Kemerdekaan Indonesia Dalam Perspektif Strategi Belanda

1378631884851671403

Ekspresi Indonesia bagaikan Permata Paling Berharga bagi Belanda. Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/File:1916_Dutch_East_Indies_-_Art.jpg

Menjelang peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke 70, ada sisi lain yang kontradiksi dengan usia kemerdekaan yang telah sama-sama kita ketahui.

Sisi lain itu adalah tentang sikap Belanda terhadap Indonesia yang sepertinya masih menyimpan strategi khusus karena baru mengakui kemerdekaan Indonesia ke 10 tahun (bukan ke 70).

Siapa pun tahu bahwa Republik Indonesia (RI) menyatakan kemerdekaan (merdeka) pada 17 Agustus 1945. Akan tetapi bagi Dutch (Nederland) kemerdekaan RI diakui pada 27 Desember 1949 saat terjadinya “Penyerahan Kedaulatan” Indonesia yang ditandatangani oleh utusan Indonesia (di antaranya Mohammad Hatta) dan Kerajaan Belanda, di Istana Dam, Amsterdam pada 27 Desember  1949.

Lihatlah kalimat “Penyerahan Kedaulatan” yang menggunakan tanda kutip di atas. Secara implisit, kalimat itu mengandung makna menyerahkan sebuah wilayah atau mandat dari penguasa yang lebih tinggi kepada penguasa yang lebih rendah (bawahannya).

Maka tidaklah heran, mengapa Belanda tidak bersedia mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Belanda akhirnya (entah terpaksa atau tidak) harus mengakui kemerdekaan RI secara terbuka pada 16 Agustus 2005 atau sehari (sebelum) RI merayakan ulang tahun kemerdekaan ke-60.

Diplomat tertinggi Belanda, Bernard Rudolf Bot, menyampaikan pernyataan tersebut di kantor Kemenlu di Jakarta. Pada kesempatan itu, Bot -tuan Menir- menyampaikan pemerintah Belanda yang telah mendapat dukungan kabinet dan perlemen dengan lapang dada mengakui secara formal kemerdekaan Indonesia, pada 17 Agustus 1945.

Pada kesempatan itu juga, Bot, atas nama pemerintah dan kerajaan Belanda menyatakan permintaan maaf secara implisit  dengan pernyataan “penyesalan mendalam atas peristiwa masa lalu tersebut”.

Mantan diplomat tertinggi yang lahir di Jakarta (Batavia) pada 21 November 1937 itu memberikan sejumlah alasan yang membuat sikap berlapang dada Belanda terlalu berliku-liku sehingga memerlukan 60 tahun kemerdekaan RI baru memberikan pernyataan terbuka tentang kemerdekaan RI.

Salah satunya adalah, mempertimbangkan sejarah aksi para veteran polisionil yang melibatkan ribuan veteran yang pernah menduduki “Dutch East Indies” atau “Netherland East Indies” atau “Hindia Belanda” (bermakna sebagai Indonesia) yang telah berkorban nyawa dan biaya sejarah yang amat mahal dan salah langkah.

Aksi polisionil atau aksi militer yang dikenal sebagai agresi militer pertama (21 Juli- 5 Agustus 1945) dengan target Jawa dan Sumatera berhasil mengambil alih sentra ekonomi penting di Sumatera dan pelabuhan-pelabuhan di Jawa.

Agresi militer ke-2 (19 -20 Desember 1948) yang diawali pendudukan bandara Maguwo (Yogyakarta) akhirnya berhasil melumpuhkan sebagian Jawa dan Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Sulawesi, dan lainnya. Belanda juga menangkap sejumlah petinggi Indonesia menyebabkan berpindahnya ibukota ke beberapa kali.

Agresi ke dua ini meski awalnya dinilai berhasil akhirnya –melalui sejumlah gerilya dan perlawanan frontal di seluruh Indonesia- menjadi gagal total sehingga bukan saja melunturkan moral tentara Belanda dan sekutunya dalam NICA di Indonesia juga membuat malu kerajaan Belanda di negerinya sendiri. Bahkan di pentas politik internasional Belanda mendapat tekanan internasional agar menghentikan “aksinya” di Indonesia.

