Strategi AS terhadap ISIS Membingungkan atau Pura-pura Bingung

ISIL (Stands for Islamic state in Iraq and Levant) atau ISIS (Stands for Islamic state in Iraq and Syria) sering disebut dalam media kita sebagai NIIS (Negara Islam di Irak dan Suriah) adalah organisasi militan berbasis radikal yang dibentuk bertujuan untuk mendirikan negara Islam.

Cikal bakal organisasi tersebut sebetulnya telah ada sejak 2004 di Irak diketuai oleh Abu Musab al- Zarqawi dalam jaringan Alqaeda di wilayah Mesopotamia (Irak) yang bertugas untuk melancarkan jihad melawan AS dan sekutunya di Irak.

Pada Januari 2006, Manjelis ash-Shura al-Mujahhidin fi al-Irak  mendeklarasikan ISI (Negara Islam Irak) yang memiliki wewenang area di Baghdad, Kufah, Karbala dan Tuz Khurmatu. Organisasi baru ini dipimpin oleh Abu Abdullah al-Rashid al-Baghdadi atau lebih populer dengan sebutan Abu Omar al-Baghdadi.

Organisasi yang merekrut milisi dari aneka suku beraliran Islam Sunni dari berbagai negara (luar Irak) dibawah pimpinan al-Zarqawi yang sebelumnya pernah membela rezim Saddam Husain, dikenal gagah berani melawan okupasi dan invasi AS dan sekutunya dalam masa perang Irak (2003 – 2011).

Dalam perkembangan berikutnya, tongkat komando beralih kepada Abdul Sattar Avu Richa pada pertengahan Juni 2006 – April 2010. Dalam masa ini ISI mulai memperlihatkan taringnya dengan sejumlah serangan bom mobil di beberapa provinsi Irak terutama di Baghdad, Mosul, Baquba, Kirkuk, Diyal, Karbala dan Tikrit.

Pada 15 Mei 2010, tongkat komando beralih pada Abu Bakr al-Baghdadi atau dikenal juga dengan Ibrahim Awwad atau Ibrahim Ali al-Badri al Samarrai atau dikenal sebagai Dr. Ibrahim bahkan disebut juga sebagai Abu Dua.

Abu Bakr adalah sempalan Al-Qaeda. Ia sarat pengalaman ratusan serangan di seluruh Irak kini menjelma menjadi kekuatan milisi jihad baru yang dikenal paling lengkap dan paling menggentarkan lawan dan kawan.

Dikabarkan bahwa milisi jihadis ini adalah organisasi bersenjata paling kaya sedunia. Dari penguasaan kilang minyak terbesar Irak di Mosul saja ISIS mampu meraup 8 juta dolar AS setiap bulannya. Itu belum termasuk 5 unit Helikopter serbu terbatu Apache yang berhasil di sita dari pangkalan militer di Mosul. Selain itu dikabari ISIS berhasil mengosongkan ratsuan ribu rekening nasabah Irak di Mosul.

Menurut anggota Komite Keuangan Parlemen Irak Ameen Hadi dana yang dikumpul ISIS saat ini di Mosul dapat digunakan membiayai serangan ke salah satu negara tetangga pada saat ini.

Ofensif ISI di Irak lainnya adalah serangan yang paling mematikan aalah pemboman masjid Umm al-Qura di Baghdad yang menewaskan salah satu anggota dewan senior dari aliran Sunni yaitu Khalid al-Fahdawi pada 28 Agustus 2011.

Saat kematian Osama bin Laden pada 2 Mei 2011, Abu Bakr memperlihatkan duka mendalamnya dengan letupan dendam membara. Ia berjanji akan membalas AS dan sekutunya atas kematian Osama bin Laden dengan 100 serangan terhadap target AS, Barat dan sekutunya termasuk pemerintah Irak.

Pada April 2013, ISI didekralisasikan sebagai ISIS dengan tongkat komando tetap pada Abu Bakr al-Baghdadi. Pembentukan ini seiring dengan keterlibatan ISIS dalam konflik Suriah. Meski di sana telah duluan ada salah satu jaringan al-Qaeda –yaitu Jabhat al-Nusra– hasrat membara dengan segudang visi dan misi membuat ISI mengubah nama organisasinya menjadi ISIS lalu kemudian terlibat perang melawan rezim Suriah dalam berbagai front di Suriah tengah dan utara.

