatan yang maha dahssyat, yaitu kekuatan rakyat (people Power) yang menurut ilmu politik memberi umpama “Suara Tuhan.”

Tak pernah habis pentas drama politik yang diperlihatkan wakil rakyat di DPR rasanya termasuk kasus terkait ketua DPR dan wakilnya baru-baru ini. Suguhan adegan demi adegan tak perlu lagi diurai lagi satu per satu pada tulsian ini mengenai trik dan intrik menjaring ketua DPR dan wakil serta pihak terkait lainnya pada kasus lawan ke LN tersebut. Cukuplah Surahman saja yang merasakan dan mengetahui sejauh apa tantangannya.

Sambil menjalankan misinya tak salah Surahman mendendangkan salah satu lagu Iwan False “Surat Buat Wakil Rakyat.” Salah satu lirik yang (mungkin) masih terngiang di telinganya adalah :
Di hati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam

Semoga tidak akan tertidur lagi, hehehehehe..

Salam AGI

gambar ilustrasi : dok.abanggeutanyo

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s