Kisah Cinta, Pengorbanan dan Persahabatan Wanita Penderita Leukemia (Fiksi)

cinta wanitaIni “Kisah Cinta” seorang Pria. Sebut saja namanya Joko Tingkir. Dia masih lajang, sudah berpenghasilan layak dan tergolong mapan. Joko merindukan wanita yang cerdas, cantik, romantis dan berbudaya alias “made in” tatakrama tinggi.

Komplit amat syarat yang dibuat Joko. Mungkin ini sebabnya lelaki tergolong masuk usia paruh baya masih membujang alias perjaka tingting.

Singkat cerita, Joko Tingkir bertemu dengan seorang wanita di salah satu Media Sosial (Medsos)  yang menampung tulisan dari ratusan ribu warganya. Salah satunya sebut saja Mila Karmila (Maaf jika ada yang sama dengan nama ini, hanya kebetulan).

Setiap Mila –panggilan akrab wanita tersebut– memposting tulisannya, Joko selalu membaca dengan seksama dan hati-hati. Tak satu pun tulisan Mila luput dari perhatiannya.

Lama kelamaan, Joko merasa tertarik dengan Mila. Kesimpulan yang diperoleh Joko dari hasil pengamatan melalui aneka tulisan Mila bahwa wanita ini memiliki syarat dan karakter yang diidam-idamkan Joko sebagai wanita yang tepat buatnya.

Pelan-pelan Joko mulai kesengsem alias jatuh hati melihat tulisan demi tulisan Mila. Melalui butiran huruf, abjad demi abjad dan rangkaian kalimat serta tema-tema dan judul yang menggugah, membuat Joko terpana. Ia melihat Mila memiliki integritas yang tinggi, intelek dan memiliki budaya yang tinggi.

Joko mulai menelusuri nama itu. Ternyata Mila memang sosok yang punya integritas tinggi, lihat saja pada akun profilnya ia menulis nama aslinya, bukan nama samaran alias anonim. Ia tetap memakai nama aslinya dalam profilnya lengkap dengan Pucture Profile aslinya.

Nama itu pun ditelusuri Joko ke berbagai blog umum jejaring sosial lainnya, hingga ke media sosial  facebook.

Di jejaraing sosial  facebook, Joko terpana luar biasa. Nafasnya seakan tertahan profil Mila. Hanya terdapat sebuah photo saja yang sama dalam profil media jurnalisme warga tempat pertama ia melihat Mila.

Tidak ada gambar lainnya kecuali gambar keponakannya yang lucu-lucu, aneka karakter boneka-boneka serta bunga dan makanan hasil kreasi Mila sendiri.

Pada suatu saat, Joko mengirim pesan ke mailbox Mila di media jurnalisme warga tempat ia pertama “mengenal” Mila. Joko memang sering memberi komentar pada aneka tulisan Mila. Tentu saja Mila  menganggap hal ini biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa terhadap Joko walaupun sempat terlintas mengapa Joko selalu memberi komentar menggugah, memotivasi dan memberi rating padanya selalu..

Dalam pesan mailbox kali ini, Joko menyampaikan kekagumannya terhadap tulisan-tulisan Mila. Jika memungkinkan, Joko minta diajarin cara menulis yang baik dan benar menurut kaedah-kaedah dan teknis baku memulis seperti yang dikuasai Mila.

mba Mila yang terhormat.. Jujur saya sangat tertarik pada hampir semua tulisan anda, terutama yang terakhir mengenai Kanker payudara yang rentan di alami wanita, penyebab dan cara mengatasinya. Anda seorang dokter ya? Siapapun anda, izinkan saya berkenalan lebih jauh dari anda. Selain itu, bolehkan saya meminta tips menulis yang baik seperti anda?” Demikian pesan Joko yang meluncur ke inbox pesan Mila.

