Anti Terorisme, Pakistan Maju Kena Mundur Kena

anti terorisme PakistanSikap keras dan lembek yang diterapkan Pakistan dalam memerangi teroris telah membuat Pakistan mirip seperti sebuah granat yang dipanaskan dalam sebuah bejana yang berada di atas sebuah tungku api (kompor). Jika terlalu panas ia akan meledak dan jika didiamkan ia bakal meledak pada waktu yang lain.

Salah satu ledakan yang ditimbulkan oleh teroris paling berdarah adalah ketika serangan terencana yang terukur oleh teroris di sebuah sekolah yang dikelola militer AD Pakistan pada 17 Desember 2014 lalu yang menewaskan 141 pelajar, guru dan masyarakat disekitar sekolah tersebut. Menurut informasi, serangan tersebut dilakukan untuk membalas sejumlah aksi ekstrim yang diterapkan oleh militer Pakistan dalam memerangi terorisme di sejumlah lokasi di Pakistan.

Negara yang berlokasi di wilayah Asia Selatan ini memiliki jumlah penduduk lebih dari 180 juta jiwa ini termasuk negara yang paling padat penduduknya di Dunia dengan tingkat kepadatan 200/ Km2.

Pada 23 Maret 1947, Liga Muslim India (All  Indian Moslem League) sepakat mengeluarkan semacam kesepakatan bersama yang disebut dengan “Resolusi Paksitan,” Sebagai ketua Liga Muslim, Mohamad Ali Jinnah berjanji memperjuangkan sebuah negara Islam.

Setelah memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada  14 Agustsus 1947 (India 15 Agustus 1947-Red), Pakistan terus berasimilasi dalam mengisi kemerdekaannya sehingga melakukan perubahan demi perubahan untuk menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Salah satu perubahan tersebut adalah pada tahun 1956 saat Pakistan mengadopsi konstitusi baru menjadi Negara Republik Islam.

Perubahan konstitusi itu bukan tidak berimplikasi kemana-mana, salah satu implikasi serius adalah timbulnya pemberontakan di Pakistan bagian Timur, wilayah yang mayoritas keturunan India itu pecah, berontak dan akhirnya menjadi Bangladesh.

Mengapa Pakistan menjadi tujuan Teroris paling menarik di dunia?

Melihat pergolakan dalam negeri Pakistan sendiri dari ke masa sampai saat ini akan membantu kita melihat apa sebetulnya yang membentuk Pakistan memiliki karakter unik dalam masalah terorisme. Beberapa hal yang perlu dan  terpenting diketahui  itu adalah:

Meskipun Pakistan dideklarasikan berbetuk negara Islam, akan tetapi peranan dan pengaruh Islam  -selama Dua Dekade pertamanya– dalam panggung politik Pakistan ditolak oleh Pemerintah dan rakyat Pakistan. Lihat saja dalam pembentukan partai politik tidak ada partai politik yang berazaskan Islam yang diterima untuk ikut pemilu dalam dua dekade pertama.

Para cendekiawan Pakistan banyak yang berhaluan reformis dan liberal. Mereka bahkan jauh dari kesan konservatif apalagi fundamentalis. Misalnya tokoh pendidikan  tekenal Pakistan Syed Ahmed Khan atau sang pujangga-filosof Allama Mohammad Iqbal. Mereka  dapat “mempengaruhi”  intelektual Muslim dan Ulama untuk berpandangan modernis dan menjadi reformis.

Struktur pemerintahan yang menggerakkan roda pemerintahan dan kenegaraan Pakistan dilakukan oleh orang-orang yang telah mendapat layanan pendidikan dan pembinan mental dari Inggris.

Upaya penyelamatan pemerintah Pakistan atas penindasan minoritas oleh kelompok mayoritas Sunni  pada dekade 1960-an, berhasil ditumpas habis oleh pemerintah saat itu. Beberapa ketua perlawanan dari kelompok Sunni  misalnya  Maulana Mawdoodi, Ketua Jamaat-e-Islami, diganjar hukuman mati. .