Dalam berbagai kajian oleh ahli militer di dalam thing-tank ISIS, pakar dan media barat untuk memudahkan penulisan meyebut ISIS  atau ISIS dengan sebutan Islamic State (IS) saja. Jadi BUKAN berarti ISIS atau ISIS telah berganti nama dengan IS.

ISIS mendominasi pemberontakan Suriah, hal ini membuat Jabhat al Nusra tidak senang. Persaingan gengsi dibumbui api dendam kesumat karena (merasa) pernah disepelekan saat bersama di al-Qaeda oleh pengganti Osama (Ayman al-Zawahri).

Perang frontal keduanya membuat bingung sayap militer pemberontak Suriah (FSN) yang pada awalnya berharap kehadiran kedua organisasi militer tersebut seharusnya membantu pemberontakan menggulingkan rezim al-Assad justru meimbulkan perpecahan internal pemberontak.

Dalam keterlibatan ISIS di berbagai fornt Suriah kita disuguhi oleh aneka gambar dan video yang melaporkan aksi brutal, kanibal dan vandilesme ISIS dalam perang Suriah terhadap subyek atau obyek yang dianggap sebagai lawan. Siapapun yang dianggap berseberangan baik dari kalangan militer dan pemerintahan atau penduduk sipil yang membela rezim  atau bertentangan dengan misi ISIS tak kenal ampun dieksekusi dengan cara yang amat membuat bulu kuduk merinding.

Jabhat al-Nusra yang pada awalnya setuju menjadi perwakilan ISIS di Suriah kemudian menolak penggabungan ke dalam ISIS sehingga melakukan protes pada komandan al-Qaeda pada akhir 2012. Protes komandan al-Nusra, Abu Nohammad al-Jawlani mendapat “restu” pemimpin al-Qaeda sehingga tetap sebagai sayap al-Qaeda di Suriah.

Ayman al-Zawahri menegaskan ISIS agar berkonsentrasi ke Irak saja dan menolak rencana penggabungan Jabhat al-Nusra dengan ISISt. Sikap inilah yang menjadi titik balik “perceraian” kedua senior yang pernah menjadi pembentuk al-Qaeda saat bersama Ossama bin Laden.

Perceraian itu tidak sekadar pisah wilayah saja, melainkan bersengketa pada bidang paling esensi, merambah pada perbedaan visi dan misi dalam organisasi yang berbeda. Al-Qaeda tetap pada pendiriannya penargetan kepentingan barat, AS dan sekutunya. ISIS lebih berkepentingan pada pembentukan negara islam Suriah Raya atau Levant, mencakup Suriah ke Lebanon, Palestina, Jordania sampai Israel. Dalam misinya ISIS lebih ekstrim dengan menuliskan program anti paham Shiah.

Pada Februari 2014 terjadi perpecahan kubu pemberontak Suriah. ISIS dan Pasukan Pembebasan Suriah (FSN dan sejumlah afiliasi di dalamnya) resmi dinyatakan tidak bersekutu lagi. Perang terbuka FSN melawan ISIS pun tak terhindari diberbagai front Suriah.

  AS Dalam Sejarah Terbentuknya ISIS

Saat perang Irak mendongkel Saddam Hussen 2003 -20011, kubu sekutu dikomandoi oleh Nouri al-Maliki (mantan PM Irak). Nouri al-Maliki saat itu sebagai komandan Tentara Baru Irak.  Sementara itu di kubu rezim Irak bercokol aneka pejuang jihadis, salah satunya adalah ISI sendiri yang saat itu masih disebut al-Qaeda di Irak (AQI).

Sebelum penarikan tentara AS dari Irak, AQI cikal bakal ISIS pada 2005 mendapat pelatihan AS. Kelompok yang masih kecil direkrut dari kalangan Sunni di provinsi Anbar, Irak saat itu mendapat pendekatan dari AS. Kelompok kecil (mantan pejuang membela Saddam)i mendapat pelatihan, dana dan perlengkapan militer dari AS dan bertugas untuk menjaga keamanan seluruh Irak dalam kurun waktu setahun adalah milisi yang berada di bawah kendali AS langsung.