Permohonan Maaf dan Kompensasi Agresi

Tanda-tanda Belanda akan “legowo” mengakui kemerdekaan Indonesia bukan saja seperti pernyataan Bot menjelang kemerdekaan RI ke-60 pada 16 Agustus 2005 lalu, melainkan juga hadirnya mantan PM Belanda, Jan Peter Berkenende dan sejumlah eksekutif dan legislatif terkenal lainnya pada undangan resepsi Kemerdekaan RI di Kedubes RI di Den Haag, 4 September 2008. Ini adalah pertama sekali hadirnya pejabat Belanda dalam acara yang berkaitan dengan kemerdekaan Indonesia.

Baru-baru ini kita dikejutkan sekaligus terharu mendengar pengakuan yang lebih terbuka dan lebih legowo tentang kesediaan Belanda membayar kompensasi akibat agresi Belanda di RI. Belanda dalam pernyataan yang disampaikan oleh PM Mark Rutte, mengatakan akan memberikan kompensasi kepada “Janda-janda” secara terbatas.

Secara terbatas memiliki makna tidak semua tempat dan tidak semua keluarga korban pembantaian dan tidak semua perisitwa karena bukan saja membuat bangkrut Belanda, tapi juga karena Belanda menganggap semua itu akibat atau ekses dalam sebuah peperangan termasuk kerugian di pihak Belanda sendiri berupa nyawa dan modal. Belanda menyebutnya sebagai penumpasan pemberontakan (Counter Insurgency).

Banyak sekali kisah kekejaman Belanda yang lama terpendam dan mirip sulitnya menembus tembok China menggunakan martil dan dilakukan secara manual. Salah satu yang kerap diuangkap ke permukaan adalah perisitiwa pembantaian oleh tentara khusus Belanda, Depot Speciale Troepen (DST) dipimpin oleh Raymond Pierre Paul Westerling antara Desember 1946 hingga Februari 1947.

Peristiwa itu dikenal dengan istilah pembantaian Westerling di desa-desa Sulawesi Selatan hingga Gowa dan Lombok menyimpan bukti otentik berupa gambar dan anak-anak saksi dan saudaranya yang masih hidup sampai kini.

Kini, Belanda telah legowo memberikan pernyataan terbuka dan eksplisit tentang kemerdekaan dan eksistensi RI, akan tetapi memberikan pernyataan maaf yang tidak jelas dan memberi kompensasi kepada 10 janda-janda dan keluarga korban pembantaian  (@€ 20.000) apakah masih mengandung makna politik lain di dalamnya?

Jika legowo mengapa tidak terbuka, jelas dan menambah jumlah peenerima kompensasi (meskipun dipastikan agak sulit karena masalah teknis dan nonteknis). Mungkin dengan memberikan kompensasi secara simbolis kepada 100 janda dan keluarga yang tersebar di 10 propinsi akan lebih bermakna dan menghibur.

Akan tetapi yang lebih penting adalah pernyataan maaf yang lebih terbuka, tanpa tanda koma, tanda petik dan tanda tanya lebih lanjut, misalnya menggunakan bahasa yang lugas dan terbuka. Seperti Jepang mengucapkan permohonan maaf secara jujur dan bersih terhadap pendudukan di Manchuria (China) dan kekejaman yang terjadi oleh Jepang pada perang dunia 2 di mana pun di seluruh dunia. Lugas tanpa tedeng aling-aling.

Mudah-mudahan Belanda lebih legowo dan tidak menyimpan strategi apa pun terhadap mantan “Permata terindah” mereka di dunia, yang telah banyak memberikan modal untuk kesejahteraan kerajaan Belanda, dari jaman “Tempo Doeloe” hingga saat ini.

Semoga hubungan Indonesia dan Belanda saat ini dan ke depan akan semakin harmonis dan saling mendukung di segala bidang untuk memajukan ke dua saudara yang pernah berseteru pada dahulu kala.

‘Tapi tanpa tedeng aling-aling. Itu sama saja dengan masih menyimpan strategi menir” Hehehehehehe

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s