Paman Sam Tak Pernah Percaya Paman Dolit Kita, Kenapa?

Sampai sekarang kita tak kenal siapa paman Dolit sebetulnya. Tapi karakter paman Dolit itu memang karakter khas orang Indonesia pada umumnya. Paman Dolit, sebuah icon dalam lagu anak-anak era 1980-an melambangkan sososk lelaki dewasa yang sangat dekat dalam setiap keluarga.

Paman atau Om adalah saudara laki-laki dari oang tua kita. Paman Dolit menurut kacamata anak-anak pada masa itu (mungkin juga kini) adalah adik orang tua, sosok supel, sayang anak, sopan, ceria, jenaka dan bersahaja. Maka tak salah kita berani sandingkan paman Dolit (made in Indonesia) dengan paman Sam (made in USA).

Dalam konsetelasi hubungan bilateral Paman Dolit dan Paman Sam, kelihatan polodnys paman Dolit. Ia telah berbuat banyak untuk Paman Sam. Paman Dolit bisa jadi merasa rendah hati (bukan rendah diri) karena kalah dalam segala bidang, Paman Dolit rela belajar  dari paman Sam dalam segala bidang. Bahkan paman Dolit rela mengorbankan apa saja demi membuat senang sang paman Sam.

Lihatlah beberapa catatan penting berikut ini bagaimana paman Dolit memperlakukan Paman Sam sebagai sosok terhormat tiada bandingannya bahkan untuk di seluruh muka bumi. Jika paman Sam datang ke rumah paman Dolit kadang-kadang membuat paman Dolit tidak bisa tidur berhari-hari hingga keluar keringat panas dingin, kuatir paman Sam merasa tidak nyaman. Beberapa hal lainnya yang memperlihatkan seluruh upaya paman Dolit memberikan hampir segalanya pada paman Sam antara lain adalah :

  1. Menurut analis sejarah, paman Dolit pernah tersinggung dan meninggalkan paman Sam era perang dingin dimana paman Dolit lebih dekat ke Paman Acek (adik laki-laki ayah dalam masayarakat Tionghoa-red). Puncaknya, pada 1965 beberapa keluarga ternama paman Dolit tersapu oleh kebencian politik dalam peristiwa G30S/PKI. Dalam berbagai literatur menyebutkan paman Sam sangat murka melihat paman Dolit terlalu dekat dengan paman Acek. Setelah itu, paman Dolit memang tidak berani lagi menjauh dari paman Sam.
  2. Pada perkembangan selanjutnya dalam konstelasi regional dan global paman Dolit terpaksa harus memperhatikan seluruh kepentingan paman Sam, misalnya dalam beberapa contoh berikut :
  • Ketergantungan pada peralatan militer paman Sam. Untuk itu paman Dolit harus melakukan apa saja untuk membeli peralatan paman Sam, bahkan kadang terpaksa membeli peralatan apa adanya. Pada peristiwa lain, kadang paman Dollit terpaka menerima barang bekas milik paman Sam yang awalnya mau dibuang ke laut lepas. Hal itu disikapi dengan antusias oleh paman kita, yang penting terlihat dekat dan hangat dengan paman Sam.
  • Paman Dolit berusaha Ikut serta menjaga stabilitas politik dan keamanan Nasional dan Regional dalam upaya mendukung cita-cita paman Sam dalam program The New World Order (Globalisasi -red)  untuk  sebuah tujuan mega raksasa paman Sam yakni  satu dunia di bawah hegemoni paman Sam.
  • Paman Dolit bahkan harus bersuara lantang bukti Ikut serta dan aktif memerangi teroris dalam kawasan regional dan nasional. Terorisme merupakan target penghancuran nomor satu dalam skala prioritas global paman Sam yang tertuang dalam UU Patriot di negaranya. Segala bentuk terorisme adalah musuh nomor satu AS.
  • Neraca perdagangan paman Dolit terus mengalami defisit dari tahun ke tahun. Neraca pembayaran Indonesia paman Dolit pada triwulan III 2011 mengalami defisit 4,0 miliar dolar AS meski transaksi berjalan mencatat surplus 0,2 miliar dolar AS, seperti disampaikan oleh Direktur Perencanaan Strategis Bank Indonesia, Dya MK Makhinaji (8/11) lalu. Paman Dolit banyak tergantung pada paman Sam dalam aneka transaksi yang menyebabkan berkurangnya posisi cadangan devisa. Ini artinya akumulasi utang paman Dolit terus membengkak. (sumber : http://www.Neraca-Pembayaran-Indonesia-Defisit-4-Miliar-Dolar )
  • Paman Dolit berusaha selalu ikut aktif dan mengedepankan kepentingan paman Sam, misalnya dalam hal penegakan Demokrasi. Lihatlah bagaimana lintang pukangnya paman Dolit menciptakan kebebasan mengeluarkan pendapat, berserikat dan dalam bidang jurnalisme, rasanya hampir tak ada tempat lagi untuk bersembunyi  (menutupi kondisi) dari sorotan media informasi atas berbagai hal yang ada dalam rumah paman Dolit.
  • Paman Dolit berusaha menjalankan reformasi dalam bidang hukum dan politik agar mampu merefleksikan sebuah rumah yang pantas dan menarik perhatian paman Sam dan kawan-kawannya. Kendatipun anak-anak paman Dolit sampai ada yang ketar-ketir melihat paman Dolit yang biasanya tidak banyak bacotnya tiba-tiba saja menjadi seperti galak dengan menangkap koruptor mulai kelas teri sampai kelas kakap. Persoalan penangkapan kelas kakap itu apakah serius atau tidak itu masalah lain, yang jelas saat ini paman Dolit masih memperlihatkan aksi tangkap-tangkapannya.
  • Paman Dolit berusaha memperlihatkan penegakan HAM di rumahnya telah berjalan dengan baik dengan mengadili beberapa pelaku pelanggaran HAM kelas teri sampai kelas kakap. Sekali lagi, mesipun penangkapan kelas kakap itu apakah serius atau tidak itu masalah lain, yang jelas saat ini paman Dolit masih memperlihatkan aksi peradilannya he..he..he.
  • Dalam kaitan eksplorasi dan eksploitasi kandungan alam di rumah paman Dolit, lihatlah saudara-saudara paman  Sam yang pernah tinggal dan menumpang di rumah paman Dolit bertahun-tahun lamanya. Saudara paman Sam hanya menyisakan sampah-sampah dan besi tua bekas serta bangunan tua dan kumuh bin kusam setelah menyedot habis segala kekayaan yang ada di dalamn rumah paman Dolit. Lihat Exon Mobil Oil, lihat Sclumberger, lihat Haliburton dan sebagainya. Semua pergi dan menyisakan sampah di rumah paman Dolit. Tak jelas bagaimana paman Sam menyikapi free Port karena agak tertutup bidang yang terakhir ini. Di  atas sepetak tanah di kebunnya perusahaan paman Sam yang berkelas dunia (Free Port) di Papua rasa-rasanya hanya sebuah dapur khusus aneka masakan lezat yang asapnya menyeruak ke seluruh ruangan dan kamar paman Dolit menciptakan rasa lapar dan ngiler akibat aneka asap masakan berbau lezat. Bukankan semua profit nya lebih banyak untuk paman Sam?

