Myanmar, Makin Lama Makin Sangar

MyanmarMyanmar beringas dan semakin ganas sudah lama diketahui oleh berbagai dunia. Negara seluas 678,500 km2 dengan perkiraan jumlah penduduk sebanyak 55,746,253 orang (Info CIA factbook 2014) benar-benar tak dapat dikendalikan oleh dunia.

Banyak peristiwa tidak normal bergelayut di atas bumi negeri otoriter dan tirani (otoriterianis) sejak dikuasai oleh rezim militer (junta militer) berdarah dingin sampai saat ini.

Untuk melihat apa dan siapa Myanmar yang dikenal dalam istilah barat sebagai Burma, ada baiknya kita luangkan waktu sejenak melihat ke belakang agar mampu menghadirkan sosok Myanmar yang terkesan angker, angkuh, menantang dunia dan bertangan besi ini.

Myamnar Kuno

Agama dan peradaban Islam di Birma telah ada sejak abad ke 9 yang dibawakan oleh China muslim, Melayu, Moro dan India baik sebagai tawanan perang, pasukan kerajaan negara sahabat yang sedang menyiapkan perbekalan, pelaut maupun yang sengaja datang untuk tinggal di daerah di pesisir pantai  Thanintaryi dan Rakhine. Mereka berasimilasi dan menikah dengan penduduk setempat.

Pada tahun 1055, berdirilah kerajaan Burma  pertama (Kekaisaran Pagan)  dengan rajanya yang legendaris Anawrahta. Setelah Anawrahta meninggal dinasti pagan turun temurun hingga berakhir masa jaya kerajaan Pagan  pada 1287.

Setelah dinasti Pagan (Birma) tamat riwayatnya -untuk sementara waktu- akibat invasi kerajaan Siam (Thailand) hingga abad ke 13. Singkatnya, setelah itu giliran kerajaan Siam ditaklukan kembali oleh kerajaan Ayutthaya Raya dari turunan dinasti Pagan hingga tahun 1767.

Kekuasaan silih berganti berabad lamanya, nasib muslim Burma terus menerus menderita setiap pertukaran kekuasaan kerajaan hingga akhirnya dinasti Toungoo berkuasa pada abad 16 – 1752 dan diganti oleh dinasti Konboung 1752-1885.

Barulah pada masa raja Bodawpaya (1785-1819) warga muslim mulai mendapat perhatian dari raja yang menganut paham reformasi. Dialah raja Burma pertama yang mengenal pehamaman tentang warga muslim di Burma saat itu. Raja ini memberi perhatian khusus dengan menempatkan warga muslim pada salah satu menterinya dan memberlakukan makanan halal untuk 700 orang prajurit kavaleri dari kalangan muslim dalam tentara kerajaannya.

Bodawpaya membangun kota Amarapura tempat 20 ribuan keluarga muslim yang menjadi warganya. Di kota ini juga berdiri masjid pertama di Burma pada tahun 1855. Kebaikan raja ini tak lepas dari upaya hebat tentara kavaleri muslim dalam melakukan temabakan meriam ke arah lawan ketika etnis Mon mencoba menyerang kekuasaan Bodawpaya sehingga membuat kerugian dan korban jiwa terhadap musuh kerajaan.

Setelah Bodawpaya mangkat, penggantinya (raja Mindon) tak kalah perhatian terhadap warga muslim. Bahkan ia menambah kekuatan tentara dalam pasukannya dari kalangan muslim dari anak muda turunan India dalam pasukan berkuda hingga 400 orang dipimpin kapten muslim Kapten Min Min Htin Yazar lengkap dengan pakaian khas muslim.

Selanjutnya sejumlah pasukan berkuda muslim raja Mindon membangun kota baru, Mandalay. Begitu perhatiannya sang raja terhadap warga muslim hingga penjahit kerjaan pun berasal dari kalangan muslim yaitu U Soe. Selain itu terdapat beberapa orang lagi kepercayaannya antara lain adalah : Kabul Maulavi (hakim Islam) dan sebagainya.

