Anggota Dewan Ini Gagal ”Rayu” Donald Trump, Ulur Waktu MKD

http://ww1.hdnux.com/photos/37/76/61/8383584/17/1024x1024.jpg

Pukul 9 pagi waktu New York (16/9/2015) suasana mulai hangat rasanya oleh hiruk pikuk tim kampanye Donald Trump di pelataran lobi Trump Tower tempat Donld Tump tinggal bersama isteri ke tiganya (Melania).

Pagi yang cerah ini tuan DT bersiap mengikuti debat putaran ke dua GOP (calon kandidat dari Partai Republik) yang akan dilaksanakan pukul 13.00 waktu setempat di Reagan Library in Simi Valley, California.

Telepon genggam DT berdering saat ia akan masuk ke helikopter Sikorsky S-76 bertuliskan namanya “TRUMP” yang dibeli seharga 7 juta dolar pada Juni 2015 lalu. Sejenak dahinya berkerut meski tertutupi poni eksentriknya karena tidak muncul nama dalam daftar kontaknya. Saat akan dimatikan sejenak ia melihat kode dari Indonesia (021), seketika ia memerintahkan pilotnya mematikan kembali mesin heli yang sudah siap sedia membawanya.

Donald Trump menyapa lebih dahulu… (ditulis dalam bahasa Indonesia saja).

“Haloo… selamat pagi”

Di seberang sana pukul 21.00 WIB, seorang wanita yang katanya dedengkot di DPR dan merasa mampu mempengaruhi Trump dikelilingi sejumlah orang dari Mahkamah Kehormatan Dewan(MKD) DPR. Mereka berkumpul di sebuah ruangan khusus sekretariat DPR. Wanita itu –sebut saja Berbie- sengaja mengaktifkan speakerphone untuk sama-sama mendengar pembicaraan dengan tuan DT yang kini terpaksa menunda keberangkatannya sesaat.

“Selamat pagi tuan Trump yang mulia… Saya Berbie dari DPR RI yang pernah bertemu tuan saat menghadiri kampanye tuan 3 September 2015 lalu.  Apa kabar tuan Trump…..”

Kabar baik… wooowww…. Selamat pagi kembali Berbie manis….”

Boleh saya menyita waktu anda sesaat saja, saat ini saya bersama teman-teman dewan kehormatan DPR Indonesia..”

“Oh tentu saja.. , silahkan. Apa yang dapat saya bantu,” tanya DT lagi di seberang sana seraya memberi kode kepada pilotnya untuk menyalakan kembali helikopternya setelah bergegas masuk ke dalam kabin yang siap menerbangkannya ke markas Kongres Nasional Republik di sudut lain kota New York.

“Sebelumnya mohon maaf tuan, berkaitan dengan kunjungan kami ke tempat anda menimbulkan pro dan kontra di negeri kami maka dengan sangat hormat meminta solusi tuan, seperti apa kira-kira yang dapat tuan berikan?”

“Saya telah mengerti dan mengetahui isue tentang itu dari berita dan informasi kolega saya di Indonesia. Tapi saya kurang paham maksud Anda seperti apa?”

“Baik, apakah tuan Trump berkenan hadir di Indonesia pada saat yang tepat selama tidak menganggu aktifitas anda?”

Yiiihhhaaaaa… Saya sangat bangga dengan undangan tesebut tapi tahukah anda saat ini saya sangat sibuk sekali dan nyaris tak ada waktu selain untuk mempersiapkan jadwal dan materi kampanye saya, hahahaha…” seolah berkalakar.

“Saya pahami itu tuan, akan tetapi kami meminta solusi dan pandangan Anda bagaimana sebaiknya”

“Sebaiknya anda kirimkan via email saja secara formal maksud dan tujuannya ke alamat email saya, OK? Mohon maaf saya harus mengakhiri komunikasi ini, OK? Terimakasih…” ucap Trump sambil menutup teleponnya bersamaan sang ajudan menyerahkan sebuah map padanya untuk keperluan persiapan koordinasi di kantor Komite Nasional Republik.

