Jakarta Punya Cerita Tahun 2020

1431375082945928701

Sumber : Edit Abanggeutanyo dok/https://simomot.files.wordpress.com

Informasi mengejutkan mengenai jumlah penduduk DKI Jakarta pada masa yang akan datang beraneka jumlahnya. Salah satunya dirilis oleh World Populatiion Review (WPR) yang menyajikan jumlah penduduk dunia setiap negara yang dirilis pada 19 Oktober 2014 lalu.

WPR memperkirakan penduduk Jakarta (seluas 740 km2 ) pada 2020 akan mencapai 25 juta – 35 juta. Jika itu terjadi tingkat kepadatan penduduknya menjadi 33.783 jiwa – 47.292 jiwa per km2 . Padahal dengan jumlah penduduk DKI pada 2014 saja 10.135.300 jiwa (siang harinya 12,9 juta jiwa dan malam harinya 7,7 juta jiwa) tingkat kepadatan 15.263 jiwa, rasanya DKI  semakin terasa sesak .

Anggaplah tidak benar  data yang diterbitkan oleh WPR tersebut karena tidak mengacu pada data statistik BPS atau Dinas Catatan Sipil DKI yang belum juga menerbitkan laporan detail penduduk DKI per 2014.  Akan tetapi jika benar ekspektasi seperti dirilis di Worldpopulationreview.com lalu menjadi kenyataan, akan seperti apakah kondisi warga Jakarta pada 2020 yang akan datang?

Mari kita berada zona waktu 2020, anggaplah saat ini kita berada di kota Jakarta dengan jumlah penduduk (sebut saja) 25 juta jiwa.

  1. Padatnya penduduk, 33,783 per kilometer per segi di atas lahan seluas 740 km2 (belum termasuk lahan yang terpakai untuk kendaraan roda empat ke atas) menimbulkan “persaingan lahan” antara warganya dengan  kendaraan semakin ketat. Di mana-mana deru kendaraan seakan mengurung penduduk DKI Jakarta. Berjalan kaki terasa lebih cepat dari menggunakan kendaraan. Dalam kondisi ini di manakah tempat  paling nyaman di ibukota DKI Jakarta?
  1. Luas lahan untuk taman atau Ruang Terbuka Hijau (RTH) pada 2014 masih berkisar 10% dari luas DKI atau 66.233 hektar menyusut karena harus dibebaskan untuk jalan dan pembangungan gedung komersial. Di manakan tempat bermain di ruang terbuka dan hijau akan dinikmati kembali seperti masa-masa lalu ketika warga Jakarta yang lelah dan penat menemukan tempat gratis untuk menikmati keteduhan alaminya?
  1. Jumlah penduduk miskin DKI  mencapai 1.024.567 orang. Sebuah angka yang amat besar melebihi jumlah penduduk di kabupaten di luar pulau Jawa. Apakah kondsi ini mampu menciptakan ketenangan dari perasaan cemburu sosial?  Padahal pada 2014  saja dengan penduduk miskin sebanyak 412.790 (4% dari total penduduk DKI) telah menimbulkan masalah sosial yang amat rumit. Katakanlah pertumbuhannya berada pada angka konstan (4% tersebut setiap tahunnya), artinya jumlah tersebut lebih besar dari jumlah penduduk se kota Bogor, atau penduduk Jakarta Pusat, bakan menyamai penduduk satu provinsi Kepri. Sumber : http://id.wikipedia.org
  1. Jumlah sekolah dasar (SD) yang tersedia tidak mampu memenuhi standard mutu yang digadang-gadang pada kurikulum 2013. Jumlah sekolah yang dapat dibangun sangat terbatas, siswa pun berdesak-desakan dalam ruangan kelas. Jumlah SD se DKI pada 2014 sebanyak  2.598 sekolah dengan 343.630 siswa dengan rata-rata 132.267 siswa. Dengan pertumbuhan penduduk 2,5 kali lipat dari 2014 mungkinkah jumlah SD akan tumbuh 2,5 kali lipat juga? Padahal ruang DKI akan sangat terbatas.
  1. Tingkat pengangguran DKI menyebabkan persoalan kemanusiaan baru dengan jumlah penganggur usia kerja sebanyak 2.450.000 orang. Jumlah pengangguran DKI menyamai jumlah penduduk  ibu kota provinsi Sumatera Utara, Medan, Sumatera Utara pada 2014. Mereka berdesak-desakan pada kerja sektor informal. Sebagai acuan, pada 2014 saja tingkat pengangguran mencapai 9,84% atau 510.444 orang usia angkatan kerja seperti disampakan kepala BPS DKI Jakarta Nyoto Widodo pada 8/10/2014 (sumber :http://www.harianterbit.com) Katakanlah konstan angka prosentase tersebut (9,8%) pada 2020, maka DKI akan dijejali pencari kerja mencapai 2.450.000 orang.
  1. Disparitas (kesenjangan) dalam pendapatan penduduk DKI Jakarta sangat menyolok jaraknya. Hal ini terjadi akibat rekor pendapatan tertinggi secara nasional justru ada di Jakarta, tapi di sisi lain, pendapatan terkceil juga banyak melilit penduduk Jakarta sehingga gap atau disparitasnya sangat jauh. Dalam kondisi seperti ini, pada 2020, disparitas itu akan semakin membuat yang kecil makin terkucil dan yang kaya semakin jaya.  Hal ini berdampak pada penyakit multi dimensi sosial yang mengancam ketengan warga DKI.
  1. Banjir kian kerap mengepung perumahan warga akibat fungsi dan peranan kanal-kanal dan saluran pembuang air rusak oleh aneka pembangunan yang tidak terintegrasi sehingga kanal-kanal air di Jakarta tidak berfungsi optimal.
  1. Jakarta akan seperti New York. Meskipun banjir dan sampah kian menantang namun pembangunan aneka bidang akan menyulap profil Jakarta menjadi kota super modern mirip New York atau negara maju Eropa lainnya.
    • Menurut prediksi LaSalle, pada tahun 2020 nanti, jumlah gedung pencakar langit di ibu kota akan mencapai 250 gedung pencakar langit seperti New York (2009).
    • Sebagai kota pusat pedagangan Jakarta pada 2020 akan menjadi “Macan Asia” dalam perdagangan mirip Tokyo dan Beijing era 2000-2005. Mengutip pandangan mantan Menteri Perekonomian Hatta Rajasa terahdap Jakarta pada 2020, “Jakarta is not capital city of Indonesia but capital city of ASEAN,” ungkapnya kepada wartawan  (11/12/2013).

