Sebutlah Indonesia Saja, Bukan “Timnas” untuk Kesebelasan Sepakbola Nasional Indonesia

Siapakah yang pertama sekali menyebut Timnas (akronim dari Tim Nasional) untuk kesebelasan sepak bola Indonesia sehingga sebutan itu kini melekat erat menjadi nama yang mudah diucapkan yang menjuluki tim sepakbola Indonesia?

Kelihatannya media massa cetak dan elektronik telah berjasa melahirkan julukan tersebut untuk menghemat panjang judul berita dan memudahkan pembaca menyebut tim sepakbola Indonesia. Padahal dalam beberapa kelompok usia tim nasional sepakbola Indonesia masih menyandang nama lain, misalnya Garuda, Indonesia U-14 dan lain-lain.

Sebutan atau julukan Timnas kini menjelma menjadi sebuah predikat pada sekelompok pemain sepakbola mewakili Indonesia di berbagai kelompok usia sehingga ada Timnas U-14, U-19 dan U-24. Tanpa terasa kalimat “Timnas” itu adalah representasi sebuah tim Indonesia dengan nama Timnas.

Mari kita lihat tetangga kita Malaysia, apakah mereka menyebut “Timnas” untuk kesebelasan nasional mereka pada berbagai kelompok usia. Pernahkah kita mendengar orang Malaysia?

Lihat juga ke tetangga sebelahnya, Thailand, Singapore atau Vietnam, apakah ada sebuah akronim yang menyebut tim mereka dengan Timnas dalam bahasa mereka? Sementara itu, beberapa negara di dunia menjuluki tim nasionalnya dengan sebutan berikut:

  • Australia, menyebut tim nasionalnya dengan Socceroos
  • Belanda, menyebut tim nasionalnya dengan Oranye
  • Brazil, menyebut tim nasionalnya dengan banyak julukan, antara lain: Canarinho (Kenari Kecil) atau A Seleção (Pemilihan) atau Verde-Amarela (Kuning dan Hijau) atau Pentacampeões (Juara Lima Kali)
  • Cina, menyebut tim nasionalnya dengan “Tim Naga” atau Lóng Zhī Duì
  • Italia, menyebut tim nasionalnya dengan Azzurri (Biru Langit)
  • Inggris, menyebut tim nasionalnya dengan Three Lions
  • Malaysia, menyebut tim nasionalnya dengan Sang Harimau atau Harimau Malaya atau sedikit menggugah, Pak Belang
  • Jerman, Nationalmannschaft (tim nasional), Nationalelf (national eleven) atau DFB-Elf (DFB eleven); Die Adler (Elang);
    Die Mannschaft (Tim) digunakan terutama oleh media berbahasa non Jerman
  • Kenya, menyebut tim nasionalnya dengan The Harambee Stars. Masih banyak tim lainnya yang baru mengenal sepak bola, baru merdeka bahkan yang sudah lama bergelimang dalam sepakbola modern yang menyebut nama tim nasional mereka dengan julukan yang baik-baik dan indah yang tidak perlu diuraikan lagi satu-persatu di sini.

Adakah yang menyebut atau menjulukinya dengan akronim? Tidak ada bukan? Jika enggan menjuluki atau menyebutnya dengan tim nasional atau tim Indonesia, sebut saja Garuda atau Rajawali dan sejenisnya yang sesuai dengan simbol dan logonya.

Apakah dalam bahasa Inggris atau bahasa lainnya mempunyai akronim untuk menyebut tim nasional? Sebut saja dalam bahasa Inggrisnya Tim Nasional adalah “National Team.” Ternyata kita tidak melihat adanya singkatan yang digunakan pers Inggris untuk menyebut tim nasional Inggris menjadi Nate atau Nateam atau Tenat dan sebagainya untuk menjuluki kesebelasan nasional Inggris.

Julukan Timnas tidak mewakili apa pun. Timnas tidak berwujud dan tidak mempunyai makna selain sebuah singkatan yang tidak berfilosofi selain hanya memudahkan penyebutan dan meringkas judul berita saja.

Maka sebaiknya seluruh pers dari media cetak, elektronik dan berita online kembalikan sebutan tim nasional Indonesia kepada sebutan yang baik, benar dan mengandung makna. Mengapa kita susah sekali menyebut Indonesia-23 atau Garuda U-23 atau mungkin lebih mantap lagi Nusantara U-19, U-21, U-23 dan seterusnya jika ada.

Sebutan Timnas adalah ungkapan yang tidak bermakna, maka sebutan tersebut tidak mempunyai nilai filosofis. Kelihatannya sebutan yang telah melekat tiga dekade tersebut ikut andil meruntuhkan filosofi dalam tim nasional Indonesia pada berbagai kelompok usia. Padahal memberi nama yang jelas dan sebutan yang merepresentasikan wakil negara dan bangsa Indonesia setidaknya akan membangkitkan power tambahan dalam jiwa pemain kesebelasan Indonesia di berbagai kelompok usia.

Meski tidak ada kaitannya secara langsung, memberi nama yang indah, benar dan penuh makna adalah tugas setiap orang tua pada anaknya demi tujuan yang baik-baik akan diraih oleh si anak pada masanya hingga berakhir masa hidupnya.

Hal yang sama juga seharusnya diberikan kepada tim sepakbola yang mewakili negara dan bangsa Indonesia. Jika tidak cocok memberi julukan Halilintar atau Torpedo atau Pembelah Samudera, sebut saja Indonesia atau Tim Nasional Indonesia. Mau disingkat, tulisan saja Indonesia, bukan Timnas.

