Pesawat Butut dan Hibah Uzur Telan Korban, Dimana Logika Pemakai?

A1310 selamat jalanBerdasarkan aneka informasi yang tersebar menyangkut jatuhnya pesawat Hercules sesaat lepas landas dari pangkalan udara Soewondo di Medan yang jatuh pada 30 Juni 2015 disebut-sebut sebagai jenis Hercules C 130.  Benar informasi tersebut, akan tetapi informasi itu masih info mendasar saja.

Penting kita ketahui lebih lanjut adalah pesawat Hercules punya banyak tipe dan variannya. Dengan mengetahui tipe, jenis dan nomor registrasinya akan membantu kita mengetahui sejauh mana usia pesawat tesebut dan dari mana asalnya.

Berdasarkan informasi dari wikipedia TNI AU, jumlah pesawat Hercules yang pernah dan masih beroperasi di Indonesia ada sebanyak  yang terdiri dari :

  • C-130B/-H/-H-30, awalnya sebanyak 24 unit, sebelum peristiwa terkini (30/6/2015) beroperasi 8 unit
  • KC- 130B Hercules, awalnya sebanyak 2 unit, sebelum peristiwa terkini beroperasi 2 unit
  • Total jumlah pesawat 26 unit dan yang dapat beroperasi 10 unit saja.
  • Menurut sejumlah informasi, saat ini Indonesia masih menanti hibah Hercules bekas dari Australia sebanyak 9 unit yaitu 4 unit hibah pesawat bekas dan 5 unit beli pesawat bekas Australia. Dari 9 pesawat yang dijanjikan baru terealisasi 3 pesawat bekas hibah Australia. Sisanya penuh tanda tanya karena termasuk dalam daftar ancaman saat Australia naik pitam terkait masalah ekseskusi mati terpidana narkoba asal Ausralia beberapa waktu lalu.

Jika mengacu pada tipe C-130B, sejarah kehadirannya dalam skuad armada TNI AU sudah sangat lama yaitu :

  1. Pada 1975 Indonesia menerima 3 unit Hercules C-130 B sebagai hadiah AS atas pertukaran tawanan seorang pilot AS yang tertangkap dalam operasi PRRI/Permesta pada 1958.
  2. Pada 1980, Indonesia menerima kembali 3 buah C-130H, 7 C-130HS (long body), 1 C-130 MP (patroli maritim), 1 L-100-30 (untuk keperluan sipil) dari AS untuk program peningkatan kemampuan TNI AU pada masa itu.
  3. Pada 12 September 2008, TNI AU mengoperasikan 6 Hercules hibah dari Merpati dan Pelita sebanyak 6 enam L-100-30s. Pesawat tersebut hasil modifikasi tipe L-300-30s (sipil)  dengan C-tipe H/HS (militer). Pesawat sipil milik Merpati tersebut diganti mesinnya dengan Allison T56-A-15 dengan kekuatan 4300 tenaga kuda..Salah satu modifikasi tersebut diberi nama “Si Putra Dewa” dengan nomor ekor A-1325. Merpati dan Pelita sendiri -jika menggunakan tipe L-100-30 atau L 30s, berarti telah menggunakannya sejak
  4. Nomor registrasi di ekor sejumlah pesawat Hercules dari masa ke masa adalah :
    • Enam C-130HS bernomor : A-1317, A-1318, A-1319, A-1320, A-1324
    • Satu C-130H/A bernomor 1323
    • Dua C-130B  bernomor A-1301 dan A-1313,
    • Dua C-130H  bernomor A-1315 dan A-1316
    • Dua C-130KC (tanker udara) bernomor A-1309 dan A-1310
    • Dua C-130 Hercules, L-100-30 dengan nomor A-1314
    • Satu C-130HS  dengan nomor A-1341 yang didedikasikan pada Skuadron Udara 17 VIP (bernomor mirip dengan A 1314)
    • Dua L-100-30 hibah dari PT Merpati Nusantara Airlines  bernomor A-1325 dan A-1326
    • Tiga L-100-30 dari PT Pelita Air Service bernomor A-1327, A-1328, dan A-1329
  5. Pada 15 Desember 2015, Australia telah merealisasikan 3 dari 9 pesawat hibah Hercules bekas kepada Indonesia. Pesawat yang ketiga tiba adalah C-130 dengan registrasi nomor A-1332. Sebelumnya telah tiba A-1330 dan satu lagi BELUM dapat penulis ketahui nomor registrasinya. Sisanya kemungkinan terkendala atau batal sampai saat ini).
  6. Jika mengacu pada armada bekas Ustralia yang dihibahkan kepada Indonesia, A-1332 dan A-1332 itu adalah jenis C-130 sudah tergolong uzur. Berikut sejumlah daftar pesawat Hercules aneka jenis dan tipe :
    • C-130A RAAF A97-214 digunakan skuadron 36 sejak awal 1959 dan tidak digunakan lagi sejak 1978. Salah satunya di Museum pangkalan RAAF Williams, Point Cook.
    • C-130E RAAF A97-160 digunakan skuadron 37 sejak Agustus 1966 dan tidak dipakai lagi sejak Nopember 2000. Sumber : Daftar tipe Hercules Australia

