Lebaran Jokowi di Aceh, Apa Maknanya?

http://vibizmedia.com/wp-content/uploads/2015/03/antarafoto-kedatangan-presiden-jokowi-aceh-090315-rmd-4.jpg

Belum pernah terjadi dalam sejarah presiden Republik Indonesia berlebaran Idul Fitri di Aceh. Dari jaman Soekarno sampai Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) penulis telah melihat aneka sumber informasi terdahulu tak menemukan adanya peristiwa seorang kepala negara dan pemerintahan yang bersedia meluangkan waktu lebarannya di sebuah tempat nun “jauh” dari kampung halamannya sendiri, yakni di Aceh.

Beda dengan Joko Widodo (Jokowi) yang telah memastikan akan berlebaran selama dua hari di Provinsi paling barat Repubblik Indonesia. Kepastian tentang hal ini diperoleh dari Teten Masduki, anggota Tim Komunikasi Presiden di Jakarata Selasa (14/7).  “Ketika lebaran Presiden akan berada di Aceh, Meulaboh,” katanya pada pers.

Media lokal dan aneka informasi juga telah memberitakan kepastian Jokowi akan berlebaran di Aceh, tepatnya di kota Meulaboh, ibukota Aceh Barat (lebih kurang 250 kilometer dari Banda Aceh).

Sekilas keputusan presiden memilih Aceh tempat berlebaran pertamanya -saat menjabat presiden- adalah sesuatu yang biasa-biasa saja. Namun jika melihat pada sejarah dan latar belakang BELUM pernah ada seorang presiden pun yang bersedia meluangkan waktunya untuk berlebaran selain di Jakarta atau kampung halamannya sendiri, rasa-rasanya keputusan tesebut bukanlah sesuatu yang biasa-biasa saja, melainkan sesuatu yang luar biasa.

Jika mengacu pada jumlah Provinsi di seluruh tanah air saat ini sebanyak 34 Propinsi akan memerlukan waktu 34 tahun bagi Jokowi untuk dapat berlebaran di seluruh Propinsi jika ia mampu menjabat setaraf rekor Soekarno atau Soeharto. Tapi hal itu tentu tidak mungkin terjadi lagi saat ini berdasaran alasan peraturan dan undang-undang jabatan presiden.

Lebih-lebih lagi jika mengacu pada usia, jika usia Jokowi saat ini 54 tahun (lahir 21 Juni 1961 ) maka ia baru selesai melakukan safari lebaran pada provinsi ke (urutan 34) pada usia 88 tahun. Secara psikis dan psikologis sudah tidak mungkin lagi bukan? Jadi sekali lagi, lebaran bersama di Aceh ini bukan sesuatu yang biasa-biasa saja jika tidak setuju menyebutkannya sebagai hal yang luar biasa.

Apa yang melatar belakangi Jokowi memilih Aceh? Secara formal jawabannya tentu karena Jokowi bukan saja milik daerah lain terutama Jawa meski ia berasal dari Jawa. Ia adalah milik negara kesatuan Republik Indonesia di mana Aceh termasuk salah satu di dalamnya.

Tentu ada sejumlah alasan lain di balik keputusan langka tersebut. Beberapa hal yang melatar belakangi keputusan tersebut adalah : Meski Jokowi kalah dalam pemilihan umum Presiden di provinsi Aceh (secara umum) namun Jokowi memperlihatkan antusiasmenya yang tinggi untuk membenahi Aceh di setiap bidang. Pada kunjungan pertamanya sebagai Presiden 9 dan 10 Maret 2015 lalu ke Aceh, sejumlah janji-janji telah dalam kunjungan tersebut yang tercatat oleh penulis adalah sebagai berikut :

  • Mendukung pembangunan waduk Krueng Kereuto, waduk terbesar di Aceh Utara. Saat itu Jokowi meletakkan batu pertama pembangunan waduk tersebut. Sayangnya kabarnya sampai saat ini pembangunan waduk tersebut belum terpublikasi sejauh apa sudah pelaksanaannya.
  • Peresmian refigasi Perta Arun di Lhokseumawe. Sayangnya hingga saat ini belum jelas kondisi dan tindak lanjut refigasi tersebut.
  • Kunjungan ke titik paling ujung Indonesia, yaitu di Kilometer Nol (Km 0) di Sabang, Pulau Weh yang dicanangkan menjadi Ikon HUT RI 2016 yang ke 70. Menurut informasi icon HUT RI ke 70 telah sesuai dengan rencana tersebut.
  • Persetujuan jalan tol Tran Sumatera, Aceh sampai Lampung. Sayangnya belum jelas tindak lanjut rencana mega proyek tersebut.
  • Persetujuan beberapa ruas jalan tol di Aceh. Sama dengan di atas, sampai saat ini empat bulan setelah kunjungan pertama belum ada kejelasan seperti apa rencana tersebut akan dimulai.
  • Pembicaraan dan diskusi serta memberi masukan terhadap beberapa hal lain dalam memajukan Aceh dan menyinggung hal penting lainnya tentang performa anggaran Aceh 2015.

Secara psikologis hubungan Jokowi dengan Aceh bukan hubungan yang biasa. Jokowi pernah menjadi salah satu manger di pabrik kertas kraft aceh (KKA) di Lhokseumawe dan Takengon pada era 1986-1988 sampai menjelang lahirnya putra pertamanya Gibran Rakabuming Raka (lahir di Solo, 1 Oktober 1987). Maka tak heran Jokowi menyebut Aceh sebagai “kampung halaman” sendiri.

