Dolar Bikin Rupiah Gemetar

https://images.hedgeye.com/media_assets/0065/1433/currency_cartoon_04.13.2015_normal.png

Merosotnya nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing khususnya dolar AS tak berkesudahan tampaknya menjadi barometer sekaligus signal betapa daya tahan ekonomi kita sangat rentan diguncang oleh tekanan global terutama menguatnya mata uang AS (Super Dollar) di seluruh dunia. Super dolar atau disebut juga dengan “Superbill” untuk pecahan 100 dolar telah merajai uang dunia sejak 3 dekade terakhir.

Para pakar ekonomi dan pelaku yang berkompeten yang membidangi tugas ekonomi, moneter dan perdagangan boleh saja memberi analisis dengan sejumlah alasan dan logika-logika yang membuat suasana aman, nyaman, teduh dan sikap optimis tentang nasib rupiah yang membuat kita sejenak terlena pada janji-janji  menguatnya kembali mata uang kita, akan tetapi dalam kenyataan dari waktu ke waktu menguatnya rupiah tak kunjung nyata setelah mencatat nilai terendah terhadap dolar AS pada Juni 1998 dengan nilai Rp.16.800 per dolar AS menguat kembali ke Rp.6.900 per dolar AS.

Pelan tapi pasti rupiah terus merosot hampir tak terbendung. Meski pemerintah dan pihak berkompeten di bidang tersebut telah mati-matian membendung dan membentengi pertahanan rupiah tapi tak kuasa menghadapi super dolar yang telah membuat perang mata uang dengan kemenangan besar tumbuhnya ekonomi pesat AS. Super dolar meraup keuntungan luar biasa akibat selisih kurs terhadap mata uang seluruh dunia terutama di negara yang lemah sistim ekonominya termasuk Indonesia.

Pemerintah, pakar dan ahli yang berkompeten dibidang ekonomi dan moneter telah memberi analisa dan pernyataan yang menyejukkan sebagian kita, pemerintah (negara) optimis bahwa badai tekanan global kali ini tidak seburuk yang dibayangkan. Beberapa pernyataan yang masih hangat terlontar dari pakar dan ahli yang ditunjuk pemerintah untuk membidangi ekonomi dan keuangan serta pedagangan antara lain adalah :

  • Rasio – rasio ekonomi dan keuangan -katanya- sekarang lebih baik dari kondisi krisis ekonomi dan moneter 1997-1998
  • Kiris kali ini berbeda dengan krisis yang terjadi pada 1997-1998
  • Memburuknya mata uang kita terhadap super dolar jauh lebih kuat dibandingkan negara tetangga
  • Pertumbuhan ekonomi masih bagus dan laju inflasinya pada kisaran normal sekitar 2%
  • Cadangan devisa masih kuat menopang ekonomi sekitar 2 miliar dolar AS
  • Sejumlah lontaran kalimat lainnya terasa amat menyejukkan, membuat kita yakin dan optimis bahwa negara kita akan mampu menghadapi tekanan kali ini yang sesungguhnya tergolong hampir mirip kisah krisis ekonomi 1997-1998 khususnya pada pergerakan mata uang yang turun hampir tak terbendung pada masa itu.

Tapi apa yang terjadi di seberang sana?

  • Importir menjerit tak kuasa membayar akibat selisih kurs yang luar biasa tingginya
  • Pelaku pasar elektronik menjerit akibat dagangan elektronik mereka lesu pembeli khususnya enam bulan terakhir
  • Produsen atau pabrik yang bahan bakunya tergantung pada impor tersengal-sengal nafasnya akibat dilema memilih bertahan dengan sejumlah karyawan atau menutup usahanaya.
  • Bahan kebutuhan pokok semakin mahal.
  • Pergantian suku cadang dan perawatan yang bahannya buatan luar negeri akan semakin besar biayanya
  • Nilai hutang yang dikenakan dalam mata uang dolar AS membengkak membuat pembayar hutang termasuk hutang negara bikin semaput untuk melunasi atau mencicilnya.

Meski pada umumnya melemahnya Rupiah membuat kita gusar, diseberang sana, banyak juga pelaku ekonomi yang mendapat limpahan rezeki nomplok atas menguatnya dolar AS, akan tetapi seseungguhnya lebih banyak yang gusar ketimbang berbinar-binar atas peristiwa melemahnya mata uang rupiah.

Mengapa Rupiah bernasib malang?

Menurut Gubernur BI, Agus Martowardoyo, ekonomi AS diperkirakan akan terus membaik dalam 3 tahun mendatang. Super Dolar akan terus menguat, apalagi diprediksi ekonomi China belum tentu membaik tahun ini, katanya kepada pers (Jumat 28/8). Dapatkah kita bayangkan akan bernasib seperti apa rupiah kita kita tiga tahun ke depan jika prediksi Gubernur BI tersebut jadi kenyataan?