Awalnya Mila menganggap ini lelucon dan penghargaan biasa saja, dia mengabaikan. Joko tidak mundur, semangatnya menjadi-jadi. Setelah permintaan ke 6 kali, barulah Mila memberikan nomer HaPe nya, itu pun setelah Joko memberi nomer HPnya lebih dahulu hampir  dua bulan sebelumnya.

Suatu ketika, Joko memiliki waktu yang sangat luang di sela-sela kerjanya sebagai manajer operasional sebuah perusahaan pelayaran internasional. Alam bawah sadarnya menggugahnya untuk menghubungi Mila via telepon ke seluler Mila.

Ternyata tidak mudah. Penerima telapon seorang lelaki dengan suara berat jenis bariton. Mendadak grogi dan gemetaran Joko pun diinterogasi dengan beberapa pertanyaan. Anda siapa? Ada urusan apa dengan Mila. Ia pun coba meredam rasa groginya dengan berkelakar dan memperkenalkan dirinya hanya sebagai teman saja di salah satu media jurnalis warga. Tambahan bumbu penyedap Joko pun masuk, ia ingin bertanya suatu hal tentang menulis dan karangan yang akan diterbitkan untuk sebuah buku di suatu Penerbitan.

Telapon ke dua masih seperti itu juga. Pria bersuara Bariton makin terkesan galak, tapi tak menggoyahkan mental Joko.

Barulah telepon ke 3, sang pria yang tak lain adalah ayah Mila memberi kesempatan padanya utnuk  kesempatan berbicara dengan Mila. Singkat cerita Mila ternyata sangat ramah, sopan dan terbuka. Persis sama dalam dugaannya saat melihat profil Mila.

Enam Bulan Kemudian

Hubungan telepon dan pesan demi pesan semakin lancar.  Mila telah mengetahui status Joko, pekerjaannya dan maksud Joko, karena Joko telah menyampaikan secara terbuka maksud dan tujuannya pada Mila.

Sikap Mila seperti jinak-jinak merpati, semakin dikejar semakin lari. Ia memberi tanda yang sangat samar-samar. Sebuah sikap yang membuat Joko semakin beringas rasanya. “entah bagaimana meyakinkan Mila ini,” jeritan hati Joko membuatnya sering melamun akhir-akhr ini.

Akhirnya Joko minta waktu bertemu. Itupun tidak mudah. Ternyata Mila seorang wanita karier di perusahaan Telekomunikasi cukup ternama. Joko baru dapat bertemu Mila setelah beberapa kali dibujuk rayu. Itu pun dijanjikan selepas jam kerja di hari Jumat sore sebelum Mila pulang ke rumah. Mereka sepakat bertemu di sebuah Restoran dekat kantor Mila.

Betapa kagetnya Joko saat mereka bertemu di tempat yang dijanjikan. Ada dua orang wanita yang agak sama penampilannya dengan yang terlihat pada profil di Medsos Mila. Ada dua orang wanita yang nyaris mirip menunggunya di tempat yang telah ditentukan.

Joko berdiri memperkenalkan dirinya. Kedua wanita itupun memperkenalkan dirinya. Keduanya adalah Mila dan Desi.

Sambil tersenyum simpul, Desi berdiri dengan senyuman menggoda, memperkenalkan dirinya sebagai Mila samaran, sedangkan Mila memperkenalkan dirinya sebagai Desi.

Rupanya ke dua wanita “sohib” itu telah curhat dalam jangka waktu yang lumayan lama. Mereka berbagi strategi utuk melumpuhkan potensi pria hidung belang penebar pesona dan janji-janji sering terlihat mampu melumpuhkan ketegaran wanita selama ini.

Mudah bagi seorang Desi pun berperan palsu sebagai Mila. Mereka membuat kesepakatan untuk melihat dan menguji lelaki yang mereka anggap si hidung belang sedang pasang perangkap. Mereka curiga siapa tahu lelaki sok baik itu ternyata pengobral cinta, lelaki iseng atau malah Don Juan abad ini.