Mengapa Jokowi memilih Meulaboh, bukan Lhokseumawe atau Takengon tempat belebaran di “kampung halaman,” tentu bukan sesuatu yang serius, karena bagi Aceh, seluruh wilayah di dalamnya adalah Aceh. Meulaboh dipilih karena :

  • Jokowi belum pernah berkunjung ke kabupaten tergolong lama dan tua tersebut. Kabupaten induk ini telah melahirkan 4 kabupaten baru di bekas wilayahnya yang sangat luas sebelumnya. Saat kunjungan lalu Jokowi belum ke Kabupaten tersebut. Selain itu, Meuaboh (ibu kota Aceh Barat) menjadi target kunjungan karena secara ekonomi kabupaten ini termasuk kuat dan stabil.
  • Aceh Barat juga lebih stabil dalam bidang keamanan. Hiruk pikuk bangkitnya segelintir kelompok pemberontak yang ingin kembali menggoyang Aceh di Aceh Timur, Aceh Utara, Bireun dan Aceh Besar kembali tersekat perekonomiannya sehingga tertinggal dalam berbagai bidang. Meulaboh dan Aceh lebih kuat dan tidak mudah tersulut oleh khadirnya kelompok pengacau tersebut meski tidak seluruhnya menjamin 100% stabilitas kemanan di kawasan tersebut. Aceh Barat juga jarang terdengar kasus-kasus besar yang menyeret aparatur pemerintahan daerahnya dalam perkara kriminal maupun korupsi di banding wilayah lain.

Di luar dugaan tersebut secara keseluruhan, berlebarannya presiden RI ke Aceh tentu tak lepas dari kondisi secara keseluruhan Aceh yang masih terseok-seok perekonomiannya akibat masih sangat tergantung pada dana suntikan APBN dalam postur APBD Aceh.

Penyebab terseok-seoknya ekonomi Aceh tentu karena multi dimensi dari masalah sosial, ekonomi hingga masalah politik dan keamanannya yang masih rentan tersulut oleh provokasi yang sepertinya terjangkit secara sistematis dan periodik di wilayah ini.

Beberapa kebijakan strategis daerah Aceh dan Pusat menyangkut implementasi Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) memuat 9 (sembilan) topik penting dalam turunan UUPA. Dari 9 turunan yang teramat penting tersebut 8 poin penting telah terealisir dalam kurun 10 tahun terakhir (sejak pemerintahan SBY sampai Jokowi). Masih dalam tahap pembahasan serius adalah tentang kewenangan pengelolaan dan perimbangan bagi hasil migas Aceh dengan Pusat.

Jokowi memang bukan penentu segala-galanya. Masih ada lembaga tinggi negara lainnya yang ikut berperan besar dalam mempengaruhi aneka rencana dan kebijakan Presiden sehingga proses terimplementasi atau tidak sebuah wacana tergantung lagi pada bagaimana lembaga tinggi negara lainnya menyikapi arah dan visi Presiden.

Secara teknis, Kantor Staf Kepresidenan (KSP) telah mencatat aneka janji-janji presiden dan wakil Presiden yang bersumber dari masa kampanye pilpres maupun janji yang bersumber pada masa transisi. Selain itu KSP juga mencatat janji Presiden dalam beberapa pidato Presiden dalam berbagai kesempatan dan membuat nomenklatur kegiatan, termasuk janji Presiden saat berkunjung secara resmi pertama sekali ke Aceh..

Setiap rencana dan janji Presiden yang telah mendapat persetujuan sejumlah lembaga tinggi negara terkait dengan rencana dan kebijakan tersebut biasanya akan dapat diwujudkan implementasinya meski secara bertahap sesuai skala prioritas..

Lebaran Jokowi ke Aceh tentu bukan untuk menebar janji dan harapan atau mengobati pelipur lara rindu  semata. Lebaran Jokowi ke Aceh juga tidak untuk  meredam potensi konflik yang mulai ditebar benih-benihnya oleh kelompok-kelompok kecil yang beritanya kerap menghiasi media massa lokal dalam setahun terakhir ini.

Yang jelas, dalam agenda kunjungan lebarannya, Jokowi akan bermalam takbiran dan Shalat Idul Fitri di Banda Aceh dan siangnya bertolak ke Meulaboh. Dalam kunjungannya Jokowi akan menyerahkan 2000 paket sembako dan buku pelajaran pada tiga titik di Meulaboh.

Tak jelas ukuran dan jenis bantuan sembako dan buku pelajaran seperti apa yang diberikannya, yang jelas bantuan dalam bentuk apapun adalah sebuah perhatian. Terlebih lagi perhatian tersebut diberikan pada hari Raya Idul Fitri, saat sebagian orang memilih mengunjungi orang tua atau keluarga terdekat tapi Jokowi memilih berkunjung ke Aceh.

Makna lebaran Jokowi di Aceh bukan pencitraan melainkan sebuah kejujuran dan rindu pada kampung halamannya. Tak perduli walau ternyata di “kampung halaman” sendiri ia kalah dukungan pada pemilu Presiden 2014 lalu, tapi.Jokowi kembali memberi perhatian tulus dan setianya untuk Aceh.

Senyum Jokowi saat tiba di Aceh akan kembali mengambang, sama halnya senyuman orang-orang Aceh yang telah menantikannya.

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s