Apakah kita terus menerus hanya mampu menghibur diri tanpa mampu melakukan sesuatu yang mampu melepaskan belengu yang menyebabkan rupiah bernasib malang?.

Fenomena menguatnya Super Dolar yang secara langsung berimplikasi terhadap melemahnya Rupiah telah dianalisis dan dibahas dimanapun dan oleh siapapun.Dalam pandangan penulis  penyebab terus menerus melemahnya Rupiah diakibatkan oleh dua hal umum, yaitu :

Sebab yang besumber dari dalam (dalam negeri) beberapa diantaranya adalah :

  1. Rakyat atau warganya sendiri mulai meragukan kekuatan uangnya sendiri. Warga semakin kritis menyikapi aneka perubahan ekonomi. Ironisnya (disinyalir) ada sebuah BUMN masih menggunakan dolar dalam transaksinya. Hebat sekali supaya dianggap menguntungkan dan berkinerja memuaskan, bukan?
  2. Warga yang memiliki simpanan dalam jumlah banyak terinspirasi oleh peristiwa booming dolar 1998 sehingga menukarkan uang mereka dari rupiah ke dolar AS. Pemain valuta asing (valas) kini bukan lagi didominasi oleh pekerja pada lembaga sekuritas atau lembaga keuangan melainkan oleh seluruh lapisan masyarakat kini sudah mengetahui benefit dan risiko tentang bermain valas.
  3. Para penyelenggara dan pejabat negara lebih dahulu memberi contoh menyimpan uang mereka dalam mata uang dolar. Mungkin saja simpanan tesebut sebelum ia menjabat kedudukan tertingginya saat ini, akan tetapi sebelum menjabat sekarang ia juga seorang pejabat negara baik di pusat maupun di daerah. Banyak temuan KPK saat penangkapan pejabat termasuk di dalamnya menggaruk barang bukit berupa mata uang asing pada umumnya dolar AS dan Singapore selain ringgit Malaysia.
  4. Penyelenggara pasar modal banyak keok akibat aksi beli dolar pemilik saham.

Sebab yang bersumber dari luar (luar negeri) beberapa diantaranya adalah :

  1. Pemain valas di negara tertentu memahami betul bagaimana cara menggemboskan mata uang rupiah. Dalam skala jumlah besar pemain tersebut pantas disebut pialang kakap jika tidak pantas disebut mafia. Mereka membeli rupiah pada saat tertentu dan menjadikannya sebagai dolar dalam jumlah yang amat besar.
  2. Penjual dolar di jaringan black market menawarkan harga yang lebih menarik ketimbang yang dipatok oleh BI melalu aneka rate dan mentodenya.
  3. Penjual dolar black market menawarkan dolar lebih murah dari kurs resmi yang diterapkan pemerintah setiap harinya. Kita dapat menemukan maraknya penawar jasa di pasar gelap ini baik secara terbuka (via internet) maupun secara tertutup yang beroperasi di negara lain.
  4. Pemilik uang di negara lain tahu betul meningkatkan daya pertumbuhan uang mereka dengan membeli Rupiah lalu menukarkannya ke dolar pada waktu (saat) tertentu. Uang Indonesia diyakini paling menguntungkan dan berpeluang melipatkan gandakan uang mereka dibandingkan uang negara lain yang lebih kuat pertumbuhan ekonominya. Oleh karenaya bisa jadi uang Indonesia (rupiah) telah membuat pemilik uang di negara lain menjadi kaya raya dan berlipat ganda keutungannya dari permainan jual beli mata uang yang telah dilakukan sejak 1997 sejak mata uang kita terdeteksi sangat rentan daya tahannya terkait perekonomian kita.

Mungkinkah daya tahan rupiah yang rentan itu terkait dengan rapuhnya sistim perekonomian di negara kita? Tentu tidak ada yang mengakuinya. Apalagi pejabat dan penyelenggara negara serta orang-orang yang berkompeten yang ditunjuk negara menjalankan peranan tersebut di berbagai lembaga negara pasti akan menolak jika disebut sistim perekonomian kita lemah. Berbagai indikator rasio yang menjadi tolok ukur (standar) pun bermunculan menolak hal tersebut. Sebut saja, NPL, GDP, Inflasi, Pertumbuhan ekonomi, Cadangan devisa dan sebagainya, semua akan disebutkan terukur, terkontrol, kuat dan tak perlu cemas.

Jika demikian halnya baiklah, kita akan tetap menganggap perekonomian kita bagus, sangat kuat dan mampu menghadapi tekanan global. Ganasnya super dolar sanggup menahan gempuran terhadap ekonomi kita sehingga aneka indikator rasio yang dsebut di atas dalam jangka pendek dan panjang di masa yang akan datang semuanya berjalan baik-baik saja dan sesuai harapan. Akan tetapi bagaimana jadinya jika kenyataan hari demi hari rupiah merosot ke 14.500 dan menjadi 16.000 dan seterusnya.