Mereka berdua telah lama mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam sikap dan komunikasi. Desi seorang warga yang sama di media sosial Joko dan Mila. Ia sering mempelajarti tulisan Mila di medsos mereka namun Desi tidak mengunggah nama dan gambar aslinya. Jadi sangat mudah Desi berperan dan berkarakter sebagai Mila.

Setelah pertemuan pertama yang sangat menggembirakan ke tiga pihak ini, singkat cerita Joko telah berkenalan sangat dekat dan akrab dengan “Mila” yang sebetulnya adalah Desi.

Setiap hasil pertemuan dengan Joko, sohib yang baik ini (Desi) kerap menyampaikan laporan via telepon dan kadang berkunjung ke rumah Mila di akhir pekan. Mereka kerap membahasnya sangat detail tak lupa terpingkal-pingkal bahkan bergulingguling di kamar Mila yang luas dan nayaman atau sekali-sekali di teras rumah Desi asli dekat pelabuhn Tanjung Priok. Mereka sepakat, masih ingin menguji dan terus menguji Joko sampai di mana keseriusan pemuda berbadan tegap dan kelihatan galak itu.

Setahun Kemudian.

Sebelas bulan pertama setelah pertemuan pertemuan itu, Joko telah hafal nama desi yang asli dan Mila yang sebenarnya. Joko mengajak Desi bertemu untuk sebuah pertemuan khusus. Dalam pertemuan itu, Joko menyampaikan keinginannya memperistri Desi dan mengaharapkannya bersedia menikahi Joko.

Sejurus kemudian, Joko mengeluarkan sebuah kotak kecil. Dalam suasana syahdunya riak-riak kecil di tepi pantai Sunda Kelapa, Joko memasukkan cincin emas 24 Karat seberat 10 gram ke jari manis Desi.

Desi tidak dapat mengelak. Hatinya bergemuruh. Selama ini ia ternyata dia pun diam-diam telah menaruh hati pada Joko setelah melihat integritas pemuda itu yang patut diberi jempol oleh setiap wanita seharusnya. “Inilah pria idaman sesungguhnya” begitu godaan dalam hatinya.

Pertemuan itupun disampaikan oleh Desi kepada Mila yang asli. Terharu campur penyesalan membuat mereka bertangisan. “Salah kah aku Mila?” tanya Desi pada rekannya. Mila tidak menjawab, masih berpelukan dia menggelengkan leharnya dan membelai-belai punggung Desi dengan lembut, memberi isyarat tidak ada yang salah diantara keduanya.

Mereka berpelukan di depan teras rumah Mila yang asri. Sedih tiada terkira karena Mila sesungguhnya juga sudah menaruh hati, hanya saja dia tidak menyangka jurus “uji coba” yang diluncurkannya hampir setahun  lalu ternyata diluar perkiraannya.

Akhirnya mereka berembuk. Mereka harus terbuka dan menyampaikan situasi dan kondisi sebenarnya kepada Joko Tingkir. Sebuah pesan masuk ke telepon seluler Joko yang isinya ingin temu bareng bertiga.

Dasar Joko tipekal manusia positif  thinking ia menerima tawaran pertemuan segi tiga tadi. Lokasinya di sebuah restoran tempat mereka pertama sekali bertemu. Mereka juga memilih tempat yang sama seperti pertama kali bertemu hampir setahun yang lalu.

Seperti biasa, pembicaraan dari masalah umum, mulai dari masalah Korupsi, masalah Susno beras plastik, masalah Artis pornografi, masalah meroketnya harga sembako selangit hingga masalah hukuman mati terhadap napi mafia narkoba “Bali Nine,” telah lengkap mereka bahas hampir sejam yang lalu.

Akhirnya “Mila” palsu alias Desi menyampaikan  ingin menyampaikan informasi penting  dengan terbata-bata.

