Pernikahan Sejenis Bikin AS Menang dan Senang Sampai Kapan?

http://assets-s3.usmagazine.com/uploads/assets/articles/88808-supreme-court-legalizes-same-sex-marriage-in-united-states-reactions/1435328631_supreme-court-gay-marriage-720.jpg

Tidak diketahui secara pasti sejak kapan komunitas Lebian, Gay, Bisexual dan Transgender (LGBT People) mulai ada di seluruh dunia. Dari sejumlah catatan historis tentang LGBT fenomena itu disebutkan telah ada sebelum 1900 bahkan jauh sebelum masehi. Mungkin terlalu jauh jika kita harus mengupas ke sana. Mari kita lihat yang terdekat saja.

Kelompok (komunitas) Homo secara resmi telah didirikan di Jerman pada 1930 hanya saja nasib mereka tidak seperti diharapkan akibat menjadi korban PD-1 saat itu. Kemudian di Denmark, telah muncul secara terang-terangan pada 1948. Denmark kemudian menjadi negara pertama dunia yang melegalisasikan pernikahan sesama jenis pada 1971.

Kemudian di AS, organisasi kelompok Homo pertama didirikan secara resmi pada 1970, baru kemudian berdiri kelompok Lesbi pada 1972. Lalu keduanya bergabung dlam organisasi Parents and Friends of Lesbians and Gays (PFLAG) pada 1972. Setelah itu komunitas yang mirip seperti itu tumbuh subur di mana-mana secara terbuka di seluruh dunia.

Dengan dalih memperjuangkan persamaan hak dalam bidang hukum dan hak azasi, komonitas LGBT telah berkembang biak di seluruh dunia.

Untuk mempersatukan aneka komunitas tersebut dengan tujuan visi dan misi yang sama terbentuklah ILGA (Internastional Lesbian, gay, Bisexual, Trans and Intersex Association) pada 1978 di 110 negara dunia.

Dalam mewujudkan sejumlah cita-citanya tentang persamaan dalam hukum dan HAM, komunitas tersebut telah membentuk 20 organisasi yang mengurus aneka bidang dan lembaga antara lain lembaga hukum, advokat, Yayasan, Jurnalis, lembaga pendidikan, pusat pelayanan hingga peduli lingkungan dan lembaga sain dan teknologi. Lengkapnya lihat di  20-LGBT organizations

Tak heran, perjuangan sejak 1978 tersebut telah memberi peluang keterbukaan dengan disetujuinya pernikahan sejenis dan anti diskriminasi dalam bidang hukum di sejumlah negara misalnya Denmark, Swedia, Belgia, Belanda dan kini Amerika Serikat (AS).

Pada Jumat 26/6/2015 sebanyak 5 dari 9 hakim Mahkamah Agung (Supreme Court) merekomendasikan Undang-undang pernikahan sejenis di AS. Usaha mati-matian jangka panjang sejumlah advokat ILGA kini telh membuahkan hasil.

Persetujuan ini membangkitkan eforia dan kemenangan LGBT di AS dan seluruh dunia. Meski masih menanti surat persetujuan atas UU tersebut dan Jika ini berlaku maka pernikahan sesama jenis dalam militer AS pun tidak terelakkan lagi.

Eforia kemenangan ini sangat luar biasa. Media massa AS menuliskan berita HL besar-besar. NY Times misalnya menulis besar-besar di halaman utama berita online mereka, “Gay Marriege Backers Win Supreme Court Victory.”

Sementara itu Washington Post menulis “Supreme Court rules gay couples nationwide have a right to marry,” sebagai berita utamanya.

The Huffingpost lebih menggelegar lagi, menulis besar-besar “Supreme Court Legalizes Gay Marriage Nationwide” dengan sejumlah foto “eforia” komunitas yang membanjiri pelataran Mahkamah Agung  (Supreme Court) di Washington.