Mari kita keluar lagi dari zona waktu 2020, kita kembali hadir di maa saat ini, tahun 2015. Kita tahu bahwa tahun 2020 tidak akan lama datangnya, hanya 5 tahun saja lagi.

Masa tugas Jokowi sebagai kepala negara dan pemerintahan Indonesia berakhir pada Nopember 2019. Sebulan setelah itu, seluruh dunia masuk ke zona waktu 2020. Selaku Presiden, Akankah Jokowi berhasil menekan atau mengurangi sejumlah persoalan rakyatnya di ibu kota Jakarta.

Jokowi sebagai kepala negara yang berkantor di Jakarta kini bukan Gubernur DKI yang bertanggung jawab penuh mengurusi Jakarta. Akan tetapi fenomena apapun tentang DKI termasuk potensi masalah saat ini dan implikasinya di masa yang akan datang, pasti jelas tergambar pada Jokowi, karena ia berkedudukan di  Jakarta.

Jika Jokowi berakhir  tugasnya pada 2019 mampukah ia memberi kado hadiah terindah pada warga DKI di tahun 2020 nanti? Setidaknya ia mampu mengakomodir aneka program Gubernur DKI  saat ini sehingga sejumlah ancaman sosial disebutkan pada 2020 di atas tidak menjadi  kenyataan.

Selayaknya dari saat ini pemernitah Jokowi memberi skala prioritas pada pemerintah Gubernur DKI Jakarta segera mengantisipasinya agar tidak terkejut nanti. Lebih menyedihkan jika keduanya hanya meninggalkan warisan multi kompleks pada penerusnya masing-masing.

Pembangunan apakah yang mampu mencegah potensi letupan sosial seperti di sebut di atas? Pembangunan super blok, Mega Mall, Danau buatan, Reklamasi Pantai, Pelabuhan dan Bandara, Monorail/MRT, Dominasi TransJakarta atau Membangun Sirkuit Balap kelas Internasional atau Rumah Sakit swasta milik asing, atau membangun jaringan harmonis dengan politikus supaya mendapat akses jabatan periode ke dua?.

Terserah Presiden Jokowi dan timsesnya, yang penting mampu membuka lapangan kerja formal, tidak merusak lingkungan dan ekosistim, tidak memanjakan investor dengan mengorbankan sarana publik, tidak membuat Jakarta semkain “TENGGELAM”  sehingga tidak senyum-senyum simpul ketika “terpaksa” mewarisi jabatan Presiden pada penerusnya nanti.  Senyumlah dengan bangga seperti senyuman Jokowi melindas sesuatu yang dahulu keihatannya mustahil namun menjadi kenyataan.

Tantangan (aneka program pelestarian lingkungan terpadu) Gubernur DKI pada Pemerintah Jokowi harus mampu disikapi menjadi sesuatu yang nyata, yaitu dapat melindungi masa depan penduduk DKI dan ekosistimnya sehingga ancaman disebutkan di atas TIDAK akan menjadi kenyataan.

Ironis sekali, jika suatu saat terjadi bencana, sebut saja DKI kebanjiran lantas mengepung Istana Negara sebagai simbol negara,“apa kata dunia?” Sialnya lagi-lagi Gubernur DKI lagi yang disalahkan, hehehehhee..

Salam AGI

Iklan

Terimakasih berkenan memberi komentar Anda

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s