Mas.. ada yang ingin kami sampaikan. Sebelumnya saya mohon maaf karena sebetulnya Mila yang sebenarnya adalah yang ini..”  katanya lemah sambil menunjuk  ke arah temannya di sampingnya yang tertunduk malu.

Joko berusaha menyembunyika rasakagetnya…”Hehehehehe..….. Apa-apan ini saya tak kaget kok..” Joko masih merasa dicandaain kedua wanita tesebut.

Sejumlah kalimat pun meluncur dari bibir wanita cantik (Desi) yang selama ini mengaku Mila.

Joko terhenyak menahan nafasnya. Mau meledak rasa suaranya tapi ia malu berteriak dalam restoran yang mulai ramai pengunjungnya. “Berarti hampir setahun ini kalian berdua telah ngerjain saya. nikh.?” ujar Joko dengan lirih. Ia menarik nafas panjang dan seketika sunyi dan sepi.

Melihat kondisi yang tida sehat ini, Mila beneran mengisi keheningan itu..“Mas,.. mohon maaf, tidak bermaksud mempermainkan. Saya hanya menguji kesetiaan mas saja. Dan setelah saya saya lihat mas sangat tepat untuk teman saya Desi, saya sengaja meminta Desi saja yang menjadi pendamping mas..

Desi yang telah mengetahui kondisi rekannya sejak lama mendengarkan itu menitikkan air matan membasahi pipinya.. ia memandang ke arah Joko. Seketika Joko pun tiba-tiba tersenyum. Lalu ia menyapa Mila…”Saya bingung nikh.. saya tak tahu harus menguapkan apa lagi. Baiklah, terimakasih kalau begitu Mila… Saya mohon maaf jika selama ini telah menganggu ketenagan mu. Terimakasih banyak kamu telah berkata jujur hari ini, Mila”

Tidak apa-apa mas. Tidak ada yang salah dengan kita. Saya sangat bahagia jika mas bisa berbahagia dengan Desi. Saya bersumpah, saya ikhlas. Saya jujur dan serius mas. Karena…. hmmmmm”  Mila tidak dapat meneruskan lagi ceritanya.

“Karena apa Mila” potong Joko..

Hanya air mata kembali yang menetes… sunyi senyap lagi…

Sejenak kemudian sambil menyeka air matanya dia mengangkat wajah ke arah Joko dengan suara menahan tangisan…”Aku menderita leukemia,mas… Menurut dokter yang merawat ku selama ini, prediksi usiaku diperkirakan hanya bertahan 2-3 tahun lagi…“… Meledaklah tangisannya didalam pangkuan Desi…

Setelah mendapat penjelasan dan terkuaknya misteri cinta segi tiga diantara mreka kini mereka sama-sama telah mengerti maksud dan tujuannya. Merekapun pulang ke rumah masing-masing. Desi mengantar Mila pulang ke rumahnya, entah apa yang akan mereka bicarakan setibanya di rumah Mila setelah itu.

Menuju Pernikahan

Seminggu tidak ada kabar kabar sesama mereka. Strategi defensif kelihatannya sedang diterapkan Desi dan Mila. Sementara Joko mengambil waktu jeda itu untuk collingdwon proses mengevaluasi kembali seluruh kenangan bersama Mila dan Desi.

Pulan dari pekerjaannya, Joko membuka kembali blognya. Ia  langusng meluncur ke lapak Mila. Di sana ia menemukan jawaban dalam salah satu tulisan terbaru Mila berbentuk prosa.

Tulisan itu mengingatkan Joko pada salah satu tulisan Mila hampir setahun lalu.  Mila pernah memposting jeritan hatinya yang mengalami penyakit tersebut. Hanya saja Joko mengira saat itu justru Mila sebagai dokter yang sedang berupaya menyelamatkan pasiennya dari ancaman mematikan Leukemia….Prosa sedih dan menyita sejumlah komentar rekan Mila itu membuat mata Joko berkaca-kaca.

