RJ Lino dan Hengkangnya Buwas dari Mabes Polri

Lino dan Waseso heranKondisi nasib jabatan Budi Waseso (Buwas) sebagai Kepala Bareskrim Polri tergolong seumur jagung (Tujuh bulan) kontras sekali dengan masa jabatan Richard Joost Lino sang penakluk pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

RJ Lino saat kecil disapa oleh keluarga dan temannya dengan julukan “Manneke” (anak kecil dalam istilah Belanda) justru kini menjadi pembesar dan telah menjabat  6 tahun lebih sebagai Direktur Utama PT Pelindo II Jakarta sejak 11 Mei 2009.

Manneke yang emosinya tak terkontrol saat kantornya Indonesia Port Corporation (IPC) di kawasan pelabuhan Tanjung Priok digeledah tim Bareskrim (28/8/2015) menuai kontroversi ketika secara blak-blakkan menelpon (mungkin ditelpon) Sofyan Djalil, Kepala Bapenas, meski bukan atasannya dalam hirarki organisasi  (harusnya menghubungi Rini MS sebagai Menteri BUMN – red).

Aksi telepon terbuka di hadapan banyak orang tersebut menuai kritik pedas padanya mempertanyakan tingkat kedewasaan dan kematangan emosional seorang pimpinan yang mengurusi BUMN strategis di tanah air. Melalui rekaman pembicaraannya yang beredar luas, Manneke Lino sampai mengeluarkan pernyataan ancam mundur dari jabatannya jika masalah penggeledahan itu tidak ditindak lanjuti sebab dinilai benar-benar melanggar batas terriotrial steril dalam kawasan kekuasaannya.

Menyangkut peristiwa “dikunjungi”  Bareskirm, Lino juga dihubungi Sofyan Wanandi staf khusus Kepresidenan setelah peristiwa tersebut. Dalam percakapan yang tidak diketahui sumber perekaman asalnya dari mana, Lino mendapat dukungan moral dan teknis dari Sofyan Wanandi dan berjanji akan menyelesaikan persoalan tersebut di tingkat atas (R1 dan R1 dengan Kapolri). Transkrip telepon Lino dengan Sofyan Wanandi dapat diakses di sini : Pecakapan Lino dengan Sofyan Wanandi

Bukan sekali ini saja Lino menuntut demi kenyamanannya dalam bekerja. Sebelum ia dilantik menjadi Dirut Pelindo II, pada Januari 2009 Lino memberi syarat kepada kementerian BUMN saat itu Sofyan Djalil. Ada 3 syarat yang diajukan oleh Lino kepada pemerintah (Kementerian BUMN) jika ditunjuk sebagai big bos di Pelindo II, yaitu :

  1. Bebas menentukan calon dewan Direksi tanpa intervensi pemerintah apalagi intervensi politik siapapun dan untuk siapapun
  2. Menetapkan sistim manajemen sendiri dengan sistim pembagian waktu yang eksklusif
  3. Membatalkan pembangunan dan pengembangan Pelabuhan Niaga Bojonegara di Banten. Meski dua Presiden (Megawati dan SBY)telah menyetujui pembangunan pelabuhan tersebut kenyataannya pemerintah tidak melanjutkan atau menunda sampai saat ini pembangunan pelabuhan yang diyakini dapat menjadi kompetitor bagi Tanjung Priok Jakarta nantinya.

Ke tiga tututan (lebih mirip syarat) tersebut sanggup dipenuhi oleh Pemerintah. Lino pun melenggang menjadi Dirut hingga berkuasa sampai kini telah berusia 6 tahun lamanya. Entah terlalu lama berkuasa Lino pun menjadi penguasa yang luar biasa. Selain mampu meningkatkan kinerja dan laba Pelabuhan yang dipimpinnya di sisi lain menuai ketidak puasan, beberapa diantaranya adalah :

  • Dugaan “penjualan” Jakarta International ContainerTerminal (JICT) dengan sewa murah kepada pihak asing
  • Batas waktu tunggu bongkar muat (Dwelling Time) di JITC sangat lamban sehingga secara tidak langsung dinilai tidak efisien dan menambah biaya pengguna jasa JITC
  • Dugaan pembelian peralatan mobile crane yang kemudian tidak terpakai karena tidak sesuai dengan peruntukan. Kerugian negara diduga mencapai 54 miliar atas pembelian 10 unit.
  • Sejumlah tudingan kini kerap menghiasi Pelindo II khususnya di JITC sebagai sarang mafia aneka kepentingan meraup uang.