Tentu masih banyak lagi yang lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Lalu apa yang diperoleh paman Dolit? Tidak dipungkuri juga banyak bantuan paman Sam kepada Dolit baik dalam bidang politik, keamanan dan pembangunan. Tapi sayangnya semua itu tidak ada yang gratis, semua itu harus dibayar mahal dengan sebuah syarat yaitu : Izinkan paman Sam mendikte rumah paman Dolit sampai ke dalam tempat tidurnya, tak ada lagi batasan yang tidak tembus pandang meski bersekat tembok dan beberapa bagian hanya tersekat kayu bahkan tepas rumbia.

Inikah balasan paman Sam buat paman Dolit?

  • Memasukkan 70 orang paramiliter ke Papua secara diam-diam.
  • Membuat pangkalan militer di Darwin dengan kekuatan 25 ribu pasukan dan terlalu dekat didepan rumah paman Dolit?
  • Memberi embargo peralatan tempur secara terbatas kepada paman Dolit sehingga paman Dolit harus melakukan kanibalisme untuk beberapa peralatan tempurnya dan sedikit berpaling kembali ke  Eropa.
  • Pengiriman barisan petugas keamanan  sendiri yang super ketat dan jumlah sangat besar (terkesan show of force) pada paman Sam saat menghadiri KTT Asean dan KTT Asia Timur di Bali pertengahan Nopember 2011  lalu.

 Ahhhh paman Sam, apalagi yang kurang dari paman kami. Padahal sebagian besar anak-anak paman Dolit termasuk kami rela dan ikhlas melihat mu dengan terksima takjub dan bangga. Ada apalagi paman Sam? Apakah selama saudara mu tinggal di rumah paman Dolit ada yang menyakiti diri mu? Rasa-rasanya tak ada bukan? jadi buat apa semua itu paman Sam..

 Ada apa lagi yang masih kurang paman Sam…..? Apakah engkau benar-benar membenci paman Dolit kami? Jangan suruh kami bertanya pada paman kami,  kuatir dia tersinggung bahkan kumat sesak nafasnya setelah menyuruh kami bertanya ke tempat lain lalu paman kami menasihati kami,  “Tanyakanlah pada rumput yang bergoyang..!!” he..he..he…

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s