Apakah kita tetap menghibur diri menutupi kegusaran akibat dampak tersebut, sementara itu Bank terbesar di AS JPMorgan Chase & Co meraup keuntungan bisnis netto (semester1/2015) sebesar 6,3 miliar USD. Tiga kali lipat dari total cadangan devisa negara kita saat ini? Sumber : Pendapatan Bersih JPMorgan Semester1/2015.

Sebelumnya, saat berada pada level 12.000 per dolar AS, sejumlah lontaran analisa dan penjelasan oleh pakar ekonomi dan keuangan yang berkompeten kerap menghiasi halaman koran dan muncul di mediatelevisi. Perhatikan beberapa lontaran kalimat menghibur, “Ekonomi kita masih kuat,” “Cadangan Devisa kita masih kuat,” “Pertumbuhan ekonomi kita bagus” atau ” Kondisi ini hanya sesaat, rupiah masih dalam ambang wajar” dan yang paling menggugah adalah “Pelemahan rupiah akibat kondisi memburuknya ekonomi Yunani dan Tiongkok” atau “akibat ekspektasi The Fed atau Bank Sentral AS akan menaikkan suku bunga pinjaman” mencari kambing hitam urusan negara lain, atau membandingkan dengan merosotnya Ringgit Malaysia lebih tajam ketimbang Indonesia.

Tapi apa yang terjadi? Faktanya lihatlah sendiri, realitasnya kontras sekali dengan harapan. Kini rupiah tembus angka psikologis 14.000 per dolar AS (melewati kurs yang digolongkan level resisten dikisaran 13.200 per USD). Masihkan kita belum percaya ekonomi kita harus dibenahi?

Oleh karenanya, kiranya para pemegang mandat yang ditunjuk oleh bangsa dan negara ini mulailah menyadarinya. Atas dasar cinta pada bangsa dan negara mari bertindak serius membenahi aneka sektor yang paling esensial dari sejumlah sektor lainnya yaitu :

  • Pejabat dan aparatur negara yang benar-benar menjalan tugas sebagai abdi negara. Dari pejabat pusat hingga petugas golongan terendah di daerah harus terintegrasi dalam satu visi patuh dan tunduk pada tugasnya dan aturannya masing-masing.
  • Memberantas aneka mafia dan kartel meski dibeking atau justru diakukan oleh aparatur negara bahkan rekan sejawat atau saudara sekalipun.
  • Mampu menjalankan peranan kontrol harga
  • Mampu memutus mata rantai yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi, termasuk aneka tukang peras resmi apalagi yang liar.
  • Tidak melakukan langkah berbau koruptif, manipulatif dan bersekongkol dengan pelaku ekonomi yang merugikan ekonomi bangsa.
  • Mencintai produk bangsa sendiri dan membayar dengan mata uang rupiah. Eksekutif dan Legislatif harus membuat aturan alat bayar transaksi di Indonesia menggunakan mata uang RI, yaitu Rupiah, bukan yang lainnya meski transaksi (berwujud atautak berwujud) berasal dari luar negeri (impor).
  • Mungkin ini paling berat, sanggupkah seluruh pejabat negara (legistlatif, yudikatif, eksekutif dan pejabat Kepolisian dan TNI) menukarkan dolar mereka ke rupiah kembali?

Meski tidak diharapkan, tapi sejumlah tanda-tanda di atas mirip dengan krisis moneter dan ekonomi 1998. Tanpa bermaksud memperkeruh suasana dan menimbulkan kepanikan, tujuan tulisan ini lebih pada instropeksi ke dalam saja. Mungkin dengan perbaikan sektor internal di atas sedikit tidaknya kita tak akan tergantung sama sekali pada goncangan yang diakibatkan oleh negara lain walaupun sama sekali tidak mungkin terbebas, tapi setidaknya tidak mudah diombang-ambing oleh kebijakan moneter negara lain sehingga kita tidak gusar seperti ini.

Pantas dolar semakin super dan rupiah kita makin melemah membuat kita gusar karena tanpa kita sadari sebab dari dalam ternyata memberi dampak yang amat besar pada krisis terhadap rupiah yang berpotensi mengulang kembali krisi ekonomi dan keuangan era Presiden Soeharto beberapa dekade silam.

Jika kita tak mau gusar mengapa kita tidak akui saja bahwa memang ada kelemahan terintegral dalam menjalankan peranan masing-masing lembaga dalam mengurusi ekonomi dan moneter nasional selama ini.

Memperbaiki  penyebab yang berasal dari dalam negeri  akan lebih obyektif dan relatif lebih mudah menanganinya ketimbang sibuk melotot dan menyalahkan George Sorros yang dianggap “mencuri” rupiah melalui aksi dagangannya, bukan?

Salam AGI

Sumber gambar : app.hedgeye.com

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s