Reputasi Lino dalam bidang pelabuhan patut diberi acungan jempol. Ia pernah menjadi salah satu Managing Director of Port Guigang, Guangxi, Cina sebelum berkiprah di tanah air. Ia mampu meningkatkan nilai perekonomian di pelabuhan tersebut dengan bekerjasama dengan sejumlah pelabuhan di beberapa provinsi lainnya di Tiongkok.

Lino sering mengikuti pelatihan dan training untuk meningkatkan nilai tambah kompetensinya. Hal yang sama juga dilakukan terhadap anak buahnya untuk belajar, berlatih dan meningkatkan skil masing-masing. Lino telah mengirimkan seratusan anak buahnya untuk mengecap aneka pendidikan dan latihan dalam dan diluar negeri untuk meningkatkan kompetensi mereka di berbagai bidang.

Pergantian komjen Budi Waseso boleh jadi hal yang biasa dan tidak ada sangkut pautnya dengan Lino. Akan tetapi Lino masih hangat ingatannya pada peristiwa menyeruaknya polisi hingga ke ruangan kerjanya, mungkin  tidak akan sama persepsinya tentang copotnya Buwas.

Berdasarkan hal tersebut –hanya dugaan- Lino pasti punya kesan dan pandangan dari sisi lain dalam pergantian Budi Waseso. Setidaknya Lino tersenyum melihat pergantian tersebut. Meski Lino bukan pengambil kebijakan atau keputasan soal pergantian Buwas batinnya kelihatannya puas saat ini, meski mungkin saja setelah itupun kejayaan Lino juga berakhir di Pelindo II suatu ketika nanti.

Copotnya Buwas secara tak langsung memberi pesan pada kita bahwa pergantian tersebut beraroma politis. Selain itu, dari berbagai media membeberkan informasi hampir senada dengan itu (politis). Kita juga dapat membaca “kesimpulan” dari pergantian Buwas bahwa Polisi perlu lebih berhati-hati dan mengedepankan koordinasi dalam tatacara penggeledahannya.

Lino mungkin tidak lupa bahwa Polisi juga dalam rangka menjalankan tugasnya pada aksi penggeledahan tersebut, jadi Polisi juga ada dasar hukumnya dalam bertindak.Tapi apa boleh buat sang penguasa Tanjung Priok ini merasa terusik dan menyimpan kenangan tidak menyenangkan atas peristiwa tersebut lalu mengadukan kepada big bosnya sehingga saat terjadi pergantian Buwas tak lama setelah peristiwa tersebut sangat wajar memancing tanda tanya bermotif politis dalam pandangan publik.

Siapakah big bos manneke Lino? Lino saja yang tahu dan ia nyaman menjalankan perannya hingga mampu bertahan menjadi penguasa Tanjung Priok sampai 6 tahun lebih.

Mungkinkah Lino sangat kuat? Tentu tidak, tapi ia jelas sangat berani termasuk mengaku merasa dekat dengan petinggi negara bahkan sejak menjabat sebagai kepala bagian di Pelindo II mengaku dekat dengan menteri dan Presiden. Tak heran juga sikecil yang kini menjadi pembesar tak tergoyahkan jabatannya hingga 76 bulan lamanya sampai kini (saat tulisan ini dibuat).

Meski demikian sikecil yang kini telah menjadi pembesar itu perlu meningkatkan kewaspadaan dengan potensi timbulnya “demo ” anti Lino atau anti kebijakan di jajarannya oleh siapapun. Kemungkinan anti Lino akan semakin marak setelah ini.

Promosi, naik Eselon dan mutasi bahkan demosi dalam jabatan adalah hal yang biasa. “Jabatan itu bukan hak milik seumur hidup, melainkan sekadar amanah.” Tapi tidak berarti menjadi eforia saat menjabat, bukan?  Hehehehhe..

Salam Kompasiana

abanggetanyo

Iklan

2 pemikiran pada “RJ Lino dan Hengkangnya Buwas dari Mabes Polri

    • Mungkin merasa bisa apa saja krn merasa dekat dengan pejabat teras negara dan bisa main ngambek.. Saya tidak bisa menduga-duga tentang itu, tapi kita dapat membaca ada apa di balik superbody Lino..

      Terimakasih

      Suka

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s