Baru pada tahun 1970-an ketika PM Zulfikar Ali Butho yang berhaluan sosialis dan menganut paham sekuler mulai bermain api. Ketika itu Butho membiarkan pembasmian Ahamdiyah.  Di sisi lain, pada masa kekuasaan Butho, beberapa pertai Islam mulai tumbang dan gugur satu persatu karena menuai kekalahan telak dalam pemilu hampir setiap provinsi.

Zulfikar Ali Butho secara lambat namun pasti mulai bermain api dengan menerbitkan konstitusi bahwa Ahamdiyah BUKAN orang Muslim. Hal ini dilakukan Butho untuk menarik simpati kaum Konservatif yang pelan-pelan muali mengausai kabinet dan pemerintahan Butho.

Butho hilang, muncul Zia Ulhaq yang berhaluan konservatif.  Jendral AD Pakistan yang garang dan ditakuti ini memimpin Pakistan dengan konservatif. Dia mendukung Islam konservatif dan aktif membangun pendidikan Islam berhaluan ortodoks. Dia banyak membangun pusat kajian dan studi tentang agama Islam di seluruh Pakistan.

Ternyata, kesempatan ini menarik perhatian dan minat masyarakat Pakistan bahkan dari beberapa belahan dunia ingin belajar atau menimba ilmu di sini. Lama kelamaan, tempat kajian ini dipergunakan oleh kelompok-kelompok ekstrimis dan fundamentalis untuk mempertebal komitmen melawan Uni Soviet di Afghanistan.

Di sisi lainnya, keberhasilan Taliban menggempur dan memberi perlawanan hebat terhadap Uni Soviet sedikit tidaknya berhasil menarik perhatian warga Pakisan khususnya dari kelompok Sunni dan berhaluan Konservatif dan menganut paham Islam Ortodoks.

Keberhasilan ke dua kubu memperoleh “kredit point” masing-masing sedikit tidaknya memicu persaingan menanamkan pengaruh ini berhasil menarik perhatian calon-calon simapatisan  baru di selurh Pakistan dan dari seluruh dunia.  Akhirnya, persaingan  Sunni dan Syiah yang berlomba-lomba menarik perhatian smpatisan ini didominasi  oleh kelompok Sunni yang berhaluan konservatif dan ortodoks.

Pemuda pemudi Pakistan mulai tertarik ke masalah Taliban hingga akhirnya tak terasa Taliban seolah menjadi saudara baru yang memberi segudan hharapan dan masa depan bagi sebagian warga Pakistan yang berhaluan Konservatif dan Ortodoks.

Zia ul Haq memperlihatkan dukungannya terang benderang kepada kelompok Mujahidin dan Taliban yang berperang melawan Uni Soviet. Dampaknya adalah, sikap intoleransi terhadap minoritas (Hindu, Budha, Kristen dsb) mengalami sedikit demi sedikit penekanan hingga perlakuan yang tidak adil.

Ziaul Haq mengalami kematian tragis, helikopter yang membawanya  bersama dubes AS utuk  Pakistan meledak diangkasa Karachi. Dia digantikan oleh Benazhir Butho yang mengabut paham Liberal. Butho tak lama memberikan sesuatu kepada Pakisan lantas digantikan oleh Nawaz Sharif.

Nawaz Sharif tidak lama, digantikan oleh Pervez Musharraf dari AD Pakistan  yang saat itu menjadi ketua Dewan Keamanan Nasional.

Selanjutnya, Pervez Musahraf juga digantikan lagi oleh Benazhir Butho yang berkoalisi dengan Nawaz Sharif. Tapi apa daya, Benazhir menemui ajalnya oleh sebuah tembakan jarak dekat yang sangat misterius hingga saat ini karena belum diungkapkan siapa pelaku yang bermuatan intelejen tersebut.

