Awas Penipu di Sekitar Kita

Seorang teman kerja saya mengirim pesan via sms ke ponsel saya  isinya meminta saya agar menghubungi nomor salah seorang pejabat penting di kota Pontianak. Pesan itu terlambat saya baca karena satu jam sebelumnya posisi ponsel saya dalam keadaan silent mode karena sedang mengikuti sebuah acara di sebuah instansi pemerintah provinsi.

Penelpon yang menelpon ke kantor saya menyatakan dirinya sebagai wakil kepala salah satu dinas kota Pontianak menitipkan nomor ponsel kepala dinas. Nomor itulah yang tertera di dalam pesan singkat ke ponsel saya.

Baru selesai saya saya baca pesan tersebut, sekretariat saya menghubungi saya kembali menanyakan sms tersebut sudah saya terima atau belum seraya menyatakan bahwa orang yang menghubungi tadi sudah dua kali menelpon kek kantor dan meminta saya segera menghubungi sang kepala dinas.

Selintas saya melihat nomor itu tidak sama dengan nomor yang tersimpan dalam ponsel saya. Untuk mengkonfirmasi, saya coba berkali-kali nomor yang sudah ada duluan tapi tidak masuk atau tidak tersambung. Oleh karena sudah berselang satu jam dan saya kuatir dengan ada apa-apa dengan sang kepala dinas, saya pun menghubungi beliau via nomor ponsel yang tertera dalam pesan singkat saya tersebut.

Pukul 11.30 saya hubungi sang kepala dinas melalui nomor baru dalam pesan singkat saya. Oleh karena sudah beberapa kali bertemu saya pun duluan dengan sang kadis, saya pun enjoy saja dan langsung mohon maaf karena sudah lama belum sempat merespon.

Sang kadis di seberang sana dengan ramahnya dan bersuara mirip benar dengan kadis yang asli menyatakan penyesalanannya karena saya menyampaikan sudah lama tak sempat menemui beliau pada awal pebicaraan. Lalu sang kadis dalam keadaan sibuk (menyatakan dirinya sedang terima tamu dan sangat sibuk) meminta saya agar merahasiakan tentang rencana sebuah proyek penunjukan langsung untuk perusahaan yang saya miliki.

Tentu saya senang sekali karena merasa kecipratan rezeki yang mendadak di siang bolong yang nilainya lumayan sekali meskipun dipecah dalam beberapa paket. Lalu sang kadis meminta saya kapan ada waktu yang luang untuk membicarakan proyek tersebut.

Saya menawarkan datang ke kantornya saja atau minta ketemuan makan siang. Sekali lagi sang kadis menyatakan ke kantor saja, tak ada waktu makan siang. “Tapi kalau ke kantor tunggu dulu ditelepon agar ada waktu yang pas setelah tidak ada tamu yang menganggu,”  katanya meyakinkan saya.

Setelah itu sambil menanti “undangan” kadis tadi saya pun seperti biasa meluncur ke kantor saya untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan berbagai data dan informasi tentang sesuatu hal andaikata pembicaraan berkembang ke arah sesuatu yang tidak dapat saya tuliskan di sini.

Belum satu jam sang kadis menelpon saya kembali. Sambil meminta saya agar menjauh dari orang-orang karena khawatir terdengar orang, ia dengan rasa sungkan meminta bantuan saya. Katanya ia mendapat order khusus dari dinas provinsi tentang pengadaan suatu alat sistim informasi dan komunikasi di seluruh jajarannya. Untuk itu sang pemberi proyek yang sudah matang tersebut menunggu uang tanda terimakasih dari sang kadis.

Saya menanyakan berapa uang yang diperlukan. Sang kadis menjawab tak banyak hanya Rp50 juta saja. Saya katakan bahwa tentang uang itu tak terlalu masalah sebesar itu, meskipun kantor tidak dapat menyediakan secara instan saya mampu mengakomodirnya asalkan saya harus tahu dulu duduk masalahnya dan kita ketemuan dulu.