Tidak sampai di situ, Barack Obama melalui akun twitternya langsung meresponnya dengan menyebutkan “Today is a big step in our march toward equality. Gay and lesbian couples now have the right to marry, just like anyone else” (Hari ini adalah langkah besar perjuangan kami menuju kesetaraan. Pasangan gay dan lesbian sekarang memiliki hak untuk menikah, seperti orang lain). Kicauan Obama langsung mendapat respon dengan diretwit sampai hampir 350 ribu kali oleh penggemarnya di seluruh dunia.

Meski demikian langkah persetujuan itu juga ditentang oleh sejumlah kalangan AS seperti oleh salah satu calon kandidat presiden dari GOP (partai Republik) yakni Gubernur Wisconsin. Scott Walker menduga telah terjadi kekeliruan pada putusan tersebut dan meninggalkan pesan khusus “Satu-satunya kesempatan terakhir bagi rakyat AS adalah meminta negara punya kemampuan untuk meninjau kembali keputusan tersebut,” katanya beberapa saat setelah kemenangan kaum LGBT AS.

Benarkah AS menang dengan keputusan tersebut?

AS dan  sejumlah negara lainnya memang telah mempertimbangkan aneka dampak terhadap tuntutan keseteraan pernikahan sesama jenis tersebut. Apa dan bagaimana bentuk potensi masalah dalam pernikahan sejenis dalam aturan pernikahan, rumah tangga, dalam sosial, pekerjaan dan kaitannya dengan agama sekalipun telah panjang lebar diperdebatkan oleh pengacara ILGA yang memayungi komunitas tersebut.

Begitulah hebatnya tuntutan persamaan hak yang diperjuangkan kaum LGBT sampai negara tak berkutik dibuatnya oleh tekanan berwujud persamaan dalam hak azasi dan hukum yang dituntut oleh sejumlah orang LGBT dalam payung ILGA.

Sulit sekali menemukan jumlah populasi kaum gay dan lesbi secara pasti di seluruh negara bagian AS. Menurut Wikiepdia jumlahnya kira-kira mencapai 1%-4%. Tapi menurut data per 20/5/2015 yang dipublish oleh pusat informasi “Catalyst” populasi Gay dan Lesbi seluruh AS mencapai 1,6% Sedangkan kelompok biseksual mencapai 0,6% dari 322 juta penduduk AS (data 2015).

Sementara itu di Kanada kelompok Gay dan Lesbi mencapai 1,3% sedangkan biseksual mencapai 1,1%. Di Inggris diperkirakan kelompok Gay dan Lesbi mencapai 1,5%. Jepang ternyata paling dalam prosentasenya, kelompok Gay dan Lesbi ternyata 5%. Sumber : http://www.catalyst.org

Berdasarkan angka tersebut sesungguhnya komuitas tersebut masih tergolong kecil, masih lebih rendah dari jumlah penduduk miskin AS yang memerlukan persamaan hak untuk menjadi kaya dan terbebas dari kemiskinan, kelaparan serta memperoleh hak pekerjaan dan penghasilan yang layak.

Jumlah penduduk miskin tergolong kelaparan di AS pada 2013 lumayan banyak. Berdasarkan informasi di US Hunger Fact 2013 jumlah penduduk miskin AS mencapai 43,7 juta atau 14,7% pada 2013. Angka ini melonjak dari 37,3 juta pada 2007. Bandingkan dengan kebutuhan kaum Gay dan Lesbi yang berjumlah 1,6% diseluruh daratan  AS.

Katakanlah dari jumlah 43,7 juta yang miskin itu terdapat beberapa diantaranya tergolong kaum Gay dan Lesbi atau Transgender, tapi mungkinkah semuanya masuk ke sana? Padahal menurut data di atas jumlah populisasi IGLA AS hanya 1,6% saja.

Inikah kemenangan yang dicapai AS? Bagaimana jika perjuangan itu akhirnya merambah seluruh dunia..? Inikah Globalisasi? Inikah realisasi One World Government? Atau ini adalah bukti perjuangan tak kenal lelah orang-orang cerdik dan pandai menuntut haknya untuk memenuhi kebutuhan yang semakin hebat kata orang modern atau aneh-aneh menurut ukuran kita.

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s