Saat itu Nouri al-Maliki telah memperingatkan AS bahwa kendali di bawah AS langsung terhadap kelompok milisi tersebut akan sangat berbahaya mengingat sejumlah pentolan di dalamnya justru terlibat perang melawan AS dan sekutu. Kritik Nouri ini menjadi salah satu poin yang mendiskreditkan kebijakan Nouri yang dituding bersikap sektarian dan tidak memihak kelompok Sunni pada saat ini.

Al-Qaeda dan sejumlah afiliasi di dalamnya tetap berkomitmen terhadap target barat, AS dan sekutunya, sesuatu yang paling dibenci AS. Ditambah dengan peristiwa 11/9 yang membuat AS phobia terhadap al-Qaeda mau tak mau AS harus membuat kekuatan tandingan untuk memberangus al-Qaeda yang disebut dalam daftar kriminal federal sebagai musuh nomor satu global.

Perang ISIS vs FSN vs Rezim Suriah menguntungkan posisi pemerintah Suriah. Tak heran sejak Desember 2013 hingga saat ini kondisi tersebut dapat menguntungkan pemerintah Suriah untuk sementara waktu. Kemenangan demi kemenangan mulai dicapai oleh tentara pemerintah suriah secara signifikan.

 ISIS kini diperkirakan berkekuatan 100.000-an personil umumnya dari milisi asing manca negara dan warga lokal di Irak dan Suriah dari Sunni memberi dukungan atas dasar pertimbangan konsep jihadis. Perlu diketahui dari total penduduk Irak saat ini  mendekati 40 juta-an jiwa,  kurang dari 65% adalah syiah dan hampir 35% Sunni. Sisanya kristen dan lain-lain.

ISIS kini (saat tulisan ini diturunkan)  boleh jumawa karena masih menguasai hampir 50% wilayah Irak setelah kampanye serangan udara sekutu mulai melempem diganti serangan darat angkatan bersenjata Irak dan milisinya yang belum mampu menuntaskan cita-cita mereka membebaskan Irak dari ISIS.

Atas dasar penjelasan di atas, kemungkinan besar hadirnya ISIS yang disebut media barat sebagai “Ancaman Global” terbaru bisa jadi sebagai buah dari benih yang pernah disemai AS  untuk menggulingkan rezim Saddam Husain. ISIS mulai memperlihatkan panennya saat ini yaitu menjadi organisasi jihadis terkuat dunia dari Mesoptamia. AS kini bingung (atau pura-pura bingung) melihat benih yang ditanam dahulu menjelma menjadi badai teroris yang mengancam kepentingannya.

ISIS yang dibentuk dari rencana sederhana tapi digembleng dengan disiplin dan loyalitas yang tinggi kini menjelma menjadi kekuatan yang menggentarkan dunia. ISIS menjadi milisi jihad yang mumpuni dalam strategi perang, kerjasama dan intelijen.

Kebingungan AS diperlihatkan dalam bentuk tidak ada strategi yang tepat dalam menghadapi ISIS yang di satu sisi katanya merupakan ancaman global, sementara di sisi lain AS tidak mampu memperlihatkan kesungguhannya seperti yang diperlihatkan di seluruh dunia dalam memerangi terosisme.

Mungkinkah hal itu disebabkan oleh sejarah pembentukan cikal bakal ISIS disebut di atas, atau ada semacam kesepakatan dengan Rusia dalam formulasi pengaruh status quo di timur tengah?

Apapun sebab dan alasannya, ISIS semakin hari semakin memperlihatkan ketangguhannya. Didukung oleh kemampuan teknologi, komunikasi dan sistem persenjataan modern ISIS telah menjadi kekuatan yang jauh dari wujudnya selama. Kesederhanaan itu menjelma sebagai organisasi jihad paling disegani saat ini. Jika ofensif ISIS berhasil menguasai Irak, tak terbendung ofensifnya sampai ke Suriah.

Cita-cita mereka membentuk khalifah islam dari jazirah Irak, Suriah lalu ke Jordania, Lebanon, Palestina hingga sampai ke Israel akankah menjadi sebuah cita-cita ambisius, ataukah memang serius menjadi kenyataan? Semoga saja ini BUKAN benih perang dunia ke 3 yang akan pecah (dimulai) dari Timur Tengah.

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s