Senyum Jokowi : Belajar Dari Pendahulunya Soal Tekanan dan Sorotan

Akhir-akhir ini semakin banyak saja sorotan media massa cetak, elektronik, media sosial dan aneka media internet mempersoalkan kejanggalan demi kejanggalan Presiden RI, Joko Widodo. Aneka sorotan mulai dari hal-hal besar tentang kebijakan strategis nasional sampai urusan remeh temeh tak luput menghujam Presiden yang baru menjabat belum sampai setahun.

Beberapa catatan sorotan terhadap Jokowi dalam skala besar dan bersifat strategis terhadap kebijakan nasional antara lain adalah :

  1. Menyetujui atau mendukung naiknya harga bahan bakar minyak dan gas elpiji. Meski pernah juga mengambil langkah populis menurunkan harga minyak pada Januari lalu namun apa daya usia turunnya harga minyak yang seumur jagung itu kalah populis atau tersapu oleh kebijakan setelahnya saat kembali menaikkan harga minyak. Belum  setahun pemerintah Jokowi mengelola negeri yang jumlah penduduknya berlimpah ini tak kurang 3 kali menaikkan harga BBM dan baru sekali menurunkannya. Di sisi lain, harga elpiji terus membubung mencapai tingkat harga keekonomiannya agar tidak merugi dan terlepas pelan-pelan dari subsidi biaya pengolahan dan operasionalnya. Kwik Kian Gie, mantan Menteri Ekonomi era SBY sampai memberi penilaian kurang sedap pada Jokowi bahwa perekonomian Indonesia dalam kendali Jokowi telah membuat perekonomian tidak stabil. “Rakyat yang bergerak di sekotor informal semakin menjerit karena mereka tidak mampu bekerja dalam alur keekonomian untuk menyesuaikan kondisi tersebut,” katanya beberapa waktu lalu.
  2. Melonjaknya harga kebutuhan pokok juga dikait-kaitkan dengan kinerja pemerintahan Jokowi. Opini publik yang dikelola oleh lembaga swasta memang tidak mencerminkan kondisi riel (sesungguhnya) akan tetapi karena kita sering menggunakan opini publik yang dibuat oleh lembaga swasta -termasuk opini publik tentang popularitas Jokowo saat debat pilpres beberapa waktu yang dibuat sejumlah lembaga survey- mau tak mau kita harus menghargai masukan mereka. Salah satunya opini publik yang dibuat oleh salah satu lembaga survey Poltracking yang diumumkan pada 19/4/2015 lalu. Hasil survey yang mereka lalukan terhadap 6 bulan pemerintah Jokowi dalam bidang perekenomian memberi kesimpulan
    1. 52,2% Tidak puas dengan kinerja di bidang ekonomi.
    2. 48,6% Menyatakan cukup puas dengan kinerja bidang pendidikan.
    3. 36% Setuju jika dilakukan perombakan kabinet
    4. Indikator paling utama yang digunakan dalam hal ini adalah fakta tingkat konsumsi sedang menurun pada periode ini. Sumber: http://www.bbc.com
  3. Sorotan lainnya, kebijakan menggunakan tenaga Babinsa dari Koramil sebagai penyuluh pertanian, dinilai menciptakan ribuan orang sarjana pertanian yang selama ini telah memberi kontribusi dalam penyuluhan pertanian seluruh pelosok tanah air. Salah satu anggota DPR RI dari komis IV, Hermanto menilai kebijakan tersebut membuat puluhan ribu Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL TBPP) menganggur.