Pesawat Hercules yang jatuh di Medan itu bernomor registrasi A- 1310. Jika mengacu pada daftar di atas, kita dapat mengetahui bahwa jenisnya adalah pesawat tangker udara yakni KC-130. Tapi kita BELUM dapat mengetahui secara pasti apakah pesawat itu juga merupakan bantuan Australia atau hasil modifikasi yang disebut di atas meski telah ada indikasi nomor regidtrasi tersebut MUNGKIN salah satu hibah dari Australia. Sumber : Mungkinkah Hercules A310 HIbah Australia

Merujuk informasi dari buku “Hercules Sang Penjelajah – skadron udara 31,” disebutkan C-130 Hercules dengan nomer registrasi A-1309 dan A-1310 adalah modifikasi dari alat angkut berat menjadi tangker. A-1309 dan A-1310 yang jatuh itu sudah resmi digunakan TNI AU sejak 18 April 1961 tipe KC-130 B. Jadi tidak ada kaitannya dengan bantuan hibah Australia. Sumber : http://militardiindonesia.blogspot.com/2013/12/kc-130b-hercules-tingkatkan-endurance.html

Beberapa informasi yang mencuat di berbagai media menyebutkan usianya sudah mencapai 50 tahun seperti informasi dari TV One pada berita khusus liputan tersebut pukul 22.00 hingga menjelang 23.00 WIB.

Meski pesawat Hercules ini telah menambah peristiwa duka penerbangan nasional dan militer Indonesia, kenyataannya sejak pertama sekali mendarat di tanah air pada 18 Maret 1960, Hercules telah banyak memberi kontribusi besar dalam pengembangan dan pembangunan TNI AU Indonesia. Keterlibatannya dari tanggung jawab militer sampai sipil telah mengukir sejumlah prestasinya.

Meski telah banyak berjasa, Hercules pun tak luput dari sejumlah perisitwia kecelakaan (accident). Sejumlah peristiwa keelakaan sampai saat ini adalah :

20 November 1985. Sebuah C-130H-MP nomor registrasi A 1322, jatuh setelah menabrak dinding Gunung Sibayak, Medan, Sumatera Utara. Seluruh awak pesawatnya (10 orang) semuanya tewas.

5 Oktober 1991. Sebuah C-130 jatuh di kawasan Condet, Jakarta Timur. Seluruh awak dan crew (135 orang) di dalamnya menjadi korban.

20 Mei 2009. Hercules TNI AU dengan nomor registrasi A-1325 jatuh di Desa Geplak, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Pesawat tersebut mengangkut 110 orang yang terdiri dari 99 penumpang dan 11 kru. Sebanyak 98 orang dilaporkan meninggal, termasuk dua warga setempat.

30 Juni 2015. Terkini, Hercules nomor registrasi A-1310 jatuh kembali di Medan. Sampai saat tulisan ini dibuat, disebutkan 113 orang (termasuk di darat) tewas.

Berdasarkan hal tersebut selama kiprahnya dalam kesatuan TNI AU -katakan sejak 1975- atau 40 tahun lalu, jumlah korban jiwa akibat insiden Hercules telah mencapai 305 orang. Tak terkira berapa kerugian moral dari kesatuan TNI yang kehilangan putra penerbang terbaiknya harus meregang nyawa akibat jatuhnya pengangkut udara yang mulai terseok-seok dan terbantuk-batuk akibat keterbatasan kualitas perawatan yang dikaitkan dengan embargo suku cadang yang masih diterapkan AS pada pesawat-pesawat yang kita beli dari mereka.

Tak terbilang juga betapa tersayatnya orang-orang yang kehilangan keluarga dan tulang punggung mereka akibat pola perawatan pesawat beraroma kanibalisme tempat tulang punggung mereka bekerja. Siasat kanibalisme onderdil dan sukucadang terpaksa dilakukan untuk menjalankan tugas pengabdian pada negara dengan fasilitas yang amat terbatas namun penuh dengan risiiko.

