Wanita (Jurnalis) Hungaria Ini Paling Benci Imigran Timur Tengah

Petra Laszlo, jurukamera wanita (Camerawoman) yang bertugas untuk stasiun televisi lokal berbasis internet (N1TV) di Hongaria agaknya berprestasi lain dari yang lain dalam meliput gelombang imigran melanda Eropa khususnya Hungaria. Ketika juru kamera pada umumnya sibuk meliput aksi kejar-kejaran Polisi di Hungaria dengan pengungsi atau aksi menerobos barikade berduri atau korban jiwa imigran Suriah, Irak dan Afghanistan, Laszlo malah sibuk merekam aksi sendiri menentang masuknya imigran ke Hungaria pada 8/9/2015 lalu.

Kehadirannya meliput peristiwa penghadangan imigran di Rozke, Hungaria Selatan daerah perbatasan Hongaria dengan Serbia memunculkan banyak gambar aneka aksi kasarnya terhadap imigran. Sambil merekam adegan lainnya dari kameranya sendiri dia juga direkam oleh kameraman lainnya yang sepertinya sengaja merekam aksi anti imigran untuk kepentingan Laszlo.

Aksi “Karate” menendang dan menjegal imigran gelap yang diperlihatkan Laszlo tidak pilih-pilih kasih. Anak-anak, orang dewasa pria dan wanita bahkan yang sedang mengendong anak pun ditendang (jegal) sehingga terjatuh bersama barang tentengan yang dibawa seadanya. Salah satu gambar aksi Laszlo dapat di lihat pada tulisan ini.

Aksi Laszlo pun menimbulkan kecaman. Hampir seluruh media on line atau situs berita online sampai jejaring sosial Eropa dan AS menyorot tajam aksi yang dinilai tidak manusiawi ini.

The NY Times dalam laporannya menyatakan saluran televisi internet tempat Laszo bekerja adalah salah satu jaringan partai Jobbik. Partai oposisi tersebut kini menjadi salah satu partai populer di Hungaria. Sumber : http://www.nytimes.

Portal berita The Thelegraph dalam laporannya mengatakan aksi Laszlo telah menuai kutukan dalam jaringan media sosial di Jerman setelah video yang hampir sama rekaman jurnalis Jerman, Stphan Richter di Twitter mendapat respon banyak kecaman di Jerman.

Sementara itu daylimail melaporkan aksi tersebut merupakan aksi kriminal. Laszlo harus siap untuk menghadapi aksi kriminal atas tindakan bar-bar tersebut.

Partai oposisi Dialogue for Hungary yang dipimpin mantan PM Ferenc Gyurcsany’s mengancam akan melaporkan aksi demonstrasi Laszlo tersebut ke Polisi. Ancaman kurungan selama 5 tahun menanti Laszlo jika ia terbukti bersalah dalam persidangan dan tidak ada pembelaan terhadapnya.

Salah satu portal berita India, IndiaTimes pada laporannya terkini (9/8/2015) menulis, Laszlo adalah wanita paling dibenci dunia berdasarkan reaksi penilian masyarakat dan berita seluruh dunia.

Meski disinyalir N1TV bekerja untuk popularitas partai Jobbik akan tetapi pejabat N1TV mengatakan Laszlo telah diberhentikan. Kontraknya telah diputus karena tindakan tersebut tidak dapat diterima. “Ia berperilaku dalam cara yang tidak dapat diterima dan ia telah dipecat,” sebut Szabolcs Kisberk  kepala editor pada laman Facebook.

Benarkah NITV merupakan mitra Partai Jobbik dan bekerja untuk mempopulerkan Partai Jobbik?
Benar, pada Mei 2015 lalu, pemimpin partai Jobbik,  Gábor Vona telah menerapkan sebuah strategi  bagaimana mengubah partai Jobbik menjadi partai yang diperhitungkan. Taktiknya adalah bagaimana menggempur partai lawan dan bertahan dari serangan partai lain dengan bantuan jaringan informasi.