Keesokan harinya, Joko menelpon Desi minta bertemu. Singkat cerita, Joko menjemput Desi dan mereka meluncur ke sebuah restoran di tepi pantai tempat Joko mengucapkan janjinya dan mengikatkan cincin cintanya kepadanya dua bulan yang lalu. Dalam pertemuan di senja yang berbalut gerimis itu dia katakan bahwa dua minggu lagi orang tua dan keluarganya akan datang melamar Desi…  “Cukupkah dua minggu untuk menyampaikan hal ini kepada orang tua dan keluarga Desi?” Desi memberi saran agar Joko terlebih dahulu yang datang memberitahukan rencana tersebut pada orang tuanya. Mereka sepakat menetapkan rencana tersebut dalam waktu dua hari ke depan.

Tidak terkira betapa bahagianya Desi, mengira Joko akan berhenti (bubar) sampai di situ, karena aibnya telah terbongkar tenyata malah Joko meneruskan perjuangannya sampai finish hingga ke rencana pernikahan mereka.

Tiga bulan setelah tunangan, tepatnya dua minggu sebelum masuknya bulan puasa Ramadhan, mereka telah resmi menikah. Mila ikut hadir pada acara tersebut. Ia datang dengan ke dua orang tuanya. Mila sangat gembira. Mila memeluk Desi dan mengucapkan…”Jika kamu menganggap aku sebagai saudara mu, ingat say,… kamu harus setia dan melayani suami mu dengan sebaik baiknya. Pertahankan rumah tangga mu hingga Kakek Nenek..”... Mila memeluk Desi dan mereka menangis lagi tanda penuh bahagia..

Kini Desi dan Joko telah menjadi suami isteri. Mereka baru saja menjalani bulan pertama bertepatan dengan masuknya puasa ramadhan. Mereka puasa, berbuka dan sahur bedua saja. Sesuatu yang amat romantis dalam sejarah hidup mereka.

Masih banyak hari, minggu, bulan berbilang tahun yang akan mereka hadapi. Keduanya bertekad menjalani biduk rumah tangga mereka dengan segala kelebihan dan kekuranan masing-masing. “Joko, ingat pesan mama ya, rumput tetangga memang terlihat hijau, namun rumput sendiri nyatanya bisa lebih hijau.” Inilah pesan singkat orang tua Joko yang kebingungan sekian lama akibat Joko belum juga menemukan tambatan untuk pelabuhan hatinya, padahal usianya telah mencapai 34 tahun.

Wajar kedua orang tua Joko mengingatkannya agar menjadi tipekal lelaki setia. Bukan tipe Don Juan yang semakin hari semakin banyak berserakan di mana-mana bermodal harta, uang dan janji-janji manis tapi semuanya semu belaka. Banyak wanita yang harus hidup berjuang kembali dari nol akibat tipuan mau DJ-DJ abad ini. Wanita-wanita yang telah kecewa karena merasa seperti “Habis manis sepah dibunag” oleh DJ-DJ yang hobinya hanya mengobral cinta dan dusta.

Pesan Moral:

  • Hati hati menguji kesetiaan seseorang. jangan sampai kebablasan.
  • Katakan sejujurnya apapun dari awal, daripada di belakang hanya jadi persoalan baru saja.
  • Lelaki yang baik-baik pasti diperuntukkan kepada wanita yang baik-baik. Kebaikan diantara keduanya adalah rahmat dari Tuhan yang Maha Kuasa dengan memberi keagungan cinta dan kasih sayang yang murni kepada mereka.
  • Tuhan yang Maha Kuasa pasti memberikan pasangan yang terbaik bagi kita, selama kita memberikan yang terbaik kepada pasangan masing-masing.

Sekadar diskusi dari penulis : Jika Anda menjadi Mila atau Desi atau Joko Tingkir, anda bersikap bagaimana? Sudah tepatkah penyikapan mereka bertiga ini?

Memang nasib Joko Tingkir mantap, euy….he..he..he..

Salam AGI

abanggeutanyo.-

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s