Dari mulut Musahraf juga (akhirnya) keluar kata-kata peringatan yang perlu dingat, yaitu ” Adalah sangat sulit memimpin sebuah negara modern yang diberi nama negara Islam Pakistan ini” katanya dalam sebuah jumpa pers menjelang lengsernya Musharaf.

Benazhir hilang, kini muncul suaminya menjadi presiden melalui proses yang konsitusional. Dialah Asif Ali Zardari. Pada masa inilah puncak hubungan dengan AS semakin tidak menentu. Pakistan dalam kaitannya dengan memerangi terorisme dianggap ambivalen oleh AS. Zardari yang diberi  gelar  “Mr Ten Percent” sejak 9 Septembre 2008 resmi menjadi PM Pakistan hingga saat ini. Selama kepemimpinan Zardari inilah kecurigaan dan ketidakpuasan AS semakin meningkat terhadap Pakistan dalam hal pemberantasan terorisme.

Bukti Kecurigaan AS dan NATO terhadap Pakistan

Mengapa AS dan NATO memberikan sikap curiga kepada pemerintahan Pakistan? Berdasarkan beberapa pemberitaan tentang tidak stabilnya hubungan kerjasama  antara Pakistan dan AS, dapat dilihat melalui berbagai tema  dan judul berita. Dari sana kita dapat  mengambil kesimpulan apa sebetulnya pandangan Barat terhadap Pakistan sekarang ini dalam hal perang melawan Terorisme dunia. Mari perhatikan beberapa kronologi sebagai berikut :

Pada tahun 2007, sebetulnya Intelejen AS  telah mendapatkan gambaran jelas bahwa  orang paling dicari di seluruh dunia, Osama bin Laden melarikan diri dari pasukan AS dan Inggris dengan bantuan seorang panglima perang Pakistan  membawa dia ke dalam perlindungan di timur laut Afghanistan.

Laksamana Mullen menuduh pejabat intelijen Pakistan ISI melindungi pejuang dari kelompok Jalaluddin Haqqani, yang menjadi sekutu Taliban, yang telah lama menjabat sebagai perpanjangan tangan militer Pakistan dan intelijen di Afghanistan.

Komandan Amerika di Afghanistan timur mengatakan mereka telah membunuh atau menangkap lebih dari 5.000 militan di tahun lalu. Namun pejuang Taliban Pakistan terus melintasi perbatasan dari ke Paktia dan Khost di Afghanistan. “Inilah yang membuat marah AS” kata Mullen.

Mullen mengatakan kepada sebuah surat kabar Pakistan bahwa hubungan yang dijalin dinas intelijen Pakistan, Inter-Services Intelligence (ISI), dengan jaringan Haqqani menjadi inti permasalahan hubungan antara Pakistan dengan Amerika Serikat,

Menurut berita yang dilansir Wall Street Journal, AS telah menyediakan miliaran dolar bantuan pembangunan dan militer untuk Pakistan sebagai balasan atas dukungannya untuk perang Afghanistan, tapi beberapa pejabat Pakistan mengacaukan strategi itu. Bahkan Agen Intelijen Pakistan (ISI) dilaporkan menekan komandan-komandan Taliban untuk berperang melawan AS dan sekutu-sekutunya di Afghanistan.

Pakistan kabarnya mendukung rencana memperbolehkan Taliban membuka kantor politik di Turki untuk membantu proses dialog guna mengakhiri perang di Afghanistan. Hal itu disampaikan seorang pejabat Pakistan saat Presiden Pakistan Asif Ali Zardari berkunjung ke Ankara, Kamis (14/4/2011).

Pakistan dan Afghanistan menjadi “inkubator” yang menetaskan terorisme dan merupakan ancaman bagi negara-negara persemakmuran independen (CIS – asosiasi negara-negara pecahan Uni Soviet), kata kepala dinas keamanan Rusia. Direktur Dinas Keamanan Federal (FSB) Rusia Alexander Bortnikov menyampaikan hal tersebut dalam sebuah konferensi pers pada pengujung pertemuan para pemimpin dinas keamanan dan intelijen CIS yang berlangsung di Dushanbe, Tajikistan.