Partai Jobbik membentuk imperium informasi dengan menggalang kerjasama dengan tiga media yang dianggap handal di Hungaria, yaitu :

  1. Alfahír.hu online news site
  2. Jobbik’s N1TV online television broadcast
  3. Barikád,

Sándor Pörzse, mantan anggota Parlemen yang kini bekerja untuk NITV mengakui adanya persekongkolan antara N1TV dengan partai Jobbik. Melalui sejumlah acara meski hiburan sekalipun pesan-pesan khusus untuk kepentingan Jobbik yang berhaluan ultra nasionalis kerap menghiasi sejumlah acara di N1TV. Sumber : kerjasama partai Jobbik dengan N1TV

Lalu mengapa jurnalis Laszlo akhirnya dipecat padahal ia telah bekerja dan memperlihatkan semangatnya untuk mempopulerkan partai andalannya?

Mungkin itulah politik. Ketika kecaman (dari seluruh penjuru) justru berbalik menghantam dirinya sendiri ia mencari selamat dengan mengorbankan aktifisnya termasuk Laszlo harus dijadikan martir.

Ketika seluruh eropa menyatakan prihatin dan membuka kran bagi masuknya pengungsi justru partai Jobbik memiliki sudut pandang lain. Di saat Peter Stordalen miliuner terkaya Norwegia bersedia menampung sejumlah imigran selama 5000 malam di sejumlah hotelnya, Laszlo justru sebaliknya.

Ketika Kanselir Jerman, Angela Markel menyatakan menerima kedatangan pengungsi dengan persapan dana 9,3 triliun rupiah dan PM Inggris siap menampung 20 imigran serta Austria menyatakan siap menampung sejumlah pengungsi Laszlo justru sebaliknya.

Di saat orang terkaya Mesir bersedia membeli pulau untuk menampung pengungsi Timur Tengah, apa yang diperlihatkan oleh Laszlo sangat kontras dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Kanselir Jerman sampai terharu melihat keterbukaan warganya menerima pengungsi. Ia memberi apresiasi pada warganya meski hidup rasanya semakin tertekan paling tidak untuk sementara waktu. Belum lagi aneka analisa ekstrim tentang potensi ancaman imigran yang terkait dengan keamanan negara dan bangsa Jerman mulai ada yang mengomporinya, namun logika berpikir dan naluri kemanusiaan warga Jerman patut kita jadikan contoh.

Sekadar pembanding dengan penerimaan pengungsi di Aceh

Hal yang sama juga telah diperlihatkan oleh warga dan pemerintah Aceh ketika menerima, merawat dan menyiapkan kebutuhan penginapan, pakaian dan makanan untuk pengungsi Rohingya dan Bangladesh beberapa waktu memperlihatkan rasa kemanusiaan lebih dalam ketimbang masalah lainnya.

Meski tindakan tersebut tidak mendapat apresiasi dari Presiden Jokowi secara langsung seperti Kanselir Markel di atas, sikap kemanusiaa warga Aceh tersebut telah diketahui dunia meskipun sikap pengungsi di Aceh kini mulai kelihatan belangnya, lebih banyak membuat masalah ketimbang membantu menyelesaikan masalah.

Aneka tindakan peristiwa melarikan diri, makar, huru-hara dan pemakaian narkoba serta dugaan perdaganngan seks (ke luar Aceh) yang dilakukan imigran gelap di Aceh kerap menghiasi berita hangat media lokal. Rasa-rasanya menyesal juga menerima imigran yang tidak dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan setempat.

Mungkin itu juga sebabnya Presiden Jokowi tidak memberikan aprsiasinya saat itu hingga kini. Walaupun demikian semoga saja tidak ada yang main tendang dan jegal ala Laszlo terhadap imigran di Aceh, hehehehhehehe..

Salam AGI

sumber gambar : http://www.dailymail.co.uk dan Reuters

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s