  4. Pembuat surat pidato kenegaraan Presiden Jokowi (Tim Substantif) di lingkaran Istana Negara menjadi bulan-bulanan akibat Presiden Jokowi salah menyebut salah satu keterangannya pada pidato sidang Konfrensi Asia Afrika ke 60 beberapa waktu lalu. Barisan Relawan Jokowi (Bara JP) sampai marah besar dengan menyebut tim tersebut tidak pantas disebut sebagai Diplomat. Namun apa daya, sebutan Jokowi dalam salah satu petikan pidatonya tentang semangat untuk memalingkan dari ketergantungan pada bantuan IMF, ADB, WB dan lainnya menyudutkan possinya sebagai anti Bank kapital liberalis. Ironisnya dalam pembelaan sehari sesudah pidato yang menghangat tesebut, lagi-lagi Jokowi menyebut Indonesia masih berhutang pada IMF. Hal ini membuat mantan Presiden SBY meluruskan informasi tersebut seraya mengatakan bahwa hutang Indonesia sebesar US$9,1 miliar telah lunas empat tahun lalu, tepatnya pada 2006.
  5. Keberanian Jokowi dalam menghadapi tekanan sejumlah negara asal terpidana mati kasus narkoba pun tak lepas dari sorotan. Kali ini berbagai negara dan PBB menyoroti kebijakan Indonesia sebagai negara paling kejam. Beberapa penilaian lain adalah Indonesia membabi buta dalam pelaksanaan hukuman mati . Salah satu korban terpidana matai asal Australia, Myuran Sukumaran mengisi waktu luangnya dengan melukis wajah Jokowi beberapa hari sebelum menjalani ekseskusi mati.
  6. Jokowi juga disorot karena melakukan blunder dalam pencalonan Kapolri
  7. Jokowi dituduh mengelola negara seperti menguasai rampasan perang dengan meletakkan orang pendukung utama saat pemilu presiden pada posisi BUMN sebagaimana dilontarkan Sekretaris Fraksi Golkar DPR RI Bambang Soesatyo pada 10 Mai 2015 lalu
  8. Jokowi disorot karena delapan orang Menterinya rapor mereka dipertanyakan. Diantaranya, membuat iklim olahraga sepakbola nasional menjadi kisruh.Salah satu pejabat di Istana Negara, Andi Widjajanto tanpa diketahui sebab musababnya malah dituduh sebagai “penumpang gelap.” Sementara Rini, diisukan mempengaruhi Jokowi dalam bidang BUMN.
  9. Jokowi disorot dalam kasus penggunaan pakaian militer saat bertugas di Istana Negara terutama saat menerima kunjungan ketua MUI dan pengurus pusat MUhammadiyah Dien Saymsuddin. Meski tim komunikasi Teten Masduki telah memberi alasan logis tentang latar belakangnya apa  daya sorotan tersebut tetap bergemuruh rasanya di media sosial dan berita.
  10. Nilai kurs rupiah terus anjlok juga membuat kubu pemerintah Jokowi dipertanyakan
  11. Kebijakan Jokowi memisahkan dan menggabungkan sejumlah kementerian juga dipertanyakan. Herman Khairon ketua DPP Demokrat sampai menyatakan kebijakan Jokowi tersebut TIDAK dikonsultasikan dengan DPR.
  12. Tiga kartu sakti program unggulan sosial Jokowi juga dipertanyakn. Disinyalir pengguna kartu tesebut di beberapa daerah ternyata BUKAN seharusnya penerima yang kartu yang pantas menggunakannya.
  13. Janji Jokowi dalam kabinetnya tidak akan diisi oleh ketua umum partai Politik kini kembali disorot setelah mencalonkan Sutiyoso (ketua umum PKPI) menjadi ketua Badan Intelijen Nasional (BIN).
  14. Perbedaan pernyataan dan pendapat antara wapres JK dengan Jokowi kerap terjadi. Beberapa diantaranya adalah tentang perbedaan pendapat soal pembekuan PSSI dan yang terakhir adalah tentang revisi UU KPK. JK, Kejagung dan Kementerian Hukum dan HAM setuju ide dan gagasan revisi UU KPK, namun seperti halnya pembekuan PSSI, Jokowi justru tidak setuju terhadap revisi UU KPK. Menurut Bambang Soesatyo memberi perumpamaan jika keduanya mengemudikan mobil masing-masing dari arah berlawanan ternyata keduanya sudah dua kali tabarakan.