Informasi lainnya yang berhasil didapatkan intelejen AS adalah adanya laporan bahwa pemimpin Taliban Mullah Omar menjalani operasi bedah jantung di sebuah rumah sakit di Karachi, Pakistan, dengan bantuan dari dinas inteijen Pakistan. Meskipun berita ini  ditampik oleh Duta Besar Pakistan untuk AS Hussain Haqqani yang menyebut laporan iu “sama sekali tidak berdasar,” tetap saja Barat menuduh Pakistan belum dapat beridiri di atas dua kakinya dalam hal kerjasama memerangi terorisme.

Beberapa indikasi kecurigaan barat terhadap Pakistan antara lain adalah :

Seorang pejabat NATO yang megklaim bahwa pemimpin tertinggi Al-Qaeda tersebut hidup nyaman di sebelah barat laut Pakistan, sang duta besar mengatakan, “AS semestinya berbagi data intelijen dengan pemerintah Pakistan jika Osama bin Laden disebut bersembunyi di suatu tempat di Pakistan.”

Hubungan AS-Pakistan telah menegang setelah serangkaian perselisihan diplomatik tahun ini, termasuk penyerangan pesawat tanpa awak besar-besaran di bulan Maret dan kasus Raymond Davis, kontraktor CIA yang menembak mati dua warga Pakistan.

Pegunungan Tora Bora di Jalalabad di Afghanistan timur telah lama dicurigai barat sebagai salah satu kunci basis tempat berlindung para teroris di Pakistan. Sampai saat ini ini tidak dapat diungkapkan intelijen AS bagaimana cara Osama bin Laden saat dikepung pada 2011 lalu mampu meloloskan diri dari pegunungan tesebut hingga sampai ke persitirahatannya di Abottabad sebelum dinyatakan tewas pada 2 Mei 2011 lalu.

Selain itu pemerintah Amerika Serikat menyebut dinas intelijen Pakistan, Inter-Services Intelligence (ISI), sebagai organisasi teroris. Hal itu terungkap dalam dokumen-dokumen rahasia untuk para juru interogasi di Teluk Guantanamo.

Hubungan Amerika Serikat dan Pakistan tampaknya tercerai-berai. Hal itu terlihat kala Kepala Staf Gabungan Militer AS Laksamana Mike Mullen dan Panglima Angkatan Darat Pakistan Jenderal Ashfaq Parvez Kayani tidak mau difoto berdampingan setelah bertatap mukapada Pada 24/4/2011. Nada bicara dari pernyataan yang mereka sampaikan secara terpisah juga jauh dari kata ramah. Demikian berita kantor berita Reuters pada hari tersebut menyebar ke seluruh dunia

Pada suatu seketika Presiden Asif Ali Zardari pernah memperingatkan bahwa perang pimpinan Amerika di Afghanistan “sangat mengganggu upaya pemerintahannya untuk mengembalikan lembaga-lembaga demokrasi dan kemakmuran ekonomi Pakistan”.

Mantan Presiden Pakistan, Pervez Musharraf telah mengakui bahwa beberapa bagian dari aparat keamanan negara memiliki simpati dengan Taliban atau al Qaeda, dan mereka mungkin juga bekerja sama dengan mereka.

Di sisi lain, Mayor jenderal John Campbell, mantan komandan pasukan koalisi NATO di Afghanistan timur, pernah mereposisi beberapa pasukannya sejak 4 Agustus 2011 lalu untuk membuat mereka lebih efektif di wilayah yang berbatasan dengan Pakistan. Di daerah pernah menjadi rute utama bagi pejuang untuk menyusup ke Afghanistan dari benteng mereka di wilayah kesukuan Pakistan.