Di seberang sana, Berbie juga menutup teleponnya dengan pandangan kurang puas, lalu ia menyatakan pada DK DPR solusinya. “Kita kirim surat permohonan tertulis saja sebagaimana disebutkan DT tadi. Saya punya alamat emailnya karena saat berkenalan kemarin sempat mendapat kartu nama, nomor hape dan alamat email pribadinya yang dikelola sekretarisnya..”

Seminggu kemudian (22/9/2015)

Email telah dirancang dengan beberapa kali revisi kalimat di dalamnya dengan harapan sang tuan DT berkenan meluangkan waktunya untuk datang ke Indonesia untuk membantu memberikan keterangannya.

Email diterima oleh sekretaris andalan, Hope Hicks. Ia adalah salah satu sekretaris spesial DT di New York. Tidak berapa lama kemudian sebuah  pesan singkat masuk ke HP tuan DT berisi berita  “Sebagaimana yang diminta beberapa waktu lalu tentang kemungkinan memenuhi undangan DKH DPR RI surat permohonan telah kami kirimkan ke alamat tuan. Terimakasih, Berbie””

Di sela kesibukannya tuan DT mengirim terusannya (forwad) ke sekretaris cantik dan cerdas yang telah bekerja pada Trump sejak Agustus 2014 lalu. Seketika itu juga Hicks menyiapkan agenda dan menanti jawaban tuannya beberapa hari ke depan sambil mlihat waktu yang tepat.

Seminggu lagi kemudian (29/9/2015)

Balasan yang dinantikan oleh DK DPR pun masuk. Bunyinya antara lain “Mempertimbangkan jadwal kampanye kami sangat padat dan seluruh tenaga, waktu dan pikiran kami sangat menentukan masa depan rakyat dan negara AS,  dengan tidak mengurangi rasa hormat kami terhadap undangan dan penghargaan tersebut maka dengan ini kami mohon maaf TIDAK dapat memenuhi undangan sangat berharga tersebut. Mungkin di lain waktu kami mempunyai kesempatan yang baik dan memungkinkan akan kami informasikan. Terimakasih… Donald Trump.

Di seberang sana, sejumlah orang berkumpul kembali membahas jawaban tersebut sambil menyeringai.. Ada yang nyelutuk.. “Gue kate juga ape.. Mana mungkin dia mau datang, mana ada waktunya…. hehehehe..” seraya bergegas meninggalkan kumpulannya entah mau kemana sambil bersungut dalam hati “Mengulur waktu saja….

Lagi-lagi Seminggu kemudian (6/10/2015)

Issue baru muncul, rencana pembangunan gedung DPR RI yang baru diwacanakan kembali. Dampaknya sama seperti beberapa peristiwa sebelumnya. Sumbu ledakan melontarkan reaksi masyarakat tak kalah hebatnya, meninggalkan sisa pecahan persoalan sebelumnya bahkan nyaris berkelayap ke atap kembar gedung DPR itu sediri dan mulai bersemayam di dana entah sampai kapan.

Hal yang sama kini  hampir mirip dengan itu. Lengkingan suara dahsyat mengenai protes keras masyarakat atas kunjungan sekelompok anggota DPR RI ke kampanye Donald Trump kini rasanya tak lagi sepanas ledakan di awalnya.  Ledakan yang dahulunya membahana dan menggelegar seantero tanah air bahkan ke luar negeri kini hanya tinggal sisa-sisa pantulannya saja, bahkan rasanya sudah sayup-sayup hampir tak terdengar.

Seiring dengan bergulirnya waktu pemeriksaan terhadap ketua DPR RI dan rombongan hadir pada kampanye tuan DT pada 3/9/3025 lalu bagaikan tanaman tak terurus semakin lama semakin layu nyaris tak tumbuh lagi.

Upaya mendatangkan DT ke Indonesia untuk mendengarkan penjelasannya sudah hambar dan jelas tidak menarik buat Trump. Setelah trik mustahil itu ternyata memang sia-sia, entah jurus apa lagi yang akan dimainkan DK DPR. Entah serius memeriksa kasus itu atau malah ikut mengulur waktu dan berharap kasus itu menguap lalu hilang bersama angin….