Rasanya terlalu banyak peristiwa sorotan negatif terhadap Jokowi jika harus diungkap pada tulisan ini dan dipastikan akan sangat panjang hanya untuk menghiasi titik lemah 10 bulan masa pemerintahan Jokowi.

Tidak adakah sisi postif yang ditoreh Pemerintah Jokowi selama ini yang kesannya menjadi bulan-bulanan sorotan hampir seluruh lapisan masyarakat dan wakil rakyat?

Apakah seluruh kebijakan presiden Jokowi harus dicari celah untuk mendapat lubang protes, kritikan, sindiran dan penolakan karena berbagai perbedaaan kepentiangan dan visi?

Tak tahulah, yang jelas mantan Presiden SBY sendiri kini mulai tidak tahan dan bergeliat di balik layar tempat beristirahatnya, misalnya memberi reaksi pada pdiato dan konfirmasi pidato kenegaraan Jokowi pada sidang KAA ke 60 yang lalu.

SBY yang menjabat dua periode masa pemerintahannya dahulu juga kerap dirundung duka. Tak habis-habisnya aneka berita dan penilaian super miring menghiasi lembaran kinerjanya dari hari kehari hingga berbilang minggu bulan dan tahun sampai akhirnya menutup lembaran 3659 hari (10 tahun) masa baktinya. Dari masalah besar hingga masalah remeh temeh juga tak luput menghujam hari-hari SBY pada saat itu.

Inikah gambaran kedewasaan politik di tanah air kita? Tak usah melihat jauh ke belakang tentang seberapa pahitnya Presiden Soeharto dan Soekarno di buli dalam aneka pemberitaan memojokkan media masanya, jelas rasa curiga pada sejumlah sorotan yang menyudutkan juga kerap menghiasi lembaran tugas presiden sebelumnya. Lihat saja Presiden Gusdur, Presiden BJ Habibie dan Megawati juga tak luput dari penyikapan seperti itu bukan?

Gerah? Sudah pasti. Tak nyaman? apalagi. Namun seluruh sorotan itu bukan untuk dianggap sebagai angin lalu oleh siapapun yang disebut negarawan atau pantas memimpin negeri ini sebab kritikan dan sorotan di atas boleh jadi benar adanya meski terlontar penuh emosional kadang menjurus irasional.

Penulis bukan guru spritual untuk presiden Jokowi  dan tim pembantunya. Namun berdasarkan contoh yang diterapkan oleh negarawan besar yang pernah ada di tanah air, sebaiknya kritik dan lontaran sorotan negatif yang terasa pahit dan menyudutkan –jika tak pantas disebut melecehkan– memang terjadi dari masa ke masa.

Dari dahulu kala sejak tanah air yang disebut Indonesia ini merdeka, negeri telah dihiasi oleh banyak politikus yang super kritis dan paling merasa mewakili kepentingan hajad hidup masyarakat Indonesia atau kritikan bangsanya sendiri yang memiliki aneka kepentingan dan sudut pandang yang beraneka ragam.

Perlu kedewasaan berkualitas “legowo” untuk menyimak secara seksama aneka sorotan sekaligus menimbang-nimbang mana yang sejalan dengan rencana strategis mana yang tidak. Legowo itulah yang mampu membedakan siapa negarawan sejati atau diplomat sejati atau politikus sejati di negeri ini untuk mengurus ratusan juta orang yang beraneka jenis karakter dan kualitas alam pikirannya berdasarkan latar belakangnya.

Banyaknya kepentingan menyebabkan kontroversial tidak dapat dihindari, tapi belajar dan memperbaiki secara nyata dari setiap kontroversial jauh lebih penting bukan?

Dari pendahulu yang telah mendahului presiden Jokowi banyak ide bagaimana tahan banting dan mengatasi tekanan. Asal tidak terkesan tutup mata dan telinga saja, hehehehehhe..

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s