Beberapa kali serangan drone predator AS yang menewaskan 41 orang di barat laut Pakistan seperti peristiwa 3 April 2011 lalu yang mengancam kembali hubungan antara Pakistan dan Amerika Serikat. Islamabad menuntut “permintaan maaf dan penjelasan” dari Washington setelah kepala militer Pakistan menggambarkan serangan tersebut sebagai “agresi “

Pada 25/1/2011. Seoran Pria berkewarganegaraan Amerika yang menembak mati dua orang warga Pakistan di Lahore, yang menjadi pemantik menegangnya hubungan Pakistan dengan AS, adalah seorang agen CIA yang sedang bertugas saat itu. Raymond Davis telah menjadi sumber sejumlah spekulasi sejak ia melepaskan tembakan pistol Glock semi otomatis pada dua pria  Pakisan hingga keduanya mati seketika.

India sebagai negara tetangga yang masih bermusuhan dengan Pakistan menangkap kecurigaan barat dan menimpali kecurigaan tersebut dengan sangat keras. Pada 16/2/2011.  India mengatakan Amerika Serikat perlahan-lahan menyadari kebenaran bahwa bantuan militer yang diberikan kepada Pakistan untuk memerang terorisme dialihkan untuk melawan India. India juga berharap pemerintahan Obama akan melakukan “sesuatu” terkait saran India untuk menciptakan pengawasan cara penggunaan senjata dan perlengkapan yang diterima dari AS.

Di sisi lain, Pakistan menilai kerjasama anti terorisme dengan barat khususnya AS dinilai kurang mantap sehingga parlemen Pakistan memutuskan untuk menghentikan kerjasama anti terorisme dengan AS. Hal itu tercantum dalam resolusi yang diadopsi dalam sidang parlemen Pakistan seperti diberitakan kantor berita AFP, Sabtu (14/5/2011) – Sumber :  parlemen-pakistan-tinjau-kerjasama-antiterorisme-dengan-as.

Meski demikian kerasnyatamparan barat terhadap Pakistan  namun Pakistan berulang kali telah memperlihatkan keberhasilan demi keberhasilannya dalam menekuk teroris dan menunjukkan bersedia mengikuti keinginan AS meskipun tekanan dan pengaruh rakyatnya jelas-jelas memperlihatkan menolak berada dalam tekanan AS dan NATO. Beberapa diantara keberhasilan tersebut antara lain adalah :

  1. Inter-Services Intelligence (ISI) dan CIA diklaim telah membuahkan hasil berupa tertangkapnya sejumlah orang penting Al Qaeda dan Taliban, termasuk Khalid Sheikh Mohammad, orang yang diklaim sebagai dalang dari serangan 11 September 2001 terhadap Amerika Serikat’
  2. Menolak tekanan rakyat Pakistan untuk mengadili anggota CIA yang menembak mati 2 warga Pakistan tanpa salah.
  3. Keberhasilan meredam pergolakan Taliban di semenanjung  Waziristan Utara
  4. Meyakini AS lambat tapi pasti Pakistan bersedia memenuhi kerjasama dalam bidang intlejen yang lebih baik, termasuk dalam upaya menemukan Osama bin Laden pada 1 Mei 2011 lalu..
  5. Pada 2 Juli 2014, parlemen Pakistan meloloskan UU anti teroris yang disinyalir mengangkangi Hak Azasi Manusia oleh beberapa kalangan dari lembaga yang mengurusi HAM di dalam dan luar negeri. Pada UU tersebut, Salah satu pasal kontroversial UU tesebut memungkinkan tersangka yang akan ditahan untuk interogasi selama 60 hari tanpa tuduhan, padahal penahanan yang diizinkan saat ini hanya 15 hari. Petugas polisi senior bahkan diperbolehkan untuk mengeluarkan perintah untuk menembak untuk membunuh tersangka

Demikianlah rekan pembaca budiman, ternyata posisi Pakistan memang sangat dilematis dan rumit sekali  berada dalam tekanan AS. Satu sisi Pakistan ingin memerangi terorisme dalam tekanan AS, tapi satu sisi lagi mereka ingin memperthankan jati diri dan eksistensi bangsa yang punya harga diri. Benar, Pakistan sangat dilematis, Maju kena, Mundur juga kena.

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s