Ujian Pertama Pangab TNI Gatot Nurmantyo, Waspadai Intelijen Asing di Tolikara

http://tolikarakab.go.id/wp-content/uploads/2015/04/TOLIKARA-city-1.jpg Terlepas dari perspektif mana terjadinya peristiwa Tolikara pada 17 Juli 2015 bertepatan dengan saat berlangsungnya Idul Fitri seluruh dunia sedang dilaksanakan, kasus Tolikara adalah sebuah Pekerjaan Rumah yang pertama harus segera ditangani super serius oleh Jenderal Gatot Nurmanyo, Panglima Angkatan Bersenjata (Pangab) TNI yang baru dilantik pada 8 Juli 2015.

Berselang seminggu setelah pelantikan Gatot Nurmantyo peristiwa Tolikara memperlihatkan tanda-tanda lemahnya toleransi ummat beragama menampakkan wujudnya teramat membahayakan. Tolikara telah memberi signal toleransi beragama berselimut angkara murka berpotensi memecah NKRI.

Mengapa Tolikara menjadi PR pertama Pangab yang baru, padahal Tolikara adalah sebuah Kabupaten di Provinsi Papua dan Tarubaga tempat peristiwa Intoleransi itu terjadi adalah sebuah sebuah ibukota yang dihuni oleh tak kurang 65 ribu penduduk dari aneka ummat beragama terutama Kristen.

Jumlah Penduduk Kabupaten Tolikara beraneka ragam jumlahnya, tapi rata-rata sekitar 147 ribuan jiwa. Akan tetapi mengacu pada situs resmi Papua, jumlah penduduknya sebanyak 114.427 jiwa (Papua 61.120 orang, Non Papua 681 orang. Total 61.901 dan lainnya sekitar 50 ribuan). Jumlah penduduk di ibukota Karubaga hanya setengahnya saja Sumber : https://www.papua.go.id/view-detail-peta-8/hutan-lindung.html

Dari sisi jumlah penduduk memang sangat minim, tapi hal itu BUKAN alasan menjadikannya persoalan Tolikara sebagai hal yang kecil.

Tak salah juga kasus Tolikara menjadi sebuah langkah awal Pangab TNI yang baru dan menjadikannya sebagai Pekerjaan Rumah yang teramat penting, padahal peristiwa hampir sama juga terjadi di beberapa wilayah lain yang didominasi oleh mayoritas di seluruh Indonesia.

Berdasarkan data dan fakta di bawah, ternyata Tolikara memang lain, itu sebabnya Tolikara menjadi PR pertama maha penting bagi Gatot dalam membuktikan kepiawannnya dan pantas menjadi Panglima TNI.

Jika melihat pada catatan perjalanan (rekord) Gatot Nurmanyo (55) lulusan Akmil 1982, sebagian besar waktu kariernya melekat pada infanteri baret hijau Kostrad dan penempatannya sebagian besar di wilayah Papua atau Irian Jaya. Ia telah berualng kali menempati posisi aneka tugas dan Jabatan di Indonesia Timur khususnya di tanah Papua, antara lain :

  • Pernah menjabat sebagai salah satu Pasi Ops di Korem 174/Anim Ti Waninggap, Jayapura
  • Pernah menjabat sebagai Dandim 1707/Merauke
  • Pernah menjabat sebagai Dandim 1701/Jayapura
  • Pernah menjabat sebagai Danyonif 731/Kabaresi di Maluku
  • Pernah menjabat sebagai Pangdam V/Brawijaya (2010-2011)

Sedikit tidaknya, sejumlah pengalaman di tanah Papua atau Indonesia Timur telah pernah membuat Gatot mengerti, memahami dan menjiwai apa dan bagaimana sebetulnya potensi masalah di Tanah Papua, jenisnya, sumbernya maupun permasalahan serta cara penangannya.

Kita tidak akan mengurai dan merinci Jenis masalah, Sumber masalah maupun inti masalah di Tanah Papua satu per satu pada tulisan ini karena ketiga hal tersebut pasti Gatot dan intelijen Negara dan TNI telah menyiapkan sejumlah potensi dan sumber penyulut masalah.

Namun sekadar menambahi tak salah kita sedikit melihat ke belakang ke tanah papua. Lihatlah beberapa catatan dan fakta sejarah tentang Papua dan Papua Barat khususnya sejarah Tolikara sebagai berikut :