Atas sejumlah informasi di atas, beberapa hal yang sebaiknya dipertimbangkan ke depan adalah :

  1. Hindari hibah pesawat bekas dari dalam negeri dan terutama dari luar negeri. Dahulu, tepatnya pada 2010 DPR pernah melakukan penolakan hibah pesawat tempur F16 bekas dari AS. Wakil DPR saat itu sampai bernada kasar, ia mengatakan, ” Jangan sampai Amerika Serikat bingung buang sampah, dan kita siap menerima,” kata Mahfuz Sidik, ketua Komis satu pada saat itu.
  2. Penolakan hibah pesawat bekas dari Australia juga pernha dilontarkan oleh Wakil Ketua Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat, Tubagus Hasanuddin pada 6 Juli 2012 lalu. DPR menolak hibah empat unit pesawat C 130 Hercules dari Australia kepada Indonesia. Menurut dia, langkah pemerintah menerima hibah itu merugikan.
  3. Hindari perawatan pesawat dengan gaya kanibalisme. Tugas yang besar dan berat namun anggaran dan prasarana terbatas memang sebuah sisi yang dilematis. Namun sedapat-dapatnya dihindari karena sistem teknologi telah terukur tingkat dan derajatnya pada sebuah alat yang apabila melenceng sedikit saja akan berpotensi menimbulkan bahaya untuk pelaksana tugas dan untuk keluarganya serta untuk kita semua.
  4. Rancangan anggaran untuk pertahanan dan keamanan khususnya pergantian alutsista lama harus menjadi skala prioritas. Jangan biarkan sejumlah prajurit yang telah berskolah susah payah, masuk TNI dengan pengorbanan yang besar harus menjadi korban sia-sia gugur satu persatu akibat terlalu berani menggunakan sarana yang tidak memenuhi syarat keamanannya.
  5. TIngkatkan kemampuan industri pertahanan dan dirgantara nasional. Jangan berpikiran egois mencapai keuntungan pribadi sehingga mempersulit berkembangnya sebuah industri. Jika industri dalam negeri mandeg kita akan terus tergantung dan bergantung pada belas kasihan orang lain.

Jatuhnya pesawat atau helikopter milik TNI karena berusia uzur telah kerap terjadi. Beberapa diantaranya yang masih terekam terkait alat yang sudah usang adalah :

  • Helikopter Twinpack S 68T buatan tahun 1958 diterima oleh TNI AU dari hibah Amerika Serikat 1976 jatuh saat sedang joy flight di Desa Ogom, Kecamatan Sei Kijang, Kabupaten Pelalawan, Riau, 7 Januari 2008. Helikopter berisikan 4 orang anggota TNI AU dan 7 orang sipil, diataranya miliader Singapura Robert Viswanathan Chandran yang tewas pada kejadian itu; sementara tujuh penumpang lainnya luka-luka.
  • Helikopter latih Bell-47 Soloy nomor registrasi H4712 buatan 1976 diterima TNI AU 1978 hibah dari Australia, jatuh di ladang tebu Desa Wanasari, Kecamatan Cipunagara, Kabupaten Subang, Jawa Barat, pukul 11.30 WIB, 11 Maret 2008. Lettu Pnb Hengky tewas ditempat kejadian sedangkan Prada Ridi W sebagai teknisi luka berat.
  • Pesawat angkut Fokker 27 Troopship buatan 1975, jatuh di Lanud Hussein Sastranegara, Bandung. Pesawat menimpa hanggar PT Aircraft Services (ACS) milik PT Dirgantara Indonesia, sekitar pukul 13.45 WIB, 6 April 2009. Pesawat sedang melaksanakan dukungan latihan terjun untuk Pasukan Khas (Paskhas) TNI AU yang bermarkas di Lanud Sulaeman, Bandung. Pada peristiwa ini 24 orang tewas, terdiri dari 6 orang awak pesawat, 17 siswa terjun dan seorang pelatih terjun.

Persoalan kecelakaan memang bisa terjadi kapan saja dan terhadap siapa saja dalam kondisi apapun. Dalam kaitan ini, pesawat baru dan super canggih sekali pun tidak serta merta terjamin bebas dari kecelakaan. Akan tetapi menggunakan pesawat butut dengan perawatan seadanya dan semampunnya tentu lain masalahnya.

Sambil menanti hasil investigasi dan ikut berbelasungkawa pada sejumlah korban dan keluarga yang ditinggalkan kita berharap semoga sejumlah data dan fakta di atas mampu membuka mata, telinga dan menyadarkan pihak-pihak yang berkompeten dalam pengambilan keputusan dalam meningkatkan kualitas alat pertahanan Udara kita.

Mengapa sejumlah fakta selama ini dan data seperti di atas BELUM mampu membuat para pengambil kebijakan melaksanakan kebijakan yang lebih strategis dan aman untuk alat pertahanan dan udara kita? Haruskah menanti datangnya korban sia-sia berjatuhan kembali satu per satu? Bagaimana cara membuat para pengambil keputusan dan pembuat kebijakan menjadi lebih cerdas dalam hal ini?

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s