Percaya atau tidak percaya, nama yang baik dan bagus ibarat sebuah doa dan harapan. Seperti orang tua kita yang telah mendapat nama yang baik dari orang tua mereka, kita juga telah mendapat nama yang baik yang telah diberikan oleh orang tua utnuk menjadi anak yang sukses penerus generasinya.

Nama kita- sebut saja Joko Widodo yang bermakna “Anak laki-laki yang sukses, berpengaruh dan berkuasa” telah membuat Joko  Widodo kini menjadi presiden Indonesia.

Sebut saja nama kita yang lain, misalnya Susilo Bambang Yudhoyono mempunyai arti “Pemuda yang benar dan menang dalam perang,” juga telah mengantarkan beliau menjadi orang terpenting di negeri ini.

Memang benar ada beberapa orang lain menyandang makna agung dan mulia lantas ternyata suratan takdir membuatnya malah bertolak belakang dengan arti dan makna dari nama yang disandangnya. Dalam hal seperti itu paling tidak orang tuanya telah menanam harapan besar agar sang anak kelak menjadi kebanggaan keluarga, masyarakat, bangsa dan negaranya.

Dalam membuat nama perusahaan pun banyak orang membuat nama yang indah dan penuh harapan, misalnya Sari Bumi Ayu atau Bumi Putra, Mobil Oil atau Rajawali Citra Televisi Indonesia dan sebagainya, semua menyandang nama yang di dalamnya terdapat harapan indah, sukses dan membanggakan perjalanan hidupnya sampai batas waktunya hilang dari peredaran atau berganti baju dengan nama tak kalah indah yang baru.

Dengan demikian wajar Timnas keok melawan Thailand. Timnas hancur lebur melawan Vietnam. Timnas babak beluk melawan Malaysia. Timnas Rontok melawan Korsel (Korea Selatan). Timnas remuk melawan Palestina atau Timnas kehabisan bahan bakar melawan Suriah. Jangan tanya apa jadinya Timnas melawan Brazil atau Jerman.

Timnas hanya bersukaria menjurus eforia ketika melawan Timor Leste. Timnas dipuja-puji bagaikan dewa ketika menang melawan Nepal. Timnas disanjung setinggi langit ketika menang atas Maladewa atau Kamboja.

Mengapa sebutan Tim Indonesia berhasil menang atas sejumlah negara yang baru belajar sepakbola? Tak lain adalah karena secara psikologis negara-negara tersebut masih melekat nama besar Indonesia di samping memang karena industri sepakbola di negerinya belum dipoles sedemikian rupa dan maju alias masih berjalan apa adanya.

Nama yang baik dan benar semata memang BELUM tentu membuat tim Indonesia sukses di berbagai arena. Masih banyak faktor lainnya secara teknis yang tidak dapat diurai satu per satu di dalam tulisan ini. Akan tetapi dengan menyebut nama yang baik dan benar paling tidak kita telah memberi harapan yang baik dan mulia untuk tim nasional kesebelasan Indonesia kita.

Padda era 1970-1980-an, sebutan tim nasional kita masih menggunakan PSSI U-19 atau PSSI U-21 dan seterusnya. Hasilnya pun lumayan menggemparkan Asia Tenggara bahkan Asia meski ada yang mengatakan bahwa sebagian besar negara Asia Tenggara dan Asia pada saat itu baru mengenal sepak bola.

Katakanlah benar asumsi tersebut, lalu mengapa kita yang sudah selangkah lebih maju dari dahulu dalam hal sepakbola yang pernah harum namanya ke mana-mana lantas kini hanya mampu bersaing atas sejumlah negara yang disebutkan “baru mengenal sepak bola” seperti disebut di atas?

Padahal di tingkat dunia pun Indonesia pernah berjaya tembus ke Piala Dunia. Sebut saja pada pada Piala Dunia 1938. Meski akhirnya dicukur Hongaria 6-0, tim saat itu menyandang nama yang amat panjang, yaitu: Tim Hindia Belanda. Pers dan semua orang menyebut dan menulisnya lengkap “Tim Hindia Belanda.” Bukan Tim Hibel atau “Tihibe” atau lebih gawat lagi “Tim Nehi” (Nederland Hindia).

Artinya, memang ada kaitannya secara tidak langsung antara pemberian nama yang baik untuk tim nasional kita dengan semangat dan filososfi nasinalisme para pemain yang tergabung dalam payung kesebelasan nasional kita. Jika kita mengakui hal tesebut mengapa kita tidak pernah mencoba mengubah sebutan untuk mereka?

Peranan pers cetak maupun eletronik serta online sangat besar pengaruhnya dalam membentuk opini temasuk opini sebutan untuk sebuah objek. Oleh karenanya apa salahnya Pers ikut prihatian dan kompak mengembalikan sebutan kesebelasan Indonesia menjadi “Indonesia” atau “Garuda” atau “Rajawali.”

Tentu tidak disarankan memberi nama yang aneh-aneh dan berbau mistis, misalnya “Tim Pencabut Nyawa” atau “Tim Sambar Nyowo” atau Tim Buru Sergap (Buser) atau “Si buta dari gua hantu.”

Marilah kita sepakat dan kompak semuanya, mari kita kembalikan sebutan atau julukan “Timnas” yang tidak punya makna itu kepada sebutan atau julukan tim nasional atau Indonesia saja. Terlalu beratkah? Memang berat karena mengubah kebiasaan lama itu sulit sekali, tapi berkat bantuan dan peranan Pers kita harus sepakat menyebut Indonesia saja mengganti istilah timnas.

Jika tidak, timnas biarkan seperti ini saja dan suatu saat berganti lagi namanya menjadi “Nenas,”atau “Ganas” bahkan nanti ada yang nekat menyebutnya “ANAS,” hehehehehhehe.

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s