  • Jumlah penduduk kabupaten Tolikara pada 2003 (setelah Kabupaten ini resmi dibentuk pada 2002) sebanyak 54.821 jiwa. Dalam kurun waktu 12 tahun peningkatannya menjadi 114 ribuan jiwa (mengacu pada situs resmi di atas). Hal ini memperlihatkan proses menuju kemajuan yang teramat lambat meski pertumbuhannya 200% dari penduduk awal terbentuknya kabupaten tesebut.
  • Di wilayah seluas 14.564 km2 terdapat kandungan potensi alam berupa batu gamping bahan baku utama pembuat semen. Sementara itu beberapa info menyatakan sumber alam di wilayah tersebut juga bermuatan emas. Ini berarti terdapat informasi tentang kekayaan alam yang terkandung di bumi Tolikara menggiurkan pihak asing yang berkeinginan menguasai kandungan alamnya seperti halnya penguasaan atas tambang emas Freeport.
  • Konflik horizontal di Tolikara kerap terjadi. Salah satu yang terbesar adalah konflik antar suku dalam bidang politik daerah yang terjadi pada 5 Januari 2012 lalu dimana dua suku di sana saling serang menyebabkan 11 tewas, 201 luka-luka dan 122 rumah hangus terbakar. Ini menandakan bahwa daerah ini memang tertinggal pendidikannya dan mudah tersulut oleh provokator yang menunggangi mereka dengan imbalan tertentu.
  • Nama Karubaga awalnya adalah Kondaga. Sebutan Karubaga baru dinamakan setelah orang Toli khususnya suku Lani Kar menyebut  dua misionaris asing (Gesswein seorang pilot dan Widbin) yang membangun lapangan terbang perintis di dekat danau Archbold, Bakondini pada 28 Januari 1955 dan selesai 21 Peb 1955. Dalam bahasa Lani Kar, Karubaga itu sebutan orang lokal untuk Bule misionaris dengan sebutan “Kamu Rubaga” yang berarti “Ini Jalanmu” bermakna “Kamu bebas mengambil jalan mu di sini.” Ini berarti, wilayah tersebut telah selangkah lebih duluan dikelola oleh misionaris dengan bukti nyata bantuan untuk warga setempat sehingga mampu merebut simpati warga asli di sana.
  • 1 Mei 1963, Papua atau Irian Jaya resmi bergabung ke dalam NKRI. Namun di Tolikara hanya sebuah distrik (kecamatan) yang terisolir selama 37 tahun (hingga 2000) sehingga Tolikara tertinggal jauh dalam bidang pendidikan, pembangunan infrastruktur dan masalah sosial lainnya dibanding daerah lain di Indonesia. Kondisi ini dimanfaatkan oleh lembaga sosial atas nama bantuan kemanusiaan membangun aneka infrastruktur dan bantuan sosial. Ini memperlihatkan perhatian pemerintah terhadap pembangunan Irian Jaya (Papua dan Papua Barat) khususnya di pedalaman mirip kasus daerah Indonesia terluar lainnya yang minim perhatian sehingga miskin dalam pendidikan, pengetahuan dan kesejahteraan ekonomi. Provokator mudah menggunakan celah ini untuk membuat antipati pada pemerintah.
  • Dari salah satu blog mahasiswa asal (warga) Tolikara (https://eseywanimbodotcom), kita dapat melihat sejumlah latar belakang arti pemberian nama Tolikara, yakni :
    • TOlong LIhat KAmi RAkyat. Dari DR. Hc. Jhon Tabo MBA.
    • TOraja LIngkari KARubagA. Berdasarkan dengan kenyataan banyaknya orang makassar di Tolikara.
    • TOLI diambil dari nama wilayah, KARA diambil dari nama Ibukota kabupaten Tolikara tersebut Yaitu KARubagA
    • Ini berati sesungguhnya warga di sana membutuhkan perhatian. Selain itu adanya kekuatiran melihat suku lain pendatang (mungkin menguasai perekonomian di sana) menjadi ancaman karena cemburu sosial yang dilatar belakangi oleh pendidikan warga setempat yang rendah.
  • Pada situs resmi Pemda Tolikara kita melihat tampilan banner di bagian atasnya sebuah ucapan “Selamat Melaksanakan Ibadah Puasa Ramadhan” dari Pemda dan warga Tolikara. Meski baru, Situs yang baru diluncurkan tiga tahun terakhir tersebut dikemas dengan baik, memperlihatkan aneka informasi menarik dan kegiatan di Kabupaten Tolikara. Hal ini memperlihatkan sikap positif dan terbuka Pemda setempat pada ummat muslim. Sepertinya ada pihak ketiga yang mampu menyulut emosi warga dan menciptakan angkara murka di Tolikara. Selain itu juga kita dapat melihat aneka aktifitas sosial di Tolikara.
  • Motto yang diusung oleh Kabupaten Tolikara adalah “Terwujudnya Masyarakat Tolikara yang Religius, Manu, Mandiri, Adil dan Sejahtera sehingga menjadi kerangka dasar menuju Tolikara yang Unggul.” Ini mencerminkan bahwa poin pertama dan paling utama adalah masalah religi atau agama. Tolikara menomorsatukan urusan agama sebagai hal yang paling esensi dalam membangun daerah dan masyarakatnya. Tak heran sejumlah misionaris senantiasa dengan bebas menancapkan program-program keagamaan di wilayah ini.
  • Pada ulang tahun Kabupaten Tolikara ke 13 pada 30 Juni 2015 lalu, Presiden Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Pdt. Dorman wandikbo,STh didaulat memberi kata sambutannya. Ini memperlihatkan bahwa wilayah ini sudah sangat melekat ajaran Kristiani meski masih banyak warga setempat masih animisme atau ada yang menyembah gunung dan benda yang dianggap keramat.
  • Menurut informasi tak kalah penting, peristiwa Tolikara adalah sebuah rekayasa (permainan) intelijen asing di Papua. Tujuannya adalah menciptakan konflik komunal antar ummat beragama yang nantinya berimplikasi pada konflik Horizontal dan Vertikal. Dapat diduga, dalam posisi krodit kerusahan bermotif SARA tersebut akan menciptakan opini telah terjadinya kekerasan dan tirani di Papua sehingga memancing legitimasi PBB menghadirkan pasukan PBB sebagaimana lazim terjadi di beberapa negara sampai memicu terjadinya refrendum yang berpotensi pada lepasnya Papua dari NKRI.