Permintaan saya itu kelihatannya agak memberatkan sang kadis. Ia memberi alasan tak punya waktu banyak karena jam 14 tepat orang dari Provinsi itu akan mengambil sisa (kekurangan dana) dari sang kadis yang baik hati itu.

Saya mulai ragu karena sang kadis bersikap amat vulgar. Ketika saya katakan saya tidak bawa uang sebanyak itu dalam rekening saya, dana itu adanya dalam rekening istri saya. Saya memberi alasan bahwa seluruh penghasilan saya setorkan pada istri, saya hanya mendapat uang rokok saja sama uang bensin setiap hari…Hahahahha, dia pun ikut tertawa.

Tapi sang kadis tidak kehilangan akal. Ia meminta saya agar mengambil ATM istri saya dan mentransfer ke rekening saya lebih dahulu, barulah mengambil dana itu untuk membantu dirinya. (awalnya dia tidak minta transfer).

Saya mulai was-was, mana mungkin seorang kadis butuh uang sekecil itu dan meminta saya secara vulgar sampai harus menguras tabungan istri saya.

Saya mulai pasang perangkap. Saya mulai minta waktu sekitar satu jam untuk makan siang, shalat dan kembali ke rumah. Selama waktu itu saya melakukan beberapa strategi sebagai berikut :

Langkah pertama:

Saya lakukan adalah meluncur ke kantor kadis yang dimaksud dan menanyakan langsung duduk masalahnya. Saya ketemu kadis yang sebenarnya dan menyampaikan adanya kejadian yang baru saya alami.

Kadis yang sebenarnya menjawab tidak ada menghubungi saya, tidak ada membutuhkan dana dan tidak ada komitmen apa-apa dengan saya tentang kerjasama tersebut. Beliau mengatakan bahwa sudah sering orang mengatasnamakan dirinya dan menjatuhkan kredibilitasnya dengan cara-cara seperti itu.

Lalu saya meminta izin untuk membereskan sang penipu itu dan beliau menyatakan terimakasih atas upaya tersebut.

Langkah ke dua:

Selama satu jam saya tidak berkomunikasi dengan geng penipu yang mengaku kadis yang baru saya temui ada lima kali telepon masuk tidak saya angkat. Setiap telepon saya jawab via sms, “Maaf barusan selesai Shalat.” kadang saya balas “Maaf sedang mengendarai mobil,” juga saya kirim pesan “saya sedang makan siang.”

Ketika saya sedang makan siang benar-benar ia menghbungi saya meminta agar jam  14.00 tepat dana harus ditransfer rekeningnya saja. Berarti saya dikasi waktu hanya 40 menit saja untuk berada di bank.

Lalu saya kirim sms minta dikirimkan nomer rekeningnya. Ia pun mengirimkan nomer rekening atas nama Sarah Sukmawati dengan nomor. 900…xxxxx.401.

Langkah ke tiga :

Saya sengaja mengulur waktu. Saya mengirim pesan mengapa nomor rekening atas nama orang lain, mengapa tidak atas nama sang kadis sendiri? Ia menghubungi saya memberi penjelasan bahwa ia tak ada waktu keluar sehingga meminta seorang staf wanitanya menarik dana tersebut untuk di bawa ke kantor.

Dengan bahasa dan tatakrama serta nada seperti awal telepon saya menyatakan akan segera ke bank Mandiri terdekat. Padahal saya sedang memasang perangkap dengan dua teman saya dari satuan reserse Polda kalbar yang telah mengikuti skema tersebut sejak saru jam sebelumnya.

Tepat pukul 13.50 ia menghubungi saya. Langsung saya katakan saya sedang antri di depan teler. Lalu 10 menit kemudian saya kirim pesan ” Pak, nomor rekeningnya kok salah? Tidak bisa ditransfer. Tolong kirimkan nomor lainnya. Saya tak bisa lama-lama nikh, antrian panjang dibelakang. Kalau tak ada solusi terpaksa saya ambil tunai saja..”

