Identitas Indonesia Pada Usia 70 Tahun, Siapa Indon?

http://cdn18.picsart.com/80397245805.jpeg?r240x240

Menjelang perayaan hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-70, pernak-pernik kemerdekaan menghiasi seluruh sudut Tanah Air dari desa sampai kota. Pesan psikologis dari perayaan kemerdekaan tentu bukanlah hura-hura atau pesta itu sendiri melainkan menanamkan makna cinta kepada bangsa dan Tanah Air yang harus dipupuk dan dihidupkan terus-menerus dalam setiap jiwa bangsa ini.

Menyangkut fenomena Kemerdekaan RI dan makna yang terkandung di dalamnya memancing saya teringat pada salah satu peristiwa menyebalkan dan menyesakkan dada rasanya ketika seorang pria yang tanpa sengaja bertemu di sebuah tempat wisata di Swiss menyebut saya “Indon”.

Awalnya saya tertarik memotret sebuah pemandangan menarik, lalu saya berusaha memotret diri sendiri dengan latar belakang alam tersebut tapi hasilnya tidak bagus. Lalu saya melihat seorang lelaki sedang berdiri beberapa meter sebelah saya dan bertanya apakah tidak keberatan dan terganggu membantu saya memotret saya sekali saja, dengan bahasa Inggris pas-pasan semampu saya.

Tanpa berucap apa pun, pria tersebut bersedia memenuhi permintaan saya. Dan setelah itu saya ucapkan terima kasih.

Ketika saya mengambil kembali kamera saya darinya ia melontarkan kalimat, “Are you Indon?” sambil tersenyum.

Hmmmm…, miris dan kecut hati saya tiba-tiba rasanya. Tanpa ekspresi dan seketika menutup kembali senyuman saya memandangnya datar. Seketika saya menjawab dengan bahasa Inggris seadanya, “Tidak. Saya bukan Indon. Saya orang Indonesia dan dari Indonesia. Anda tahu?” Mata saya melotot, kini menjadi sinis melihatnya. “Brengsek benar orang yang saya minta tolong  ini rupanya,” kata hati kecil saya.

Dalam waktu sepersekian detik senyuman dan keramahan saya berubah menjadi hambar karena saya memperoleh ucapan yang tidak saya sukai dan tak tahu dari mana sejarah dan asal-muasal kata “Indon” tersebut. Sebab yang saya kenal dan tahu adalah Indonesia untuk nama bangsa dan tanah airku.

Emosi saya memicu bangkitnya adrenalin. Sambil mengepalkan tangan untuk meninjunya, nalar saya menetralisir situasi mengirim pesan kembali ke otak saya. “Hai kawan… Ini negeri orang, negeri ini taat hukum dan aturan dan sangat berisiko melakukan kejahatan meski dimaki atau dihina sekalipun.” Situasinya pun dapat dikendalikan meski masih membekas sampai sekarang.

Apa dan Mengapa Indon?

Sebutan Indon adalah sebutan tak sedap yang dilontarkan oleh beberapa bangsa dan negara tetangga kita terhadap orang Indonesia. Dari beberapa informasi, kata dan sebutan Indon digunakan oleh warga dan pemerintah Malaysia untuk menyebut rakyat dan negara Indonesia.

Pemerintah Indonesia pernah melayangkan nota protes kepada Malaysia melalui dubesnya di Indonesia untuk tidak menyebut sebutan Indon pada negara dan bangsa Indonesia pada 13 Mei 2007. Dampaknya, Pemerintah Malaysia melalui kementerian penerangan telah mengeluarkan aturan larangan menggunakan istilah tersebut pada 24 Mei 2007. Ironisnya mengapa sebutan itu tetap terjadi dan media massa Malaysia pun kerap menggunakan sebutan tersebut?

Meski menurut orang Malaysia kata tersebut tidak berniat prejudis (berprasangka buruk) terhadap Indonesia, kata tersebut serasa merendahkan dan menghina. Logika berpikirnya, maukah orang lain mengganti nama bangsa dan negara Anda dengan sebutan yang tidak Anda mengerti? Sebutan itu sama dengan jengkelnya warga kulit hitam AS yang disebut Negro atau sebutan “Cina” untuk etnis Tionghoa atau Tingkok atau bangsa Norwegia tidak suka disebut Viking yang identik dengan penyerang, kasar, dan barbar berkonotasi negatif haus darah.

Contoh lainnya, sebutan Ukry bagi orang Ukraina adalah sebutan yang dinilai merendahkan. Sedangkan orang Rom (roma) tidak suka disebut Gipsi, Gypsy, Gipsy, Gypsi, Gitanos, Zigeuner, Tsigani atau Cigány. Orang Belanda tidak suka dengan sebutan Cheesehead, sebutan negatif yang pernah digunakan Hitler pada masanya menyebut orang Belanda. Masih banyak istilah lainnya yang berkonotasi merendahkan yang ditujukan pada sebuah etnis, bangsa atau negara dunia. Lengkapnya dapat dilihat di sini : List_of_ethnic_slurs

Mungkinkah kita juga menggunakan sebutan yang berkonotasi merendahkan bangsa atau entnis dari negara lain? Mungkin saja dan bisa saja itu terjadi. Akan tetapi sebagai bangsa berpendidikan dan telah matang serta berbudaya kita tidak akan menggunakan sebutan seperti orang tidak berpendidikan atau tidak beradab seperti itu.

Kita tidak perlu menyebut bangsa Malaysia atau bangsa mana pun dengan sebutan misalnya (maaf) Maloyo atau Malingsia atau apalah sebutan lannya yang bernada menghina, tidak bersahabat dan merendahkan orang lain. Saya sendiri misalnya, di tempat kediaman saya banyak berkumpul anak-anak Malaysia yang menjadi mahasiswa di kota ini. Saya memperlakukan mereka dengan sangat bersahabat, bersaudara, dan semampunya membantu mereka agar mereka nyaman merasa seperti di rumahnya sendiri.

Pernahkah saya menyebut mereka dengan sebutan seperti di atas misalnya? Jawabannya TIDAK dan tidak akan pernah terjadi meski saya pernah disebut seperti itu dan terasa tidak nyaman. Alasannya bukan karena saya tidak sempat membalas atau perlu membalasnya, tapi lebih-lebih karena akal dan logika berpikir saya tidaklah seperti orang yang tidak berpendidikan dan tidak beradab meski pendidikan saya yang pas-pasan tidaklah terlalu tinggi.

Dengan menghargai bangsa lain, suku lain atau etnis lain kita telah menjadi bangsa yang maju dan dewasa. Itulah cita-cita dari napas dan pesan Kemerdekaan hakiki yang setiap tahunnya kita peringati agar persatuan dapat terwujud demi mencapai kemajuan dalam setiap bidang dengan siapa pun di masa yang akan datang.

Jadi tidak perlu bertinju bukan? Lagi pula bisa saja saya yang kena tinju duluan atau dua-duanya bertinju lalu berujung dalam tahanan karena menimbulkan kekacauan di depan publik.. Hehehehehe…

Salam semangat kemerdekaan RI untuk semua

Sumber Gambar : cdn18.picsart.com

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s