Berdasarkan sejumlah penjelasan di atas, mempertimbangkan sejumlah data dan fakta di atas, apa yang harus dilakukan oleh Pangab TNI dan Pemerintah menangani potensi masalah besar di Tolikara seperti ini? Tak lain dan tak bukan adalah :

  1. Memberi pengertian kepada Pemda, Organisasi massa, pemuda dan kepala suku setempat tentang hak menjalankan agama resmi di tanah air berlaku di seluruh Indonesia termasuk perayaan hari agama masing-masing juga perlu diberikan kepada pemeluknya masing-masing.
  2. Memberi perhatian sungguh-sungguh dan nyata di daerah pedalaman khususnya di Tolikara yang berpotensi membara
  3. Memberi peringatan dan pendidikan kepada seluruh misionaris untuk mengajari warga atau ummatnya dalam pendidikan agama bahwa prinsip kesatuan dan persatuan serta cinta kasih kepada sesama adalah lebih utama
  4. Melakukan tindakan tegas kepada ummat agama manapun yang anarkis kepada pemeluk agama lainnya tanpa pandang bulu. Karena jika ini dibiarkan sulit membayangkan bagaimana kondisi ummat beragama yang minoritas di daerah mayoritas agama tertentu (misal Islam) jika melakukan hal yang sama. Di sinilah perlunya saling mengingat nasib saudara-saudara lainnya yang berada di sejumlah wilayah Republik Indonesia.
  5. Tindakan tegas tanpa kekerasan memang lebih utama. Namun provokator penyulut angkara murka dari pihak manapun yang mencoba menciptakan keruntuhan NKRI melalui konflik agama dan suku (SARA) sebaiknya ditindak tegas dan diproses sesuai hukum berlaku layaknya perlakuan terhadap terorisme.
  6. Meperhatikan adanya potensi permainan intelijen asing di Tolikara atau mirip dengan daerah tersebut di tempat lain, peranan intelijen negara (BIN) dan intelijen dari Polri dan TNI harus ditingkatkan daya jelajah dan kemampuannya. Kontra intelijen dalam bentuk penyusupan dan pengkondisian melalui aneka sarana dan informasi musti ditingkatkan. Jika jumlah intelijen terbatas maka pemerintah harus merekrut intelijen baru baik dari sipil maupun dari TNI/Polri. Jika mau bertaruh, mana yang harus dikorbankan antara biaya (anggaran) dibanding lepasnya wilayah NRKI tentu pilihannya adalah rela kehabisan dana.

Dengan mempelajari sejumlah data dan fakta di atas, Gatot Nurmantyo harus mampu segera meredam dan mengantisipasi potensi yang sama di masa yang akan datang baik di Papua atau mirip dengannya di seluruh Indonesia.

Tentu saja Jenderal Gatot Nurmantyo bukanlah seorang dewa sakti atau dukun ampuh yang cukup mengatakan “Sim salabim” atau “Abrakadabra” semuanya akan berjalan dan terjadi seperti keinginannya, sebab masih banyak anak buah di bawahnya dengan beraneka karakter, visi dan kemampuan serta mainset profesionalitas melatar belakangi mereka yang sedikit tidaknya ikut juga mempengaruhi visi dan misinya selaku Pagab TNI dalam menangani persoalan secara cepat dan tepat.

Namun demikian dengan mempelajari data dan fakta di atas, sedikit tidaknya PR utama dan pertama di Tolikara sebaiknya segera dilaksanakan. Jangan sampai  peristiwa Tolikara membuat Toleransi Beragama menjadi potensi angkara murka yang membuat kita semua lelah mendinginkannya suatu saat nanti.

Salam AGI

Sumber :

http://tolikarakab.go.id/category/home/

https://www.papua.go.id/view-detail-peta-8/hutan-lindung.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Tolikara

https://eseywanimbodotcom.wordpress.com/2013/11/27/nama-nama-mahasiswa-asal-tolikara/

https://id.wikipedia.org/wiki/Gatot_Nurmantyo

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s