Tidak sampai setengah menit sang kadis menghubungi saya dengan agar keras. “Tolong jangan permainkan saya, kalau tak mau bantu katakan saja dari tadi.. Mengapa  tidak transfer via atm saja?” katanya keras.

Langkah ke empat :

Saya meminta seorang wanita mengaku sebagai teler untuk mengatakan saja kalimat singkat ini. “Pak nomor rekeningnya tidak bisa transfer. Saya ibu Lily teler bang Mandiri di sini” untuk meyakinkan sang kadis palsu tadi. Lalu ponsel itu diserahkan kembali kepada saya. Terdengar kalimatnya, coba sebutkan nomornya.Saya pun membaca satu persatu angka dalam nomor rekening itu dengan terbata-bata biar salah dan agar pembicaraan menjadi panjang.

Dengan mempertahankan nada dan gaya seperti semula, saya katakan ” Pak mohon maaf, kalau tidak mau bantu ngapain saya capek-capek antrian di sini? Mohon maaf hape saya mau drop, nanti saya kasih nomor ponsel saya yang satu lagi.” Hubungan pun saya putuskan saat ia katakan tolong bukti transfernya di faks ke nomor yang akan ia kirimkan setelah transfer.

Langkah ke lima :

Teman saya yang telah mengikuti perkembangan dari tadi mengirim pesan singkat ke ponsel kadis palsu, “Maaf pak ini nomor hape saya satu lagi. Mohon maaf tadi terputus karena bateray nya habis.

Lalu teman saya meneruskan pembicaraan, bahwa dana sudah diambil dengan tunai saja karena tak mungkin lagi berlama-lama di depan teller dalam antrian yang panjang. Uangnya sudah ada saya antarkan ke kantor dinas sekarang.”

Sang kadis palsu meminta saya ke sana sendirian saja sambil mencak-mencak dan mengingatkan saya (teman saya) via ponsel agar jangan masuk ke ruang saya dulu tunggu tamu saya keluar nanti saya hubungi.

Langkah ke enam :

Kantong plasti berwarna hitam berisi potongan kertas dengan perkiraan pecahan lima puluh ribu kami ikat sebanyak beberapa ikatan. Kantong itu pun saya bawa ke kantor dinas.

Tidak lama, 20 menit saya tiba di pelataran parkir kantor dinas itu. Dua teman tadi menyebar, satu di pintu masuk, satunya di pintu keluar.

Sekitar 10 menit sang kadis palsu menghbungi, bahwa ia sedang terima tamu, jadi tak bisa turun mengambil dananya. Titipkan saja sama seseorang yang mengambilnya dengan ciri-ciri memakai baju preman, tidak pakai baju dinas karena alasan yang tidak saya mengerti.

Akhirnya skenario itu selesai. Telepon teman saya berdering. Di seberang sana dia hanya berucap dengan geram, dan mengirimkan kata umpatan. Setelah itu seseorang dari telepon yang sama di seberang sana mengatakan bahwa “Sudah selesai…..”

Apanya yang selesai..?hahahahaha..

Begitulah  kalau hari gini masih mau menipu orang. Siang-siang masih ada orang bekerja membuat kerugian bagi orang lain. Untung masih saya yang punya kesempatan bergerak seperti itu hingga mampu menghadapi masalah itu dengan tenang, bagaimana jika itu adalah orang lain dan akhirnya termakan rayuan gombal penipu? Kasihan bukan?

Maka dari itu kepada rekan pembaca budiman saya hanya bisa menyampaikan cerita ini dalam tulisan berbagi pengalaman, agar anda, kita, saya dan rekan-rekan kita dan siapapun yang kita kenal agar terhindar dari praktek penipuan dengan modus aneka ragam. Maka dari itu, waspadalah..!!!!

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s