Evaluasi :

Suasana, gambaran dan percakapan disebut pada tulisan ini  adalah semuanya FIKSI atau hanya ilustrasi belaka. Tulisan ini  hanya sebuah refleksi pada sebuah ilustrasi tentang fenomena menguapnya sejumlah peristiwa politik di tanah air. Sering kita temukan sebuah peristiwa awalnya sangat hangat dibicarakan kemudian senyap lalu menguap begitu saja ketika issue hangat lainnya menimpa masalah tersebut. Kelihatannya sifat issue tersebut saling menghilangkan satu sama lain.

Sampai hari ini sudah dua minggu kasus itu menggelegar kunjungan anggota DPR ke Donald Trump belum ada tanda-tanda hasil pemeriksaan DK DPR seperti apa.. Yang muncul ke permukaan justru timbulnya tema-tema lain, misalnya tentang jam tangannya, tentang pendampingan keluarga, tentang dugaan dibiayai oleh cukong dari perusahaan terkenal dan sebagainya.

Ironisnya dalam kondisi seperti itu Fadli Zon malah trengginas di hadapan rakyatnya sendiri. Beda sekali penampilannya saat berada di AS di hadapan rakyat dan tuan besar di AS di mana ia mirip pria polos dan santun di dunia, kini ia memberikan alasan baru lagi, “Tidak ada salahnya anggota DPR bertemu siapapun demi kepentingan bangsa dan negara termasuk bertemu Donald Trump….”

Untuk kepentingan bangsa? Oh my god..

Anggota dewan boleh betemu siapapun? Wow mantap..

Sekadar kembali ke habitat saja, mari kita lihat fungsi dan tugas pokok anggota DPR ya? Tugas pokok dan fungsi anggota DPR adalah legislasi, pengaswasan dan anggaran. Sumbernya lihat di sini : tentang/tugas-wewenang DPR

Dari sumber di atas, tidak ada satupun kata dan kalimat yang mengaitkannya dengan aksi kunjungan anggota dewan kita pada kampanye DT di mana mereka diperlakukan bagaikan boneka saja.

Kita tersinggung rasanya pimpinan dewan terhormat kebanggan kita diperlakukan seperti anak kecil. Mirip anak desa yang polos seperti saya ketika terpana saat menjejakkan kaki di Amerika Serika. Ironisnya anggota dewan kita tersebut malah tidak prihatin dengan aksinya sendiri.  Padahal aksi tersebut juga melanggar kode etik DPR yang dapat dilihat di sini :tentang/kode-etik-DPR yang ditanda tangani oleh ketua DPR, Drs Setya Novanto, Ak dan petinggi DPR lainnya pada 18 Februari 2015.

Beberapa poin terpenting berkorelasi dengan pelanggaran kode etik adalah : pasal2 ayat (4) dan pasal 3 ayat (1). Jika anggota DPR kita menolaknya dengan menterjemahkan dari sisi dan pandangan lain bahkan punya dalil (resep dan aturan lainnya) karena dalil di atas menurut mereka kurang kuat alasannya, silahkan saja, begitulah adanya..

Sayangnya saudara kita anggota Dewan terhormat tersebut tidak menyadari kita sebagai bangsa Indonesia tersinggung karena kewibawaan wakil kebanggaan kita direndahkan. Sesungguhnya kita prihatin mereka diperlakukan mirip karyawan DT yang sukses menjual properti DT sendiri.

Kode etik dan aturan tentang tugas dan wewenang DPR pun telah dijelaskan berkali-kali.. Dibela rakyatnya sendiri malah dianggap bermusuhan.  hehehehhehe….

Salam Kompasiana

abanggeutanyo

Sumber gambar : Tempo dan Photo: Scott Heppell, AP

Sumber :timesunion.com

Photo: Scott Heppell, AP

Sumber :timesunion.com

abanggeutanyo

Sumber Photo: Scott Heppell, AP  dan :teropongsenayan.com

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s