Setelah Mindon meninggal dunia, penerus raja terakhir dari dinasti Konboung yang menguasai Burma adalah Thibaw Min (1859 – 1916). Thibaw meninggal pada  usia 57 tahun setelah kalah dalam pertempuran melawan kerajaan Inggris.

Selama inggris berkuasa secara resmi pada 1 januari 1886 hingga akhirnya Burma meraih kemerdekaannya pada 4 Januari 1948, peranan orang muslim dalam kerjaan Inggris mendapat perhatian yang besar, ini terlihat dengan jelas karena beberapa diantara warga musli dari berbagai etnis dipercayakan sebagai penasehat kerajaan, walikota, administrator kerajaan Inggris, pegawai pelabuhan, pedagang pemilik kapal dan sebagainya.

Myanmar Modern

Setelah meraih kemerdekaannya dari Inggris, Burma yang pada awalnya adalah negara yang disegani oleh kawan dan lawan masuk ke dalam pengaruh sekelompok ultra nasionalis berhaluan sosialis, terutama ketika era junta militer pertama Jendral Ne win dan dewan revolusioner sosialis memegang kendali kekuasaan Myanmar.

Sejak Ne Win berkuasa hingga digantikan oleh Thein Sein, berikut ini sejumlah peristiwa yang sangat kontras dialami oleh warga Muslim Myanmar dalam beberapa peristiwa yaitu :

  1. Perdana Menteri pertama Burma (U Nu) menetapkan agama Budha sebagai agama resmi negara Burma pada 1956. Pernyataan ini menimbulkan protes penganut agama minoritas di Burma termasuk Islam.
  2. Setelah jendral Ne Win berkuasa melalui kudeta tak berdarah 1962, pihak muslim disudutkan dengan munculnya stigma dan dogma bahwa muslim Myanmar itu identik dengan terorisme. Sebuah statemen yang memancing emosional warga muslim Myanmar sehingga berusaha mencari pengaruh dengan bergabung dengan kelompok bersenjata untuk memperoleh pengakuan yang lebih layak.
  3. Issue sara dan fitnah pada 16 Maret 1997 ditujukan kepada muslim oleh surat kabar yang melansir berita pemerkosaan oleh pemuda muslim terhadap wanita Birma. Tak ayal, 1000 – 1500 orang bhiksu langsung “kesetrum” menyerang ummat dan fasilitas muslim termasuk menghancurkan masjid dan toko-toko muslim di kota Mandalay. Tiga orang muslim tewas akibat issu yang ternyata tidak dapat dibuktikan. Akibatnya, 100 orang bhiksu ditangkap aparat keamanan Myanmar.
  4. Kerusuhan anti muslim di Sittwe dan Toungoo (2001) berawal dari persoalan makanan jajanan di warung muslim oleh sejumlah bhiksu hingga terjadi perkelahian yang mengakibatkan rumah warga muslim terbakar diamuk massa bhiksu. Sedangkan di Toungoo kerusuhan terjadi pada Mei 2001 diakibatkan oleh pemasangan pamflet anti muslim di rumah-rumah muslim. Pamflet yang berisi ajakan untuk menghancurkan masjid di Toungoo karena sebuah patung Budha Bamiyan telah dihancurkan di Afghanistan.
  5. Pernyataan presiden Myanmar Thein Sein tentang strategi mengatasi persoalan etnis klasik di negara bagian Rakhine adalah dengan cara mengusir muslim Rohingya ke luar Myanmar dikirm ke kamp-kamp pengungsi di luar negeri sehingga menjadi tanggung jawab PBB.
    • Konsekwensi pernyataan Thein Sein ini berdampak negatif, tanggal 3 Juni 2012 sejumlah penduduk muslim yang berada dalam bis diturunkan dan akhinya 11 warga muslim tewas. Tindaan ini menuntut protes balas dendam di Arakan. Akan tetapi dalam aksi protes tersebut tiga ribuan muslim kembali tewas akibat tindakan genosida dan tirani penguasa, aparat keamanan dan warga pro pemerintah junta militer.

Bagaimana Myanmar merefleksikan sejarah masa lalunya dengan kondisi modernnya saat ini? Ikuti perkembangan berikutnya pada bagian ke 2 tulisan tentang Myanmar di AGI..

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s